NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VION MINTA MOTOR SPORT

​"Vion! Bisa tidak kalau buka pintu itu pakai tangan? Kalau engselnya jebol, siapa yang mau memperbaiki? Bapak ini baru saja pulang, badan rasanya mau rontok!" tegur Pak Ahmad dari kursi rotannya.

Beliau tampak masih mengenakan kaus oblong yang basah oleh keringat setelah seharian mendorong gerobak bakso.

​Bukannya merasa bersalah atau meminta maaf, vion malah berdiri berkacak pinggang di depan ayahnya. Ia menatap Pak ahmad dengan tatapan menuntut, seolah kelelahannya jauh lebih besar daripada rasa lelah sang ayah yang mencari nafkah.

​"Pak, belikan mobil bekas kek, atau minimal motor sport yang bagus. Malu aku pakai motor butut itu terus. Motor kayak gitu sudah pantasnya masuk loakan!" ucap vion dengan nada enteng, seolah meminta mainan murah.

​"Ya Gusti, vion..." Ibu Lestari yang baru saja keluar dari dapur membawa segelas air putih langsung tersentak.

"Kamu itu bicara apa? Tadi siang saja kamu sudah meminta uang pada Bapak lima puluh ribu, kan? Kamu pikir cari uang itu gampang? Mobil itu harganya puluhan juta, vion! Bukan seperti beli kerupuk di pasar!" omel sang Ibu dengan nada tinggi karena saking geramnya.

​Pak ahmad hanya bisa memijat keningnya yang berkerut, menatap anak laki-lakinya itu dengan tatapan kecewa yang mendalam. Namun, vion hanya mendengus, merasa bahwa permintaannya adalah hal yang wajar demi menyelamatkan harga dirinya di depan putri.

​"Vion, coba kamu itu cari kerjaan. Kamu kan sudah besar. Nanti kalau kamu sudah punya penghasilan sendiri, uangnya kamu kumpulkan buat cicil motor yang kamu mau. Bapak sama Ibu tidak akan ganggu uangmu sedikit pun," nasihat Pak ahmad dengan suara berat, mencoba tetap tenang meski hatinya mulai panas.

​Vion mendengus kasar, ia menatap ayahnya dengan sorot mata menantang yang tidak sopan.

"Lama kalau harus kerja dulu, Pak! Aku butuhnya sekarang. Pokoknya bulan depan motor itu harus sudah terparkir di sini. Aku nggak mau tahu caranya gimana!"

​"Ya Allah, vion!" Ibu Lestari sampai menepuk jidatnya sendiri.

"Kamu pikir Bapakmu ini punya pohon uang di belakang rumah? Uang dari mana dalam sebulan bisa beli motor mahal begitu?"

​Pak ahmad kini menegakkan posisi duduknya. Rasa nyeri di pinggang akibat mendorong gerobak berkilo-kilo jauhnya seolah makin berdenyut mendengar ucapan anaknya.

Beliau menatap vion dalam-dalam, berusaha menahan emosi yang hampir meledak. Ia baru saja sampai rumah, belum sempat membasuh wajah atau meneguk air, tapi sudah disuguhi sikap anak yang benar-benar tidak tahu diri dan buta akan keadaan keluarga.

​"vion, dengarkan Bapak. Kalau kamu punya keinginan, kamu harus belajar sabar. Berusaha sedikit demi sedikit untuk mendapatkannya. Hidup itu ada prosesnya, tidak bisa semuanya langsung ada dalam sekejap mata," ucap Pak ahmad, mencoba memberi pengertian dengan sisa-sisa kesabarannya.

​Vion tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga.

"Sabar seperti Bapak, maksudnya? Sudah berpuluh-puluh tahun jualan bakso keliling, sampai punggung Bapak bungkuk, tapi rumah kita tetap begini-begini saja? Ibu juga jadi tukang cuci panggilan yang sering pulang malam demi recehan, tapi kita nggak pernah kaya!"

​Vion menatap sekeliling rumahnya yang sederhana dengan tatapan jijik.

"Ogah aku hidup kayak gitu! Yang ada cuma badan hancur, tapi dompet tetap kosong! Jangankan mobil, beli sepatu branded yang lagi tren saja Bapak harus mikir tujuh keliling. Sabar itu cuma buat orang yang nggak punya nyali untuk sukses cepat!"

​"Astaghfirullah, vion..." Ibu Lestari terduduk lemas di kursi kayu. Beliau benar-benar tidak menyangka anak yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang dan keringat itu sanggup menghina jerih payah orang tuanya dengan begitu kejam.

Rina, yang sedari tadi mencoba menghafal materi ujian di dalam kamar, akhirnya keluar karena suara bentakan vion menembus dinding kayu rumah mereka.

Ia merasa sangat terganggu sekaligus malu mendengar cara kakaknya bicara pada orang tua. Tanpa sepatah kata pun, rina menghampiri adiknya,reno yang tampak ketakutan di pojok ruang tamu.

Ia merangkul bahu reno dan menuntunnya masuk ke dapur, menjauhkan anak kecil itu dari ketegangan yang makin memuncak.

​Pak ahmad perlahan bangkit dari kursi rotannya yang berderit. Beliau berdiri tegak, menatap vion yang kini bahunya sudah lebih lebar darinya.

​"Vion, sadarlah. Kamu sudah laki-laki dewasa. Umurmu bukan tujuh belas tahun lagi yang cuma tahu minta dan protes. Bapak menyekolahkan kamu sampai lulus SMK itu tujuannya supaya kamu punya pegangan hidup. Pakai ijazahmu itu, cari lowongan kerja. Kalau kamu memang begitu memuja uang, jemput uang itu dengan ijazah dan tenaga kamu sendiri!" tegas Pak ahmad dengan suara bergetar karena emosi yang tertahan.

Vion mengacak rambutnya dengan sangat kasar, wajahnya merah padam karena frustrasi yang memuncak.

"Aakh! Kerja, cari loker, kerja! Itu-itu terus yang Bapak bahas setiap hari! Telingaku sudah panas, bosen banget dengarnya!" teriak Vion sambil menendang kaki meja, tak sanggup lagi mendengar kenyataan hidup yang harus ia hadapi.

​"Pokoknya aku nggak mau tahu! Aku mau mobil itu atau setidaknya motor sport baru! Kalau sampai bulan depan nggak ada, aku... lebih baik aku mati saja sekalian!"ucap vion.

​BRAAAKK!

​Pintu kamar vion dibanting dengan kekuatan penuh hingga debu-debu dari langit-langit rumah berjatuhan.

Pak ahmad dan Ibu Lestari hanya bisa saling pandang, menghela napas panjang melihat kelakuan anak lelaki mereka yang makin hari makin tidak masuk akal.

​Hari-hari berikutnya terasa sangat sunyi dan canggung di rumah itu. Si "ganteng" kebanggaan Ibu sekarang berubah menjadi penghuni kamar yang misterius.

Vion benar-benar menjalankan aksi mogoknya; ia tidak mau keluar kamar, tidak mau bicara, apalagi membantu pekerjaan rumah.

Namun, tentu saja ia tidak benar-benar mogok makan. Diam-diam, saat suasana rumah sepi atau tengah malam, ia akan menyelinap ke dapur untuk menghabiskan sisa nasi. Ia tahu betul dirinya bukan pertapa yang bisa hidup hanya dengan menghirup udara.

​Waktu terus bergulir, hingga tak terasa hari ini adalah tepat satu minggu sejak ancaman itu ia lontarkan.

Sejak mata terbuka pagi tadi, bayangan motor sport merah mengkilap sudah menari-nari di kepala vion.

Ia tersenyum lebar sendirian, membayangkan dirinya mengenakan jaket kulit, memacu motor itu di jalanan desa, dengan putri yang duduk merapat di belakang sambil memeluk pinggangnya erat.

Ia sudah bisa mendengar suara iri teman-temannya dan melihat tatapan kagum orang-orang yang dulu meremehkannya.

​Benar-benar khayalan yang sudah sampai ke ubun-ubun! Dasar anak tidak napak bumi!

​Vion berdiri tegak di depan cermin lemari yang retak di sudutnya. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mengagumi garis rahangnya yang tegas. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, lalu memasang kacamata hitam yang ia pinjam tempo hari.

Dalam hati ia bergumam, "Cewek mana yang bisa nolak muka sekeren ini? Aku ini gantengnya sudah level kabupaten, bukan cuma sekecamatan!"

​Dengan penuh percaya diri, ia melangkah keluar kamar seolah-olah sedang berjalan di atas karpet merah.

Kakinya melangkah menuju meja makan yang sederhana. Ia menarik kursi kayu dengan gaya sombong, lalu menghempaskan pantatnya di sana.

​Matanya yang tadi tampak dingin tiba-tiba berbinar terang saat melihat piring di tengah meja. Ada ayam goreng bumbu lengkuas, masakan favoritnya yang aromanya selalu berhasil meruntuhkan pertahanan "mogok" yang ia bangun selama seminggu ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!