NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BEBAS DARI PENJARA, KEHILANGAN RUMAH

Ayah Kanaya tidak berhenti di situ. Ia justru semakin menjadi-jadi saat melihat Kanaya mulai melawan. Wajahnya yang memerah kini tampak semakin gelap, penuh kebencian yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya.

"Bahkan adikmu bilang kamu pacaran sama preman jalanan! Kamu nggak mikir? Mau jadi apa kamu? Sudah nggak tahu diri, sekarang mau jadi sampah masyarakat juga?!" teriak ayahnya, suaranya melengking menyakitkan.

Kanaya terdiam sejenak. Kalimat itu benar-benar menjadi tetes terakhir yang menghancurkan sisa kesabarannya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang membedah isi kepala laki-laki itu.

"Ayah ini kalau ngomong dipikir dulu apa nggak?" tanya Kanaya, suaranya rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan. "Setiap aku salah, aku dimarahi atas kesalahanku sendiri. Aku terima. Tapi kenapa setiap adikku yang salah, aku juga yang ikut dimarahi? Kenapa aku selalu jadi tempat sampah untuk semua kegagalan kalian?"

Kanaya menyeka sudut matanya yang kering, hatinya sudah terlalu panas untuk sekadar mengeluarkan air mata.

"Ayo!" bentak Kanaya tiba-tiba, suaranya menggelegar membuat ayahnya tersentak. "Kita datangi dia sekarang! Aku nggak takut sama anak brengsek itu. Kita buktikan siapa yang berbohong di depan mukanya langsung!"

Tanpa menunggu jawaban, Kanaya menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja teras. Ia melangkah dengan kaki yang kokoh, mengeluarkan motor dari garansi dengan gerakan kasar.

"Naya! Mau ke mana, Nduk?" seru Maya panik, namun ia juga tidak ingin tertinggal. Ketakutan Maya berubah menjadi dorongan untuk membela anaknya.

"Ikut Naya, Bu! Kita selesaikan drama murahan ini sekarang!" sahut Kanaya sambil menyalakan mesin motor.

Kanaya memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah ayahnya yang selama ini tidak pernah ingin ia injak. Di belakangnya, ayahnya menyusul dengan motornya sendiri, dan Maya yang nekat membonceng tetangga demi memastikan Kanaya tidak melakukan hal nekat.

Begitu sampai di depan rumah minimalis milik ayahnya, Kanaya tidak mengetuk pintu. Ia langsung menendang pagar hingga menimbulkan suara dentum yang nyaring.

"Keluar kamu!" teriak Kanaya di depan rumah itu. "Keluar, bocah pengecut! Sini bilang depan mukaku siapa preman jalanan yang kamu maksud!"

Pintu terbuka, memperlihatkan wajah adik tirinya yang pucat pasi, disusul oleh ibu tirinya yang tampak kaget melihat kedatangan "tamu" yang tidak diundang itu. Suasana mendadak menjadi sangat panas di bawah langit sore yang kian jingga. Kanaya berdiri tegak di tengah halaman, menantang semua fitnah yang selama ini mengurung namanya dalam kebohongan.

Adik tirinya mematung di ambang pintu, wajahnya yang tadi angkuh mendadak pucat pasi melihat Kanaya berdiri seperti singa yang siap menerkam. Ibu tirinya mencoba maju untuk membela, namun Kanaya memberikan tatapan yang begitu tajam hingga perempuan itu tertahan di tempat.

"Kamu yang nggak mau sekolah, kenapa aku yang disalahkan?!" bentak Kanaya, suaranya menggelegar di halaman rumah yang sempit itu. "Kamu yang memang pemalas, kenapa aku juga yang dibawa-bawa? Mau sebar fitnah apalagi? Cepat omongin di mukaku, brengsek!"

"Naya, jaga bicaramu! Dia adikmu!" teriak ayahnya yang baru saja sampai dan turun dari motor dengan napas tersengal.

"Adik? Adik macam apa yang kerjanya cuma mengadu domba?!" Kanaya berbalik menatap ayahnya, lalu kembali menunjuk adik tirinya. "Buka HP-mu sekarang! Tunjukkan akun mana yang kamu bilang pamer? Tunjukkan siapa laki-laki yang kamu sebut preman? Tunjukkan sekarang atau aku hancurkan rumah ini!"

Adik tirinya gemetar, tangannya memegang ponsel dengan erat namun tidak berani membukanya. Ia hanya menunduk, tidak berani menatap mata Kanaya yang berkilat penuh luka dan amarah.

"Kenapa diam? Tadi di depan Ayah kamu jago sekali bicara, kan?" Kanaya mendekat, merampas ponsel dari tangan adiknya itu. "Ayah lihat ini! Lihat baik-baik!"

Kanaya membuka paksa galeri dan akun media sosial adiknya di depan mata ayahnya. "Lihat foto-foto ini! Ini bukan fotoku! Ini foto orang lain yang dia ambil dari internet untuk membohongi Ayah! Dia cuma mau alasan supaya bisa bolos sekolah dan minta uang lebih dengan menjelek-jelekkan aku!"

Ayah Kanaya tertegun melihat layar ponsel itu. Kebohongan yang sangat dangkal, namun ia telan mentah-mentah hanya karena ia ingin memiliki alasan untuk membenci Kanaya dan Maya.

"Dan soal preman?" Kanaya tertawa pahit, air mata kemarahan akhirnya menetes. "Dia melihat Mas Hendri yang waktu itu datang ke rumah sakit, lalu dia bilang itu preman? Padahal dia tahu Mas Hendri itu orang yang membantu aku saat Ayah tidak ada!"

Maya, yang baru saja sampai dengan bantuan tetangga, melangkah maju. Tubuhnya yang lemah mendadak tegap. Ia menatap adiknya—Ayah Kanaya—dengan tatapan yang paling dingin yang pernah ada.

"Cukup, Haris," ucap Maya pelan namun menembus jantung. "Kamu sudah gagal jadi adik, kamu gagal jadi ayah untuk Naya, dan sekarang kamu terbukti gagal jadi kepala keluarga di rumah ini karena bisa dibodohi oleh anak kecil. Jangan pernah sekali-kali lagi kamu menyentuh atau memfitnah anakku."

Kanaya melempar ponsel adiknya ke lantai hingga retak. Ia tidak lagi merasa sedih, ia merasa merdeka. "Mulai hari ini, jangan pernah anggap aku kakakmu. Dan Ayah... anggap saja anakmu cuma satu, yaitu bocah pemalas ini. Karena bagiku, kalian semua sudah mati sejak lama."

Kanaya berbalik, menggandeng tangan ibunya, dan berjalan menuju motor tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, suasana rumah itu pecah oleh pertengkaran baru, namun Kanaya tidak peduli. Ia telah menghancurkan dinding fitnah itu dengan tangannya sendiri.

Perjalanan pulang itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suara mesin motor yang menderu penuh amarah, hanya putaran roda yang tenang membelah angin sore. Maya, yang duduk di belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Kanaya—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan. Ia bisa merasakan bahu anaknya yang masih gemetar, bukan karena takut, tapi karena sisa-sisa emosi yang baru saja tumpah.

Sesampainya di rumah, Kanaya langsung memarkir motornya. Ia tidak langsung masuk, ia berdiri bersandar pada jok motor, menatap kosong ke arah langit yang mulai gelap.

Maya mendekat perlahan. Ia melihat punggung anaknya yang selama ini ia bebani dengan trauma dan ketakutannya sendiri. Ia melihat seorang wanita dewasa yang sudah terlalu banyak menelan pil pahit kehidupan hanya demi menjaga napas ibunya.

"Naya..." suara Maya parau, nyaris pecah.

Kanaya tidak menjawab, ia tetap membelakangi ibunya.

"Maafkan Ibu, Nduk," ucap Maya lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. "Ibu baru sadar... Ibu sudah keterlaluan. Selama ini Ibu pikir Ibu menjagamu, tapi ternyata Ibu hanya mencekikmu. Ibu membiarkanmu jadi sasaran amarah Ayahmu, Ibu membiarkanmu jadi pelampiasan rasa sakit hati Ibu."

Kanaya masih diam, namun bahunya mulai naik turun. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah juga.

"Ibu yang salah," lanjut Maya sambil memegang pundak Kanaya, memaksanya untuk berbalik. "Ibu melihat titik kesabaranmu habis hari ini, dan Ibu sadar betapa jahatnya Ibu selama ini. Kamu berhak bahagia, Naya. Kamu berhak punya hidup sendiri. Maafkan Ibu yang sudah mematikan hatimu."

Kanaya menatap ibunya. Ia melihat wajah tua itu kini benar-benar tulus, tanpa ada manipulasi atau keinginan untuk mengontrol. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Kanaya tidak melihat "sipir penjara", melainkan seorang ibu yang juga hancur dan baru saja menemukan puing-puing kewarasannya kembali.

"Naya capek, Bu," bisik Kanaya di pelukan ibunya. "Naya cuma mau hidup tenang. Naya nggak mau disalahkan atas hal yang nggak Naya lakukan."

"Iya, Ibu tahu. Ibu tahu sekarang," Maya mendekap kepala anaknya erat-erat. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu. Tidak Ayahmu, tidak istri dan anak tirinya, bahkan Ibu pun tidak akan lagi mengekangmu. Kamu merdeka, Naya. Benar-benar merdeka."

Malam itu, di bawah lampu teras yang temaram, sebuah janji baru terucap tanpa kata-kata. Kanaya tidak lagi merasa perlu lari ke Sulawesi atau Kalimantan untuk mencari kebebasan, karena penjara yang selama ini mengurungnya—rasa bersalah dan tuntutan ibunya—telah runtuh dengan satu kata maaf yang tulus.

Malam itu, langit seolah sengaja menumpahkan seluruh kegelapannya di atas pundak Kanaya. Di saat ia baru saja meruntuhkan dinding amarah dengan ibunya, sebuah kenyataan lain menghantamnya lebih telak dari tamparan ibu tirinya tadi sore.

Dengan tangan yang masih gemetar, Kanaya duduk di pinggir tempat tidur. Layar ponselnya yang retak menampilkan sebuah unggahan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Di sana, Hendri tampak tersenyum lebar—senyum yang dulu hanya miliknya—bersama seorang wanita yang tampak begitu tenang dan serasi di sampingnya. Caption-nya tidak panjang, namun cukup untuk mengakhiri segala harapan yang selama ini diam-diam masih ia simpan di sudut hati yang paling gelap.

Kanaya menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sangat berat hingga menusuk dadanya. Ia tidak melempar ponselnya. Ia tidak menangis meraung-raung. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang penuh dengan keikhlasan yang dipaksakan.

"Ini sudah pas," gumam Kanaya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam sunyinya kamar. "Sudah lega aku membebaskannya, dan dia sudah bahagia."

Ia menatap wajah Hendri di layar itu untuk terakhir kalinya. Ia teringat janji Hendri di dermaga dulu, teringat bagaimana pria itu rela menjadi "diam" demi keselamatannya. Kanaya sadar, ia sendiri yang mendorong Hendri pergi. Ia sendiri yang membangun tembok es itu begitu tinggi hingga pria sebaik Hendri pun akhirnya kedinginan dan memilih mencari kehangatan di tempat lain.

Maya, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar yang sedikit terbuka, mendengar gumaman itu. Ia melihat punggung anaknya yang bergetar hebat meski suaranya terdengar tegar. Maya merasa hatinya perih; ia tahu dialah alasan di balik kesendirian Kanaya saat ini. Ia yang mematahkan sayap anaknya tepat saat Kanaya ingin terbang bersama pria itu.

"Naya..." panggil Maya pelan.

Kanaya cepat-cepat mematikan layar ponselnya dan menghapus air mata yang sempat jatuh. "Iya, Bu?"

"Ibu lihat tadi..." Maya tidak melanjutkan kalimatnya, ia tahu itu akan semakin menyakitkan. Ia duduk di samping Kanaya, merangkul bahu anaknya yang kaku. "Maafkan Ibu. Karena ketakutan Ibu, kamu jadi kehilangan orang yang tulus menjagamu."

Kanaya menggeleng pelan. "Enggak, Bu. Ini bukan salah Ibu saja. Ini memang jalan hidup Naya. Mas Hendri pantas mendapatkan wanita yang utuh, bukan wanita yang hancur dan penuh beban seperti aku. Kalau dia bahagia, aku juga tenang."

Malam itu, Kanaya benar-benar melepaskan semuanya. Ia mematikan hatinya bukan lagi karena benci, tapi karena ia tahu cintanya telah menemukan pelabuhan yang lebih tenang daripada dirinya yang penuh badai. Ia memutuskan untuk fokus pada satu hal yang tersisa: membangun kembali puing-puing hidupnya bersama ibunya, meski tanpa kehadiran laki-laki yang pernah menjadi oksigen baginya.

1
Mega Arum
luar biasa
Mega Arum
bagus sekali ceritanya.. menguras airmata,
sukensri hardiati
👍💪🙏/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
astagaa....bagaas...bagaas...
sukensri hardiati
semuanya sakit...psikis dan fisik
sukensri hardiati
masyaa Allah...kanaya...hebaat kamu...
sukensri hardiati
bagas dateng salah.....nggak dateng salah juga...mbah kung mbingungke...yaaah..kanaya yg jadi korban
sukensri hardiati
banyak sekali yg sayang kanaya.../Rose/
falea sezi
q ksih ne bunga lagi tp kasih boncap banyakkkk
falea sezi
Duh seru lo tambah boncap donk thor/Shame/
nanuna26: boncap itu apa ka
total 1 replies
falea sezi
q ksih bunga karena cerita mu bagus menguras air mata/Sob/
falea sezi
Wanda baik bgt sih uda Hendri urus aja bini mu itu q kira qm. setia perjuangan kan Kanaya nyatanya bini nya lagi hamil dih
nanuna26: kak makasih banyak ya, ini kisah nyata author walau endingny belum sebahagia kanaya hehe
total 1 replies
falea sezi
move on nay qm nanti pasti ketemu jodoh
falea sezi
biarin aja bapak mu yg urus itu kakaknya
Boa: serius kak?
total 2 replies
falea sezi
gila bner. maya ne harusnya di rmh sakit jiwa aja
falea sezi
pergi aja Kanaya ngekos maya jd gila. karena. jd perawan tua
falea sezi
berikan naya bahagia
falea sezi
nyesek amat Kanaya astaga
falea sezi
pengen tak bejek2 si bagas
falea sezi
pergi aja dr situ bagas laki kok. lembek. krja lah ajak anakmu pergi jauh
nanuna26: kak falea makasi udh support
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!