NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kota di Atas Awan dan Mata yang Meremehkan

Arc 2: Akademi Bintang

Matahari bersinar terik di atas jalan raya mengalahkan yang lebar. Debu kuning beterbangan, digilas oleh roda-roda kereta kuda mewah dan langkah kaki ribuan manusia yang bergerak menuju satu arah: Utara.

Di perbincangan, sebuah kota raksasa mulai terlihat di garis cakrawala. Temboknya terbuat dari batu granit putih setinggi tiga puluh meter, berkilauan memantulkan cahaya matahari seolah-olah terbuat dari awan padat. Menara-menara tinggi menjulang di dalamnya, dikelilingi oleh formasi pelindung transparan yang memancarkanQilembut.

Kota Awan Putih (Kota Awan Putih).

Salah satu dari empat kota besar di wilayah selatan kekaisaran, dan rumah bagiAkademi Bintang, institusi bela diri yang menjadi impian setiap aktivis muda.

Di tengah arus manusia yang padat itu, berjalan seorang pemuda terbungkus hitam lusuh dengan caping bambu menutupi wajahnya. Di punggungnya, terikat sebuah benda panjang yang dibungkus kain kasar, bentuknya menyerupai peti mati kecil atau papan pintu.

Itu adalahkamu Chen.

Satu bulan telah berlalu sejak dia pergiPegunungan Sepuluh Ribu Binatang.

Selama perjalanan satu bulan ini, Ye Chen tidak pernah berhenti berlatih. Dia berjalan kaki sejauh ribuan mil, menggunakan beratPedang Pemecah Gunung(500 kg) untuk menempa fisikTubuh Guntur Asura-nya setiap detik. Langkah kaki yang dulu berat dan meninggalkan jejak dalam, kini menjadi ringan dan tak bersuara. Dia telah mencapai tahap di mana beban setengah ton terasa seperti membawa tas punggung biasa.

“Ramai sekali,” gumam Ye Chen di balik capingnya.

Dia melihat sekeliling. Ada pemuda-pemuda berpakaian sutra yang dikawal pelayan, ada gadis-gadis cantik yang menaikiBangau Roh, dan ada juga kekhawatiran miskin yang berjalan kaki dengan sandal jerami seperti dirinya.

Semua memiliki tujuan yang sama:Ujian Masuk Akademi Bintangyang diadakan tiga tahun sekali.

Ye Chen antre di gerbang masuk kota. Penjagaan di sini jauh lebih ketat dan profesional daripada di Kota Angin. Para penjaga mengenakan baju zirah perak mengkilap, dan kapten penjaganya memancarkan auraPemadatan Qi Tingkat 7.

"Masuk kota bayar 5 Batu Roh. Peserta ujian menunjukkan token pendaftaran sementara!" teriakan penjaga gerbang.

Saat giliran Ye Chen tiba, penjaga itu melihatnya dengan curiga. Penampilan Ye Chen yang seperti pengembara miskin dengan pedang aneh di punggungnya sangat mencolok.

“Buka topimu,” perintah penjaga itu.

Ye Chen sedikit mengangkat capingnya, menampilkan wajah yang tenang namun memiliki bekas luka tipis di pipi (sisa goresan Niat Pedang). Matanya hitam pekat, setajam elang.

Penjaga itu sedikit terkejut saat bertatapan mata dengan Ye Chen. Ada aura “bahaya” yang instingtif.

"Nama?"

"Kamu Chen."

"Asal?"

Ye Chen diam sejenak. "Pengembara."

Penjaga itu disembunyikan. "Pengembara miskin yang bermimpi jadi naga ya? 5 Batu Roh. Jangan bikin masalah di dalam, atau kau akan dilempar ke penjara bawah tanah."

Ye Chen tidak menjawab. Dia menjentikkan lima batu roh ke meja pendaftaran, mengambil token masuk, dan melenggang masuk.

Begitu melewati gerbang, hiruk pikuk kota langsung menyambutnya. Jalanan Kota Awan Putih lima kali lebih lebar dari Kota Angin. Toko-toko menjual senjata, pil, dan jimat berderet rapi. Di langit, sesekali terlihat kultivator tingkat tinggi terbang menggunakan pedang terbang atau binatang buas.

Ye Chen menarik napas dalam. Qi di kota ini jauh lebih padat daripada di alam liar.

"Pantas saja semua orang ingin masuk ke sini. Hanya bernapas saja sudah seperti berkultivasi," pikir Ye Chen.

Namun, dia tidak datang untuk jalan-jalan. Dia datang untuk menjadi kuat.

Ye Chen berjalan menuju Distrik Selatan, tempat pemukiman rakyat biasa. Dia mencari sebuah alamat yang pernah dia berikan pada Gou San sebulan yang lalu.

Dia berhenti di depan sebuah bangunan ruko tua yang baru direnovasi. Di atas pintu, tergantung papan nama sederhana: "Kedai Informasi Tiga Mata".

Ye Chen tersenyum tipis. Tiga Mata. Referensi dari Gou San (Anjing Ketiga) dan Mata Asura.

Dia melihat dari seberang jalan. Di dalam kedai, Gou San—yang kini berpakaian rapi layaknya pedagang—sedang sibuk melayani pelanggan yang membeli peta atau gosip terbaru. Wajahnya terlihat lebih gemuk dan bahagia. Dia tidak lagi terlihat seperti preman ketakutan.

"Dia selamat," batin Ye Chen lega.

Ye Chen memutuskan untuk tidak masuk. Jika dia muncul sekarang, dia hanya akan membawa bahaya bagi kehidupan baru Gou San. Han Yun dan Han Feng pasti masih memburunya.

"Hiduplah dengan baik, Gou San. Saat aku sudah cukup kuat untuk menghancurkan Sekte Pedang Darah sampai ke akarnya, baru aku akan menyapamu."

Ye Chen berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan, menuju alun-alun pusat kota.

Alun-Alun Akademi Bintang.

Tempat ini adalah lautan manusia. Ribuan pemuda-pemudi berusia di bawah 20 tahun berkumpul di depan gerbang raksasa akademi yang terbuat dari batu giok biru.

Di tengah alun-alun, terdapat sepuluh panggung batu dengan pilar kristal setinggi dua meter di masing-masing panggung. Itu adalah Pilar Penguji Bakat.

"Minggir, orang udik!"

Sebuah cambuk kuda meletus di dekat telinga Ye Chen.

Ye Chen memiringkan kepalanya sedikit. Ujung cambuk itu lewat hanya satu inchi dari bahunya.

Di belakangnya, sebuah kereta kuda mewah yang ditarik oleh dua ekor Kuda Api (Spirit Beast Tingkat 1) memaksa membelah kerumunan.

Kusirnya berteriak kasar, "Tuan Muda Wang Long dari Keluarga Wang sedang lewat! Sampah-sampah yang menghalangi jalan akan diinjak mati!"

Seorang pemuda yang tidak sempat menghindar—seorang anak petani kurus—tertabrak bahu kuda itu dan jatuh tersungkur. Kereta itu tidak berhenti, rodanya hampir melindas kaki anak itu.

Sret!

Sebuah tangan kokoh menarik kerah baju anak petani itu dan menyeretnya mundur tepat waktu.

Ye Chen melepaskan anak itu. "Hati-hati."

"Te-terima kasih, Kakak!" anak petani itu gemetar ketakutan.

Ye Chen menatap kereta mewah itu dengan dingin. Di jendela kereta, terlihat seorang pemuda berwajah arogan dengan kipas lipat, tertawa melihat kekacauan yang dia buat.

"Keluarga Wang..." gumam Ye Chen. Dia mengingat informasi dari peta yang diberikan Ying. Keluarga Wang adalah salah satu klan penguasa di Kota Awan Putih.

"Jangan cari masalah, Nak," bisik seorang kakek tua di samping Ye Chen. "Itu Wang Long. Kakaknya adalah murid inti di Akademi Bintang. Melawannya sama saja bunuh diri sebelum ujian dimulai."

Ye Chen tidak menjawab, hanya menyimpan nama itu dalam ingatannya.

TENG! TENG! TENG!

Lonceng besar berbunyi dari dalam akademi. Gerbang giok terbuka perlahan.

Seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua dan jenggot panjang melayang turun dari atas gerbang. Dia tidak menggunakan alat bantu, dia benar-benar terbang.

Ranah Pembentukan Inti (Foundation Establishment)!

Para peserta ujian menahan napas. Bagi mereka, Ranah Pembentukan Inti adalah sosok legendaris.

"Namaku Tetua Mo," suara pria itu pelan tapi bergema jelas di telinga ribuan orang. "Aku pengawas ujian tahun ini. Aturannya sederhana."

Dia menunjuk ke sepuluh pilar kristal.

"Letakkan tangan kalian di pilar. Pilar itu akan mengukur dua hal: Usia Tulang dan Tingkat Kultivasi."

"Syarat lulus tahap pertama: Usia di bawah 20 tahun, dan Kultivasi minimal Pemadatan Qi Tingkat 3."

Suara kecewa terdengar dari separuh kerumunan. Banyak dari mereka yang baru mencapai Tingkat 1 atau 2. Standar Akademi Bintang sangat tinggi.

"Mulai!"

Antrean panjang terbentuk.

Ye Chen mengamati prosesnya.

"Lihat! Itu Tuan Muda Wang Long!"

Wang Long naik ke panggung dengan percaya diri. Dia meletakkan tangannya di kristal.

Wuuung!

Pilar itu bersinar terang dengan warna kuning keemasan. Angka-angka muncul di permukaan kristal.

[Usia: 18 Tahun. Kultivasi: Pemadatan Qi Tingkat 6.]

"Wah! Tingkat 6 di usia 18! Jenius!"

"Dia pasti akan masuk kelas elit!"

Wang Long tersenyum sombong, melirik merendahkan ke arah peserta lain, lalu turun panggung sambil mengibaskan kipasnya.

Giliran demi giliran berlalu. Banyak yang gagal dan menangis. Ada yang lulus dengan pas-pasan.

Akhirnya, giliran Ye Chen tiba.

Saat Ye Chen naik ke panggung dengan jubah lusuh dan "papan pintu" di punggungnya, tawa mengejek terdengar dari bawah.

"Lihat itu! Dia bawa apa di punggungnya? Peti mati?"

"Bajunya penuh tambalan. Apa pengemis boleh ikut ujian?"

"Paling dia cuma Tingkat 1."

Tetua Mo di panggung pengawas melirik Ye Chen sekilas. Tatapannya datar, tidak meremehkan tapi juga tidak peduli.

"Letakkan tanganmu," perintah penguji di samping pilar.

Ye Chen maju. Dia meletakkan telapak tangannya yang kapalan di permukaan kristal yang dingin.

"Sembunyikan," batin Ye Chen.

Dia mengaktifkan Mutiara Penelan Surga untuk memanipulasi aura yang keluar. Dia menekan Qi Guntur dan Niat Pedang-nya dalam-dalam, hanya membiarkan Qi murni biasa yang mengalir.

Dia tidak ingin terlalu menonjol. Di tempat asing, menjadi terlalu jenius bisa mengundang pembunuhan. Tapi menjadi terlalu lemah akan mengundang penindasan. Dia butuh keseimbangan.

Pilar kristal itu bergetar pelan. Cahaya putih muncul.

[Usia: 17 Tahun.]

Angka yang muda.

Lalu, tingkat kultivasinya muncul.

[Kultivasi: Pemadatan Qi... Tingkat 4.]

Cahaya itu stabil. Tidak terlalu terang, tidak terlalu redup.

Kerumunan di bawah terdiam sejenak, lalu berbisik-bisik.

"Tingkat 4? Lumayan juga untuk seorang pengembara."

"Yah, rata-rata. Tidak spesial."

"Setidaknya dia lulus."

Penguji mengangguk. "Lulus. Ambil token ini dan masuk ke gerbang. Tahap kedua akan dimulai besok."

Ye Chen mengambil token kayu itu. Wajahnya tetap datar.

Namun, di kursi pengawas utama di atas gerbang, mata Tetua Mo tiba-tiba menyipit.

Dia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Saat Ye Chen menarik tangannya, pilar kristal itu retak sedikit di bagian dalam. Sangat halus, hampir tak terlihat. Itu tanda bahwa pilar itu tidak mampu menahan kepadatan atau kualitas Qi peserta tersebut, atau peserta itu menahan kekuatannya dengan paksa hingga umpan baliknya merusak alat.

"Anak itu..." gumam Tetua Mo. "Qi-nya sangat padat. Lebih padat dari Wang Long yang Tingkat 6. Dan pedang di punggungnya... itu Besi Meteor Hitam? Beratnya pasti ratusan kilo."

Tetua Mo tersenyum tipis di balik jenggotnya.

"Tahun ini ada monster yang menyamar jadi domba."

Ye Chen berjalan masuk ke halaman dalam akademi.

Di sana, para peserta yang lulus dikumpulkan. Wang Long sedang dikerumuni oleh para penjilat yang ingin menjadi pengikutnya.

Saat Ye Chen lewat, Wang Long menunjuknya dengan kipas.

"Hei, kau yang bawa peti mati!" panggil Wang Long.

Ye Chen berhenti, tapi tidak menoleh.

"Kudengar kau tadi menolong si sampah miskin di luar," Wang Long berjalan mendekat, diikuti dua pengawalnya yang juga peserta ujian. "Di Akademi Bintang, sampah harus tahu tempatnya. Kau hanya Tingkat 4. Jadilah pengikutku, bawakan tasku, dan mungkin aku akan melindungimu."

Ye Chen menoleh perlahan. Dari balik caping bambu yang sedikit terbuka, matanya menatap Wang Long.

Tatapan itu... dingin, hampa, dan berisi niat membunuh yang ditekan. Seperti seekor naga yang melihat seekor lalat yang berisik.

Tubuh Wang Long membeku sesaat. Dia merasakan dingin merambat di punggungnya, sebuah insting purba yang berteriak lari.

Tapi perasaan itu hilang secepat datangnya. Ye Chen memutus kontak mata.

"Aku tidak tertarik," kata Ye Chen datar, lalu berjalan pergi meninggalkan Wang Long yang terpaku.

Wajah Wang Long memerah karena malu dan marah. Dia baru saja merasa takut pada seorang pengembara miskin?

"Bocah sialan..." Wang Long meremas kipasnya hingga patah. "Tunggu saja di Ujian Tahap Kedua. Ujian Pertarungan Bebas. Aku akan mematahkan kakimu dan menjadikan pedang burukmu itu rongsokan!"

Ye Chen mendengar ancaman itu, tapi dia tidak peduli. Dia berjalan menuju asrama sementara.

Di dalam hatinya, Ye Chen sedang memikirkan hal lain.

"Di akademi ini... aku merasakan pecahan peta kedua."

Getaran dari Kantong Penyimpanan-nya memberitahunya. Salah satu bagian dari Peta Dewa Pedang ada di dalam wilayah Akademi Bintang.

"Sepertinya tujuanku masuk ke sini semakin menarik."

Arc baru, konflik baru, dan perburuan baru telah dimulai.

(Akhir Bab 25)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!