NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35 - bayangan yang mulai diburu

Kota Yanshi belum sepenuhnya pulih ketika berita itu menyebar.

Paviliun Angin Utara runtuh dalam semalam.

Pemimpinnya tewas.

Catatan transaksi hilang.

Dan tidak ada satu pun saksi hidup yang bisa menjelaskan bagaimana semuanya terjadi.

Namun dunia kultivator tidak butuh saksi.

Mereka hanya butuh pola.

Dan nama Qing Lin mulai muncul di antara bisikan.

Di wilayah utara Kota Yanshi, sebuah aula besar diterangi lentera biru.

Beberapa kultivator berjubah gelap duduk melingkar.

Aura mereka stabil. Tajam. Berpengalaman.

Seorang pria tua dengan alis putih panjang membuka gulungan giok.

“Target: Qing Lin. Tanpa sekte. Tanpa latar belakang jelas. Metode kultivasi tidak dikenal.”

Ia mengangkat kepala.

“Perkiraan basis kultivasi: setara Inti Awal tahap menengah.”

Suasana menjadi sedikit berat.

“Tidak mungkin,” kata seorang wanita dengan bekas luka di pipi. “Ia baru muncul kurang dari setahun.”

“Justru itu,” jawab pria tua itu dingin. “Ia tumbuh terlalu cepat.”

Seseorang lain berbicara, suaranya rendah.

“Apakah tekniknya benar-benar menyerap darah?”

Pria tua itu terdiam sesaat.

“Jika benar… maka ia tidak boleh dibiarkan.”

Ruangan sunyi.

Keputusan tidak perlu diucapkan keras-keras.

Sementara itu—

Qing Lin sudah meninggalkan kota.

Ia berjalan menyusuri jalur pegunungan yang jarang dilewati orang. Langit mendung, udara tipis dan dingin.

Setiap langkahnya stabil.

Qi di tubuhnya kini jauh lebih padat dibanding saat pertama meninggalkan Desa Qinghe.

Namun berbeda dari kultivator lain, qi-nya tidak menyebar liar.

Ia memadat seperti batu yang ditekan selama bertahun-tahun.

Tenang.

Berbahaya.

Ia berhenti di sebuah tebing sempit.

Angin gunung berhembus kuat, membuat jubahnya berkibar.

Ia menutup mata.

Mengatur napas.

Tarik.

Hembuskan.

Inti dingin di dalam dantiannya berputar perlahan.

Ia bisa merasakan perubahannya.

Setiap pembunuhan membuat qi lebih tebal.

Namun juga membuat emosinya lebih… jauh.

Kenangan desa kini terasa seperti cerita yang pernah ia dengar, bukan kehidupan yang ia jalani.

Ia tidak membenci perubahan itu.

Ia hanya mencatatnya.

Tiba-tiba—

angin berubah arah.

Qing Lin membuka mata.

Tiga sosok muncul di punggung bukit belakangnya.

Tanpa suara langkah.

Tanpa aura yang bocor.

Terlatih.

Pemburu.

“Qing Lin,” kata salah satu dari mereka, pria tinggi dengan tombak hitam. “Kau membuat banyak orang gelisah.”

Qing Lin berbalik perlahan.

Tatapannya tidak menunjukkan keterkejutan.

“Aku tidak mengenal kalian.”

Wanita dengan bekas luka di pipi melangkah maju. “Kami mengenalmu.”

Pria tua beralis putih tetap diam, matanya menilai dengan hati-hati.

Tekanan qi mereka menyebar.

Formasi segitiga.

Mengunci.

Namun Qing Lin tidak mundur.

Ia justru berdiri lebih tegak.

“Jika kalian datang untuk berbicara,” katanya datar, “kalian tidak perlu membawa niat membunuh.”

Pria bertombak tersenyum tipis.

“Dan jika kami memang datang untuk membunuh?”

Hening sesaat.

Angin berputar di antara mereka.

Qing Lin mengangkat satu tangan.

Qi di sekitarnya tidak meledak.

Namun tekanan halus menyebar seperti es yang merayap di permukaan air.

“Aku akan bertahan,” jawabnya.

Dan dalam satu detik—

pertempuran dimulai.

Tombak hitam melesat seperti kilat.

Wanita bekas luka membentuk segel tangan, melepaskan jarum qi halus dari berbagai sudut.

Pria tua menutup jalur mundur dengan penghalang energi.

Serangan terkoordinasi.

Tidak memberi celah.

Namun Qing Lin tidak mencoba menghancurkan semuanya sekaligus.

Ia bergerak kecil.

Efisien.

Satu langkah ke kiri—menghindari tombak.

Sedikit miring—

jarum qi melintas di depan pipinya, hanya menyisakan goresan tipis di udara.

Qing Lin tidak membalas.

Belum.

Ia membaca ritme mereka.

Tombak hitam kembali menusuk dari sisi kanan, sudutnya berubah lebih rendah, mengincar lututnya. Pada saat yang sama, jarum-jarum qi membentuk setengah lingkaran, menutup jalur lompat.

Pria tua beralis putih mengangkat dua jari.

Penghalang energi menebal.

Ruang di tebing sempit itu berubah menjadi sangkar tak terlihat.

Qing Lin melangkah maju.

Bukan mundur.

Langkahnya menekan batu hingga retak halus.

Qi gelap di dalam dantiannya berputar lebih cepat, namun tidak meledak. Ia memadatkan semuanya ke satu titik—ke telapak tangannya.

Tombak tiba.

Qing Lin menggeser bahu setengah inci.

Ujung tombak menggores jubahnya, merobek kain namun gagal menyentuh kulit.

Dalam jarak sedekat itu, ia menampar batang tombak dengan telapak tangan yang dipenuhi qi padat.

Benturan terdengar tumpul.

Bukan keras.

Namun tekanan yang terkumpul dalam satu titik membuat pria bertombak itu terdorong dua langkah mundur.

Tatapan mereka bertemu.

Pria itu menyadari sesuatu.

Qi Qing Lin… tidak menyebar seperti kultivator Inti Awal biasa.

Ia berat.

Seperti logam yang ditempa berkali-kali.

Wanita bekas luka tidak memberi waktu.

Segel tangannya berubah.

Jarum qi yang meleset tadi tiba-tiba berbalik arah.

Teknik kendali jarak jauh.

Jarum-jarum itu menyerang dari belakang.

Qing Lin memiringkan kepala sedikit.

Terlambat setengah detik.

Satu jarum menembus bahunya.

Darah keluar tipis.

Hening sepersekian detik.

Lalu—

Sutra Darah Sunyi bergetar.

Kabut merah yang hampir tak terlihat keluar dari luka, bercampur dengan qi liar di sekitar medan tempur.

Dan tanpa perintah sadar—

ia menyerapnya.

Rasa dingin menyebar dari bahu ke dada.

Qi di dantiannya menebal.

Tatapan Qing Lin berubah lebih dalam.

Bukan marah.

Bukan liar.

Lebih kosong.

Pria tua menyadarinya.

“Jangan biarkan dia terluka terlalu lama!” teriaknya.

Namun sudah terlambat.

Qing Lin bergerak.

Langkahnya kali ini berbeda.

Lebih cepat.

Lebih lurus.

Ia muncul di depan wanita bekas luka seolah jarak tadi tidak pernah ada.

Wanita itu terkejut, namun refleksnya cepat. Ia membentuk perisai qi di depan dada.

Telapak tangan Qing Lin menekan perisai itu.

Tidak menghantam.

Menekan.

Tekanan padat yang terkumpul sejak awal pertempuran dilepaskan dalam satu dorongan sunyi.

Retakan menyebar di permukaan perisai.

Lalu pecah.

Wanita itu terpental, menghantam dinding batu tebing.

Darah keluar dari sudut bibirnya.

Pria bertombak kembali menyerang, kali ini dengan seluruh kekuatannya. Tombak hitam memanjang oleh qi, membentuk bayangan gelap yang menelan cahaya lentera jauh di kota.

Qing Lin tidak menghindar.

Ia mengangkat tangan kiri.

Qi berputar, membentuk lapisan tipis seperti es.

Tombak menghantam.

Benturan mengguncang tebing.

Batu runtuh, serpihan beterbangan ke jurang.

Namun tubuh Qing Lin hanya terdorong satu langkah.

Satu.

Ia memegang ujung tombak dengan tangan kosong.

Darah menetes dari telapak tangannya.

Namun senjata itu berhenti.

Pria bertombak mencoba menariknya kembali.

Tidak bergerak.

Qing Lin menatapnya.

“Formasi kalian bagus,” katanya datar.

“Namun kalian terlalu takut.”

Kalimat itu membuat alis pria tua berkerut.

Qing Lin memutar pergelangan tangan.

Qi padat mengalir ke dalam tombak melalui sentuhan.

Bukan menghancurkan dari luar.

Melainkan menekan dari dalam.

Retakan halus muncul di permukaan senjata.

Pria bertombak melepaskan tombaknya dan mundur cepat.

Terlambat.

Qing Lin melangkah masuk ke jarak dekat.

Pukulan lurus.

Tanpa teknik rumit.

Tanpa kilatan cahaya.

Namun tekanan dalam pukulan itu membuat udara sendiri seperti tertekan.

Benturan mengenai dada pria itu.

Suara tulang retak terdengar jelas.

Tubuhnya terpental dan jatuh berlutut, batuk darah.

Kini tinggal dua.

Wanita bekas luka mencoba bangkit.

Pria tua akhirnya bergerak.

Ia tidak menyerang langsung.

Ia membentuk segel kuno dengan kedua tangan.

Udara di sekitar Qing Lin menjadi berat.

Tekanan spiritual turun seperti gunung kecil.

Teknik penindasan tingkat tinggi.

Langkah Qing Lin melambat.

Batu di bawah kakinya retak lebih dalam.

Qi dalam tubuhnya berputar liar sesaat, seperti menolak tekanan eksternal.

Pria tua menatapnya tajam.

“Akhiri ini cepat!”

Wanita bekas luka mengumpulkan sisa qi, membentuk satu jarum besar berwarna kebiruan—semua kekuatannya dalam satu serangan.

Jarum itu melesat lurus ke jantung Qing Lin.

Dalam tekanan penindasan, ruang geraknya terbatas.

Ia bisa menghindar.

Namun tidak sepenuhnya.

Jarum itu menembus sisi dadanya.

Lebih dalam dari luka sebelumnya.

Darah mengalir deras.

Hening.

Pria tua menghela napas pendek.

Namun detik berikutnya—

tekanan spiritualnya goyah.

Qi di sekitar Qing Lin tidak melemah.

Ia justru menjadi lebih stabil.

Lebih berat.

Kabut merah keluar dari luka, bercampur dengan sisa energi jarum dan qi liar medan tempur.

Semuanya—

diserap.

Dantiannya bergetar kuat.

Putaran qi menjadi lebih rapat.

Lebih padat.

Ambang.

Qing Lin mengangkat kepala.

Mata hitamnya kini dalam seperti jurang tanpa dasar.

Ia melangkah.

Tekanan penindasan retak.

Satu langkah lagi.

Teknik pria tua pecah seperti kaca.

Ia muncul di depan wanita bekas luka lebih dulu.

Tangannya menekan tenggorokannya.

Tidak keras.

Namun cukup.

Wanita itu mencoba berbicara.

Tidak ada suara keluar.

Qi dalam tubuhnya tersedot perlahan melalui kontak itu.

Sutra Darah Sunyi berdenyut tenang.

Tubuh wanita itu melemah, lalu jatuh.

Tanpa jeritan.

Tanpa drama.

Pria tua mundur tiga langkah.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.

“Teknik sesat…” bisiknya.

Qing Lin menatapnya.

“Teknik hanyalah alat.”

Ia melangkah mendekat.

Pria tua mencoba melarikan diri, melepaskan teknik kabut untuk menutup pandangan.

Namun Qing Lin sudah membaca ritmenya sejak awal.

Ia memotong jalur mundur.

Satu pukulan.

Sederhana.

Qi padat menghantam pusat dada pria tua itu.

Sunyi.

Tubuhnya jatuh perlahan ke tanah tebing.

Angin gunung kembali berhembus.

Hanya Qing Lin yang berdiri.

Darah menetes dari luka di dadanya.

Namun qi di tubuhnya kini lebih stabil daripada sebelumnya.

Ia berdiri cukup lama.

Tidak memeriksa mayat.

Tidak mencari rampasan.

Ia hanya merasakan dantiannya.

Putaran qi semakin rapat.

Ambang itu—

semakin dekat.

Namun bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang berubah.

Ia mencoba mengingat wajah bibinya.

Masih ada.

Namun lebih kabur.

Ia mencoba mengingat rasa takut saat pertama membunuh serigala.

Tidak terasa lagi.

Bukan karena hilang.

Melainkan karena tidak relevan.

Qing Lin menutup mata.

Tarik napas.

Hembuskan.

“Jika ini harga untuk terus maju…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia berbalik dari tebing.

Di bawah sana, Kota Yanshi mulai menyalakan lentera malam.

Dan di suatu tempat dalam kota itu, orang-orang akan segera mengetahui bahwa tiga pemburu mereka tidak kembali.

Bisikan tentang Qing Lin tidak akan mereda.

Ia tidak lagi sekadar bayangan.

Ia kini—

target yang gagal diburu.

Dan dunia kultivator tidak akan diam.

Namun Qing Lin tidak mempercepat langkahnya.

Ia berjalan menuruni gunung.

Tenang.

Seolah semua yang terjadi barusan hanyalah bagian alami dari jalan yang telah ia pilih.

Dan di dalam dantiannya—

inti padat itu berputar semakin lambat.

Semakin berat.

Menunggu momen untuk berubah sepenuhnya

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!