Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Pulang.
Malam Sudah merangkak, Zaki sudah pulang ke mes restaurant, yang dihuni oleh beberapa karyawan, di sini perasaan Zaki campur aduk, antara takut, dan khawatir dengan sikap Anisa yang tiba-tiba berubah.
Di dalam kamar yang sepetak itu Zaki merenung, rasanya menunggu akhir pekan yang hanya tinggal hitungan hari saja serasa seperti bertahun-tahun.
Suara kipas angin tua di sudut kamar berputar pelan, memecah sunyi di mess restoran yang sempit itu. Beberapa rekan kerjanya sudah terlelap, namun Zaki masih duduk bersandar di dinding, punggungnya terasa lelah, tapi pikirannya jauh lebih penat.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama. Nama Anisa terpampang di sana. Hatinya berdebar. Antara takut mendengar jawaban… dan lebih takut lagi jika tidak mendengar apa-apa.
Akhirnya ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar lebih lama dari biasanya.
“Halo…” suara Anisa terdengar pelan di seberang.
“Nis…” Zaki menarik napas. “Maaf ganggu lagi.”
“Enggak,” jawab Anisa singkat.
Ada jeda. Hanya suara napas yang saling terdengar. Zaki memejamkan mata sebentar. Ia tak mau berputar-putar lagi malam ini.
“Nis, aku mau tanya satu hal. Jawab jujur ya.”
Anisa terdiam, namun dalam hatinya terasa pilu.
“Apa kamu… masih mau sama aku?”
Pertanyaan itu seolah menghantam secara halus dada Anisa. Ia menggenggam ponselnya erat. Dadanya terasa sesak. Ia tahu momen ini akan datang, hanya saja ia tak pernah siap menghadapinya.
“Aku mau…” jawabnya akhirnya, lirih.
Zaki hanya terdiam menanti ucapan Anisa selanjutnya.
“Tapi…” lanjut Anisa, suaranya mulai bergetar, “aku nggak mau kamu jadi durhaka.”
Zaki membelalakan matanya, ada rasa tak terduga kenapa Anisa tiba-tiba berucap seperti itu.
“Aku nggak mau kamu melawan orang tua cuma karena aku,” sambung Anisa. “Aku nggak mau suatu hari kamu menyesal pernah kenal sama aku.”
“Nis…” suara Zaki melembut.
“Aku nggak takut susah,” lanjut Anisa pelan. “Aku cuma takut kamu kehilangan keluargamu karena aku.” Ada isak yang berusaha ia tahan.
Di kamar sempit itu, Zaki menunduk. Hatinya terasa diremas. Bukan karena ia ragu, tapi karena ia tahu perempuan yang ia cintai justru sedang berusaha mundur demi dirinya.
“Aku kerja di sini bukan buat jadi pembangkang,” ucap Zaki tenang. “Aku kerja buat buktiin kalau aku bisa tanggung jawab. Bukan cuma ke orang tua… tapi juga ke kamu.”
Anisa terdiam, air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku nggak pernah niat durhaka,” lanjut Zaki. “Tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu cuma karena kita takut duluan.”
Malam itu, mereka sama-sama tak menemukan solusi. Hanya dua hati yang sama-sama ingin bertahan, tapi sama-sama takut melukai. Dan di ujung telepon itu, Zaki semakin yakin. Ia tidak bisa menyelesaikan semuanya dari jarak sejauh ini.
"Aku harus pulang secepatnya," gumamnya dengan pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi sudah menjelang, Zaki bangun dengan perasaan tak tenang, tidurnya yang hanya sedikit membuat tenaganya sedikit kurang fit. Namun saat tahu jika hari ini merupakan akhir bulan ia jadi semangat lagi untuk gajian, ya meskipun ia baru satu Minggu kerja di restauran ini.
"Bro, kenapa lemas?" tanya seorang teman.
"Gak kok, cuma sedikit capek saja," sahut Zaki.
"Biasalah itu, pertama kerja emang gitu, tapi kalau kita sudah dapat gaji pasti rasa lelah itu terasa hilang begitu saja," ungkap salah satu teman Zaki.
Zaki pun menanggapi dengan senyuman, bukan karena gajinya, tapi untuk kali ini hatinya memang sedang tidak baik-baik saja, ada seseorang yang perlahan ingin menghindar karena suatu omongan.
"Apa salah satu keluargaku yang sudah mendesak Anisa," ucapnya menerka-nerka.
Zaki menarik napas panjang, berusaha mengusir prasangka yang terus mengganggu pikirannya. Ia tak ingin bekerja dengan hati yang penuh curiga. Apa pun yang terjadi, ia harus tetap menyelesaikan tanggung jawabnya hari ini.
Pagi itu dapur kembali sibuk. Pesanan datang silih berganti. Tumpukan piring tak pernah benar-benar habis. Zaki kembali berdiri di tempatnya, menggulung lengan baju, lalu mulai mencuci seperti biasa. Air mengalir deras, busa sabun memenuhi telapak tangannya yang mulai kasar.
“Ki, yang sebelah kanan dulu!” seru salah satu koki.
“Iya!” jawabnya sigap.
Meski pikirannya sempat melayang, tangannya tetap bekerja cepat. Ia tak mau dicap lalai. Sesekali ia mengusap keringat di pelipis dengan bahu. Badannya memang belum sepenuhnya pulih dari kurang tidur, tapi ada satu hal yang membuatnya mempertahankan tekad kuatnya ini.
Menjelang sore, suasana dapur mulai lebih lengang. Para karyawan satu per satu dipanggil ke ruangan kecil dekat kasir.
“Ki, giliran kamu,” ujar salah satu rekan.
Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena nominalnya, tapi karena arti di baliknya.
Di ruangan itu, ia menerima amplop cokelat tipis. Upah satu minggu kerjanya. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya tersenyum kecil. Keringat dan lecet di tangannya terasa sedikit terbayar.
“Semangat ya, baru awal ini,” ujar pengelola restoran.
“Iya, Om. Terima kasih,” jawab Zaki sopan.
Begitu keluar dari ruangan itu, ia menatap amplop di tangannya beberapa detik. Lalu tanpa banyak berpikir, ia mengambil keputusan yang sejak semalam sudah mengendap di kepalanya.
Ia tidak akan menunggu lama lagi, juga tidak ingin menunda jarak yang makin melebar, Zaki kembali ke mess, memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas kecilnya. Gerakannya cepat, seolah takut kalau ia terlalu lama berpikir, keberaniannya akan surut.
Ponselnya sempat ia pegang. Nama Anisa terlintas di layar. Namun ia mengurungkan niat untuk memberi kabar.
Bukan karena ingin membuat kejutan semata, tapi karena ia ingin melihat sendiri wajah perempuan itu saat bertemu. Ia ingin memastikan dengan matanya, bukan dari nada suara atau pesan singkat.
“Kalau memang kamu mau menjauh… aku akan datang mendekat,” gumamnya pelan.
Menjelang magrib, Zaki sudah berada di perjalanan menuju Jakarta.
Bersama tas kecil di punggungnya dan amplop gaji di saku, ia membawa satu hal yang jauh lebih besar dari sekadar uang, yaitu keputusan untuk tidak menyerah.
Bersambung ....