NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teroris Lingkungan

Malam di Gunung Kidul memiliki keheningan yang berbeda.

Bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang kering dan berdebu.

Angin malam berdesir melewati celah-celah bukit kapur, membawa aroma tanah gersang yang baru saja didinginkan oleh embun.

Di gubuk penjagaan Sektor 4, lampu petromaks bergoyang pelan.

Pak Man duduk di bangku panjang di luar gubuk.

Tangannya menggenggam rokok kretek yang belum dinyalakan.

Jemarinya gemetar hebat, bukan karena dingin, tapi karena detak jantungnya yang memukul-mukul rongga dada.

Di dalam gubuk, Sekar tertidur pulas di atas velbed.

Napasnya teratur.

Wajahnya tampak damai, tanpa tahu bahwa benteng pertahanannya sedang digerogoti dari dalam.

Maafkan saya, Non... Maafkan Bapak... batin Pak Man menjerit.

Ponsel di saku celananya bergetar satu kali.

Sinyal.

Pak Man menelan ludah yang terasa pahit.

Dia berdiri perlahan, persendian lututnya terasa lemas seperti agar-agar.

Dia berjalan ke arah gerbang belakang, tempat di mana pagar kawat berduri sedikit renggang.

Dia mengarahkan senter ke arah semak-semak belukar, lalu mematikannya dan menyalakannya lagi dua kali.

Kode diterima.

Tiga bayangan muncul dari balik kegelapan malam.

Mereka bergerak cepat dan senyap, mengenakan pakaian serba hitam dan masker wajah.

Dito, orang kepercayaan Rangga, memimpin di depan.

"Barangnya mana?" bisik Dito kasar, aromanya bau tembakau menyengat.

Pak Man tidak berani menatap mata Dito.

Dia hanya menunjuk ke tumpukan jerigen di sudut gudang penyimpanan alat.

"Yang biru tua. Segel merah. Non Sekar bilang itu... itu biang-nya," suara Pak Man parau, nyaris tak terdengar.

Dito menyeringai di balik maskernya.

Dia memberi isyarat pada dua anak buahnya.

Mereka mengangkat jerigen berkapasitas 5 liter itu.

Berat.

Cairan di dalamnya terasa kental saat berguncang, tidak encer seperti air biasa.

"Bagus." ucap Dito sambil menepuk pipi Pak Man pelan, sebuah tepukan yang merendahkan.

Mereka menghilang secepat kedatangan mereka, melarut ke dalam kegelapan bukit kapur, membawa serta rahasia dapur pertanian Sekar.

Pak Man merosot duduk di tanah.

Dia menyalakan rokoknya dengan tangan gemetar, berharap asap tembakau bisa mengusir rasa jijik pada dirinya sendiri.

Dua jam kemudian, di sebuah laboratorium swasta tak bernama di pinggiran Yogyakarta.

Laboratorium itu tersembunyi di balik bangunan ruko tua yang tampak terbengkalai.

Namun, interiornya sangat kontras: dingin, steril, penuh peralatan kaca dan mesin sentrifus modern.

KMA Rangga Wisanggeni berdiri di sana, mengenakan kemeja sutra licin yang lengannya digulung sesiku.

Matanya berbinar menatap jerigen biru yang kini tergeletak di meja stainless steel.

Di sebelahnya, Dr. Herman mengenakan jas lab putih, memasang wajah serius layaknya seorang hakim yang hendak memvonis mati.

"Buka," perintah Rangga.

Dr. Herman mengenakan sarung tangan lateks, lalu memutar tutup segel jerigen itu.

Pssttt!

Suara gas keluar saat segel terbuka.

Tekanan fermentasi.

Seketika, aroma yang kuat memenuhi ruangan ber-AC itu.

Bukan bau kimia yang tajam menusuk hidung seperti pestisida.

Ini bau yang aneh.

Manis, berbau tanah, sedikit apek seperti ragi tape, namun ada undertone aroma segar seperti hutan hujan setelah badai.

"Warnanya hitam pekat," gumam Dr. Herman saat menuangkan sedikit sampel ke dalam gelas ukur. "Viskositas tinggi. Seperti oli bekas, tapi organik."

"Jangan banyak komentar, Dok. Masukkan ke mesin. Aku mau tahu zat haram apa yang dia pakai sampai pohon kelengkeng bisa tumbuh di atas batu kapur," desak Rangga tidak sabar.

Dr. Herman mengangguk.

Dia mengambil pipet, menyedot cairan hitam itu, dan meneteskannya ke dalam tabung reaksi untuk persiapan uji Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS).

Mesin berdengung halus.

Grafik spektrum mulai muncul di layar monitor komputer.

Menit demi menit berlalu.

Dahi Dr. Herman semakin berkerut.

"Ini... tidak masuk akal," gumamnya.

"Kenapa? Ada racunnya?" tanya Rangga antusias.

"Justru sebaliknya, Gusti. Mesin tidak bisa membaca puncaknya," Dr. Herman menunjuk grafik yang kacau balau di layar.

"Biasanya, pupuk kimia sintetis punya fingerprint yang jelas. Nitrogen amonium, Kalium klorida, Fosfat. Tapi ini..." Dr. Herman menggeleng. "Ini seperti sop organik yang sangat kompleks. Ada ribuan senyawa bio-aktif yang tidak ada di database."

"Maksudmu dia pakai bahan alami?" Rangga kecewa.

"Tidak mungkin alami sekuat ini," bantah Dr. Herman cepat, gengsi akademisnya terusik. "Lihat konsentrasi Asam Amino dan Hormon Auksin-nya. Ini 500 kali lipat dari pupuk hayati terbaik di pasaran. Mustahil fermentasi urin kelinci atau kotoran sapi bisa menghasilkan konsentrasi sepadat ini."

Rangga menyipitkan mata. "Jadi?"

Dr. Herman melepas kacamata tebalnya, membersihkannya dengan ujung jas lab.

"Hipotesis saya: Ini adalah Synthetic Growth Booster ilegal yang diimpor dari pasar gelap Tiongkok atau Rusia. Mereka mencampurnya dengan molase atau tetes tebu untuk menyamarkan jejak kimia sintetisnya agar tidak terdeteksi mesin standar."

"Bisa dibuktikan efeknya?" tanya Rangga.

Dr. Herman tersenyum licik. "Mari kita coba secara visual. Teori saya, ini adalah 'Narkoba Tanaman'. Memaksa sel membelah diri sampai meledak."

Dia berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah pot berisi tanaman Spathiphyllum Lili Perdamaian yang sengaja dibuat layu karena kurang air selama tiga hari.

Daun-daunnya terkulai lemas menyentuh bibir pot.

Dr. Herman meneteskan murni cairan hitam itu, tanpa diencerkan, langsung ke pangkal batang tanaman.

"Perhatikan, Gusti."

Satu menit.

Tidak ada reaksi.

Lima menit.

Tiba-tiba, terdengar suara gemeretak halus.

Krek.

Krek.

Seperti suara ranting yang meregang.

Mata Rangga membelalak.

Daun Spathiphyllum yang layu itu mulai bergerak naik.

Bukan perlahan seperti time-lapse video, tapi secara real-time.

Turgiditas sel tanaman itu kembali dalam hitungan detik setelah menyerap cairan tersebut.

Batangnya menegak kaku.

Warna daun yang kusam berubah menjadi hijau tua mengkilap seolah baru saja disemir minyak.

Bahkan, satu kuncup bunga putih yang masih tertutup rapat, tiba-tiba merekah paksa.

Kelopaknya membuka lebar hanya dalam waktu sepuluh menit.

Itu bukan pertumbuhan.

Itu mutasi instan.

"Gila..." desis Rangga, mundur selangkah. "Itu sihir?"

"Bukan sihir, Gusti. Itu 'Steroid'," potong Dr. Herman dengan nada penuh kemenangan.

Dia menunjuk tanaman yang kini berdiri tegak namun terlihat sedikit aneh, urat-urat daunnya terlalu menonjol, seolah otot yang dipompa paksa.

"Cairan ini memaksa stomata membuka lebar dan memacu metabolisme sel sampai batas maksimal. Tanaman ini terlihat sehat sekarang, tapi umurnya akan pendek. Dia akan mati kelelahan setelah berbuah."

Dr. Herman menatap Rangga dengan serius.

"Ini berbahaya, Gusti. Jika cairan ini meresap ke air tanah, dia bisa memicu ledakan alga di sungai, atau membuat tanaman liar tumbuh menjadi gulma raksasa yang tidak bisa dikendalikan. Ini kategori Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)."

Senyum Rangga mengembang lebar.

Sangat lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih rapi.

Dia mengambil gelas ukur berisi cairan hitam itu, menggoyang-goyangkannya seperti segelas anggur Pinot Noir mahal.

"Jadi, pacar sepupu kesayanganku bukan petani jenius," kekeh Rangga pelan. "Dia adalah teroris lingkungan."

Rangga meletakkan gelas itu kembali.

"Buat laporan palsu... ah, maksud saya, 'Analisis Ahli'. Katakan bahwa cairan ini mengandung senyawa karsinogenik yang bisa menyebabkan kanker bagi siapa saja yang memakan buahnya."

"Tapi mesin tidak mendeteksi karsinogen, Gusti," sela Dr. Herman ragu.

Rangga menatapnya tajam.

Tatapan dingin seorang bangsawan yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau.

"Mesin itu benda mati, Dokter. Anda benda hidup yang butuh uang untuk biaya kuliah anak Anda di Jerman, bukan?"

Dr. Herman terdiam sejenak.

Jakunnya bergerak naik turun.

Integritas ilmuwannya bertarung dengan kebutuhan ekonomi, dan kalah telak dalam tiga detik.

"Saya mengerti, Gusti. Saya akan menyusun narasi bahwa senyawa tak dikenal ini memiliki struktur yang mirip dengan... katakanlah, herbisida terlarang."

"Bagus," Rangga menepuk bahu dokter itu.

Dia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan kepada pimpinan redaksi koran lokal yang sudah dia suap.

Judul Headline besok: "SKANDAL PETANI MILENIAL: Pupuk Ajaib atau Racun Pembunuh Masa Depan?"

Rangga tertawa.

Suaranya memantul di dinding laboratorium yang dingin.

Di luar sana, sampel "Hitam" dari Ruang Spasial itu tampak tenang di dalam gelas ukur.

Cairan itu sebenarnya adalah Booster Organik Konsentrat Tinggi yang terbuat dari sedimen lumpur kolam Mata Air Spiritual.

Ia tidak berbahaya.

Ia adalah murni kehidupan.

Namun, di tangan manusia yang hatinya kotor, bahkan air kehidupan pun bisa dipelintir menjadi racun mematikan.

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!