NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Kandang Macan Berdasi

​Gedung Grand Horizon Tower menjulang tinggi menembus langit biru kota Bandung, seolah mengejek bangunan-bangunan kecil di sekitarnya. Kaca-kacanya yang berwarna biru gelap memantulkan cahaya matahari, menciptakan aura dingin, angkuh, dan tak tersentuh.

​Di pelataran parkir basement yang dipenuhi mobil-mobil sedan mengkilap dan SUV gagah, sebuah motor Supra tua berwarna hitam berhenti dengan suara mesin yang agak tersendat.

​Ctek. Brum... pfff. Mesin mati.

​Fatih melepas helmnya, menyeka keringat dingin yang membasahi dahi. Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion yang retak. Kemeja putih lengan panjangnya sudah disetrika Zalina sehalus mungkin tadi pagi, tapi perjalanan jauh menerjang macet dan debu jalanan membuatnya sedikit kusut di bagian lengan. Celana bahan hitamnya bersih, sepatu pantofelnya sudah disemir, namun tetap saja... ia merasa kecil.

​Sangat kecil.

​"Mas, kok bengong?"

​Tepukan lembut di bahu menyadarkannya. Zalina sudah turun dari boncengan. Gadis itu—sekarang wanita itu—tampak profesional dengan blazer navy yang membalut gamis kerjanya. Ia membawa tas laptop Fatih yang berat di satu tangan, dan map dokumen di tangan lainnya.

​"Mas grogi, Zal," aku Fatih jujur, suaranya pelan agar tidak terdengar oleh satpam yang sedang melirik curiga ke arah motor mereka. "Liat mobil-mobil ini. Saingan kita pasti bukan sembarangan. Biro kita belum punya PT, belum punya kantor fisik. Alamat kita aja masih alamat kontrakan."

​Zalina tersenyum, lalu merapikan kerah kemeja Fatih.

​"Mas Fatih dengerin aku," ucap Zalina tegas namun lembut. "Gedung ini emang tinggi. Mobil mereka emang mahal. Tapi yang mendesain bangunan itu bukan mobil, bukan gedung. Tapi otak dan hati. Dan aku yakin, otak dan hati suami aku nggak kalah sama mereka."

​Zalina menatap mata Fatih dalam-dalam.

​"Inget, kita ke sini bukan buat ngemis proyek. Kita ke sini buat nawarin solusi. Kita mitra, Mas. Setara. Jangan nunduk."

​Kata-kata itu seperti suntikan adrenalin. Fatih menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan keberanian.

​"Oke. Bismillah. Kita masuk."

​Mereka berjalan menuju lift. Saat pintu lift berdenting terbuka di lantai 25, udara dingin AC sentral langsung menyergap kulit. Wangi aromaterapi lavender dan kopi mahal memenuhi lobi kantor Grand Horizon Group. Lantainya marmer putih Italia, begitu bersih hingga bisa dijadikan cermin.

​"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" Resepsionis cantik dengan seragam ketat menyapa dengan senyum SOP (Standar Operasional Prosedur).

​"Kami dari Langit Arsitektur. Ada undangan presentasi tender jam 10 dengan Pak Gunawan," jawab Fatih, berusaha terdengar mantap.

​"Oh, silakan tunggu di Ruang Meeting 3. Peserta lain sudah ada di sana."

​Fatih dan Zalina melangkah menuju ruangan yang ditunjuk. Pintu kaca buram itu terbuka otomatis.

​Begitu masuk, nyali Fatih kembali diuji.

​Di dalam ruangan, sudah duduk tiga orang pria paruh baya. Mereka mengenakan setelan jas mahal yang potongannya presisi. Di meja, tergeletak kunci mobil BMW dan Mercedes. Mereka sedang mengobrol santai sambil tertawa renyah, seolah tender ini hanya formalitas bagi mereka.

​Salah satu dari mereka, pria berkacamata tebal dengan rambut memutih, menoleh saat Fatih masuk. Tatapannya memindai dari ujung kaki ke ujung kepala.

​"Oh... ini peserta keempat?" tanya pria itu dengan nada yang sulit diartikan. "Kirain OB mau nganter kopi."

​Dua temannya tertawa kecil.

​Darah Fatih berdesir. Zalina di sebelahnya meremas tangan Fatih pelan, menahan amarah.

​Fatih tersenyum sopan, mengabaikan hinaan itu. "Selamat pagi, Bapak-bapak. Saya Fatih, ini rekan saya Zalina. Salam kenal."

​"Hendra. Arsitek Utama Megabuild," jawab pria itu singkat, lalu kembali mengobrol dengan temannya, menganggap Fatih tidak ada.

​Fatih dan Zalina duduk di kursi paling ujung. Fatih mengeluarkan laptop tuanya. Saat dinyalakan, suara kipas laptop itu menderu kencang: Wuuungggg...

​Hendra menoleh lagi, mengangkat alis. "Mas, itu laptop apa helikopter? Berisik amat. Nanti presentasi jangan sampai meledak ya."

​"Insya Allah aman, Pak. Yang penting isinya, bukan suaranya," balas Fatih tenang.

​Pintu ruangan terbuka lebar. Seorang pria tinggi besar dengan wajah kaku masuk, diikuti dua asisten. Ruangan mendadak hening. Aura pria ini sangat dominan.

​Ini dia. Gunawan. Direktur Operasional Grand Horizon yang terkenal "pembunuh berdarah dingin" dalam negosiasi.

​"Selamat pagi. Saya tidak suka basa-basi," ucap Gunawan dingin, langsung duduk di ujung meja. "Kalian diundang karena portofolio kalian menarik perhatian tim riset saya. Tapi portofolio masa lalu tidak menjamin masa depan. Proyek ini adalah Cluster Subsidi 'Griya Harapan'. Target pasar: Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Tapi saya mau desain yang nggak kelihatan murah."

​Gunawan menatap satu per satu peserta dengan tatapan elang.

​"Waktu presentasi 15 menit. Tidak lebih satu detik pun. Dimulai dari Megabuild."

​Hendra maju dengan percaya diri. Ia menyambungkan iPad Pro-nya ke layar proyektor. Presentasinya sangat slick, penuh animasi canggih.

​"Konsep kami adalah 'Modern Minimalis'. Kami menggunakan fasad kaca dan pre-cast concrete untuk mempercepat pembangunan. Biaya tekan, jual mahal. Margin keuntungan Bapak bisa sampai 40% per unit."

​Gunawan mengangguk-angguk, mencatat sesuatu. "Bagus. Efisien. Selanjutnya."

​Peserta kedua dan ketiga juga memaparkan hal serupa. Fokus mereka adalah: Bagaimana membangun secepat mungkin, semurah mungkin, dan untung sebesar mungkin. Mereka bicara angka, beton, dan profit.

​"Terakhir. Langit Arsitektur," panggil Gunawan. Ia melirik jam tangannya, tampak sudah bosan.

​Fatih berdiri. Kakinya gemetar sedikit, tapi ia ingat wajah Bu RT yang menghinanya, dan wajah Zalina yang membelanya. Ia tidak boleh gagal.

​Fatih menyambungkan laptopnya. Slide pertamanya muncul. Sederhana. Putih bersih dengan satu gambar sketsa tangan: Sebuah rumah kecil dengan pohon mangga di depannya dan sirkulasi udara yang digambar dengan panah biru.

​Judulnya: "Rumah Tumbuh: Memanusiakan Manusia."

​"Selamat pagi, Pak Gunawan," Fatih memulai. Suaranya tidak meledak-ledak seperti Hendra, tapi tenang dan dalam.

​"Saya tidak akan bicara soal margin keuntungan 40%. Saya akan bicara soal siapa yang akan tinggal di sana."

​Fatih menekan tombol next. Slide berubah menampilkan foto buruh pabrik, guru honorer, dan pedagang pasar.

​"Target pasar Bapak adalah MBR. Mereka adalah orang-orang yang bekerja keras 12 jam sehari. Rumah bagi mereka bukan aset investasi, Pak. Rumah adalah satu-satunya tempat mereka meluruskan punggung."

​Suasana ruangan hening. Gunawan berhenti menulis, mengangkat wajahnya menatap Fatih.

​"Kompetitor saya menawarkan beton dan kaca. Itu bagus, tapi panas. Kalau Bapak pakai banyak kaca di perumahan subsidi yang lahannya sempit dan padat, rumah itu akan jadi oven. Penghuninya akan stres. Kalau mereka stres, lingkungan jadi tidak sehat, kumuh, dan nilai aset Grand Horizon jangka panjang akan jatuh."

​Fatih menampilkan desainnya.

​"Konsep saya adalah 'Rumah Bernapas'. Saya menggunakan roster (lubang angin) lokal yang murah sebagai aksen fasad. Ini bukan cuma estetik, tapi menurunkan suhu ruangan 3 derajat tanpa AC. Saya juga mendesain plafon tinggi agar sirkulasi udara berputar."

​"Dan yang paling penting," Fatih menunjuk bagian belakang denah rumah. "Saya menyisakan lahan kosong di belakang. Bukan dibeton habis. Kenapa? Karena MBR butuh tumbuh. Nanti kalau mereka punya rezeki, mereka bisa bangun kamar tambahan sendiri. Kami memberikan pondasi yang siap tumbuh, bukan rumah kotak mati."

​Hendra mendengus meremehkan. "Teoritis sekali. Pakai roster itu rawan debu. Dan sisa lahan? Itu buang-buang space yang bisa dijual!"

​Fatih menoleh ke Hendra. "Pak Hendra, orang beli rumah subsidi itu biasanya punya motor. Kalau kita habisin lahan buat bangunan, mereka parkir di jalan. Jalanan jadi macet, kumuh, berantem antar tetangga. Lahan sisa itu solusi sosial, bukan buang space."

​Gunawan mengangkat tangan, menyuruh Hendra diam. "Lanjutkan."

​Zalina kemudian berdiri, mengambil alih bagian anggaran.

​"Berdasarkan hitungan kami," suara Zalina tegas dan rinci. "Meskipun desain kami menyisakan lahan, kami menghemat biaya di material dinding dengan menggunakan bata ekspos yang di-coating. Kami juga memotong biaya finishing keramik dinding kamar mandi dengan cat waterproof khusus yang lebih stylish dan murah. Total HPP (Harga Pokok Produksi) kami justru lebih rendah 5% dari proposal Megabuild."

​Zalina menyajikan tabel Excel yang rumit dengan sangat rapi.

​Gunawan menatap tabel itu lama. Matanya menyipit. Arsitek biasanya lemah di angka, tapi pasangan di depannya ini... mereka paket lengkap. Desain pake hati, hitungan pake otak.

​"Waktu habis," potong Gunawan tiba-tiba.

​Fatih dan Zalina terdiam. Jantung mereka berdegup kencang. Apakah mereka berhasil?

​Gunawan menutup map-nya. Ia berdiri.

​"Terima kasih semuanya. Hasil akan diumumkan via email besok sore. Silakan bubar."

​Gunawan langsung berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada pujian. Dingin.

​Hendra membereskan iPad-nya sambil tertawa sinis ke arah Fatih. "Idealisme mahasiswa. 'Memanusiakan manusia'? Mas, ini bisnis properti. Bukan panti sosial. Siap-siap cari kerjaan lain ya."

​Hendra dan teman-temannya keluar ruangan dengan angkuh.

​Tinggallah Fatih dan Zalina berdua di ruangan dingin itu. Fatih lemas, duduk kembali di kursi.

​"Kita gagal ya, Zal?" tanya Fatih lirih. "Pak Gunawan kayaknya nggak tertarik."

​Zalina mengusap punggung tangan suaminya. "Kita udah kasih yang terbaik, Mas. Mas Fatih tadi keren banget. Beneran. Mas berani debat sama arsitek senior. Itu aja udah kemenangan buat aku."

​Fatih menatap istrinya, lalu tersenyum tipis. "Makasih, Partner."

​Mereka membereskan laptop tua itu, lalu berjalan keluar gedung pencakar langit itu kembali menuju parkiran motor. Kembali ke realita.

​Sore harinya, di kontrakan.

​Fatih sedang shalat Ashar, memohon ketenangan hati. Sementara Zalina sedang menghitung sisa uang belanja di dompetnya. Tinggal 300 ribu. Cukup untuk 4 hari lagi jika sangat hemat.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang kasar terdengar.

​DOK DOK DOK!

​"Assalamualaikum! Buka!"

​Itu suara Bu Rahmi, Bu RT.

​Fatih menyelesaikan salamnya, lalu bergegas membuka pintu. Zalina mengekor di belakangnya dengan wajah cemas.

​Di teras, Bu Rahmi berdiri berkacak pinggang. Kali ini dia sendirian, tapi wajahnya tampak lebih garang dari kemarin.

​"Ada apa lagi, Bu?" tanya Fatih sabar.

​"Kalian ini ya! Baru dua hari di sini udah bikin masalah!" bentak Bu Rahmi.

​"Masalah apa, Bu?"

​"Tadi siang, ada orang-orang pake baju item, tampangnya serem, nanya-nanyain rumah ini ke warga! Mereka nanyain Fatih itu siapa, kerjanya apa, istrinya ke mana aja!" Bu Rahmi menunjuk Fatih. "Kalian ini buronan ya? Atau bandar narkoba? Jangan bawa sial ke kampung saya dong!"

​Fatih dan Zalina saling pandang. Orang berbaju hitam? Seram?

​"Bu, demi Allah kami bukan kriminal. Mungkin itu... debt collector salah alamat?" Fatih mencoba mencari alasan logis, meski hatinya bergetar. Apakah itu sisa anak buah Erlangga?

​"Halah! Alesan! Pokoknya saya nggak mau tau. Kalau sampe ada keributan di sini, saya usir kalian detik itu juga! Warga udah resah!"

​Bu Rahmi meludah ke tanah, lalu pergi dengan hentakan kaki keras.

​Fatih menutup pintu, menguncinya rapat. Ia berbalik menatap Zalina yang wajahnya pucat.

​"Mas... siapa orang-orang itu?" bisik Zalina ketakutan. "Apa Erlangga kirim orang dari penjara?"

​Fatih menggeleng. "Nggak mungkin. Erlangga udah habis. Asetnya disita, dia nggak punya duit buat bayar preman."

​"Terus siapa?"

​Fatih berjalan ke jendela, mengintip dari balik gorden tipis. Firasatnya mengatakan ini bukan soal Erlangga. Ini sesuatu yang baru.

​"Zal, mulai besok, kalau Mas lagi ke proyek atau ketemu klien, kamu jangan di rumah sendirian ya. Kamu ikut Mas, atau kamu main ke rumah Ayah."

​"Aku nggak mau ke rumah Ayah, Mas. Nanti Ibu khawatir. Aku ikut Mas aja."

​Malam itu, suasana kontrakan terasa mencekam. Setiap suara motor lewat membuat mereka waspada. Mereka tidur dengan lampu ruang tamu menyala. Fatih meletakkan tongkat kasti bekas (yang ia temukan di gudang) di samping kasur.

​Di tengah ketidakpastian itu, mereka hanya bisa berpelukan dan berdoa. Menunggu kabar tender besok yang akan menentukan nasib: apakah mereka akan bangkit, atau semakin terpuruk dalam ancaman yang tak terlihat.

​Keesokan harinya, pukul 16.00 WIB.

​Fatih dan Zalina duduk di depan laptop. Layar email terbuka. Mereka me-refresh halaman itu setiap lima detik.

​Refresh. Kosong.

Refresh. Masih kosong.

​"Mungkin kita nggak lolos, Mas..." desah Zalina kecewa.

​Ting.

​Email baru masuk.

From: Gunawan (Grand Horizon)

Subject: Pengumuman Pemenang Tender Cluster Griya Harapan

​Jantung Fatih berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang dingin memegang mouse, mengkliknya.

​Email terbuka.

​Kepada Yth. Saudara Fatih,

​Terima kasih atas presentasi Anda yang 'berbeda'. Kami manajemen Grand Horizon telah berdiskusi panjang lebar. Konsep 'Megabuild' memang menguntungkan secara finansial jangka pendek...

​Fatih menahan napas. Kalimatnya berbelit-belit.

​...Namun, visi kami ke depan adalah membangun reputasi yang berkelanjutan. Konsep 'Rumah Tumbuh' Anda memiliki risiko, tapi juga memiliki potensi branding yang kuat.

​Dengan ini kami sampaikan, bahwa Langit Arsitektur dinyatakan LOLOS ke tahap negosiasi akhir sebagai PEMENANG TENDER.

​"ALLAHU AKBAR!"

​Fatih berteriak sekuat tenaga. Zalina menjerit histeris, langsung memeluk leher suaminya erat-erat. Mereka melompat-lompat di atas kasur busa tipis itu sampai kasurnya bergeser ke pintu.

​"Kita menang, Zal! Kita menang!" Fatih menangis. Beban berat di pundaknya terangkat.

​"Alhamdulillah, Mas! Alhamdulillah!" Zalina menangis sesenggukan.

​Di email itu tertulis nilai kontrak desain awal. Angkanya cukup untuk mengontrak rumah yang lebih layak selama dua tahun, membeli motor baru, dan memodali kantor kecil.

​Namun, di baris paling bawah email itu, ada catatan kecil dari Gunawan:

​Note: Siapkan mental kalian. Proyek ini lokasinya di tanah sengketa. Banyak 'pemain lokal' yang tidak suka kami membangun di sana. Tugas arsitek bukan cuma menggambar, tapi juga menghadapi lapangan. Selamat datang di dunia nyata.

​Fatih membaca catatan itu. Senyumnya sedikit memudar.

​Jadi, orang-orang berbaju hitam yang mencari mereka kemarin... mungkin bukan suruhan Erlangga. Tapi preman tanah sengketa yang tahu siapa arsitek proyek ini.

​"Kenapa Mas?" tanya Zalina, melihat perubahan wajah suaminya.

​Fatih buru-buru menutup laptop. "Nggak apa-apa. Pak Gunawan cuma bilang besok kita harus tanda tangan kontrak."

​Fatih tidak ingin merusak kebahagiaan istrinya. Biarlah dia yang menanggung rasa takut itu.

​Hari ini mereka merayakan kemenangan. Besok, mereka akan menghadapi perang wilayah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!