"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Terapi Pijat yang "Menyiksa"
"Buka bajumu," perintah Ziva singkat sambil berjalan menuju lemari obat di sudut ruangan.
Elzian, yang masih meringis sambil memegangi pahanya yang telanjang karena celananya baru saja digunting paksa, menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Kau mau apa lagi? Tadi celana, sekarang baju? Kau mau menelanjangiku pelan-pelan?"
"Jangan ge-er," sahut Ziva tanpa menoleh. Dia kembali membawa botol kaca berisi minyak terapi beraroma peppermint dan rempah yang kuat. "Otot quadriceps-mu kaku total, dan aku yakin otot punggungmu juga tertarik saat kau melakukan tendangan akrobatik bodoh itu. Aku harus melemaskannya sekarang sebelum terjadi peradangan permanen."
Ziva meletakkan botol minyak di meja, lalu berdiri di hadapan Elzian dengan tangan berkacak pinggang.
"Buka hoodie-mu, Elzian. Atau aku gunting juga yang ini? Aku masih pegang guntingnya, lho."
Elzian mendengus pasrah. Melawan Ziva dalam mode dokter bedah sama saja bunuh diri. Dengan gerakan kaku dan sedikit mengerang saat menggerakkan bahu, Elzian menarik hoodie hitamnya ke atas, melepasnya, dan membiarkannya jatuh ke lantai.
Tubuh bagian atas Elzian kini terekspos sempurna di bawah cahaya lampu meja yang temaram.
Meskipun dia berpura-pura lumpuh selama tiga tahun, tubuhnya jauh dari kata lemah. Otot perutnya terbentuk sempurna, six-pack yang keras, dada bidang yang kokoh, dan lengan yang berotot. Jelas sekali dia diam-diam berlatih keras di dalam ruang rahasianya.
Ziva sempat terdiam sejenak, matanya tanpa sadar menelusuri pahatan tubuh suaminya. Ada beberapa lebam baru di rusuk kiri—oleh-oleh dari perkelahian tadi.
"Badan bagus, tapi otak nekat," gumam Ziva menutupi rasa kagumnya.
Dia menuangkan minyak terapi ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu tanpa aba-aba langsung menempelkan tangannya ke paha Elzian yang bengkak.
"Tahan napas. Ini akan sakit. Namanya Deep Tissue Massage."
"Sakit seberapa sih? Aku pernah ditembak dan—ARGH!"
Elzian berteriak, matanya melotot.
Jempol Ziva menekan kuat tepat di tengah simpul otot pahanya yang mengeras. Ziva tidak memijat dengan lembut ala spa, dia menekan, menggerus, dan memecah gumpalan asam laktat dengan kekuatan penuh menggunakan buku-buku jarinya.
"Sialan! Ziva! Kau mau membunuhku?!" erang Elzian, tangannya mencengkeram sandaran sofa sampai kulitnya berdecit.
"Diam. Ini untuk melancarkan aliran darah yang tersumbat," ucap Ziva tenang, sama sekali tidak peduli dengan protes pasiennya. "Ototmu syok berat. Kalau tidak ditekan begini, besok pagi kau benar-benar lumpuh sungguhan karena kram."
Ziva kembali menekan, kali ini mengurut ke arah atas dengan gerakan lambat namun bertenaga.
"Hhhnghh..."
Suara erangan tertahan keluar dari tenggorokan Elzian. Suara yang berat, serak, dan... terdengar sedikit ambigu di telinga. Campuran antara rasa sakit yang menyiksa dan kenikmatan aneh saat otot yang kaku akhirnya ditarik paksa.
Ziva berhenti sebentar, menatap Elzian dengan alis terangkat.
"Bisa tolong kontrol suaramu?" sindir Ziva. "Kalau pelayan lewat di depan pintu dan dengar desahanmu itu, mereka bakal mikir kita lagi bikin anak, bukan terapi fisik."
Wajah Elzian memerah padam, keringat mulai bercucuran di dada bidangnya.
"Sakitnya... beda, Ziva. Rasanya panas," Elzian membela diri dengan napas terengah. "Pelan sedikit, Dokter. Tanganmu itu terbuat dari besi atau daging? Jarimu kecil tapi tenaganya kayak kuli pelabuhan."
"Tahan, Tuan Drystan," balas Ziva, kembali melumuri tangannya dengan minyak. "Kau berani berkelahi seperti preman pasar melawan dua puluh orang, masa dipijat istri sendiri saja merengek seperti bayi?"
Ziva beralih posisi. Dia kini duduk di tepi sofa, di antara kedua kaki Elzian, untuk mendapatkan akses lebih baik ke paha bagian dalam. Posisi yang sangat intim dan berbahaya.
"Ziva, posisi itu..." Elzian menelan ludah.
"Fokus ke ototmu, jangan pikirkan yang lain," potong Ziva tegas.
Dia mulai memijat lagi. Kali ini di area adductor, otot paha bagian dalam yang sangat sensitif. Jemari Ziva bergerak menekan dan mengurut ke atas, mendekati pangkal paha.
Napas Elzian tercekat. Rasa sakitnya masih ada, tapi sensasi tangan halus Ziva yang berlumur minyak hangat di kulitnya mulai mengacaukan konsentrasinya.
Aroma peppermint bercampur dengan aroma tubuh alami Ziva yang manis memabukkan indra penciumannya.
Elzian memperhatikan wajah Ziva yang begitu serius. Ada butir keringat di dahi wanita itu. Beberapa helai rambutnya jatuh menutupi mata, dan Ziva meniupnya kesal tanpa menghentikan pijatannya.
Ziva begitu telaten. Meski mulutnya pedas dan marah-marah, tangannya bekerja keras untuk menyembuhkan rasa sakit Elzian.
"Di sini masih kaku sekali," gumam Ziva, menekan satu titik di dekat pinggul Elzian.
"Akh... Ziva..." desis Elzian.
"Tahan. Sedikit lagi..."
Ziva mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menambah tekanan. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Elzian bisa merasakan hembusan napas Ziva di kulit perutnya yang telanjang.
Ketegangan di ruangan itu berubah drastis. Bukan lagi ketegangan medis, tapi ketegangan s3ksual yang pekat dan menyesakkan.
Saat tangan Ziva bergerak naik sedikit lagi, nyaris menyentuh area terlarang, tangan Elzian bergerak cepat.
Grep.
Elzian menangkap pergelangan tangan Ziva yang licin oleh minyak. Dia menghentikan gerakan istrinya dengan tegas.
Ziva mendongak, kaget. "Kenapa? Belum selesai. Masih ada simpul di—"
"Cukup," potong Elzian, suaranya serak dan berat, jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Elzian menarik tangan Ziva, memaksa wanita itu mendekat hingga dada mereka nyaris bersentuhan. Mata hitam legam Elzian menatap manik mata Ziva dengan intensitas yang membakar. Tatapan seorang pria yang kelaparan, bukan pasien yang kesakitan.
"Ototku sudah cukup lemas," bisik Elzian, matanya turun menatap bibir Ziva yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap matanya. "Tapi kalau kau terus menyentuhku di bagian itu... ada bagian lain yang justru akan mengeras dan memberontak."
Jantung Ziva berdegup kencang, pipinya memanas seketika menyadari maksud ucapan suaminya. Dia ingin menarik tangannya, tapi cengkeraman Elzian terlalu kuat.
"Kau..." Ziva kehilangan kata-kata.
"Terapi fisiknya selesai, Dokter," ucap Elzian pelan, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Sekarang, aku butuh terapi jenis lain."