NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi
Popularitas:104.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Siang itu, Sandrina berdiri di dapur bersama Rosa dan Gianni.

“Aku nggak punya uang,” katanya serius. “Tapi aku bisa bikin sesuatu.”

“Apa?” tanya Gianni penasaran.

“Cookies.”

Rosa tersenyum lembut. “Resep siapa?”

“Ibunya Alecio.”

Percobaan pertama. Gosong.

“Ya ampun!” Sandrina menatap loyang dengan wajah frustrasi. “Ini lebih cocok jadi arang daripada kue!”

Gianni menahan tawa. “Api ovennya terlalu besar.”

Percobaan kedua. Bagian bawah gosong, atasnya masih pucat.

“Kue apa ini, pantatnya ireng,” gumam Sandrina kesal.

Rosa terkekeh. “Tenang, kita coba lagi.”

Percobaan ketiga akhirnya berhasil. Aroma manis memenuhi dapur, hangat dan lembut.

Sandrina menghembuskan napas lega. “Kalau yang ini gagal, aku kasih dia mie instan saja.”

Rosa dan Gianni tersenyum sambil membantu menyusunnya ke dalam toples kaca sederhana.

Sandrina menemui Alecio yang sedang sendirian di taman belakang kastil. Ia duduk di bangku batu, memandang danau kecil dengan tatapan kosong.

Langkah Sandrina melambat. Dia tidak tahu harus memulai dengan omelan atau candaan.

“Alecio.”

Pria itu menoleh pelan.

“Aku… nggak punya kado mahal,” kata Sandrina canggung. Ia menyodorkan toples kaca itu.

Alecio menatapnya beberapa detik sebelum menerima. Tangannya berhenti sesaat saat melihat isi di dalamnya. Cookies bulat sederhana. Aroma yang sangat familiar. Ia membuka tutupnya perlahan. Harumnya langsung menyeruak. Tangannya sedikit gemetar.

“Ibuku sering membuat ini,” katanya lirih, hampir tak terdengar.

Sandrina terdiam. “Aku buat ini dibantu Rosa dan Gianni,” katanya pelan. “Tiga kali gagal. Dua kali gosong. Satu kali hampir kubuang karena bentuknya jelek.”

Alecio tersenyum tipis. Ia mengambil satu, menggigitnya perlahan. Matanya terpejam sejenak. Rasanya sederhana, tetapi muncul perasaan hangat, seperti kenangan yang lama terkubur.

Sandrina menatapnya gugup. “Enak?”

Alecio membuka mata dan menatapnya dalam. “Ini sangat enak sekali.”

Jantung Sandrina berdebar. “Aku nggak bisa mengganti masa lalu kamu,” katanya pelan. “Tapi, mungkin aku bisa bikin hari ini nggak terlalu menyakitkan.”

Alecio berdiri perlahan. “Setahun lalu, aku tidak pernah membayangkan akan ada seseorang yang membuat hari ini terasa berbeda,” ucapnya.

Sandrina mencoba bercanda untuk menutupi rasa haru. “Jangan puji aku begitu. Nanti kamu minta kado lagi tahun depan.”

Alecio mendekat satu langkah. “Kalau kau masih di sini tahun depan,” katanya pelan.

Sandrina terdiam. Ia tidak menjawab. Namun kali ini, ia tidak langsung berkata ingin pulang.

Angin sore berhembus lembut. Alecio masih memegang toples cookies itu seperti benda paling berharga di dunia. Setelah bertahun-tahun, ulang tahunnya tidak lagi terasa seperti hari kehilangan, melainkan hari di mana seseorang memilih untuk tetap tinggal di sisinya.

Menjelang petang Alecio sedang berdiri di balkon kastil, memandangi halaman luas yang biasanya hanya dipenuhi rumput rapi dan patung batu. Angin musim semi bertiup pelan, membawa aroma tanah yang hangat.

Tiba-tiba ia teringat wajah Sandrina saat menyerahkan toples cookies tadi siang. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ulang tahunnya tidak terasa seperti hari berkabung. Dan entah kenapa ia tidak ingin hari itu berakhir biasa saja.

“Aku ingin makan malam di luar,” kata Alecio tiba-tiba.

Patrick yang berdiri tak jauh hampir tersedak kopi. “Di luar … maksud Tuan?”

“Di halaman. Buat dekorasi agar menjadi terlihat romantis.”

Ponsel di tangan Max nyaris jatuh. “Romantis?”

Alecio menoleh tajam. “Ada masalah?”

“Tidak!” Patrick dan Max menjawab kompak.

Dalam waktu kurang dari dua jam, halaman kastil berubah drastis. Anak buah Alecio berlarian membawa pot bunga, lilin, lampu gantung kecil, dan meja panjang dengan taplak putih.

Gianni mengatur rangkaian mawar merah dan putih di sepanjang jalan setapak. Rosa dan para koki sibuk mengomando dapur membuat makanan sesuai pesanan Alecio.

“Cepat, cepat! Itu lampunya miring! Kalau miring nanti kesannya tidak romantis!” teriak Rosa.

Max berbisik pada Patrick, “Aku belum pernah lihat Tuan segila ini.”

Patrick mengangguk. “Cinta memang penyakit yang mahal.”

Ketika malam turun, lampu-lampu kecil mulai menyala, berkelap-kelip seperti kunang-kunang.

Sandrina yang dipanggil ke halaman mengira ada acara resmi atau tamu penting. Ia berjalan sambil menggerutu.

“Kalau ini rapat mafia lagi, aku nggak mau ikut. Aku bukan notulen, ya.”

Namun, begitu pintu belakang terbuka Sandrina langsung membeku. Halaman yang biasanya biasa saja kini berubah menjadi kebun bunga bercahaya. Lampu-lampu menggantung di antara pepohonan, meja kecil dengan lilin berdiri di tengah hamparan kelopak mawar.

Angin malam menggerakkan nyala api kecil itu dengan lembut. Sandrina menutup mulutnya.

“Ya Allah,” bisik gadis itu pelan. “Ini … ini kayak drama Korea.”

Alecio berdiri di dekat meja, mengenakan kemeja hitam sederhana. Tatapannya lurus ke arahnya.

“Kau suka?” tanya Alecio tenang.

Sandrina berjalan pelan mendekat, masih ternganga. “Ini semua buat siapa?”

“Apa di sini ada perempuan lain?” alis Alecio terangkat.

Sandrina memutar bola mata. “Siapa tahu kamu punya koleksi rahasia.”

Patrick yang mengintip dari balik pohon hampir tertawa keras.

Sandrina duduk pelan di kursi. “Ini serius buat aku?”

“Ya.”

“Kamu sudah lama merencanakan ini semua?”

Alecio menggeleng. “Ini rencana spontan.”

“Spontan kamu mahal banget, ya,” gumamnya. “Kalau spontan aku paling cuma beli cilok.”

Alecio tidak paham sepenuhnya, tapi ia tersenyum tipis.

Makan malam dimulai. Tentu saja, ketenangan tidak bertahan lama.

“Jangan lihat aku terus,” protes Sandrina sambil memotong steak dengan canggung.

“Aku melihat milikku,” jawab Alecio santai.

Sandrina tersedak. “Milikmu? Excuse me? Aku bukan barang lelang!”

“Kau di bawah perlindunganku.”

“Itu beda konteks, Mister Overconfidence!”

Alecio terkekeh pelan. “Kau lucu kalau marah.”

“Aku ini lagi serius, lho! Don’t gaslight me!”

“Aku tidak tahu apa itu gaslight,” kata Alecio jujur.

Sandrina menghela napas panjang. “Ya Tuhan, bahasa kita tuh campur aduk banget. Indonesia, Inggris, Italia, Jawa. Nanti anak kita bingung.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Keduanya pada terdiam.

Wajah Sandrina langsung merah. “Eh! Maksudku—itu cuma peribahasa! Contoh! Ilustrasi!”

Alecio justru tersenyum lebih lebar. “Anak kita?” ulangnya pelan.

“Stop! Jangan diulang!” Sandrina menutup wajahnya dengan serbet.

Tawa Alecio pecah untuk pertama kalinya malam itu. Tawa yang ringan dan bebas.

Sementara itu semua anak buah Serigala Hitam yang mengintip saling pandang.

“Tuan, ketawa kencang?” bisik Max tak percaya.

Patrick mengangguk haru. “Keajaiban ulang tahun.”

Sepanjang makan malam, mereka berdebat tentang makanan pedas Indonesia, tentang kenapa Alecio tidak suka sambal, tentang kenapa Sandrina menganggap pasta terlalu ‘kurang nendang’.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang berbeda. Alecio menikmati setiap detiknya di hari itu. Menikmati kebersamaan dengan gadis cerewet yang duduk di depannya. Menikmati cahaya lampu yang memantul di mata Sandrina. Menikmati ulang tahun yang akhirnya terasa hangat.

Malam semakin larut. Sandrina akhirnya kembali ke kamarnya dengan perut kenyang dan hati yang entah kenapa terasa ringan.

“Aneh banget,” gumamnya sebelum tidur. “Aku malah ketawa bareng penculik.”

Tanpa Sandrina sadari, setiap dini hari, ada kebiasaan yang mulai menjadi rahasia oleh sepihak. Pintu kamarnya terbuka perlahan, Alecio masuk tanpa suara.

Cahaya bulan menyinari wajah Sandrina yang tertidur pulas. Cadar sudah terlepas, rambutnya tertutup rapi oleh kain tipis yang biasa ia pakai saat tidur.

Alecio duduk di tepi ranjang. Tatapannya melembut. “Terlalu banyak bicara hari ini,” bisiknya pelan.

Alecio menyentuh pipi Sandrina dengan ujung jarinya. Hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh. Lalu ia menunduk. Ciuman pertama mendarat lembut di bibir ranum itu, pelan dan singkat.

Namun tidak cukup, pria itu kembali menciuminya. Kali ini lebih lama dan lebih dalam. Bibirnya bergerak perlahan, seolah menikmati rasa yang membuat dadanya menghangat. Untuk beberapa detik ia lupa diri. Napasnya mulai berat. Tangannya mengepal di seprai, menahan dorongan yang lebih jauh.

Alecio mundur tiba-tiba. Lalu, menarik napas dalam. “Cukup, jangan kebablasan,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun sebelum benar-benar bangkit, ia menunduk sekali lagi, mengecup bibir itu dengan lembut. “Kau milikku, Sandrina,” bisiknya rendah. “Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

Alecio berdiri, menatap Sandrina beberapa detik lagi. Lalu, pergi sebelum batas yang ia buat sendiri runtuh. Di balik pintu yang tertutup kembali, malam tetap hening.

Di dalam kamar itu, seorang gadis tetap tertidur tanpa tahu bahwa ada pria yang sedang berjuang keras antara cinta dan kendali dirinya sendiri.

1
ken darsihk
😂😂😂😂 guyuuu deweee 🤭
Nar Sih
semangat alecio ,jgn cemburuu dgn tmn,,sandrina lebih baik nikmati keseruan mlm takbir yg pasti heboh dgn ulah konyol ank buah mu
Ninik
Mak othor tega bener ma kite dikasih up nya cuma sekali doang padahal ini justru yg jadi kita terhibur
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
itu mah opor ... Patrick 🤣
Aditya hp/ bunda Lia
gimana tuh para mafia ikutan takbir keliling pasti heboh yah ... 🤣🤣
seftya
lanjut
Mineaa
udah ga sabar liat para mafioso ikut takbir keliling .... pasti seru dengan semua culture shock mereka.....dengan segala tingkah konyolnya.....
belum lagi di liatin para warga lokal....karena mereka " bule "....
mana bule no kaleng kaleng lagi....
thoooorrrr di tunggu update secepatnya ya.... please.....🙏🔥🔥🔥🔥🔥
Sartini 02
lanjut kak double up ya....🤭🤣😍
Lilis Yuanita
lucu🤣🤣
Sartini 02
lanjut kak double up ya...🤭🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😄😄😄😄😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
benar ale. serandom itulah kami kaum cewek
ken darsihk
Ngguyu kemekelennn 😂😂😂
Bule Itali ra umum ha ha ha
Halimah
Astaghfirullah ngakak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
kak Santi kalau up minimal 2 bab donk biar gak nanggung 🙏🙏
seruu soal nya 😘😘
Halimah
dasar somplak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
aku malah kasihan pula sama Ayam nya yg JD panik 🤣
untung gda ayam yg mau bertelur ,, JK ayam yg mo bertelur panik yg ada telur nya masuk lg dan gak JD keluar 🤣🤣🤣
sakit perut aku baca nya sangking ngakak nya. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!