NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Senin pagi menjelang siang, suasana Mansion Aditama terasa tenang. Pak Aditama sedang berada di ruang kerjanya untuk sebuah rapat virtual, sementara Putra sudah berangkat ke kantor induk Aditama Group sejak pukul tujuh tadi.

Di dalam kamar utama, Citra duduk di tepi ranjang sambil menatap dua benda di tangannya: sebuah kartu debit hitam eksklusif dan sebuah amplop putih tebal berisi lembaran uang tunai pecahan seratus ribu yang jumlahnya tak main-main.

Perintah Putra kemarin sangat jelas. Gunakan uang ini. Beli baju, beli skincare, perbaiki penampilan kampunganmu.

Awalnya, Citra memang berniat menyimpan uang tunai itu seutuhnya sebagai tabungan rahasia untuk melarikan diri. Lagipula, Putra mengatakan akan memantau tagihan dari black card tersebut, yang berarti pria arogan itu tidak akan bisa melacak ke mana perginya uang tunai di dalam amplop. Uang tunai tidak meninggalkan jejak digital.

Namun, saat Citra bersiap-siap untuk pergi ke pusat perbelanjaan, sebuah ingatan menyentak hatinya.

Ia teringat ibunya, Bu Sari. Ia teringat atap rumah kontrakan ibunya yang bocor di bagian dapur. Ia teringat obat rematik ibunya yang sering habis dan tak terbeli. Di saat Citra tidur di atas kasur king size seharga ratusan juta meski ia harus menahan dinginnya AC ibunya tidur di atas kasur kapuk yang sudah menipis.

Rasa bersalah seketika menyergap dada Citra. Tidak. Tabungan pelarianku bisa menunggu. Ibu lebih butuh uang ini sekarang.

Dengan tekad bulat, Citra memasukkan amplop tebal itu ke dalam tas selempangnya. Ia kemudian pamit pada Pak Aditama, beralasan ingin pergi ke mal untuk membeli beberapa potong pakaian dan keperluan wanita, persis seperti yang "disarankan" oleh Putra. Mendengar hal itu, Pak Aditama tersenyum lega dan bahkan menyuruh sopir rumah untuk mengantar Citra.

Namun, Citra menolak dengan halus, beralasan ingin mampir ke beberapa tempat dan lebih nyaman menggunakan taksi online. Ia tidak mau sopir keluarga Aditama melaporkan rute perjalanannya pada Putra.

Taksi online itu tidak melaju menuju Plaza Senayan atau Grand Indonesia. Mobil itu justru membelah kemacetan menuju sebuah kawasan padat penduduk di pinggiran ibu kota.

Langkah Citra terasa sangat ringan saat ia menyusuri gang sempit yang hanya bisa dilewati satu motor itu. Aroma masakan rumahan dan suara televisi tetangga yang menyala terdengar akrab di telinganya.

Saat ia mengetuk pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, pintu itu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang tampak sedikit pucat namun memiliki senyum yang sangat teduh.

"Ya Allah, Citra... Nduk..." mata Bu Sari berbinar bahagia. Ia langsung memeluk putri semata wayangnya itu erat-erat. "Kok siang-siang ke sini? Suamimu nggak nyariin?"

"Mas Putra lagi di kantor, Bu. Citra sengaja mampir sebentar karena kangen," jawab Citra, membalas pelukan ibunya dengan tak kalah erat. Aroma minyak kayu putih dari tubuh ibunya selalu berhasil menenangkan badai di hati Citra.

Mereka duduk di ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter yang sangat sederhana. Setelah berbasa-basi sebentar menanyakan kabar dan kesehatan ibunya, Citra membuka ritsleting tasnya. Ia mengeluarkan amplop putih tebal pemberian Putra dan meletakkannya di atas meja kayu di hadapan Bu Sari.

"Ibu, ini ada sedikit rezeki," ucap Citra lembut, mendorong amplop itu ke tangan ibunya.

Bu Sari mengerutkan kening. Ia membuka lipatan amplop tersebut dan matanya membelalak kaget saat melihat tumpukan uang merah yang tebal di dalamnya. Tangannya gemetar.

"Astaghfirullah, Citra... Ini uang apa, Nak? Banyak sekali! Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?" tanya Bu Sari panik, raut wajahnya menyiratkan ketakutan. Ia tahu putrinya sudah berhenti menjadi pramusaji atas perintah besannya.

Citra sudah menyiapkan naskah kebohongannya matang-matang. Ia menggenggam kedua tangan ibunya yang kasar dan menatap mata wanita itu dengan senyum paling meyakinkan yang bisa ia buat.

"Ini uang dari Mas Putra, Bu," dusta Citra lancar. Tidak ada keraguan sedikit pun di matanya. "Tadi pagi sebelum berangkat kerja, Mas Putra sengaja kasih uang ini buat Ibu. Katanya, Mas Putra dengar atap dapur kita bocor. Terus Mas Putra juga bilang, Ibu harus beli obat rematik yang bagus dan vitamin biar cepat sehat."

Mata Bu Sari seketika berkaca-kaca. Hatinya tersentuh luar biasa mendengar "perhatian" menantunya itu.

"Masya Allah... Putra sebaik itu, Nduk?" suara Bu Sari bergetar menahan haru. "Padahal Ibu ini cuma orang miskin. Ibu kira dia pria yang kaku dan sombong, ternyata hatinya sangat mulia."

Dada Citra terasa sesak mendengar ibunya memuji pria yang telah melemparkan uang itu ke wajahnya pagi tadi. Namun, Citra menelan rasa pahit itu dalam-dalam. Selama ibunya bahagia dan kesehatannya terjamin, Citra rela membungkus sosok iblis suaminya dengan jubah malaikat.

"Iya, Bu. Mas Putra itu aslinya sangat baik dan perhatian sama Citra. Keluarga Aditama juga memperlakukan Citra dengan sangat baik," Citra melanjutkan kebohongannya, menyempurnakan ilusi kehidupan rumah tangganya yang bahagia. "Jadi, Ibu terima ya uangnya. Panggil tukang untuk perbaiki atap, dan jangan pernah telat tebus obat lagi."

Sambil menangis haru, Bu Sari memeluk Citra lagi. Ia tak henti-hentinya mengucapkan syukur dan mendoakan kebahagiaan serta kelanggengan rumah tangga Citra dan Putra. Setiap doa yang meluncur dari bibir ibunya terasa seperti ironi tajam yang menikam ulu hati Citra, namun ia tetap mengaminkannya dalam hati.

Satu jam kemudian, Citra pamit dari rumah ibunya. Ia tidak bisa berlama-lama karena ia masih memiliki satu "tugas" lagi untuk mengamankan alibinya.

Dari rumah ibunya, Citra memesan taksi menuju sebuah mal kelas atas di pusat kota. Ia tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Putra pasti akan menanyakan wujud dari uang yang telah ia berikan.

Citra berjalan memasuki butik pakaian bermerek ternama dengan wajah datar. Ia mengeluarkan black card bersaldo fantastis yang diberikan Putra dari dalam dompetnya. Sesuai rencana, ia akan membiarkan Putra melacak transaksinya melalui kartu ini.

Citra sengaja memilih dua potong gaun rumahan yang terlihat elegan namun tidak terlalu mencolok, serta satu set skincare mahal di gerai kosmetik lantai dasar. Saat kasir menggesek black card tersebut, Citra tahu bahwa notifikasi pemotongan saldo pasti langsung masuk ke ponsel suaminya di kantor.

Biar saja, batin Citra tersenyum penuh kemenangan saat melangkah keluar dari mal dengan beberapa paper bag di tangannya.

Putra pasti mengira Citra sudah tunduk pada kekuasaannya dan menghabiskan uang itu untuk memoles diri demi gengsi sang suami. Pria itu tidak akan pernah tahu bahwa uang tunai yang menjadi "biaya perawatan" nyonya Aditama itu telah berubah menjadi perbaikan atap yang layak dan jaminan kesehatan untuk seorang ibu di gang sempit.

Citra pulang ke mansion sore itu dengan kepala tegak. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sepenuhnya kalah dalam permainan psikologis yang diciptakan oleh suaminya.

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!