Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Cemburu Level CEO
"Mana yang namanya Suster Citra? Gue mau liat seberapa kinclong kulitnya. Apa dia mandi pake air zam-zam sampai Arka bilang dia bidadari?"
Alea bergumam pelan sambil melangkah menyusuri lorong Rumah Sakit Ardiman dengan langkah lebar dan penuh intimidasi.
Suara hak tinggi stiletto merahnya menggema di lantai marmer yang sepi, menciptakan irama tuk-tuk-tuk yang membuat beberapa perawat magang menyingkir ketakutan.
Hari ini, Alea tidak terlihat seperti orang sakit. Dia terlihat seperti model yang nyasar ke bangsal bedah. Gaun midi hitam pas badan, kacamata hitam di atas kepala, dan tas mewah di lengan. Alibinya: Check up lambung. Misi sebenarnya: Inspeksi mendadak alias memata-matai si Dokter Kulkas.
"Sialan Arka. Awas aja kalau infonya hoax," desis Alea, matanya tajam memindai setiap wanita berseragam putih yang lewat.
Langkah Alea terhenti mendadak di persimpangan lorong menuju Poli Bedah Saraf. Dia bersembunyi di balik pilar besar, mengintip seperti detektif amatir.
Di sana, di depan meja resepsionis poli, berdiri sosok jangkung yang sangat familiar.
Rigel Kalandra.
Pria itu sedang berdiri santai dengan satu tangan masuk ke saku jas dokternya. Tapi dia tidak sendirian.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita muda dengan jas dokter juga. Wanita itu cantik. Sangat cantik dengan cara yang menyebalkan—rambut hitam panjang digerai, wajah natural tanpa makeup tebal, dan senyum yang... uh, manis sekali. Di jasnya tertulis: dr. Karina, Sp.A (Spesialis Anak).
"Jadi bukan Suster Citra? Tapi Dokter Karina?" batin Alea, rahangnya mengeras. "Oke, Arka. Info lo valid soal spek bidadari, tapi salah profesi."
Yang membuat darah Alea mendidih bukan karena wanita itu cantik. Tapi karena Rigel.
Si Dokter Kulkas yang biasanya bermuka tembok beton itu sedang tertawa.
Benar-benar tertawa. Matanya menyipit membentuk bulan sabit, deretan gigi putihnya terlihat. Dia menunduk sedikit untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Dokter Karina, gestur yang terlihat sangat intim di mata Alea yang sedang terbakar api cemburu.
Dokter Karina menepuk lengan Rigel pelan sambil terkekeh. "Kamu bisa aja sih, Gel. Nanti makan siang bareng ya di kantin? Ada menu baru lho."
"Boleh. Traktir ya, Rin?" jawab Rigel, suaranya terdengar lembut. Jauh lebih lembut daripada saat dia membentak Alea suruh makan bubur.
Krak.
Kuku Alea yang baru di-manicure menancap ke kulit tas Hermes-nya.
"Makan siang bareng? Traktir?" gumam Alea dengan nada rendah yang mengerikan. "Gue aja diajak makan ketoprak pinggir jalan. Giliran sama cewek ini mau makan di kantin VIP? Wah, ngajak perang."
Alea tidak bisa menahan diri lagi. Logikanya putus. Rasa panas di dadanya mengalahkan rasionalitasnya sebagai CEO.
Dia keluar dari persembunyiannya. Dagu diangkat tinggi, wajah fierce mode "Ratu Saham" diaktifkan.
Alea berjalan lurus ke arah mereka berdua. Dia tidak memelankan langkah, tidak juga permisi. Targetnya jelas: Celah sempit di antara Rigel dan Dokter Karina.
BUKK!
Alea sengaja menabrakkan bahunya dengan keras ke bahu Dokter Karina saat dia menerobos di tengah-tengah mereka.
"Aduh!" Dokter Karina terhuyung mundur, nyaris jatuh kalau tidak pegangan pada meja resepsionis. Dia kaget setengah mati.
Suasana hening seketika. Rigel yang kaget langsung menoleh. Senyum di wajahnya lenyap saat melihat siapa pelakunya.
Alea berhenti, memutar tubuhnya dengan anggun. Dia menatap Dokter Karina dengan tatapan meremehkan dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Rigel yang melongo.
"Minggir," ucap Alea dingin, mengibaskan rambutnya yang wangi ke arah Dokter Karina. "Jangan ngalangin jalan. Lorong ini sempit."
"Sempit?" Dokter Karina bingung, melihat lorong yang lebarnya tiga meter itu. "Mbak... maaf, ini luas banget lho."
"Buat saya sempit," potong Alea ketus. Dia beralih menatap Rigel. "Dokter Rigel. Saya mau periksa sekarang. Lambung saya perih lagi. Detik ini juga."
Rigel menatap Alea lekat-lekat. Dia melihat kilat marah di mata wanita itu. Dia melihat dada Alea yang naik turun menahan emosi. Dan dia melihat lirikan sinis Alea ke arah Karina.
"Alea, jadwal kontrol kamu itu jam dua siang. Sekarang jam sebelas. Saya lagi istirahat," jawab Rigel tenang.
"Saya nggak peduli jam istirahat kamu. Saya pasien VVIP. Saya prioritas," Alea maju selangkah, menantang Rigel. "Atau kamu lebih milih ngeladenin dokter anak ini daripada nyelamatin nyawa pasien kamu yang kesakitan?"
Alea sengaja menekankan kata 'Dokter Anak' dengan nada mengejek.
"Alea, jaga sopan santun kamu," tegur Rigel, suaranya mulai tegas.
"Sopan santun? Oh, maaf. Saya lupa bawa sopan santun saya. Ketinggalan di mobil tua kamu kemarin," balas Alea sarkas, membuat mata Rigel membelalak sedikit. Dia sengaja mengungkit 'mobil tua' agar Karina tahu kalau Rigel itu 'miskin' dan Karina ilfeel.
Dokter Karina menatap mereka berdua bergantian dengan bingung. "Gel? Ini pasien kamu? Kok... galak banget?"
"Iya, Rin. Maaf ya. Dia emang... agak spesial," jawab Rigel cepat.
"Spesial?!" Alea melotot. "Siapa yang spesial?! Saya mau periksa! Sekarang! Masuk ruangan!"
Rigel menghela napas panjang. Dia sadar ini tidak akan selesai kalau diladeni di lorong. Alea sedang mode tantrum level dewa.
"Rin, sori ya. Makan siangnya pending dulu. Ada darurat bencana alam," kata Rigel pada Karina.
Tanpa menunggu jawaban Karina, Rigel mencengkeram pergelangan tangan Alea.
"Ikut saya."
Bukan ke ruang periksa, Rigel menarik Alea masuk ke ruang penyimpanan alat medis yang sedang kosong di sebelahnya. Pintu ditutup dan dikunci dengan bunyi klik yang nyaring.
Alea menghempaskan tangan Rigel. "Apaan sih tarik-tarik! Sakit tau!"
Rigel tidak membalas. Dia justru memojokkan Alea ke dinding, mengurungnya dengan kedua tangan yang bertumpu di tembok, di sisi kiri dan kanan kepala Alea.
Lampu ruangan itu remang. Bau alkohol dan kapas mendominasi. Napas mereka berdua terdengar jelas di ruang sempit itu.
Rigel menunduk, menatap manik mata Alea tajam. Sangat tajam hingga Alea merasa ditelanjangi.
"Kamu kenapa?" tanya Rigel rendah.
"Kenapa apanya? Gue sakit! Mau periksa!" Alea membuang muka, tidak berani menatap mata elang itu.
"Bohong," Rigel menahan dagu Alea, memaksanya menatap lurus ke depan. "Wajah kamu segar bugar. Bibir kamu merah merona. Nadi kamu kuat. Kamu nggak sakit."
"Terus kenapa kalau gue nggak sakit?! Masalah buat lo?!" tantang Alea.
"Masalah. Karena kamu baru aja nabrak rekan kerja saya dan bersikap kasar tanpa alasan," ucap Rigel. Jarak wajah mereka makin tipis. "Kenapa kamu marah liat saya sama Karina? Hm?"
"Gue nggak marah! Siapa yang marah!" Alea panik. Jantungnya berdetak brutal.
"Terus itu tadi apa? Drama korea?" Rigel menyeringai tipis, seringai yang menyebalkan tapi seksi. "Bilang jujur, Alea."
"Gue cuma... gue cuma nggak suka pelayanan rumah sakit ini lambat! Dokter malah pacaran pas jam kerja!" elak Alea gelagapan.
"Saya nggak pacaran. Saya cuma ngobrol. Dan itu jam istirahat," bantah Rigel. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Alea, suaranya berubah menjadi bisikan menggoda.
"Ngaku aja, Nona CEO..."
Rigel meniup pelan anak rambut di telinga Alea.
"Kamu cemburu, kan?"
"NGGAK!" teriak Alea spontan, mendorong dada Rigel sekuat tenaga meski pria itu tidak bergeming sedikitpun. "Gue nggak cemburu! Gue... gue cuma nggak suka dokter gue genit sama cewek lain pas gue lagi bayar mahal!"
Rigel terkekeh pelan di leher Alea.
"Dokter gue? Sejak kapan saya jadi hak milik kamu?"
Alea membeku. Lidahnya kelu.
Rigel mengangkat wajahnya, menatap Alea dengan tatapan yang membuat lutut Alea lemas. Tatapan seorang pria yang tahu dia sudah menang.
"Mulut kamu bisa bohong, Alea. Tapi detak jantung kamu..." Rigel meletakkan telapak tangannya di dada kiri Alea yang berdegup kencang seperti drum band. "...berisik banget. Dia bilang kalau kamu nggak mau saya ketawa sama cewek lain. Benar?"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....