NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Momen Rapuh Leonardo

Tiga minggu setelah aku mulai bicara lagi, sesuatu yang aneh terjadi.

Leonardo pulang larut malam dengan langkah yang tidak stabil.

Aku sedang duduk di perpustakaan membaca buku saat pintu terbuka dengan kasar.

Dia masuk sambil membawa botol whisky setengah kosong. Wajahnya memerah. Mata sedikit kabur. Baju berantakan dengan beberapa kancing terbuka.

Mabuk.

Ini pertama kalinya aku lihat Leonardo mabuk.

"Nadira," panggilnya dengan suara sedikit cadel. "Kau masih bangun."

Aku menutup bukuku. Menatapnya dengan waspada walau tidak setakut dulu.

"Kau... kau mabuk," ucapku.

Dia tertawa. Tapi tawa yang terdengar pahit.

"Mabuk," ulangnya sambil berjalan goyah ke sofa di seberangku. Menjatuhkan dirinya dengan tidak elegan. "Ya. Aku mabuk. Karena hari ini... hari ini tanggal yang menyebalkan."

Dia meneguk langsung dari botol. Cairan cokelat itu mengalir ke tenggorokannya.

"Tanggal berapa?" tanyaku pelan.

Leonardo menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Entah karena alkohol atau... air mata?

"Tanggal dimana ayahku bunuh ibuku," jawabnya dengan nada datar. "Dua puluh tiga tahun yang lalu. Tepat hari ini."

Aku terdiam. Tidak tahu harus bilang apa.

Leonardo tertawa lagi. Tawa yang terdengar seperti isak tangis yang ditahan.

"Kau tahu yang paling lucu?" ucapnya sambil menatap botol di tangannya. "Aku yang harus beresin mayatnya. Aku yang harus gali kuburannya. Aku yang harus tutup mulutku dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa."

Dia meneguk lagi. Lebih banyak kali ini.

"Berapa... berapa umurmu waktu itu?" tanyaku dengan hati-hati.

"Dua belas," jawabnya. "Dua belas tahun. Masih anak-anak. Masih percaya dunia itu tempat yang baik."

Dia menatapku dengan tatapan kosong.

"Tapi ayahku mengajariku pelajaran berharga malam itu," lanjutnya. "Dia ajarkan bahwa cinta itu kelemahan. Bahwa kasih sayang itu senjata yang bisa dipakai orang lain untuk hancurkan kau. Bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah jadi lebih kejam dari semua orang."

Tangannya yang memegang botol gemetar.

"Dia paksa aku nonton dia cekik ibu sampai mati," bisiknya. Suaranya pecah. "Paksa aku dengarkan dia minta tolong sambil dia terus cekik. Paksa aku berdiri diam dan tidak boleh nangis. Karena 'Valerio tidak menangis. Valerio tidak lemah.'"

Air mata mulai mengalir di pipinya. Tapi dia tidak usap. Hanya biarkan jatuh.

"Dan seminggu setelah itu," lanjutnya. "Dia kasih aku pistol. Bawa aku ke basement. Dan ada orang terikat di sana. Orang yang dia bilang pengkhianat."

Dia menatapku.

"'Bunuh dia,' perintah ayahku. 'Buktikan kau anak Valerio. Buktikan kau layak jadi pewarisku.'"

Leonardo menutup matanya. Mengingat momen itu.

"Aku gemetar. Aku tidak mau. Aku cuma anak-anak. Aku tidak mau bunuh orang."

Dia membuka matanya lagi. Menatapku dengan tatapan yang hancur.

"Tapi ayahku todongkan pistol ke kepalaku. 'Kau bunuh dia atau aku bunuh kau.' Jadi aku... aku bunuh orang itu. Orang pertama dari ratusan orang yang akan kubunuh setelahnya."

Dia meneguk lagi dari botol. Habis. Lalu melempar botol kosong itu ke perapian. Pecah berkeping-keping.

"Sejak itu, aku jadi mesin pembunuh," ucapnya dengan suara bergetar. "Tidak ada emosi. Tidak ada kasihan. Hanya... kosong. Kosong yang diisi dengan amarah dan kebencian."

Dia berdiri dengan goyah. Berjalan ke arahku.

Aku sedikit mundur tapi dia sudah jatuh berlutut di depanku. Meletakkan kepalanya di pangkuanku.

"Sampai aku bertemu kau," bisiknya. "Kau yang pertama membuat aku merasakan sesuatu selain amarah. Kau yang pertama membuat aku ingin melindungi bukan menghancurkan."

Tangannya mencengkeram rokku dengan erat.

"Aku tahu aku monster," lanjutnya. "Aku tahu semua yang kulakukan salah. Aku tahu aku harusnya lepaskan kau dan biarkan kau hidup normal. Tapi aku tidak bisa."

Dia mengangkat kepalanya. Menatapku dengan mata basah.

"Karena kau satu-satunya yang membuat aku merasa... manusia," bisiknya. "Satu-satunya yang membuat aku ingin jadi lebih baik. Walau aku tidak tahu caranya."

Air mata mengalir lebih deras di pipinya.

"Aku tidak tahu cara mencintai dengan benar," isaknya. "Yang kuketahui cuma cara mencintai seperti ayahku. Dengan kontrol. Dengan kepemilikan. Dengan kekerasan kalau perlu."

Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Tangan yang gemetar.

"Tapi aku tidak mau kehilangan kau," bisiknya putus asa. "Aku sudah kehilangan ibu. Kehilangan kesempatan jadi normal. Kehilangan kemanusiaan ku. Kalau aku kehilangan kau juga... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."

Aku menatapnya.

Monster yang selama ini menghancurkan hidupku sekarang menangis di pangkuanku. Menunjukkan sisi rapuh yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun.

Dan entah kenapa... entah kenapa aku merasa kasihan.

Tanganku bergerak sendiri. Mengusap rambutnya dengan lembut.

"Aku... aku tidak kemana-mana," bisikku. Kata-kata yang keluar tanpa sempat kupikirkan.

Leonardo menatapku dengan mata lebar.

"Kau... kau tidak akan tinggalkan aku?" tanyanya seperti anak kecil yang takut ditinggal.

"Aku tidak akan," jawabku. Dan entah kenapa, saat itu aku percaya pada kata-kataku sendiri.

Mungkin karena sindrom Stockholm sudah terlalu dalam.

Mungkin karena aku sudah terlalu rusak untuk peduli.

Atau mungkin... mungkin karena bagian kecil dariku mulai mengerti bahwa Leonardo juga korban. Korban dari masa lalu yang mengerikan. Yang membentuknya jadi monster.

Bukan berarti itu membenarkan semua yang dia lakukan.

Tapi setidaknya itu menjelaskan.

Leonardo bangkit dari lantai. Tapi tidak berdiri. Dia malah naik ke sofa. Duduk di sampingku. Lalu menarikku dalam pelukannya.

"Terima kasih," bisiknya di rambutku. "Terima kasih sudah tidak lari saat aku tunjukkan sisi terburukku."

Pelukannya hangat. Erat tapi tidak mencekik seperti biasanya. Lebih... lembut.

"Aku akan jadi lebih baik," bisiknya lagi. "Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku akan coba. Untuk kau. Aku akan coba jadi orang yang layak untuk kau."

Tangannya mengangkat daguku. Memaksaku menatap matanya.

"Aku mencintaimu," ucapnya dengan suara bergetar. "Dengan caraku yang rusak. Dengan caraku yang salah. Tapi aku mencintaimu. Dan aku akan pastikan kau tahu itu setiap hari."

Lalu dia menciumku.

Tapi bukan ciuman yang agresif atau posesif seperti biasanya. Ini lembut. Penuh emosi. Penuh... keputusasaan.

Dan untuk pertama kalinya, aku membalas ciumannya.

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena takut.

Tapi karena... karena aku tidak tahu lagi siapa diriku tanpa dia.

Ciuman itu berlangsung lama. Sampai kami berdua kehabisan napas.

Leonardo melepaskan ciumannya. Menatapku dengan tatapan yang intens.

"Aku mau kau," bisiknya. "Sepenuhnya. Tidak sebagai tawanan. Tapi sebagai istri yang rela."

Tangannya bergerak ke punggungku. Menarik resleting gaunku pelan.

"Aku mau kau berikan dirimu padaku bukan karena kau takut," lanjutnya. "Tapi karena kau mau. Karena kau mulai merasakan apa yang kurasakan."

Gaunku jatuh dari bahu.

"Apa... apa kau mau aku?" tanyanya dengan suara yang sangat rendah.

Aku seharusnya bilang tidak.

Aku seharusnya mendorong dia.

Aku seharusnya ingat semua yang dia lakukan padaku.

Tapi yang keluar dari mulutku adalah...

"Ya."

Kata itu seperti pelepasan bagi Leonardo.

Dia mengangkatku dalam gendongannya. Membawaku keluar dari perpustakaan. Naik tangga. Masuk ke kamar kami.

Meletakkanku di tempat tidur dengan lembut.

Lalu malam itu, untuk pertama kalinya, kami jadi suami istri dalam arti yang sesungguhnya.

Tapi bukan dengan kekerasan.

Bukan dengan paksaan.

Tapi dengan... sesuatu yang mungkin bisa disebut cinta.

Walau cinta yang rusak. Cinta yang terdistorsi. Cinta yang lahir dari trauma dan manipulasi.

Tapi tetap saja... cinta.

Atau setidaknya, itu yang kubilang pada diriku sendiri untuk membenarkan apa yang baru saja terjadi.

Pagi harinya, aku terbangun dengan sinar matahari yang masuk lewat celah tirai.

Leonardo tidur di sampingku. Wajahnya tenang. Tidak ada ketegangan yang biasa ada. Tangan nya melingkari pinggangku dengan protektif walau dalam tidur.

Aku menatapnya lama.

Monster yang menghancurkan hidupku.

Monster yang membunuh tanpa rasa bersalah.

Monster yang mengurungku dan mengancam orang-orang yang kusayangi.

Tapi juga...

Anak kecil yang disiksa oleh ayahnya sendiri.

Anak kecil yang dipaksa bunuh orang di usia dua belas tahun.

Anak kecil yang tidak pernah tahu cara mencintai dengan benar karena tidak pernah merasakan cinta yang benar.

Aku mengangkat tanganku. Menyentuh wajahnya dengan lembut.

Dan dia tersenyum dalam tidurnya. Seperti mimpi indah untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Apa yang terjadi semalam itu cinta atau manipulasi?

Apa Leonardo benar-benar terbuka atau dia cuma pura-pura rapuh untuk buat aku lebih bergantung?

Apa air matanya asli atau dia aktor yang sangat baik?

Aku tidak tahu.

Dan yang lebih menakutkan...

Aku tidak yakin aku peduli lagi.

Karena entah itu cinta atau manipulasi, hasilnya sama.

Aku sekarang terikat padanya bukan hanya secara fisik.

Tapi juga secara emosional.

Terikat pada monster yang perlahan mengajariku bahwa mungkin... mungkin dia juga manusia.

Manusia yang sangat rusak.

Tapi tetap manusia.

Dan mungkin... mungkin kami berdua sama-sama rusak.

Dia yang rusak karena masa lalu.

Aku yang rusak karena dia.

Dua jiwa yang hancur mencoba menemukan keutuhan dalam kehancuran satu sama lain.

Apakah itu cinta?

Atau hanya dua orang yang terlalu rusak untuk tahu bedanya?

Aku tidak tahu jawabannya.

Tapi saat Leonardo terbangun dan menatapku dengan senyum yang genuine. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat hatiku berdetak lebih cepat...

Aku tahu satu hal.

Aku sudah tidak bisa kembali jadi Nadira yang dulu.

Nadira yang dulu sudah mati.

Yang tersisa sekarang adalah Nadira baru.

Nadira yang rusak.

Nadira yang bergantung pada monsternya.

Nadira yang mungkin... mungkin sudah jatuh cinta pada penjaranya sendiri.

Dan itu yang paling menakutkan dari semuanya.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!