Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: The Confrontation
"Dengar, Sora. Aku tidak punya waktu seharian meladeni tingkah kekanak-kanakanmu."
Kairo membanting pintu hingga bergema, mengabaikan fakta istrinya baru saja mencoba bunuh diri. Dia berjalan lurus ke arah sofa, menatap Elena rendah.
Elena tak bergeming. Tangan kiri yang diperban bertumpu santai di sandaran sofa, tangan kanan memegang dokumen hangat.
"Siapa yang memintamu meladeni?" balas Elena datar. "Aku tidak memintamu pulang. Kembali saja ke kantor, atau ke mana pun kau biasa pergi saat muak melihat wajahku."
Langkah Kairo mati seketika. Alisnya menukik tajam. Biasanya, kalimat sekasar itu dibalas tangisan histeris Sora. Tapi wanita di depannya ini... terlihat bosan.
"Jangan memancingku," geram Kairo. Dia merogoh saku, mengeluarkan buku cek dan pena emas. Sret. Dia merobek selembar cek.
Kertas itu melayang jatuh di pangkuan Elena.
"Ambil," perintah Kairo dingin. "Isi sendiri nominalnya. Beli tas, beli perhiasan, atau sewa pulau. Asal kau berhenti mempermalukan nama Diwantara dengan drama bunuh diri kampungan ini."
Elena menatap cek kosong itu. Bagi Sora, ini tiket surga. Bagi Elena, ini penghinaan profesional. Dia menjepit cek itu dengan dua jari, seolah memegang sampah.
"Kau pikir semua masalah selesai dengan ini?"
Kairo melonggarkan dasi. "Bukankah itu bahasamu? Uang? Jangan munafik. Kau menikahiku karena uang. Ambil dan diam."
"Kau benar. Uang memang bahasa universal," aku Elena, tersenyum miring. "Tapi maaf, Tuan Kairo. Nilai tawar cek ini terlalu rendah untuk harga diriku sekarang."
Srek!
Elena meremas cek itu menjadi bola kertas, lalu menjentikkannya tepat ke dada Kairo. Bola kertas itu memantul di kemeja mahal sang CEO, jatuh menggelinding tak berharga.
Rahang Kairo mengeras. "Kau... apa maumu? Menantangku?"
"Bernegosiasi," potong Elena. Dia berdiri, menyodorkan dokumen print-an itu ke depan wajah Kairo. "Baca."
Kairo menepis kasar, tapi matanya menangkap judul besar itu.
PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET
Kairo tertawa kering. "Kerjasama? Sejak kapan kita bekerjasama? Kau cuma benalu yang menempel di pohon besar."
"Benalu ini sadar diri dan ingin turun," balas Elena tajam. "Karena posisi kita tidak setara, aku mengajukan resign."
Kata resign terdengar asing. Kairo merebut dokumen itu, membalik halaman kasar. Matanya menyipit membaca poin tuntutan.
Hutang lunas. Apartemen studio. 5 Miliar.
"Lima miliar?" Kairo mendengus sinis. "Jadi ini harga nyawamu? Kau sayat tangan cuma untuk memeras lima miliar?"
"Aku realistis," jawab Elena tenang. "Itu pesangon wajar untuk kerja keras setahun jadi istrimu. Menahan sikap dinginmu, pura-pura bahagia, mengurus rumah kosong ini. Kau bos yang pelit, Kairo."
"Kerja keras?!" Kairo membanting dokumen ke meja kaca. Brak! "Kerja kerasmu cuma menghabiskan limit kartu kredit dan mempermalukanku!"
"Makanya aku berhenti!" sentak Elena, suaranya meninggi satu oktaf.
Dia menunjuk dokumen itu. "Aku tahu aku istri yang buruk. Kau benci aku. Kau jijik. Makanya kutawarkan jalan keluar! Tanda tangani, transfer uangnya, dan kau tak perlu melihatku lagi seumur hidup. Kita bicara bisnis di pengadilan agama minggu depan."
Elena menatap lurus mata hitam legam itu.
"Aku serius. Aku muak dengan pernikahan ini. Aku muak denganmu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Selama ini Sora selalu mengemis cinta. Sekarang dia bilang muak? Ego Kairo terusik. Dia, Kairo Diwantara, dicampakkan oleh istri benalu?
"Kau muak?" bisik Kairo pelan, suaranya berubah berbahaya.
Dia maju perlahan. Tatapannya terkunci pada bibir Elena. Alarm bahaya berdering di kepala Elena. Dia mencoba mundur, tapi pinggangnya membentur meja rias. Terperangkap.
"Ya, aku muak," Elena mendongak menantang. "Kaget istrimu akhirnya punya otak? Cepat tanda tangan dan keluar."
"Kamarmu?" Kairo tertawa tanpa humor. "Ini rumahku, Sora. Termasuk kau."
Tangan Kairo menyambar dokumen di meja.
Sreeet!
Kairo merobek proposal itu jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Dia menghancurkannya tanpa kedip.
"Itu hasil kerjaku!" protes Elena, mencoba merebut serpihan kertas yang kini dihamburkan Kairo ke udara seperti salju.
"Omong kosong," desis Kairo. "Bisnis? Pengadilan? Kau pikir semudah itu?"
Kairo menghentakkan kedua tangan ke meja rias, di sisi kiri dan kanan tubuh Elena, mengurungnya. Aroma musk dan amarah maskulin menyergap Elena.
"Kau pikir pernikahan ini pintu putar hotel? Bisa masuk keluar semaumu?" Kairo menunduk, wajahnya inci dari wajah Elena. Mata hitamnya menyala posesif.
"Kau tanda tangan kontrak seumur hidup saat memaksa masuk keluargaku setahun lalu, Sora."
Jantung Elena berdegup kencang karena adrenalin. "Kontrak bisa dibatalkan kalau ada penalti. Aku bayar penaltinya. Lepaskan aku."
"Tidak ada penalti uang."
Kairo tersenyum miring, kejam. Tangannya mencengkeram dagu Elena, memaksa wanita itu mendongak.
"Kau mau main bisnis? Baik. Aturan pertamaku: Aku tidak pernah melepaskan asetku. Sekalipun aset itu sampah."
Dia mendekatkan wajahnya lagi, berbisik serak.
"Kau ingin keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sayang. Rapat belum selesai, dan kau masih milikku."
Udhlah,, senggol bacokl🤣🤣
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪