Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Goreng Kampung dan Meja Makan Dingin
Malam semakin larut di Gang Senggol. Suara jangkrik bersahutan dengan suara televisi tetangga yang menyiarkan berita malam. Di dalam rumah petak nomor 4, suasana justru terasa hangat dan cerah, seolah matahari terbit di tengah malam.
Sifa sudah berganti pakaian. Kebaya putih tulang yang anggun itu sudah digantung rapi kembali di lemari, digantikan oleh daster batik rumahan yang longgar dan nyaman. Wajahnya sudah bersih dari makeup, kembali polos seperti Sifa yang biasa, tapi matanya berbinar lebih terang dari bintang kejora.
Di depannya, Ibu duduk mendengarkan dengan mata berbinar-binar, sesekali menutup mulutnya menahan tawa, sesekali menggeleng tak percaya. Di meja kecil di antara mereka, terhidang dua piring nasi goreng kampung buatan Sifa—nasi sisa kemarin yang digoreng dengan bawang merah, cabai rawit, dan telur orak-arik. Baunya harum memenuhi ruangan sempit itu.
"...terus Bu, pas Pak Direktur itu mau pidato sombong, tiba-tiba BRET! Celananya melorot sampe mata kaki!" cerita Sifa berapi-api, sambil memperagakan gerakan melorot dengan tangannya. "Dan Ibu tau nggak dalemannya gambar apa? SpongeBob! Kuning ngejreng!"
"Ya Allah, Gusti..." Ibu tertawa terkekeh-kekeh sampai batuk kecil. "Direktur kok pake celana kartun? Apa nggak malu itu sama menteri-menteri?"
"Malu banget, Bu! Mukanya udah kayak kepiting rebus! Rana sama Rani sampe jerit-jerit histeris terus kabur. Rasain! Itu kualat namanya, Bu. Kualat sama orang kecil," kata Sifa puas sambil menyuapkan sesendok nasi goreng pedas.
Ibu mengusap air mata di sudut matanya saking gelinya. "Alhamdulillah, Nduk. Berarti Allah langsung bayar kontan doa orang terzalimi. Kamu nggak diapa-apain kan sama mereka?"
"Nggak, Bu. Malah Sifa dansa sama Mas Adi," suara Sifa melembut saat menyebut nama itu. Senyumnya berubah malu-malu. "Mas Adi baik banget, Bu. Dia belain Sifa pas Rana ngejek baju Sifa. Dia bilang Sifa istimewa."
Ibu menatap putrinya dengan tatapan lembut dan penuh arti. "Mas Adi... yang CEO itu? Yang ganteng itu?"
"Iya. Ganteng banget, Bu. Wangi lagi," Sifa membayangkan momen dansa tadi. "Sifa rasanya kayak mimpi. Tangan dia anget, Bu. Terus dia nggak jijik sama Sifa walaupun Sifa cuma anak magang."
Ibu tersenyum bijak, mengelus tangan Sifa. "Hati-hati, Nduk. Jangan terlalu tinggi terbangnya, nanti kalau jatuh sakit. Orang kaya sama kita itu beda dunianya. Tapi..." Ibu berhenti sejenak, menatap mata Sifa dalam-dalam. "...kalau dia laki-laki baik, yang bisa liat hati kamu, bukan cuma fisik kamu, Ibu doakan yang terbaik. Jodoh nggak ada yang tau."
"Iya, Bu. Sifa tau diri kok," jawab Sifa merendah, meski hatinya berdebar penuh harap. "Oh ya, Bu! Ada satu lagi yang bikin Sifa seneng banget."
"Apa itu?"
"Sifa... Sifa ngerasa bangga sama diri sendiri," kata Sifa mantap. "Tadi di sana, Sifa nggak ngerasa kecil. Sifa berani ngelawan Rana. Sifa berani natap mata orang-orang kaya itu. Ternyata mereka cuma manusia biasa, Bu. Kadang malah lebih konyol dari kita."
Ibu mengangguk bangga. "Itu harta paling mahal, Sifa. Harga diri. Kamu boleh miskin harta, tapi jangan miskin mental. Ibu bangga sama kamu."
Malam itu, di rumah yang dindingnya mengelupas itu, tawa bahagia ibu dan anak terdengar hingga ke luar gang. Mereka makan nasi goreng sederhana dengan hati yang kenyang. Tidak ada kemewahan, tapi ada cinta yang melimpah ruah. Sifa menatap Chrono yang berkedip di meja, seolah ikut tersenyum mendengarkan cerita tuannya.
"Makasih ya, Chrono," bisik Sifa dalam hati. "Kamu bikin hidupku jadi seru."
"Sama-sama. Tapi tolong, nasi gorengnya jangan pedes-pedes. Gue bisa mendeteksi lambung lo mulai protes," jawab Chrono cuek tapi perhatian.
Sementara itu, di kawasan elite Kebayoran Baru, suasana di kediaman keluarga Pratama jauh dari kata hangat. Udara di ruang keluarga yang luas itu terasa membeku, seolah AC disetel di suhu minus.
Adi baru saja pulang, masih mengenakan tuksedo pestanya yang kini terasa sesak. Dia duduk di sofa kulit Italia, berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Pak Rahmat duduk dengan wajah tegang, memijat pelipisnya. Ibu Sri mondar-mandir dengan gelisah, kipas tangannya bergerak cepat.
"Gila! Benar-benar gila!" gumam Pak Rahmat berulang kali. "Adiwangsa mempermalukan dirinya sendiri, mempermalukan perusahaan! Saham kita besok pasti goyang gara-gara insiden SpongeBob itu!"
"Memalukan sekali," timpal Ibu Sri jijik. "Mama nggak nyangka seleranya serendah itu. Padahal istrinya, Linda, selalu pamer barang branded. Ternyata suaminya pake... ih, Mama nggak mau sebut merknya."
Adi diam saja, menyandarkan punggungnya santai. Dia justru merasa lega. Insiden itu secara tidak langsung menyelamatkan ayahnya dari ancaman Adiwangsa. Siapa yang akan percaya tuduhan korupsi dari badut yang celananya melorot?
"Tapi ada satu hal yang Papa mau tanyakan sama kamu, Adi," suara Pak Rahmat berubah tajam, menatap putranya. "Perempuan itu. Siapa dia? Yang pakai kebaya itu."
Adi menegakkan duduknya. "Namanya Sifa, Pa. Staf magang di gudang arsip."
"Staf magang?" Ibu Sri berhenti mengipas, menatap Adi tak percaya. "Adi, kamu serius? Kamu dansa di acara Golden Anniversary sama staf magang gudang? Kamu nolak dansa sama Clara anak bankir, demi dia?"
"Iya, Ma," jawab Adi tegas.
"Kenapa? Apa istimewanya dia? Cantik juga biasa aja. Kampungan malah, pakai kebaya kuno begitu," cecar Ibu Sri.
"Ma, jaga ucapan Mama," nada suara Adi meninggi sedikit. "Kebaya itu budaya kita. Dan Sifa... dia punya integritas yang nggak dimiliki Clara atau Rana."
Adi merogoh saku jasnya, mengeluarkan flashdisk hitam yang dia ambil dari meja Adiwangsa tadi. Dia melemparkannya ke atas meja marmer. Krak.
"Apa ini?" tanya Pak Rahmat bingung.
"Itu bukti ancaman Adiwangsa, Pa," jelas Adi dingin. "Sebelum celananya melorot, dia mengancam Adi. Dia bilang di dalam situ ada bukti Papa korupsi di proyek Green Energy. Dia minta Adi pecat Sifa dan tunangan sama Rana kalau mau rahasia ini aman."
Wajah Pak Rahmat pucat pasi seketika. Tangannya gemetar saat mengambil flashdisk itu. Rahasia kelam masa lalunya.
"Dia... dia mengancam kamu?" bisik Pak Rahmat.
"Iya. Tapi sekarang flashdisk itu ada di tangan kita. Dan Adiwangsa sudah jadi lelucon nasional. Kita aman, Pa," kata Adi tenang. "Tapi Adi mau Papa jujur. Apa isi flashdisk itu benar?"
Pak Rahmat menunduk, tidak berani menatap mata putranya. Keheningan itu adalah jawaban yang cukup bagi Adi. Ayahnya memang pernah "bermain api".
Adi menghela napas kecewa, tapi dia berusaha tetap rasional. "Adi akan musnahkan flashdisk ini. Adi akan tutup celah auditnya. Papa aman."
"Tapi," lanjut Adi dengan suara lebih keras, berdiri dari kursinya. "Adi punya syarat."
"Syarat?" tanya Ibu Sri.
"Mulai sekarang, Papa dan Mama berhenti ngatur hidup Adi. Berhenti jodoh-jodohin Adi sama anak kolega bisnis yang palsu itu. Adi sudah menyelamatkan nama baik keluarga ini malam ini. Sekarang giliran Adi yang menentukan kebahagiaan Adi sendiri."
"Maksud kamu?" Pak Rahmat mendongak.
"Adi mau dekat sama Sifa," deklarasi Adi mantap. "Adi nggak peduli dia anak magang, anak orang miskin, atau anak siapa. Dia tulus. Dia nggak punya agenda politik. Dia bikin Adi merasa jadi manusia, bukan mesin pencetak uang."
"Tapi Adi! Kita keluarga terpandang! Apa kata orang nanti?!" protes Ibu Sri histeris.
"Biarlah orang bicara, Ma. Orang juga bakal bicara soal celana SpongeBob Om Adiwangsa selama sebulan ke depan. Berita soal Adi pacaran sama staf gudang bakal ketutup sama berita itu," jawab Adi cerdas.
"Kamu... kamu benar-benar keras kepala," keluh Pak Rahmat, tapi nadanya sudah melemah. Rasa bersalah karena korupsinya ketahuan anak sendiri membuatnya tidak punya posisi tawar yang kuat. "Terserah kamu. Tapi kalau gadis itu bikin malu, Papa yang akan usir dia."
"Dia nggak akan bikin malu. Justru dia yang paling 'mahal' di pesta tadi," senyum Adi mengembang, teringat wajah Sifa yang bersinar di bawah lampu kristal.
Adi mengambil langkah menuju tangga. "Adi mau tidur. Besok Adi harus ke kantor pagi-pagi. Adi mau pastikan surat pemecatan untuk Rana dan Rani sudah diproses HRD. Alasan: Pencemaran nama baik dan perilaku tidak menyenangkan."
"Kamu pecat mereka?" tanya Ibu Sri kaget.
"Tentu saja. Kantor saya bukan tempat penitipan anak manja yang kriminal," jawab Adi dingin, lalu melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di kamar, Adi tidak langsung tidur. Dia berdiri di balkon, menatap langit Jakarta yang gelap namun berbintang. Dia mengeluarkan HP-nya.
Dia membuka aplikasi chat kantor (yang dia akses lewat jalur khusus CEO), mencari nama: Sifa Adistia - Magang Gudang.
Jarinya melayang di atas layar. Ragu sejenak. Apa terlalu agresif kalau nge-chat malam-malam begini?
Ah, masa bodoh.
Ting.
Di rumah petak Sifa, HP jadul Sifa yang sedang di-charge berbunyi. Sifa yang sedang membereskan piring nasi goreng kaget.
Dia membuka HP-nya. Matanya membelalak lebar.
Mas Adi CEO:
"Selamat malam, Sifa. Terima kasih untuk dansanya. Kamu menyelamatkan malam saya. Tidur yang nyenyak ya. Besok saya mau tagih cimol lagi di lift. :)"
Sifa menjerit tertahan, membekap mulutnya sendiri agar Ibu tidak bangun. Dia melompat-lompat kecil di atas kasur tipisnya.
"Chrono! Chrono! Liat! Mas Adi nge-chat aku! Pake smiley face lagi!"
"Iya, gue liat. Gue baca notifikasinya sebelum masuk ke layar HP lo," jawab Chrono datar tapi ada nada geli. "Cieee. Level bucin terdeteksi meningkat 200 persen. Awas jangan sampe HP lo meledak karena panas asmara."
Sifa memeluk HP-nya erat-erat di dada. Malam ini, dia adalah gadis paling bahagia di dunia.
Sementara di seberang sana, Adi tersenyum melihat status Typing... yang lama sekali dari Sifa, membayangkan gadis itu sedang panik menyusun balasan.
Dua hati telah bertaut. Perbedaan status sosial, intrik politik, dan masa lalu kelam orang tua mereka mungkin masih menjadi penghalang. Tapi malam ini, cinta sederhana—seperti nasi goreng kampung dan cimol—mulai tumbuh subur di antara beton-beton Jakarta.
Dan Chrono, sang jam ajaib, bersiap untuk misi selanjutnya: Menjaga cinta ini tetap hidup di tengah badai yang akan datang dari keluarga Adiwangsa yang terluka dan dendam. Karena singa yang terluka (atau dalam hal ini, singa bercelana SpongeBob) pasti akan menggigit balik.
semangat kakak