NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Di sisi lain, Kirana duduk di samping Alendra. Tangannya menggenggam lengan Alendra dengan sangat kuat, bukan karena cinta, melainkan sebagai bentuk klaim kepemilikan. Wajah Kirana sangat pucat, riasan tebalnya hampir tidak mampu menutupi aura kelelahan akibat penyakit kronisnya yang kian menggerogoti. Tapi semua mengira kalau itu karena cemburu.

Matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Alendra. Saat Alendra refleks berdiri untuk membantu Patricia yang terlihat limbung karena masih lemas, Kirana langsung menarik jas Alendra dengan kasar.

Kirana tersenyum sinis, menatap Alendra dengan sorot mata yang menuntut"Mas, kamu lupa ya? Aku yang istrimu. Duduk di sini, temani aku bicara dengan Najwa."

Alendra terpaksa duduk kembali. Rahangnya mengeras, ia menelan ludah dengan susah payah. Gestur tubuhnya menunjukkan kegelisahan luar biasa; kakinya terus bergerak tak tenang, dan matanya selalu mencuri pandang ke arah Patricia.

Monica mencoba mencairkan suasana dengan menggendong cucunya, namun Kirana justru melempar umpan panas ke tengah ruangan.

 "Wah, selamat ya Najwa. Kamu beruntung sekali bisa melahirkan anak yang sah dan suci. Tidak seperti sebagian orang yang masuk ke keluarga ini lewat... jalan belakang yang berdarah-darah."

Kalimat itu bagaikan tamparan keras bagi Patricia. Patricia memejamkan matanya, bahunya gemetar menahan isak tangis. Ishaq, suami Najwa, langsung menatap Kirana dengan dahi berkerut, merasa ucapan itu sangat tidak pantas.

"Kirana, jaga bicaramu. Kita sedang menyambut kehidupan baru di sini."

Kirana terkekeh getir, tangannya tanpa sadar meremas dadanya yang mulai terasa nyeri "Aku hanya bicara kenyataan, Ishaq. Takdir memang lucu, ya? Ada yang melahirkan di rumah sakit mewah dengan suami di sampingnya, ada yang menyerahkan diri di gudang tua demi nyawa."

Alendra tidak tahan lagi. Ia berdiri, melepaskan tangan Kirana dengan paksa.

"Cukup, Kirana! Kalau kamu tidak bisa menghormati Patricia sebagai anggota keluarga ini, minimal hormati dia sebagai manusia!"

Alendra melangkah menuju Patricia, tidak peduli lagi pada pandangan keluarga besar. Ia berdiri tepat di depan Patricia, seolah menjadi perisai hidup bagi gadis itu.

Suara Alendra rendah namun lembut "Ayo Cia kembali ke paviliun. " lalu menoleh ke arah Kirana"Dia butuh istirahat, bukan penghinaan."

Saat Patricia berbalik untuk pergi, Kirana ingin berdiri untuk berteriak, namun tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan. Wajahnya meringis kesakitan, tangannya mencengkeram erat pinggiran meja. Ia terbatuk keras, dan kali ini ia tidak sempat menyembunyikan sapu tangannya yang mulai ternoda warna merah.

Kirana menatap punggung Alendra yang sibuk memperhatikan langkah Patricia. Rasa sakit di hatinya saat melihat suaminya lebih mengkhawatirkan istri gudang itu jauh lebih membunuh daripada kanker yang ada di tubuhnya.

"Aku sekarat, Alen... aku yang istrimu sedang sekarat di depan matamu, tapi matamu hanya melihat dia." gumam Kirana dalam hati.

" Mbak Kirana Kenapa, wajahmu sangat pucat mbak, apa mbak sakit?" tanya Najwa penuh perhatian,ia berdiri mendekati Najwa walaupun ishaq melarang nya.

Kirana menepis tangan Najwa sampai Najwa kehilangan keseimbangannya, sampai hampir terjatuh kalau seandainya tidak ada ishaq yang menangkap Najwa.

Kirana menoleh pada Najwa " Tidak usah sok perhatian, selamat atas kebahagiaan mu" ucap Kirana lalu pergi dari rumah Mahendra, meninggalkan keluarga besar sudahi yang menatapnya penuh kasihan.

" kasihan Kirana, semenjak tespek terakhir dan hasilnya selalu gagal, sifatnya jadi berubah, bahkan setelah Alendra membawa istri yang tidak di sengaja nya kesini, padahal Kirana sendiri yang meminta pada Alendra untuk membawa Patricia ke sini" ucap Monica pelan.

Sedangkan ishaq menatap kepergian Kirana dengan amarah yang memuncak karena hampir mencelakai istri yang sangat di cintai nya.

" kamu tidak apa-apa sayang?" tanya ishaq lembut pada Najwa.

" aku tidak apa-apa mas" balasnya tersenyum.

**"

Suasana di rumah Mahendra masih menyisakan aroma harum kayu cendana dan bunga melati sisa acara aqiqah Akmal dan Aira. Namun, di balik kemeriahan itu, ada ruang kosong yang ditinggalkan oleh ketidakhadiran Alendra, Kirana, dan Patricia. Najwa, yang masih mengenakan gamis putih cantiknya, merasa ada yang mengganjal di hatinya.

Ia tahu, ketidakhadiran mereka bukan karena sibuk, melainkan karena badai yang sedang berkecamuk di dalam rumah tangga Suhadi.

Sore harinya, Najwa memutuskan untuk mendatangi paviliun belakang kediaman Suhadi. Ishaq tentu saja menemani, ia tidak mau kejadian semalam terulang kembali, saat Kirana emosi dan hampir membuat istrinya celaka... mereka melewati rumah utama di mana Kirana sedang mengurung diri di kamar, menolak bertemu siapapun dengan alasan sakit kepala, padahal ia hanya tidak sanggup melihat wajah bahagia Najwa di tengah kehancuran hatinya.

Saat Najwa dan Ishaq sampai di paviliun, ia menemukan pintu sedikit terbuka. Di dalam, ia melihat pemandangan yang membuat napasnya tertahan.

Alendra sedang duduk di lantai di samping ranjang Patricia. Ia sedang memegang tangan Patricia yang terbalut kain kasa, meniupnya dengan sangat lembut seolah sedang mengobati luka paling berharga di dunia.

Suara Alendra sangat rendah, penuh kerinduan "Kenapa kamu tidak mau makan, Cia...? Kamu harus kuat. Kalau kamu sakit, bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi malam itu?"

Patricia menatap Alendra dengan mata yang berkaca-kaca. Rambutnya yang hitam tergerai di atas bantal, membingkai wajahnya yang kini tampak sangat rapuh namun sangat cantik.

"Aku hanya merasa tidak pantas, Alen... Setiap suapan nasi yang aku makan di rumah ini terasa seperti duri. Aku menghancurkan hidupmu dan Mbak Kirana."

Alendra menggeleng kuat, membawa tangan Patricia ke pipinya "Jangan pernah katakan itu. Dua tahun aku mencarimu, Cia.... Aku menunggumu di setiap sudut kampus dengan mobil sport konyol itu, berharap kamu menghinaku lagi sebagai butiran debu... asalkan kamu ada di depanku. Takdir memang kejam mempertemukan kita di gudang itu, tapi tuhan memberiku kesempatan untuk memilikimu selamanya."

Alendra mendekat, lalu mencium kening Patricia dengan sangat lama. Itu bukan ciuman nafsu, melainkan ciuman perlindungan dan janji setia.

Najwa menutup mulutnya, setelah tidak sengaja mendengar ucapan Alendra.

Ishaq yang sedang duduk di teras paviliun berbisik " ada apa?" tanya ishaq lembut.

Najwa hanya menggeleng lalu meletakkan jari telunjuknya di mulut.

Najwa mengetuk pintu pelan,

"Assalamualaikum....?"

ucapan Najwa membuat keduanya tersentak. Alendra segera berdiri, sedikit canggung namun tidak melepaskan tatapan pelindungnya dari Patricia.

"Maaf, aku mengganggu momen kalian. Aku hanya ingin membawakan nasi kebuli sisa aqiqah... dan ingin melihat keadaan kak Cia."

Alendra mengangguk, ia mengusap dahi Patricia sekali lagi sebelum berpamitan keluar untuk memberi ruang bagi para wanita. Begitu Alendra pergi, Najwa duduk di samping Patricia.

"Kak Cia... ternyata kamu gadis yang dari dulu kak Alen ceritakan ? Kak Alen bilang Sejak zaman kuliah, kamu selalu menghinanya, sebenarnya itu caramu menutupi rasa sukamu pada si mahasiswa motoran itu?"

Patricia terdiam, lalu tangisnya pecah di bahu Najwa. "Aku jahat, Najwa... aku sombong karena aku takut. Aku takut jatuh cinta pada pria yang tidak selevel denganku saat itu. Aku takut pada mamaku, aku takut pada kak Hilman yang selalu melarangku untuk bergaul dengan orang miskin. Dan sekarang, saat aku sudah tidak punya apa-apa, dia justru menjadi duniaku. Tapi ada Mbak Kirana... aku merasa seperti pencuri."

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!