NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:360.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 : Panggilan

“Kinasih! Hampir saja aku jantungan.” Ainur mengeratkan pegangan pada piring, ritme jantungnya sedikit cepat.

Kinasih tersenyum sopan, sorot matanya berbinar. Diambilnya piring kue. “Maaf, Ndoro.”

“Tadi kamu sembunyi di mana?”

“Sepertinya ndoro lupa kalau saya bukan manusia biasa,” candanya seraya meletakkan piring di atas meja rias kayu.

Ainur mengulum senyum. Dia duduk di kursi meja rias, menatap wajah tua Kinasih. “Terima kasih nggeh, berkat kamu … aku terhindar dari minuman kotor itu.”

Sewaktu Ainur selesai mandi, tiba-tiba Kinasih muncul di kamarnya. Memberitahukan tentang teh tercemar darah kotor, dan kepulangan Dayanti yang tiba-tiba dikarenakan mual sampai muntah.

Ainur pun memiliki ide brilian. Ia Ingin kakaknya merasakan teh menjijikan itu dengan disaksikan oleh si pembuat yakni, Warti.

“Itu sudah tugas saya sebagai dayang utamanya ndoro Ainur.” Kinasih menautkan tangan, kaki kanannya ditekuk sehingga tubuhnya sedikit rendah sebagai tanda penghormatan.

“Dayang? Siapa bilang? Jangan seperti itu Kinasih, aku kurang nyaman. Panggil nama saja.”

“Tidak etis, dan ndak diperbolehkan. Sekarang ndoro Ainur telah dipersunting oleh Raden Dwipangga. Saya, dan nantinya seluruh rakyat desa Alas Purwo – diwajibkan menghormati, melayani sang permaisuri raja kami,” bahasa Kinasih setengah formal, tatapannya penuh rasa hormat.

“Tapi kita kan lagi di alam manusia? Seharusnya membiasakan diri sesuai tempat tinggal,” ia seperti seseorang tengah melakukan negosiasi.

Kinasih tersenyum lembut, menggeleng samar. “Tetap ndak boleh, Ndoro. Sudah peraturannya seperti itu, dan kami rakyat desa Alas Purwo, menjunjung tinggi nilai-nilai adat budaya, serta menghormati sekaligus mengasihi para pemimpin kami.”

Ainur mengalah, menurutnya hanya sekadar panggilan. Toh, kedepannya dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi hal ini cuma bersifat sementara.

“Kinasih, kenapa kamu bisa bebas masuk ke hunian Sugianto, tapi tidak dengan rumah Tukiran?” ia mempertanyakan hal mengganjal di hatinya.

“Nanti bisa ndoro tanyakan ke Raden Dwipangga,” saat dilihatnya kening sang majikan mengernyit, dia menambahkan. “Kini status ndoro Ainur bukan lagi rakyat biasa. Kami para dayang, memiliki batasan jelas tentang apa yang boleh dan ndak diperkenankan.”

“Baiklah.” Ainur mengangguk. “Perihal permintaan saya, bisakah diusahakan?”

Tanpa Ainur sadari, dia sendiri pun mulai terbiasa dan tutur katanya dapat mengimbangi bahasa formal sang dayang.

“Tenang saja, ndoro. Semua sudah tersedia, tinggal menunggu waktunya saja.” Senyum Kinasih terlihat puas sedikit licik.

Kinasih pamit undur diri, ada tugas penting telah menantinya.

Mata Ainur tak berkedip melihat sosok wanita paruh baya yang apabila dialam tak kasat mata masih sangat muda itu, menembus tembok.

Sepeninggalannya Kinasih, Ainur menghabiskan kudapan, lalu minum air putih. Tak ada yang bisa dia lakukan dihunian ini selain istirahat.

Tugas rumah tangga sudah ada empat pelayan wanita yang mengerjakan. Dia juga tidak pernah betul-betul dekat dengan anggota keluarganya.

Helaan napasnya terdengar seperti menanggung beban. Banyak pertanyaan butuh jawaban, tapi kepada siapa mau ditanyakan. Sedangkan ia tidak mengetahui dimana keberadaan Dwipangga. Mau bertanya ke Kinasih, malu.

Alhasil Ainur naik ke atas ranjang, merebahkan diri. Disaat kantuk mulai menyerang, dia seperti merasakan tilam melesak kedalam, seakan ada seseorang diatasnya.

Ainur tidak lagi mampu membuka mata. Entah itu nyata atau cuma khayalan nya saja, ia biarkan.

Sangat lamban, lengan kekar menelusup di bawah leher si wanita, menggantikan peran bantal sebagai alas kepala.

Raden Dwipangga memeluk istrinya, ikut masuk dalam selimut yang sama. Telapak tangan sebelah kiri mengelus perut datar Ainur – senyum samar terbit pada bibir berwarna alami. Ia memejamkan mata, menemani tidur.

***

Sementara di lantai bawah, Dayanti masih marah-marah.

“Ibu kok ya ndak bilang sedari awal kalau teh itu jorok?!” kesalnya.

“Kamu saja yang tidak mengedepankan adab. Harusnya tanya dulu, bukan langsung minum,” bu Warti tidak mau disalahkan.

“Ya mana aku tahu kalau si pembawa sial itu kemari,” Dayanti pun enggan mengakui kelancangan nya.

Sugianto menengahi, berkata dengan nada dalam. “Kalian berdua, lain kali lebih berhati-hati kalau ndak mau mengalami kejadian menjijikan seperti ini.”

“Warti ….” sebutnya serius, memandang dengan netra tajam. “Jika sekali saja aku mengetahui kalau minuman buatanmu teruntuk diri ini telah dicampur darah kotor, tinggal pilih – hukum cambuk atau tak buang layaknya barang bekas!”

Wajah bu Warti pias, dia mendadak cemas. Sekalipun belum pernah melakukan hal itu ke suami dan anak kandungnya, cuma Ainur yang dia cekoki. Namun dengan kejadian seperti ini, hatinya mulai dihinggapi rasa takut. “Saya sudah bersumpah dan berjanji, maka sampai akhir akan tak tepati.”

“Aku pegang kata-katamu!” Sugianto beranjak, hendak pergi ke hunian Tukiran.

Dayanti dan sang ibu saling lirik, lalu sama-sama mendengus.

“Aku berharap dan hasilnya harus sesuai seperti keinginanku – waktu segera berlalu, agar cepat pula hari kelahiran si jabang bayi. Biar anak haram itu segera lenyap dari muka bumi ini. Nggak ada gunanya lagi dia hidup!” sorot mata Dayanti penuh benci.

Karena kehadiran Ainur di rumah ini – sedari kecil sampai dewasa, ia seperti hidup dalam kekangan, tak bebas menjadi diri sendiri. Harus menjaga sikap, pura-pura menyayangi sang adik beda ibu.

Bu Warti sependapat. Muak sudah hidup dalam kepalsuan, terlebih dahulu sering memendam rasa cemburu buta melihat kecantikan alami Larasani. Ibunya Ainur sangat cantik sekaligus manis – membuat semua pasang mata terutama kaum Adam, betah menatapnya, tak bosan.

***

"Tangan siapa ini?” gumamnya. Ainur langsung mengerjap. Dia tersentak ketika mencium aroma yang sudah melekat pada indra penciumannya.

“Diajeng … tidurlah lagi kalau masih mengantuk, kamu baru tidur dua jam saja,” bisiknya parau tepat dileher Ainur.

“Sejak kapan … ada disini?” dia bingung mau memanggil apa.

“Panggil saja Garwa Jaler, atau disingkat Garwa, saja.” Bagian depan tubuhnya lebih mendekat hingga mendekap erat.

‘Garwa Jaler? Itu kan singkatan dari Sigaraning nyawa – belahan jiwa,’ Ainur merinding, hembusan napas Dwipangga meniup anak rambut pada tengkuk.

“Apa diajeng keberatan dengan panggilan itu?” Dwipangga menarik lengannya, sampai telapak tangan tertindih pipi Ainur. Ia menyanggah berat badan dengan siku. Dari samping melihat pipi tirus sang istri.

“Belum terbiasa saja,” jawabnya jujur.

Ainur tidak melihat senyum membayang di bibir tebal Dwipangga.

“Kalau gitu, mulai sekarang belajar membiasakan diri agar terbiasa.”

“Aku usahakan,” balasnya kala bingung mencari jawaban maupun alasan.

Pria tak mengenakan baju itu mendengar helaan napas panjang. Langsung dirinya peka. “Apa ada pertanyaan yang mengganjal di hatimu, istriku?”

Ainur tidak berani bergerak apalagi berbalik badan, tetap diam dengan posisi tidur menyamping, membelakangi suaminya.

“Hem … kenapa kedua putriku bisa diperbudak dan dijadikan sangat sadis seperti itu? Bukankah seharusnya, jika sesuai umur saat mereka dicuri dari rahimku, masih berupa gumpalan darah, Garwa Jaler …?”

.

.

Bersambung.

1
Ayudya
akhir yg selalu menyedihkan buat keturunan wara🤣🤣🤣
imau
giliran siapa nih?
imau
bukannya menyesali dosa, tapi malah menyesali nasib
Shee_👚
nah sekarang waktunya tukiran, habiskan sampai tak tersisa.
para iblis berwujud manusia tak layak untuk hidup atau di maafkan.

kekejian mereka semasa hidup dah bukan lagi harus di maafkan, nyawa di bayar nyawa baru adil
Shee_👚
aku bayangin ngilu plus sakit tak tertahan😬😬
Astiana 💕
ini sih lebih parah sadis nya dari cerita KK cublik yg lain😱, aku malah gak kepikiran loh cerita beginian
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tinggal si daryo kemana tuh di sandera nya 🤣
Mawar Hitam
satu persatu kena hukumannya yà kak
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
imau
lebih baik dikasih singkong daripada nasi basi
imau
dilarang pingsan kamu, Sas 😄
imau
beeeh rameee
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukum karma berlaku
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!