Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lampu putih di langit-langit terasa menyilaukan saat Nadia perlahan membuka mata. Aroma obat-obatan menusuk inderanya, membuat kepalanya terasa berat.
Jantungnya masih berdebar kencang, seolah kejadian mengerikan tadi kembali terulang dalam kepalanya....teriakan, kekacauan, rasa takut yang membuat tubuhnya gemetar. Tangannya mencengkeram seprai, napasnya tersengal, sementara dadanya naik turun menahan sisa-sisa trauma yang belum sepenuhnya pergi.
Saat ia mencoba menenangkan diri, pintu kamar rumah sakit itu tiba-tiba terbuka. Nadia menoleh, dan detik berikutnya matanya melebar, membeku antara kaget dan tidak percaya. Sosok itu berdiri di ambang pintu.....wajah yang begitu ia kenal, namun mustahil seharusnya ada di sana.
Gibran?'batinnya.
Laki-laki yang telah menghilang tanpa kabar selama dua bulan penuh. Kini berdiri nyata di hadapannya, menatap dengan sorot mata yang sulit di artikan. Hati Nadia bergetar hebat.....antara lega, marah, dan rindu yang tak tertahankan. Pertemuan itu terasa seperti mimpi, namun detak jantungnya yang semakin kacau memastikan satu hal.
Gibran benar-benar kembali.
Gibran berdiri kaku di ambang pintu, tangannya mengepal lalu mengendur, seolah tak tahu harus berbuat apa. Suasana menjadi hening beberapa detik, sebelum akhirnya ia melangkah mendekat.
"Hai..... "sapanya pelan.
Nadia menelan ludah." Gibran...?"suaranya bergetar."Ini.... benaran kamu?"
Gibran mengangguk kecil."Iya,"jawabnya singkat, matanya tak berani menatap terlalu lama."Aku dengar kamu di sini."
Nadia terkekeh hambar."Dua bulan menghilang tanpa kabar,"ucapnya lirih, ada getir yang tak dapat di sembunyikan.
"Lalu, tiba-tiba muncul di rumah sakit?"
Gibran menghela napas panjang."Aku minta maaf. Aku tahu aku salah."Ia mengusap tengkuknya dengan canggung."Banyak hal yang nggak hisa aku jelasin. Dan.... aku nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi, dalam keadaan begini."
Nadia menalingkan wajahnya sesaat, dari jawaban Gibran, sepertinya bukan dia yang menolongnya tadi.
"Jadi... bukan kamu yang nolong aku dan bawa aku ke rumah sakit ini?" tanyanya pelan, namun jelas.
Gibran tampak terkejut sesaat. Alisnya berkerut, lalu ia segera memalingkan wajah."Bukan,"jawabnya singkat.
Nadia ingat, sebelum dirinya pingsan. Ia sempat melihat siluet laki-laki bertubuh tinggi tegap yang tingginya hampir sama dengan Gibran.
Nadia menyipitkan mata."Taoi sebelum pingsan, meskipun ruangan gelap, aku yakin melihat laki-laki yang tingginya hampir sama denganmu."
Gibran terkekeh kecil, seolah menampik tuduhan Nadia."Banyak orang tinggi di luar sana,"elaknya. "Mungkin... rekan kerjamu."
"Rekan kerjaku nggak ada yang segitunua peduli, toh saat kejadian kantor sudah tidak ada orang satu pun,"balas Nadia cepat. "Dan....." Ia terdiam sejenak, mengingat sesuatu. "Aku ingat, samar-samar ada suara yang memanggil namaku."
Gibran menegang,"Kamu pasti halu karna syok,"katanya, suaranya di buat setenang mungkin. "Yang terpenting, sekarang kamu selamat."
Nadia menatapnya lekat-lekat."Gibran,"ucapnya lirih namun tegas. "Atasanku.... dia itu gila, kamu tahu itu, kan?"
Jantung Gibran berdentum keras, ia tentu tahu, anak buahnya yang tergopoh-gopoh menghubunginya malam itu, mengabarkan tentang atasan Nadia yang semakin tidak terkendali. Tentu ia tidak bodoh, meskipun Gibran hidup jauh dari Nadia, tapi ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengawasi Nadia.
Gibra takut, gadis itu mengalami bahaya.
Dan benar saja, dugannya benar.
Malam itu, Gibran datang secepat mungkin, begitu mendengar kabar dari anak buahnya. Untungnya, ia datang tepat waktu. Kalau tidak? semuanya akan hancur berantakan.
"Aku cuma dengar sekilas," jawab Gibran mengelak. "Hanya dengar dari rekan kerjamu, saat di interogasi."
"Kok bisa pas aku kenapa-napa, kamu muncul?"cerca Nadia. "Kamu bahkan tahu aku kerja dimana."
Gibran terdiam beberapa detik, sebelum menjawab, "Kebetulan."
Nadia menggeleng pelan, senyum pahit tersungging. "Kamu jelek banget kalau lagi bohong."
Gibran menghela napas panjang,"Nadia.... nggak semua hal perlu kamu tahu."
"Aku cuma mau tahu satu hal,"suara Nadia melembut. "Kalau bukan kamu yang menolongku, kenapa tangan dan wajahmu babak belur?"
Gibran refleks menarik tangannya, sialan! ia sampai lupa menutupi semua lukanya dengan foundation. "Ini cuma lecet," jawabnya santai. "Nggak penting."
Namun tatapan Nadia tak bergeming. Ia tahu. Dan Gibran tahu.... bahwa sekeras apapun ia menyangkal, kenyataanya telah berdiri jelas di antara mereka.
**********
Langkah Gibran terasa lebih ringan, saat ia keluar dari rumah sakit siang itu, meski hatinya masih tertinggal di ruangan tempat Nadia terbaring lemah.
Wajah pucat perempuan itu dengan selang infus yang menancap di tangannya, terus terbayang di benaknya. Ada rasa bersalah, cemas, dan kepedulian yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata.
Di perjalanan pulang, Gibran memutuskan untuk mampir ke sebuah toko buah yang ada di sebrang jalan. Ia memilih dengan teliti dan satu persatu. Apel merah segar, jeruk manis, anggur hingga pir yang masih berembun.Tangannya bergerak tanpa ragu, seakan ingin Nadia mendapatkan sesuatu yang terbaik. Sebuah kanton penuh buah-buahan kini tergenggam, membawa harapan kecil, agar perempuan itu lekas pulih.
Namun, Gibran tidak menyadari satu hal.
Dari sebrang jalan, sepasang mata tajam sedang mengamatinya dengan penuh perhatian. Sosok itu berdiri tersembunyi di balik bangunan, menatap setiap gerak gerak-gerik Gibran dengan senyum tipos yang sulit di artikan. Ada rencana dan niat yang belum terungkap.Gibran melanjutkan perjalanan, tanpa menyadari bahwa langkahnya telah di awasi. Tak sadar, bahwa setelah hari ini, ancaman akan kembali menghampiri.
**********
"Apa kau yakin dengan yang kau lihat?"suara Arya terdengar dingin, namun sorot matanya tajam.
Anak buah itu menelan ludah. " Saya tidak salah lihat, Tuan. Saya yakin itu Gibran, saya melihatnya sedang membeli buah di toko buah pinggir jalan."
Arya mengepalkan tangannya perlahan.
"Mustahil...." gumamnya pelan. "Aku sendiri yang melihatnya jatuh ke sungai itu. Arusnya deras. Tidak ada orang yang bisa selamat."
"Tapi wajah itu....." anak buah itu ragu untuk melanjutkan,"......wajah itu, percis adik Tuan. Cara berdirinya, caranya berbicara.... semuanya sama."
Arya menggeleng, langkahnya mundur setengah. "Mayatnya tidak pernah di temukan karna tubuhnya sudah habis di makan binatang. Dan aku yakin, akan hal itu."
"Kalau begitu....siapa orang itu, Tuan?" tanya anak buahnya lirih.
Arya terdiam cukup lama. Sorot matanya seolah menunjukan jika ia sedang berpikir keras tentang kabar yang di bawa anak buahnya. "Jika itu benar-benar Gibran....." suaranya menurun penuh tekanan, "berarti ada sesuatu yang luput dari rencanaku."
Anak buah itu menunggu perintah.
"Apa perlu saya dekati?"
Arya mengangkat tangan, menghentikannya. "Belum. Aku ingin memastikan. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa hantu masa lalu itu benar-benar hidup.... atau hanya kebetulan yang menyerupai."
Pandangan Arya semakin tajam. "Jika dia memang Gibran," lanjutnya pelan, namun mengancam, "maka sungai itu gagal menghabisinya. Dan kali ini.... aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Teruskan penyelidikanmu tentang laki-laki yang mirip dengan Gibran, berikan bukti jelas dan nyata, jika dia benar-benar masih hidup," ujarnya kembali, "Aku sudah terlalu jauh melangkah, aku tidak ingin semua ini berakhir sia-sia."
Anak buah itu mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkan Arya yang masih berdiri dengan ketakutan yang akan terjadi. Ia takut rencananya hancur, karna gagal menyingkirkan Gibran.
bersambung....