cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34 — YANG TAK SEHARUSNYA DISELAMATKAN
Langit sore itu tidak gelap, tapi juga tidak terang.
Awan menggantung rendah, seolah enggan bergerak. Angin bertiup pelan, terlalu pelan untuk ukuran jalur perbatasan yang biasanya ramai oleh suara hutan.
Raka berjalan di belakang nenek, menjaga jarak dua tombak seperti biasa. Langkah nenek tetap teratur, tongkat kayunya menjejak tanah dengan irama yang dikenal Raka sejak dalam perjalanan beberapa hari ini. Tidak cepat, tidak lambat. Tapi entah kenapa, pada hari ini irama itu terasa asing. Apakah ada yang sedang dipikirkan sang Nenek atau ada hal lain yang menjadi perhitungan sang Nenek.
Tidak ada burung.
Tidak ada suara serangga.
Raka menelan ludah.
“Kok terasa aneh ya, Nek…” ucapnya pelan.
Nenek tidak menoleh. “Ssst..... pelankan suaramu... Jangan terlalu banyak bicara.”
Jawaban itu tegas. Mengandung penekanan yang kuat. Secara otomatis Raka menutup mulut rapat-rapat, Raka tidak mencoba untuk bertanya lebih lanjut. Perjalananpun mereka lanjutkan. Hanya mereka berdua.
Mereka melewati celah bebatuan, jalur sempit yang di kiri-kanannya ditumbuhi pakis tinggi. Raka merasa aneh dengan jalur ini. Tetapi, aman, kata nenek. Terlalu aman, pikir Raka sekarang. Bahkan jejak kaki pun jarang terlihat.
Langkah nenek melambat sepersekian detik.
Dan di saat itulah—
Srak.
Sesuatu menghantam dada Raka. Begitu cepat, sampai gerakan Nenek terlambat dalam hitungan detik.
Bukan suara keras. Bukan ledakan. Hanya rasa panas yang tiba-tiba menembus tubuhnya, lalu dingin yang menjalar cepat. Kakinya langsung lemas. Napasnya tersedak di tenggorokan.
Raka jatuh berlutut.
Panah pendek.
Tertancap tepat di bawah tulang selangka.
Ia mencoba menarik napas, tapi dadanya seperti diremas dari dalam. Pandangannya berkunang. Di kejauhan, bayangan bergerak—cepat, rapi, tanpa suara gaduh.
“Raka!”
Suara nenek berubah. Tidak tenang.
Dari balik pakis, dua sosok muncul bersamaan. Gerakan mereka sinkron. Tidak ragu. Satu membawa bilah pendek berlapis racun, satu lagi sudah mengangkat panah kedua.
Raka tahu.
Ini bukan perampok.
Ini pembunuh.
Nenek tidak berteriak minta bantuan. Tidak mundur.
Ia justru maju. Bergerak dengan sangat cepat menyongsong kedua pembunuh.
Tongkat kayu di tangannya berputar cepat, bukan sebagai alat bantu jalan, tapi senjata. Ujungnya menghantam pergelangan tangan pemanah. Bunyi tulang retak terdengar jelas. Panah kedua berputar dengan cepat, Nenek dengan sigap menghindar, panah meleset, menancap di tanah.
Disaat itu penyerang kedua bergerak cepat, bilahnya menyapu rendah. Nenek dengan cepat melangkah menyilang, tubuhnya berputar dengan kelincahan yang tidak pernah Raka lihat sebelumnya. Bertahan dan menyerang, sebuah kombinasi serangan yang mematikan. Serangan tongkat dengan presisi tinggi menusuk tenggorokan lawan.
Tidak ada teriakan.
Hanya bunyi pendek, tercekik.
Tubuh itu jatuh, mata terbuka, tangan masih mencengkeram senjata.
Melihat temannya jatuh, pemanah dengan cepat mencoba melarikan diri. Dia merasa tidak akan sanggup melawan sang Nenek. Satu serangan dilancarkan sebagai tipuan. Tapi sayang langkah itu sudah terbaca Nenek. Belum sempat panah melesat ke Raka, Nenek sudah bertindak.
Nenek melempar tongkatnya.
Lemparannya lurus. Tepat.
Tongkat itu menembus punggung, menghantam jantung.
Semua terjadi terlalu cepat.
Raka terengah-engah. Racun mulai bekerja. Jari-jarinya mati rasa. Dunia terasa menjauh, seperti ditarik pelan-pelan dari kepalanya.
“Nek… nek... jangan… jangan.... jangan.....” gumamnya, bahkan ia sendiri tidak tahu maksudnya.
Nenek sudah berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar saat menarik panah dari dada Raka secara hati-hati dan perlahan-lahan. Setelah beberapa waktu panah bisa dikeluarkan. Darah mengalir deras. Bau amis dan racun memenuhi udara.
“Diam jangan banyak gerak,” katanya, tapi suaranya pecah.
Ini aneh.
Biasanya nenek tidak pernah terlihat panik.
Ia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya—kantong kecil berisi bubuk hitam. Tangannya ragu sepersekian detik sebelum menuangkannya ke luka-luka.
Raka membuka mata lebar. Ia pernah dengar cerita tentang bubuk itu. Obat kuat. Terlalu kuat. Tidak boleh dipakai sembarangan. Bisa menyelamatkan… bisa juga merusak tubuh selamanya.
“Nek…” Raka batuk, darah keluar dari mulutnya.
Nenek menekan lukanya. Terlalu keras.
“Kalau kau mati di sini,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, “semua ini akan menjadi sia-sia.”
Kalimat itu bukan kalimat penjaga netral.
Itu kalimat seseorang yang takut kehilangan. Meski Raka tidak ada hubungan apa-apa dan perjalanan ini dari semula berkelompok hanya meninggalkan Raka dan Nenek masih menjadi pertanyaan, kemana tujuan mereka, kenapa orang-orang berdatangan untuk membunuh mereka, siapa mereka? Tujuannya apa? Apa motif dan tujuan Nenek melindungi Raka?
Raka merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Racun dan obat saling bertabrakan di dalam darahnya. Dalam demam yang tinggi dia melihat seolah-olah ke-2 orang tuanya mendatanginya, mereka tersenyum dan menghilang pelan-pelan. Raka berteriak memanggil-mangil keduannya. Ia menjerit tanpa suara. Tangannya mencengkeram lengan nenek.
Untuk sesaat, Raka melihat wajah nenek jelas.
Bukan wajah tua lelah yang biasa ia kenal.
Ada ketegasan dingin.
Ada bekas luka lama di leher, tersembunyi selama ini.
Ada mata seorang prajurit.
Lalu gelap.
Raka siuman saat malam sudah turun.
Api kecil menyala tak jauh darinya. Tubuhnya terasa berat, seperti bukan miliknya sendiri. Setiap napas membuat dadanya nyeri, tapi ia masih hidup.
Ia menoleh perlahan.
Nenek duduk membelakanginya, menatap api. Tangannya memegang tongkat—tongkat yang kini penuh noda darah, tapi sudah dibersihkan seadanya.
“Minumlah Raka,” kata nenek tanpa menoleh.
Raka meneguk cairan pahit yang disodorkan. Tenggorokannya terbakar, tapi kesadarannya perlahan kembali.
“Aku…” Raka berhenti. “Aku seharusnya mati ya, Nek?”
Api berderak. Lama nenek tidak menjawab.
“Kalau saja kemarin terlambat sedikit, saja...,” akhirnya nenek berkata, “iya, kamu sudah mati.”
Jawaban itu menghantam lebih keras dari panah tadi.
Raka menatap punggung nenek. Punggung yang terlihat rapuh, tapi baru saja membunuh dua orang tanpa ragu.
“Kenapa nenek terus menolongku, kenapa aku masih hidup?”
Nenek menghela napas panjang. Berat.
“Karena aku bodoh,” katanya singkat.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan.
Malam terasa makin dingin.
Raka memejamkan mata, mencoba menata pikirannya. Di balik kelopak matanya, adegan sore tadi terulang. Gerakan nenek. Cara membunuh. Kecepatan. Ketepatan. Perlahan-lahan dia ingat dengan para prajurit saat berlatih, ada kemiripan, ada kecocokan dibeberapa jurus yang dipakai Nenek.
Dan dengan usia nenek, itu bukanlah gerakan orang tua.
Bukan gerakan penjaga biasa.
“Ada apa sebenarnya, Nek?” tanyanya lirih.
Nenek berdiri. Memunggunginya lebih jauh.
“Kau hidup. Itu saja yang terpenting, lain-lain jangan terlalu difikirkan. Persiapkan dirimu kemungkinan didepan jalan akan semakin terjal, dan Nenek tidak yakin apakah Nenek akan bisa bertahan. Teruslah hidup Raka”
Nada suaranya kembali dingin. Tertutup. Seolah tembok kembali ditegakkan.
Raka ingin bertanya lagi, tapi tubuhnya terlalu lemah. Kepalanya berat. Matanya kembali terpejam.
Sebelum tertidur, satu pikiran berputar di kepalanya, pelan tapi mengganggu:
Kalau aku memang seharusnya mati…
berarti ada sesuatu yang lebih besar dariku yang sedang dijaga.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenal nenek,
Raka merasa—
diselamatkan bukan karena tugas,
tapi karena rasa.
Putaran waktu berjalan pelan tapi pasti, awan hitam gelap siap menyonsong Raka.