Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 : Namanya; Monster
Seketika lorong gelap bercahayakan kemerahan lampu obor terdengar sangat berisik. Derap langkah menjejak tanah, membuat mata-mata menyala di kegelapan berterbangan.
Pintu-pintu sel terbuka dengan sendirinya – anak-anak berumur dibawah lima tahun melompat-lompat seraya menenteng kepala, ada juga memainkan bola mata hasil buruan mereka mencari mangsa yang sengaja dilepaskan dilorong layaknya labirin.
Mereka bukan hanya peliharaan, akan tetapi juga tukang jagal bertubuh mungil.
Empat orang pria berlari ke pintu keramat, yang mana ada bayi monster terkuat ciptaan ki Ageng. Terpaksa dikurung, dirantai menggunakan mantra pengikat. jika tidak, akan menyerang siapa saja selain sang tuan.
BRAK!
Daun pintu terhempas, satu persatu masuk ke lorong sempit. Senjata tajam dalam genggaman, siap menyerang apabila ada penyusup.
Namun, mereka terpaku – para bayi yang tadi terdengar suara raungannya sampai menggetarkan perabotan rumah ki Ageng, kini duduk tenang di lantai, tengah menghisap jari milik Wesa.
Pandangan para kesatria menoleh ke samping, tempat di mana Wesa diikat. Dia belum sadarkan diri.
Dua dari empat pria tadi baru saja hendak melangkah memeriksa setiap sudut ruangan, tapi urung saat mendengar suara guru mereka.
“Kenapa peliharaanku mengamuk?” Ki Ageng masuk ke ruangan sel utama.
“Maaf guru, sepertinya bayi-bayi itu lapar,” lapor pemuda tidak mengenakan baju, cuma celana batik model celana Aladin.
Mba Neng tiba disana lebih dulu – dia mendapatkan tundukkan hormat dari para laki-laki berumur sebaya, ada juga lebih muda.
Ekspresi bibinya Ainur sama sekali tidak berubah, memandang biasa saja kedua batita masih menghisap jari sembari mengendus-endus.
Ki Ageng memperhatikan dua anak itu, lalu memandang pada pria masih tidak sadarkan diri. “Tarik rantainya lebih dekat ke Monster, biar mereka menikmati hidangan sebelum dilepaskan memburu manusia hendak membelot.”
Seorang pemuda berbadan tegap, membungkuk lalu mengangkat paha Wesa. Tubuh lemas itu digeser, rantainya pun ikut bergerak sampai terjangkau oleh kedua batita yang diberi nama Monster.
“Sayat lengannya hingga darah menetes ke tanah.”
Lagi, titah ki Ageng langsung dilaksanakan. Lengan tersisa satu jari di sayat menggunakan belati.
Buliran darah pun terjatuh, menguarkan aroma layaknya besi berkarat.
Rawwrrr ….
Batita perempuan berumur tiga tahunan, menyeringai setelah mengaum layaknya Harimau. Jari yang dia hisap dibuang, mata putihnya berkilat. Urat-urat hitam menyerupai cabang ranting menyembul dari leher naik memenuhi wajah.
Aummmm Aummmm ….
Batita satu lagi, tidak memiliki rambut, hidung terbelah, bibir lebar hingga rahang, juga mengaum mirip Serigala.
Tubuh-tubuh mungil itu berdiri, aroma darah membuat mereka meneteskan air liur berwarna hitam berbau bangkai. Melangkah penuh perhitungan mendekati rak pajangan benda tajam yang ada di dekat tiang terikat rantai membelenggu kaki mereka.
Rak itu setinggi dinding plafon ruang bawah tanah. Ada kapak, pedang, besi berujung lancip, belati, bola berduri besi berantai, gunting rumput, tang, dan beberapa lagi.
Saat Monster nomor satu yang paling besar menarik kapak, matanya berkilat melihat sosok bersembunyi di antara rak dan celah sempit lorong. Dia menyeringai memperlihatkan gigi busuk nan runcing.
Ainur terkesiap, tidak bereaksi apa-apa. Hanya menatap dengan wajah pias, tangannya menekan jari telunjuk yang ditutupi kemeja tidurnya. Agar tak ada setetes darah keluar.
Tadi Ainur menggigit ujung jari telunjuknya hingga keluar darah, lalu mengambil dua gelang jari yang tergeletak di tanah. Melumurinya dengan darahnya sendiri, kemudian dilemparkan ke dekat kedua putrinya.
Dia teringat mimpi tentang bayi menghisap ujung handuk bekas menampung darah kotornya.
Para Monster itu langsung bereaksi seperti bayi-bayi kehausan. Sangat rakus menghisap sampai suara decapan memenuhi ruangan.
Ainur berlari mengambil sekop, lalu menghampiri Wesa yang masih mengerjapkan mata, mencoba mencerna. Tanpa ragu dihantamnya kepala pria mesum itu hingga pingsan, belum sempat berteriak kesakitan sudah dibuai kegelapan.
Sesudahnya Ainur meletakkan lagi senjatanya. Matanya bergerak liar mencari sela cukup untuk badan kurusnya. Sebisa mungkin bersikap tenang kendatipun badannya menggigil seperti orang kedinginan.
Ainur bersembunyi di sela-sela rak senjata tajam dan dinding tanah. Diam, memperhatikan sambil berharap-harap cemas semoga tidak ketahuan.
Kapak sudah digenggam, monster ke satu mengayun-ayunkan layaknya orang dewasa. Begitu kontras – tubuh kecil tapi kuat memegang benda lebih tinggi dari badannya.
Monster kedua menarik tang besar yang diletakkan pada rak paling bawah. Dia terkikik lalu tertawa hingga lidah hitamnya terlihat.
Para orang dewasa bersedekap tangan, siap menonton pertunjukan seru memacu adrenalin. Bukan lagi hal baru.
Batita tanpa rambut berjongkok, tanpa aba-aba berusaha mencabut kuku jempol Wesa.
Arggghh ….
Wesa langsung tersadar, berteriak kesakitan. Dia menunduk, kembali menjerit-jerit kala bertemu tatap dengan Monster yang mendongak, menyeringai keji.
“Tolong! Tolong … Akhh! Sakit!” Wesa menendang wajah si Monster kedua sampai terpelanting ke belakang.
Hiks hiks hiks ….
Batita itu menangis layaknya anak kecil – wajahnya terlihat polos, tak berdosa, membuat orang iba. Bahkan mengeluarkan air mata berwarna hitam.
Jari-jari gempal nya menghapus lelehan air mata, lalu mengambil tang yang tadi terlepas dari genggaman. Kala berdiri, auranya sangat berbeda – bak psikopat berwajah tenang, sorot mata datar.
Dia geram ketika hendak mengulang menarik kuku belum sempat tercabut. Akan tetapi Wesa terus melompat-lompat. Kesabarannya pun habis, menoleh ke sang kakak meminta bantuan.
Monster pertama langsung paham. Kapak dalam genggaman diangkat tinggi-tinggi, sedetik kemudian diayunkan ke kaki tanpa mengenakan apa-apa.
Dalam satu kali pukulan, lutut Wesa terpisah dari kaki.
Darah menciprat ke wajah monster pertama. Dia menyeringai, menjilati warna pekat bau amis itu.
Wesa sudah seperti orang kehilangan akal. Berteriak, berusaha melepaskan rantai membelenggu pergelangan tangan. Wajahnya pucat pasi. Sakit, sungguh sakit tak dapat ditahannya.
Tinggal satu kaki, dan si pemiliknya mulai lemah dikarenakan darah terus mengalir dari luka basah, menganga.
Monster kedua melompat-lompat, lalu berjongkok. Tang dijepit ke ujung kuku sedikit panjang – sekali tarik, kuku langsung terlepas.
Arggghh!
Wesa menggelinjang, melompat-lompat dengan satu kaki. Bunyi rantai layaknya nyanyian menambah semangat para algojo bertubuh mungil.
“Ampun, ki Ageng! Ampun!” Wajahnya bersimbah keringat serta air mata. Suaranya tak lagi keras, melirih. Dia meminta pengampunan teruntuk nyawa sudah diujung tanduk.
“Diajeng, apa orang seperti Wesa patut mendapatkan pengampunan?” nada ki Ageng lebih horor daripada saat dia berteriak.
Yang dipanggil diajeng tidak berkedip. Tak pula mengalihkan matanya menatap Wesa merintih, meraung-raung, menangis.
Arkadewi atau yang orang kenal sebagai mba Neneng, menggeleng mantap.
"Teruskan para Monster ku!” titah tegas itu disambut dengan lompatan tinggi.
Monster pertama melompat mencapai kepala Wesa. Kembali mengayunkan kapaknya, memotong dua tangan sekaligus.
Bugh!
Wesa terjatuh, dua pergelangan tangannya tertinggal di rantai. Ia masih memiliki sedikit tenaga – berguling-guling menghindari monster kedua yang sudah berganti memegang senjata.
Rantai bola duri besi diayun-ayunkan. Batita itu bisa melayang tidak menjejak tanah. Sepasang senjata dipukulkan ke wajah kebetulan mendongak menahan sakit.
Bola berduri segera dicabut, ujung-ujung runcingnya menarik daging segar.
Wajah Wesa berlumuran darah. Satu bola matanya pecah.
Brak!
Semua pasang mata bergegas menoleh kala mendengar suara bising bukan ulah para bayi monster.
.
.
Bersambung.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??
semoga Raden Dwipangga datang menolong istrinya
tp jgm pula aq di bikin misuh2 ya 🤣🤣🤣
jal
arep piye meneh nur nasib mu apes temen
apa.yg sudah di lakukan dgm iblis itu sehinga merubah sosok.bayi layak nya monster