NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPULUH

Axel menatapnya lekat, seolah membaca setiap detail ekspresi Mikhasa yang berusaha tampak berani. Senyum tipis di bibirnya tak luntur, meski penolakan Mikhasa jelas terasa.

“Kamu itu keras kepala banget, ya,” ucap Axel pelan. Nadanya hangat, lebih terdengar seperti godaan daripada teguran.

Mikhasa menghela napas, lalu menegakkan bahu. “Saya cuma mau hidup normal. Kerja normal. Tanpa drama,” katanya jujur. “Beban saya sudah cukup banyak, bahkan sebelum saya bertemu dengan Anda. Jadi tolong… jangan ganggu saya.”

Seorang pelayan datang membawa menu, menyelamatkan suasana yang menegang. Mikhasa buru-buru meraih buku menu itu, pura-pura sibuk memilih, meski matanya tak benar-benar membaca apa pun.

Axel bersandar santai, memperhatikannya dengan senyum samar. “Pesan apa saja yang kamu suka. Hari ini kamu nggak perlu mikirin apa-apa.”

“Kalau saya pesan makanan paling mahal di sini gimana?” Mikhasa memberanikan diri menyindir.

Axel terkekeh. “Pesan saja. Aku tidak keberatan. Selama kamu makan dengan tenang, duduk di depanku itu sudah cukup.”

Mikhasa kembali diam. Ia justru bingung membaca nama-nama menu yang terdengar asing. Pada akhirnya, ia hanya memilih satu menu dan satu minuman. Sumpah, demi apa pun… dia takut pada Axel. Takut pada caranya hadir.

“Tolong beri saya nomor rekening Anda, Tuan—”

“Axel,” potong pria itu ringan.

“Tuan Axel,” Mikha mengoreksi.

Axel tertawa kecil. “Sepertinya kamu sengaja menarik perhatianku, ya, Mikha.”

Mikha buru-buru menggeleng. “Tidak. Kenapa Anda berpikir begitu?”

“Bukankah dengan tidak patuh, itu artinya kamu memang ingin diperhatikan?” Axel memiringkan kepala. “Atau… kamu suka saat aku menciummu?”

Mikha terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. Pria seperti Axel bukan tipe yang bisa ia lawan. Baiklah. Kali ini, ia akan patuh.

“Beri aku nomor rekeningmu, Axel,” ucap Mikhasa akhirnya.

“Untuk apa?” tanya Axel.

“Aku akan mencicil hutangku setiap bulan,” jawab Mikhasa rendah tapi tegas. “Aku janji akan melunasinya, meskipun mungkin butuh waktu lama. Tapi tolong… tolong jangan teror aku.”

Axel menatap Mikhasa lama, lalu tersenyum tipis. "Masalahnya… aku bukan tertarik pada uangmu, Mikha." Tatapannya turun ke mata Mikha. “Aku tertarik padamu. Dan itu jauh lebih berbahaya.”

Tubuh Mikhasa menegang. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia mengutuk dirinya sendiri, mengutuk keputusan bodoh karena menyewa seorang pria yang bahkan baru ia kenal malam itu. Armin, begitu pelayan itu memperkenalkan diri. Siapa sangka, sosok yang ia anggap pria biasa ternyata adalah putra konglomerat terkenal, dialah pewaris kerajaan bisnis raksasa keluarganya.

Mikhasa menunduk. Diam. Jemarinya gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Melihat reaksinya, Axel mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Mikhasa. Sentuhan itu begitu ringan, tapi membuat Mikhasa tersentak hebat, seperti tersiram air yang sangat dingin.

Axel langsung menarik tangannya kembali, menjauh dari lengan Mikhasa. “Hei, tenang,” ucapnya pelan. “Aku tidak akan macam-macam. Aku tidak akan menyakitimu, Mikha.” Dia mencoba menenangkan.

Mikhasa mengangkat wajahnya. Tatapannya masih penuh waspada. “Tapi kamu menyeramkan, Axel.”

Axel menghela napas panjang, seolah menimbang sesuatu dalam kepalanya. “Oke,” katanya akhirnya. “Aku minta maaf kalau caraku salah. Dan… tolong jangan takut padaku.”

Hening. Mikhasa tidak menjawab lagi. Lalu pelayan datang membawa pesanan, memecah ketegangan di antara mereka. Tepat pada saat yang sama, ponsel Mikhasa berdering di atas meja.

Mikhasa melirik layar ponselnya. Bibi. Nama itu tertera jelas. Tanpa ragu, ia segera memperlihatkan layar itu pada Axel.

“Saya izin ke toilet sebentar,” ucapnya pelan namun sopan. “Bibi saya menelepon.”

Axel menatap layar sekilas, lalu mengangguk ringan, mengizinkan dengan mudah. Ia sedang berusaha untuk tidak membuat Mikhasa semakin takut padanya.

“Silakan.”

Mikhasa berdiri cepat. Dalam hati, ia bersyukur, sungguh bersyukur, karena panggilan itu datang tepat waktu.

Begitu pintu toilet tertutup, ia mengangkat ponselnya. Panggilan diterima setelah dua kali berdering.

“Iya, Bi,” jawab Mikhasa cepat. “Baik. Nanti sore sepulang kerja saya kirimkan. Iya… iya, saya paham.”

Ia mengakhiri panggilan itu segera, bahkan sebelum bibinya sempat bertanya lebih jauh.

Mikhasa menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah pucat. Mata tegang. Napas belum sepenuhnya stabil. Ia membuka keran, meneteskan air ke sudut matanya, membuatnya tampak sedikit merah, cukup untuk memberi kesan habis menangis.

“Oke,” gumamnya pada diri sendiri. “Sekali ini aja.”

Dengan langkah cepat dan ekspresi cemas yang dibuat-buat, Mikhasa keluar dari toilet. Matanya langsung mencari seseorang dan berhenti pada seorang pelayan wanita yang berdiri tak jauh dari sana.

Ia menghampiri pelayan itu, suaranya diturunkan, bergetar seolah menahan tangis. “Kak… tolong saya,” bisiknya. “Saya mengalami kekerasan dalam rumah tangga.”

Pelayan itu terkejut, menatap Mikhasa lekat.

“Saya… saya nggak tahu harus minta tolong ke siapa,” lanjut Mikhasa, suaranya semakin lirih namun penuh tekanan. “Saya takut. Tolong bantu saya keluar dari restoran ini.”

Ia menelan ludah, lalu menambahkan dengan nada nyaris putus asa, “Kalau tidak… mungkin besok Kakak akan dengar berita kematian saya.”

Pelayan wanita itu terdiam sejenak. Tatapannya berubah iba dan yakin.

“Baik,” ucapnya akhirnya. “Mari ikut saya. Lewat belakang.”

Tanpa menoleh lagi, Mikhasa mengikuti pelayan itu menuju pintu servis, meninggalkan meja, makanan mewah, dan sosok Axel yang sama sekali tak menyadari bahwa perempuan yang duduk di depannya barusan… telah kabur.

Ketakutan Mikhasa pada Axel semakin menjadi. Pria itu menciumnya tanpa izin. Datang pagi-pagi ke apartemennya. Muncul lagi malam hari, seolah tak mengenal batas. Dan kini, pria itu ternyata direktur di Luminary Dataworks.

Itu gila. Benar-benar gila.

Mikhasa mengerti satu hal dengan sangat jelas, bahwa pria dengan obsesi bukanlah pria yang jatuh cinta.

Cinta memberi ruang. Sementara obsesi justru menutup semua jalan keluar. Dan Axel, pria itu terlalu berbahaya.

🍀🍀🍀

Malam ini, Mikhasa duduk di depan meja kecil di apartemen. Lampu temaram menyinari selembar kertas kosong. Tangannya gemetar saat mulai menulis.

Surat pengunduran diri.

Pekerjaan ini ia dapat dengan susah payah. Bertahun-tahun belajar. Bertahan hidup dengan beasiswa. Namun ketakutannya kini lebih besar daripada mimpinya.

Ia tidak ingin setiap hari bekerja dengan jantung berdebar, menoleh ke belakang, bertanya-tanya kapan Axel akan muncul lagi, melecehkannya lagi, menghancurkan harga dirinya.

“Aku tidak bisa hidup seperti ini,” gumamnya pelan.

Setelah titik terakhir ditorehkan diatas kertas pengunduran diri, Mikhasa bersandar lelah. Napasnya berat, dadanya sesak namun ada keputusan yang terasa final.

“Setelah ini, aku akan keluar kota,” bisiknya pada diri sendiri. “Cari kerjaan baru di sana."

Mikhasa melipat surat itu rapi.

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!