tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: BAYANGAN DI BALIK KABUT
Suara ranting yang patah di luar pondok itu seolah memotong udara dingin Lake District menjadi dua. Di dalam, api di perapian masih menjilat-jilat kayu ek yang kering, namun kehangatannya mendadak hilang, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari tulang belakang Elara. Ia berdiri kaku, tangannya masih memegang lengan Arlo. Di atas, suara langkah Jamie terhenti; rupanya adiknya itu pun terbangun karena insting yang sama.
Arlo secara refleks menyelipkan buku catatan hangus itu ke dalam celah sofa tua di belakangnya. Matanya yang tadinya sayu kini menajam, frekuensi kewaspadaannya kembali ke level yang sama seperti saat ia berada di mercusuar. Ia meletakkan satu jari di depan bibir, memberi isyarat agar Elara tetap diam.
Elara menahan napas. Di luar, suara langkah kaki itu terdengar lagi, pelan namun pasti, menginjak tumpukan daun basah di samping jendela. Siapa pun itu, mereka tidak sedang berusaha mencari jalan, mereka sedang mengintai.
"Jamie," bisik Elara saat melihat adiknya menuruni tangga kayu dengan memegang sebuah tongkat besi pemantik api sebagai senjata darurat.
Jamie memberikan isyarat agar Elara dan Arlo mundur ke area dapur yang lebih gelap. Jamie mendekati pintu kayu pondok yang rapuh, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa suaranya bisa terdengar oleh siapa pun yang ada di luar. Dengan gerakan cepat, Jamie menyentak pintu itu terbuka.
"Siapa di sana?!" teriak Jamie.
Hening. Angin malam yang membawa uap air dari danau masuk ke dalam ruangan, memadamkan salah satu lampu minyak di meja. Di ambang pintu, hanya ada kegelapan dan kabut yang tebal. Namun, di bawah cahaya redup dari perapian, mereka melihat sesuatu yang tergeletak di teras kayu.
Bukan orang. Melainkan sebuah kotak plastik hitam kecil.
Jamie menoleh ke arah Elara dan Arlo, lalu perlahan mengambil kotak itu. Tidak ada bom, tidak ada ancaman fisik yang meledak. Hanya sebuah *speaker* bluetooth kecil yang tersambung ke sebuah alat transmisi jarak jauh.
Tiba-tiba, speaker itu menyala. Suara statis yang sangat familiar memenuhi ruangan, disusul oleh melodi piano yang dimainkan secara terbalik. Itu adalah bagian dari lagu "About You", namun didekonstruksi hingga terdengar seperti tangisan mesin.
"Kau pikir kau bisa lari ke pegunungan dan menjadi hantu, Arlo?" suara itu muncul dari speaker. Berat, berwibawa, dan penuh dengan nada kemenangan. Itu adalah suara Marcus. "Lake District terlalu indah untuk tempat persembunyian pria yang jiwanya sudah terbakar. Aku tahu kau membawa buku itu. Buku tentang 'Resonansi Elara'."
Arlo melangkah maju, wajahnya memucat namun rahangnya mengeras. "Apa yang kau inginkan, Marcus? Ambil lagu itu, ambil hak ciptanya, ambil semuanya! Biarkan kami sendiri!"
"Kau tidak mengerti, Arlo sayang," suara Marcus tertawa kecil di balik speaker, suaranya terdistorsi oleh sinyal yang buruk. "Lagu itu sudah milik dunia sekarang. Tapi kunci untuk mengendalikan emosi jutaan orang... kunci yang kau tulis di mercusuar itu... itu milikku. Aku yang membiayai studionmu sepuluh tahun lalu. Secara hukum, setiap pemikiran gila yang kau tulis di bawah pengaruh kontrakku adalah aset perusahaan."
"Kau gila, Marcus," Elara berteriak, mendekati speaker itu. "Kami akan melaporkanmu atas dasar pelecehan dan penguntitan!"
"Silakan, Elara Vance. Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama gadis yang menghilang dari Manchester karena depresi berat? Dunia akan sangat senang mendengar cerita tentang bagaimana seorang akuntan sukses di London sebenarnya adalah 'muse' yang tidak stabil dari seorang musisi gila. Bagaimana kariermu jika klien-klien besarmu tahu bahwa kau adalah subjek dari eksperimen psikologis suara yang berbahaya?"
Ancaman itu menghantam Elara tepat di ulu hati. Marcus tidak hanya mengincar Arlo; dia menggunakan Elara sebagai sandera profesional.
"Datanglah ke hotel di Windermere besok pagi pukul sembilan. Sendiri, Arlo. Bawa bukunya. Jika kau datang, aku akan memastikan identitas Elara tetap bersih. Jika tidak... yah, mari kita lihat seberapa cepat internet bisa menghancurkan hidup seseorang," suara itu berakhir dengan bunyi klik tajam. Speaker itu mati.
Keheningan yang menyusul terasa lebih menakutkan daripada suara Marcus. Jamie membanting tongkat besinya ke lantai. "Bajingan itu! Dia benar-benar mengintai kita sampai ke sini."
Arlo duduk kembali di sofa, tangannya gemetar hebat. Ia merogoh kembali buku catatan itu. "Dia tidak akan berhenti, El. Dia seperti *feedback* yang tidak pernah mati. Semakin kita melarikan diri, semakin keras suaranya."
Elara mendekati Arlo, memeluk pria itu dari belakang. Ia bisa merasakan tubuh Arlo yang menggigil. "Kita tidak akan memberikannya, Arlo. Buku itu adalah jiwamu. Jika dia memilikinya, dia akan mengubah semua penderitaanmu menjadi produk massal."
"Tapi dia akan menghancurkanmu, El," bisik Arlo. "Aku sudah menghancurkan hidupmu sekali sepuluh tahun lalu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi."
Malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memejamkan mata. Pondok yang tadinya terasa seperti perlindungan kini terasa seperti sangkar kaca. Elara duduk di depan jendela, menatap kabut yang menyelimuti danau. Ia menyadari bahwa pelarian fisik tidak lagi berguna. Marcus adalah perwujudan dari sisi gelap industri yang selama ini mereka hindari.
Namun, di tengah ketakutannya, sebuah rencana mulai terbentuk di kepala Elara. Jika Marcus ingin bermain dengan frekuensi dan suara, maka Elara akan memberinya apa yang dia minta. Tapi bukan dengan cara yang dibayangkan Marcus.
"Arlo," kata Elara pelan, memecah keheningan fajar. "Apakah kau masih ingat bagaimana cara memalsukan frekuensi?"
Arlo menoleh, sedikit bingung. "Maksudmu?"
"Kita akan pergi ke Windermere besok. Tapi kita tidak akan membawa jiwamu. Kita akan membawa umpan. Dan kau... kau harus membantuku menciptakan distorsi yang paling meyakinkan yang pernah kau buat."
Di bawah cahaya fajar Lake District yang biru, mereka mulai bekerja. Bukan untuk menciptakan musik, melainkan untuk menciptakan jebakan. Bab 11 ditutup dengan suara pena yang menggores kertas, bukan lagi menulis lirik cinta, melainkan strategi untuk memutus gema Marcus selamanya.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐