"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Mata-mata Ibu Tiri
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan kalian masuk?"
Suara berat Elzian memecah keheningan ruang tamu mansion pagi itu. Dia duduk di kursi rodanya, mengenakan celana panjang longgar untuk menutupi perban dan lebam di pahanya akibat kejadian semalam. Wajahnya datar, tapi tangannya mencengkeram pegangan kursi roda dengan erat.
Di hadapannya, duduk seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor dan perhiasan emas yang berlebihan. Itu Bu Ratih, ibu tirinya. Di samping wanita itu, berdiri seorang pria berbadan kekar dengan seragam putih-putih ketat yang memamerkan otot bisepnya. Pria itu membawa tas peralatan medis yang terlihat mencurigakan.
Bu Ratih tersenyum manis, senyum palsu yang selalu membuat perut Elzian mual.
"Oh, Elzian sayang. Jangan marah begitu dong. Ibu datang jauh-jauh karena khawatir," ucap Bu Ratih dengan nada yang dibuat-buat manja. "Ibu dengar dari pelayan, belakangan ini kamu sering mengeluh sakit badan. Jadi Ibu bawa Pak Bimo. Dia ini terapis tulang terkenal dari Surabaya. Pijatannya ajaib, bisa bikin orang lumpuh jalan lagi."
Elzian menatap pria bernama Bimo itu. Tatapan pria itu bukan tatapan seorang penyembuh, melainkan tatapan tukang pukul.
"Aku tidak butuh," tolak Elzian dingin. "Aku punya istri dokter. Ziva yang merawatku."
"Ah, Ziva itu kan dokter bedah saraf, dia taunya cuma potong-memotong otak," Bu Ratih mengibaskan tangannya, meremehkan. "Dia mana paham soal otot dan tulang. Lagipula, Ibu curiga..."
Bu Ratih menjeda kalimatnya. Matanya menyipit licik, menatap kaki Elzian lekat-lekat.
"...Ibu curiga jangan-jangan kakimu itu sebenarnya sudah ada kemajuan, tapi kamu sembunyikan dari kami? Masa sudah tiga tahun tidak ada perubahan sedikitpun? Kecuali kalau kamu memang menikmati jadi beban keluarga."
Provokasi murahan. Elzian tahu Ratih sedang memancing emosinya. Atau lebih buruk, memancing refleksnya.
"Kakiku mati rasa total. Mau dipijat malaikat pun tidak akan ada gunanya," jawab Elzian datar. "Raka, antar tamu kita keluar."
Raka hendak maju, tapi Bimo dengan cepat melangkah menghalangi. Tubuh besar Bimo mendominasi ruangan.
"Maaf, Pak Elzian. Nyonya Besar sudah membayar saya mahal," suara Bimo berat dan kasar. "Saya tidak bisa pulang sebelum memeriksa kaki Bapak. Ini prosedur standar."
Tanpa permisi, Bimo langsung berlutut di depan kursi roda Elzian. Tangan besarnya yang kasar menyambar pergelangan kaki kanan Elzian.
"Lepaskan!" bentak Elzian.
"Tenang saja, Pak. Cuma sebentar," Bimo menyeringai.
Cengkeraman Bimo bukan cengkeraman pemeriksaan medis. Itu cengkeraman besi. Dia menekan jempolnya kuat-kuat ke titik saraf di pergelangan kaki Elzian. Titik yang bagi orang normal akan memicu rasa geli atau nyeri hebat.
Elzian tidak berkedip. Wajahnya tetap beku seperti patung es. Dia harus berakting seolah dia tidak merasakan apa-apa.
Padahal, jauh di dalam sana, rasa sakit menjalar hebat. Kaki Elzian sedang cedera parah. Ototnya yang bengkak dan memar akibat perkelahian semalam sedang meradang. Sentuhan sekecil apapun rasanya seperti ditusuk jarum panas.
"Wah, benar-benar tidak ada respon ya?" komentar Bimo, nadanya terdengar kecewa. "Biasanya pasien lumpuh pun masih punya refleks kejut kalau ditekan di sini."
"Sudah kubilang, itu percuma," kata Elzian, menahan napas agar tidak mendesis kesakitan. Keringat dingin mulai muncul di punggungnya.
"Mungkin kurang keras, Pak Bimo," sahut Bu Ratih dari sofa, matanya berkilat jahat. "Coba bagian lututnya. Di sana kan pusat saraf. Tekan yang kuat. Siapa tahu ada saraf yang terjepit."
Bimo mengangguk. Dia memindahkan tangannya ke lutut Elzian.
Jantung Elzian berhenti berdetak sesaat.
Itu lutut kanannya. Lutut yang semalam divonis Ziva mengalami cedera meniskus dan hematoma luas. Lutut itu bengkak parah di balik celana kainnya. Jika Bimo menekannya...
Ya Tuhan, kuatkan aku, batin Elzian menjerit.
Bimo meraba lutut itu dengan kasar. Alis pria itu terangkat saat merasakan benjolan di balik kain celana.
"Lho? Kok bengkak, Pak? Keras sekali ototnya," gumam Bimo curiga. Dia menatap Elzian tajam. "Bapak habis jatuh? Atau... habis lari maraton?"
Pertanyaan jebakan.
"Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Mana aku tahu kalau bengkak," jawab Elzian dengan nada bosan yang sempurna, padahal pandangannya mulai berkunang-kunang menahan nyeri yang meledak di lututnya. "Mungkin terbentur meja saat pelayan memindahkanku."
"Oh ya? Coba kita luruskan," kata Bimo.
Dengan gerakan cepat dan tanpa aba-aba, Bimo menarik betis Elzian dan meluruskan kaki itu secara paksa. Dia menekuk sendi lutut yang sedang meradang itu ke arah yang berlawanan.
"ARGH..." Elzian nyaris berteriak.
Mulutnya sudah terbuka setengah, tapi dia menggigit lidahnya sendiri kuat-kuat sampai terasa amis darah. Dia menelan teriakannya kembali ke tenggorokan.
Wajah Elzian pucat pasi. Urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan siksaan itu. Rasa sakitnya luar biasa. Rasanya seolah tulang lututnya sedang diparut.
"Kenapa, El? Sakit?" tanya Bu Ratih antusias, badannya condong ke depan. Dia berharap Elzian menjerit. Jika Elzian menjerit, artinya dia tidak lumpuh. Artinya dia penipu. Dan Ratih bisa menghancurkannya di depan pemegang saham.
Elzian menarik napas panjang, mengatur detak jantungnya yang menggila. Dia menatap ibu tirinya dengan mata sayu yang dibuat-buat.
"Sakit apanya?" tanya Elzian pelan, suaranya tenang meski serak. "Aku cuma kaget dia menarik kakiku tiba-tiba. Bisa tolong hentikan? Aku mau istirahat."
Bimo tampak kesal karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan. "Pak Elzian ini kuat sekali menahan sakit... atau memang kakinya sudah mati total. Tapi saya belum yakin."
Tangan Bimo bergerak naik ke paha bagian dalam. Menuju titik arteri femoralis. Titik fatal.
"Kalau ditekan di sini, aliran darah ke kaki akan berhenti. Kalau kaki Bapak normal, Bapak pasti akan menendang saya karena kesemutan parah," jelas Bimo dengan senyum kejam.
Dia membenamkan jempolnya yang besar ke pangkal paha Elzian yang penuh lebam. Dia menekan sekuat tenaga, sengaja ingin menyakiti.
Kali ini Elzian tidak bisa menyembunyikan respon tubuhnya. Kakinya bergetar hebat. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Pandangannya memburam. Rasa sakit dari cedera semalam ditambah tekanan brutal ini membuat kesadarannya goyah.
"Nah! Lihat! Kakinya gemetar!" pekik Bu Ratih girang sambil menunjuk kaki Elzian. "Dia merasakannya! Dia merasakannya!"
"Bukan, Bu. Ini spasme otot. Kejang biasa pada pasien lumpuh," Bimo menyangkal, tapi dia justru menambah tekanannya. Dia ingin membuktikan kalau Elzian akan melawan. "Tapi reaksinya menarik. Coba kita lihat seberapa lama dia tahan."
Bimo menekan lebih dalam, nyaris meremukkan otot paha Elzian yang sudah cedera.
Elzian mencengkeram pegangan kursi rodanya sampai buku jarinya memutih. Dia tidak akan bertahan lama. Sedikit lagi, refleks tubuhnya akan mengambil alih dan dia akan menendang wajah pria brengsek ini. Penyamarannya selama tiga tahun di ujung tanduk.
"Pak Bimo, hentikan! Bapak menyakiti Tuan!" Raka mencoba maju, tapi dua pengawal pribadi Bu Ratih menahannya.
"Diam kau, Raka! Biarkan Pak Bimo bekerja!" bentak Bu Ratih.
Bimo tertawa kecil, menikmati kekuasaannya menyiksa sang CEO. "Ayolah, Pak Elzian. Mengaku saja. Sakit kan? Teriak saja."
Elzian memejamkan mata, bersiap untuk meledak.
Tepat saat itu, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah tangga, diikuti aura membunuh yang dingin.
enggak cuma menghibur, tapi ada ilmu juga.