Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Thaddeus Menenangkan Diri
Thaddeus perlahan keluar dari dapur. Langkahnya pelan supaya tidak terdengar oleh Grace.
Ia tak menyangka apa yang didengarnya itu. Grace yang selama ini dianggap baik ternyata bermuka dua.
Thaddeus pergi ke halaman belakang, ke tempat biasa Ia berlatih memanah
Busur sudah ada di tangannya, anak panah terpasang rapi. Target berdiri di kejauhan, lingkaran-lingkaran kayu yang seharusnya mudah ia bidik. Thaddeus menarik tali busur, mengatur napas, membidik.
Anak panah melenceng, menancap jauh di sisi luar target.
Ia mengernyit. Itu jarang terjadi.
Thaddeus mencoba lagi. Tarik, bidik, lepas. Kali ini lebih buruk. Panah itu bahkan tidak mengenai papan.
Ia menurunkan busurnya. Tangannya sedikit gemetar.
Bukan tangannya yang bermasalah tapi kepalanya. Pikirannya masih dipenuhi dengan perkataan Grace tadi.
Suara Grace terulang di benaknya. Kalimat itu, nada suara itu.
"Pembalasan dendam."
Thaddeus menelan ludah. Ia berusaha mengingat. Grace dendam karena apa?
Ingatan itu ada tapi samar dan terpotong-potong. Jurang. Teriakan. Orang-orang berlari. Ia ingat digendong seseorang. Ia ingat tangan besar yang kuat, lalu rasa melayang, lalu gelap.
Usianya lima tahun saat itu.
Ia tahu ada seseorang yang tidak kembali setelah hari itu. Ia tahu ayahnya memerintahkan sesuatu. Ia tahu namanya Grace.
Tapi selebihnya seperti kabut.
Thaddeus memejamkan mata, mencoba memaksa ingatan itu muncul. Tidak berhasil. Yang muncul justru wajah ibunya yang pucat yang tak kunjung sembuh dari batuk itu.
Ia membuka mata dengan napas berat.
"Fokus," gumamnya pada diri sendiri.
Tapi fokus adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan hari itu.
Dari kejauhan, ia melihat ayahnya datang bersama dua pengawal. Arion berjalan cepat, wajahnya keras, penuh perintah yang belum terucap.
"Grace," kata Arion ketika perempuan itu muncul dari lorong dalam castle.
"Mulai hari ini, kau lebih sering berada di kamar ratu."
Grace menunduk sopan. "Tentu, Yang Mulia."
"Aku tidak ingin Chelyne sendirian. Terutama sekarang."
"Seperti yang Anda kehendaki, Yang Mulia" ujarnya
Nada suara Grace tenang bahkan diwajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran.
Thaddeus berdiri tak jauh dari mereka. Ia mendengar semuanya, tapi berpura-pura sibuk dengan busurnya. Ia tidak berani menatap Grace terlalu lama.
Arion berlajan ke arah Thaddeus.
"Jangan terlalu lama di luar."
Thaddeus mengangguk. "Baik, Ayah."
Keseharian Greta hanya di Castle saja. Lebih banyak dikamar orang tuanya. Greta duduk dilantai dan memegangi toples itu.
Di dalamnya, kumbang koksi bergerak pelan, sementara capung jarum yang kemarin ia bawa terbang kecil di ruang sempit itu.
Greta tersenyum sendiri. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Tidak ada kesadaran bahwa dunia di sekelilingnya mulai berubah.
...****************...
Thaddeus meninggalkan halaman latihan dan berjalan menuju hutan kecil di belakang castle.
Hutan itu tidak terlalu dalam, tapi cukup rimbun untuk menyembunyikan serangga-serangga yang Greta sukai.
Ia butuh alasan untuk menenangkan diri. Mencari sesuatu. Melakukan sesuatu yang sederhana.
Di antara pepohonan, ia melihat sosok yang tidak asing.
Orang itu adalah Hugo.
Anak itu membungkuk, memetik buah berry liar dan memasukkannya ke dalam kantong kain. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin merusak apa pun.
Mereka sebaya, usianya tiga belas tahun. Dulu mereka sering bermain bersama tapi sekarang tidak lagi.
Thaddeus berhenti. Hugo mengangkat kepala. Mata mereka bertatapan
Tidak ada senyum apalagi sapaan.
Hanya keheningan yang canggung, penuh kenangan yang tidak pernah dibicarakan.
Hugo menunduk dalam-dalam, memberi hormat. Sebuah gerakan yang terlalu formal untuk anak seusianya. Lalu ia berbalik dan pergi, langkahnya cepat, seolah takut tinggal terlalu lama.
Thaddeus tidak memanggilnya. Ia berdiri di sana beberapa saat, menatap punggung Hugo yang menghilang di antara pepohonan. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Tapi ia tidak tahu apa.
Ia melanjutkan langkahnya, mencari serangga. Di dekat batang pohon tua, ia melihat kilatan cahaya.
Kupu-kupu kaca yang sering berterbangan disekitar castle ternyata ada juga dihutan itu.
Sayapnya bening, memantulkan cahaya seperti pecahan kristal.
Thaddeus mendekat perlahan, menahan napas. Dengan hati-hati, ia menangkapnya dan memasukkannya ke dalam toples kaca kecil.
"Greta pasti menyukainya." gumamnya
...****************...
Siang hari itu Thaddeus kembali dari hutan. Sudah cukup untuk menenangkan pikirannya. Saat ia kembali ke castle, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ia berjalan menuju kamar ibunya. Pintu tidak tertutup rapat. Dari dalam, ia mendengar batuk. Suara batuk yang berbeda.
Thaddeus mendorong pintu dan melihat Chelyne duduk di tepi ranjang, sapu tangan di tangannya. Kain putih itu ternodai merah.
"Ibu!" serunya.
Chelyne terkejut, buru-buru melipat sapu tangan itu.
"Thaddeus...kau sudah kembali?"
Ia mendekat cepat. Jantungnya berdegup kencang. Darah itu nyata, ibunya selama ini menyembunyikannya.
"Kenapa darah?" suaranya bergetar.
Chelyne tersenyum lemah.
"Ini hanya batuk biasa. Tidak usah khawatir." ujar Chelyne.
Itu kebohongan yang buruk. Chelyne hanya tidak mau anaknya khawatir padanya.
Tangan Thaddeus gemetar. Ia tak pernah melihat ibunya selemah ini. Toples kaca di genggamannya terlepas.
Toples itu pecah. Suara kaca pecah memenuhi ruangan. Kupu-kupu kaca itu terbang keluar, mengepakkan sayapnya. Kupu-kupu itu berputar di udara lalu melayang ke arah Greta sedang duduk bersama kumbang koksi dan capungnya.
"Wah..." Greta terpana, matanya berbinar melihat kupu-kupu itu.
"Kakak, lihat!" gumam Greta dengan mata berbinar.
Grace berdiri di dekat meja, memegang nampan kosong. Ia menoleh sekilas ke arah Chelyne yang masih terbatuk, darah kini menetes ke lantai.
Wajah Grace tidak berubah. Tidak ada kepanikan diwajahnya.
"Yang Mulia harus beristirahat," kata Grace tenang.
"Batuk akan memburuk jika Yang Mulia terlalu banyak bicara."
Chelyne hanya mengangguk lalu menghela nafas pelan.
Thaddeus menatap ibunya. Dadanya bergejolak. Ia ingin berteriak. Ia ingin menuduh dan mengatakan bahwa Ia mendengar Grace pagi itu.
Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
Ia hanyalah seorang anak laki-laki yang baru saja menjatuhkan toples kaca.
"Ibu..." Greta mendekat, kupu-kupu kaca hinggap di jarinya.
Chelyne tersenyum, meski wajahnya pucat.
"Indah sekali." ujar Chelyne pelan.
"Greta, ibumu harus istirahat." gumam Grace pelan
Greta perlahan menjauh dari ibunya dan kembali pada toples serangganya itu. Kupu-kupu kaca itu mengikutinya. Mereka terbang disamping Greta seolah-olah tahu bahwa Greta adalah bagian dari mereka.
"Raja memerintahkan saya untuk lebih banyak menjaga anda, Yang Mulia." ujar Grace
Grace hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Ia percaya saja bahwa Grace akan membantunya menyembuhkan batuk darah itu.
Tanpa Chelyne tahu bahwa ada sesuatu cairan yang dicampurkan oleh Grace ke dalam obat itu.
Thaddeus melihat Grace membungkuk pada ibunya dan perlahan keluar dari kamar mereka.