Di hari pernikahannya, Andi Alesha Azahra berusia 25 tahun, dighosting oleh calon suaminya, Reza, yang tidak muncul dan memilih menikahi sahabat Zahra, Andini, karena hamil dan alasan mereka beda suku.
Dipermalukan di depan para tamu, Zahra hampir runtuh, hingga ayahnya mengambil keputusan berani yaitu meminta Althaf berusia 29 tahun, petugas KUA yang menjadi penghulu hari itu, untuk menggantikan mempelai pria demi menjaga kehormatan keluarga.
Althaf yang awalnya ragu akhirnya menerima, karena pemuda itu juga memiliki hutang budi pada keluarga Zahra.
Bagaimanakah, kisah Zahra dan Althaf? Yuk kita simak. Yang gak suka silahkan skip!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Althaf Mulai Posesif
Pagi harinya, Zahra sudah tampil cantik mengenakan baju bodo berwarna hijau. Mak Mia dan Lisa pun mengenakan baju bodo dengan warna yang sama.
Ketiganya tampak serasi dan anggun. Hari ini adalah hari panen raya, sehingga mereka akan ikut memeriahkan acara tersebut bersama warga kampung.
Di dalam kamar, Zahra berputar-putar di depan Althaf yang sedang duduk di tepi ranjang sambil mengenakan kaus kakinya.
Dengan wajah penuh harap, Zahra bertanya, “Aku udah cantik gak?”
Althaf hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus mengenakan kaus kakinya. “Enggak cantik.”
Zahra langsung melototkan matanya. “Benarkah?” tanyanya sambil memperhatikan penampilannya di cermin lemari.
Dengan ekspresi serius, Althaf kembali menjawab, “Gak cantik.”
Zahra menoleh lalu mendengus kecil. “Itu karena aku belum pakai make up tipis.”
Tanpa ragu, Althaf langsung berkata, “Kalau pakai make up kamu tambah gak cantik. Jadi gak usah pakai make up.”
Zahra langsung cemberut. “Ih, kamu ini gak asik deh! Nyebelin banget!”
Dengan wajah kesal, Zahra berbalik dan berjalan keluar kamar. Sementara itu, Althaf justru tersenyum tipis. Bukan karena Zahra tidak cantik, melainkan sebaliknya, gadis itu terlalu cantik bahkan tanpa riasan.
Itulah alasan Althaf melarang Zahra memakai make up. Ia tak ingin kecantikan sang istri semakin mencuri perhatian para pria, sesuatu yang jelas membuatnya cemburu.
Setelah merapikan pakaiannya, Althaf keluar kamar dan berjalan ke arah teras. Namun, Zahra, Lisa, dan Mak Mia ternyata sudah lebih dulu berangkat. Althaf hanya bisa menghela napas.
Tiba-tiba, sebuah suara menyapanya dari belakang. “Ndag pergi Ki kak di situ acara?”
Althaf membalikkan badannya. Karel terlihat duduk santai sambil sarapan nasi goreng.
“Tidak. Ndag ada liburku,” jawab Althaf datar.
Karel tersenyum kecil. “Kalau ndag pergiki, banyak nanti goda kak Zahra di lapangan. Hati-hati memang meki, Kak.”
Wajah Althaf seketika berubah dingin. Karel pura-pura tidak menyadarinya dan tetap melanjutkan ucapannya dengan nada santai. “Banyak ku dengar anak muda di depan, sering na cerita kak Zahra, katanya kak Zahra cantik sekali lah, manislah.”
Althaf semakin merasa panas. Ia ingin meninggalkan pekerjaannya, tapi hari ini banyak pasangan pengantin yang akan datang untuk diberikan arahan dan belajar tepuk sakinah.
Dengan nada tegas Althaf berkata, “Kaumi pale pergi jaga kakak iparmu.”
Karel menoleh sambil terkekeh. “Boleh tapi ndag ada yang gratis di dunia ini kak.”
Althaf menghela napas. Ia sudah menebak arah pembicaraan adiknya itu. “Mau ko ple apa? Nanti kakak usahakan.”
Wajah Karel langsung berbinar. “Kak, belikan kaa hp baru. Rusak mi hpku. Padahal mau kaa pakai kerjakan tugas.”
Althaf mengangguk. “Oke pale. Nanti pi kalau gajian kaa. Tapi jaga betul-betul kakak iparmu nah. Awasko kalau ada ganggui.”
Dengan semangat, Karel menjawab, “Tenang meki kak. Ku jaga kak Zahra.”
Althaf hanya mendengus pelan. Ia kemudian mengenakan sepatunya dan berangkat menuju kantor KUA, meninggalkan rumah dengan perasaan yang masih dipenuhi kekhawatiran pada istrinya.
*
Di lapangan kampung, warga sudah berkumpul sejak pagi. Suasana tampak sangat ramai. Di tengah lapangan berdiri tenda-tenda besar dengan deretan kursi plastik yang tersusun rapi.
Di beberapa sudut, hidangan khas kampung tersaji melimpah, buras, coto Makassar, konro, sop saudara, burasa, nasu likku, serta aneka kue tradisional yang menggugah selera.
Di bagian tengah tenda utama, sebuah lesung dan alu diletakkan berdampingan, menjadi pusat perhatian acara hari itu.
Zahra berdiri tak jauh dari sana, matanya berbinar penuh antusias melihat persiapan yang terasa begitu meriah dan hangat.
Acara dimulai dengan tarian mappadendang yang dibawakan oleh para remaja kampung, termasuk Lisa.
Zahra tampak bersemangat merekam adik iparnya itu dengan ponselnya, ingin menyimpan momen tersebut sebagai kenang-kenangan.
Di sekitar mereka, beberapa pemuda dan bapak-bapak terlihat mencuri-curi pandang ke arah Zahra. Namun Zahra sama sekali tidak menyadarinya fokusnya hanya pada pertunjukan di depan mata.
Sebagian warga masih terlihat segan pada Zahra akibat kejadian malam itu. Ada yang tersenyum kaku, ada pula yang menatap sinis tanpa berusaha menyembunyikannya, termasuk Bu Mirna dan anaknya, Tiara.
Tak lama kemudian, bunyi alu yang ditumbukkan ke lesung menggema, menciptakan irama khas yang terdengar indah dan sakral.
Di tengah suasana itu, Zahra tanpa sengaja berpapasan dengan Erlangga yang rupanya ikut menonton acara.
“Eh, Pak Pol. Ternyata di sini juga,” sapa Zahra spontan.
Erlangga tersenyum tipis lalu mengangguk. “Tidak perlu panggil pak. Aku sedang tidak tugas.”
Terlihat mata pria itu tak bisa bohong ia merasa senang melihat Zahra.
“Baiklah-baiklah,” jawab Zahra santai.
Erlangga menatap Zahra sekilas lalu bertanya, “Zahra bukan asli warga sini?”
Zahra menggeleng. “Bukan. Papaku asli sini Eh, malam itu aku berterima kasih ya, udah nolong amankan warga yang resek.”
Erlangga tersenyum sambil mengangguk. Baru saja ia akan menjawab, ketika tiba-tiba seseorang berdiri di antara kerumunan. Itu adalah Karel, dengan senyum lebar yang khas.
“Kak Zahra, pasti lapar ki toh. Ayo makan ki saja,” katanya riang.
Tanpa menunggu jawaban, Karel langsung menarik tangan kakak iparnya, menjauhkan Zahra dari Erlangga, sesuai dengan misinya.
Tak lama kemudian, Zahra dan Karel sudah duduk menikmati hidangan yang tersedia.
Sementara mereka makan, terdengar suara para ibu-ibu yang tengah bergosip di dekat meja prasmanan. Di antara mereka, Mak Mia terlihat sibuk menjaga hidangan.
“Eh, ko tahu gak?” suara Bu Siti terdengar pelan tapi penuh semangat.
“Apa?” sahut beberapa ibu hampir bersamaan.
Bu Siti mendekatkan wajahnya. “Rumah putih yang besar kayak istana itu, yang ada di depan sana. Adami katanya yang beli.”
Semua langsung terkejut. “Eh, siapa mi yang beli itu?” tanya Bu Lija.
“Banyaknya pasti uangnya,” sambungnya lagi.
Bu Raodah ikut nimbrung. “Tentunya mi sultan yang beli. Bukan rakyat jelata.”
“Ih, penasaran sekali ka lihat di dalamnya. Pasti mewah sekali toh,” ujar Bu Siti, sambil membayangkan di dalamnya.
“Iyo,” sahut yang lain sambil mengangguk.
“Pasti na mewah. Tapi mewah juga harganya.”
Zahra yang mendengar percakapan itu mengerutkan kening. “Mereka bahas apa sih? Heboh banget.”
Karel yang sedang mengunyah buru-buru menelan makanannya. “Kita tau kak rumah putih sendiri yang ada di pinggir jalanan, yang sekelilingnya sawah?”
Zahra mengangguk. “Iya, tahu.”
“Katanya itu sudah ada beli i, kak,” lanjut Karel. “Beh, pasti orang kaya itu.”
Zahra menghela napas pelan. Rumah putih yang sering ia lihat setiap kali keluar masuk desa itu memang besar, tetapi masih jauh lebih besar kediaman orang tuanya. Ia tersenyum kecil dalam hati. Kalau para warga tahu jika rumah orangtuanya jauh lebih mewah dari rumah putih itu, mungkin mereka akan langsung pingsan di tempat.
mana syar'i pulak lagi