“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
"Sialan! Sialan! Sialan!"
Jeremy mengumpat sambil menyentak jas Armani-nya yang kini lebih mirip keset kotor ke atas lantai kamar mandi.
Lalu, ia berdiri di bawah pancuran shower, membiarkan air hangat mengguyur kepalanya dengan tekanan maksimal.
Air cokelat sisa lumpur jalanan Milan mengalir ke lubang pembuangan, namun rasa malunya tidak ikut luntur begitu saja.
Wajahnya memerah setiap kali tawa Cahaya terngiang di telinganya. Dan yang paling menyakitkan adalah tawa tipis Elio. Anaknya sendiri menertawakannya!
"Gadis itu benar-benar pembawa sial sama. Sejak dia menginjakkan kaki di rumah ini, tidak ada satu pun hal benar yang terjadi padaku," gumamnya sambil menyabuni tubuhnya dengan kasar.
Jeremy membilas rambutnya berkali-kali, berusaha menghilangkan sisa-sisa daun layu dan bau air hujan yang menusuk.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan sabun, Jeremy akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia memilih mengenakan pakaian santai, kaus polos berwarna hitam dan celana training abu-abu.
Rambutnya yang biasanya klimis kini dibiarkan berantakan dan basah. Ia tampak lebih muda, namun wajahnya masih ditekuk masam.
"Aku lelah sekali."
Jeremy merebahkan tubuhnya ke tempat tidur untuk meredakan rasa pening nya, tiba-tiba sebuah aroma enak menyusup masuk melalui celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Kruyuuukk...
Perut Jeremy berbunyi nyaring. Ia tertegun, memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sangat kosong.
Aroma itu adalah aroma gurih mentega, wangi bawang putih yang digoreng dan aroma khas nasi goreng yang belum pernah ia cium sebelumnya di Milan.
Baunya begitu menggoda, seolah sedang menari-nari di depan hidungnya dan memanggilnya untuk turun ke bawah.
"Wanginya lumayan juga," bisik Jeremy tanpa sadar.
Ia menelan ludah. Rasa lapar yang tadinya ia abaikan karena amarah kini meledak luar biasa. Bayangan nasi goreng hangat dengan telur setengah matang yang lumer tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Jeremy melangkah menuju pintu, tangannya sudah memegang gagang pintu, namun ia tiba-tiba membeku.
"Tunggu! Kalau aku turun sekarang, gadis itu pasti akan mengejekku habis-habisan." Jeremy menarik tangannya kembali. "Tadi aku baru saja membentaknya dan mengancam akan memecatnya. Kalau sekarang aku datang dan minta makan, harga diriku mau ditaruh di mana?"
Jeremy kembali duduk di pinggir tempat tidur. Ia mencoba mengabaikan aroma yang semakin kuat itu dengan cara membaca pesan di ponselnya. Namun, konsentrasinya buyar saat mendengar suara tawa riang Elio dari arah ruang makan di bawah.
"Ini enak sekali, Kak Aya! Elio mau telurnya lagi!"
"Pelan-pelan makannya, Pahlawan Super. Habis ini kita buat es teh manis, ya?"
Mendengar suara Cahaya yang begitu lembut pada Elio, suara yang tidak pernah ia dengar dari siapa pun di rumah ini, membuat hati Jeremy berdenyut aneh. Ada rasa iri yang terselip, tapi lebih banyak rasa lapar yang menyiksa.
Kruyuukk...
Perutnya berteriak lagi, kali ini lebih keras.
"Sial! Kenapa dia harus masak seharum itu?!"
Jeremy mengacak rambutnya frustrasi.
Ia berdiri lagi, berjalan mondar-mandir seperti harimau dalam sangkar. Ia tidak mungkin turun dan bergabung. Itu berarti ia menyerah pada Cahaya.
Tapi, jika ia tidak makan, ia tidak yakin bisa tidur malam ini.
Akhirnya, dengan langkah sangat perlahan dan hati-hati, Jeremy membuka pintu kamarnya. Ia melongok keluar, memastikan tidak ada orang.
Ya, Jeremy berniat menyelinap ke dapur untuk mengambil roti atau apa pun yang bisa dimakan tanpa perlu bertemu dengan Cahaya.
Jeremy mengendap-endap di sepanjang tangga seperti seorang pencuri di rumahnya sendiri. Ia berhenti di balik pilar besar yang menghadap ke ruang makan.
Dari sana, ia bisa melihat Elio duduk dengan lahap menyuap nasi goreng, sementara Cahaya duduk di sampingnya sambil bercerita dengan ekspresi wajah yang lucu.
Elio terlihat bahagia. Sesuatu yang jarang sekali Jeremy lihat selama enam tahun ini.
Cahaya tiba-tiba menoleh ke arah pilar tempat Jeremy bersembunyi. Jeremy dengan sigap menarik tubuhnya ke belakang pilar dengan jantung berdebar kencang.
"Eh, kok kayak ada bau-bau monster lapar ya di sini?" Cahaya sengaja mengeraskan suara.
Jeremy mematung di balik pilar. "A–apa dia tahu aku di sini?" gumamnya.
"Bibi Martha, nasi gorengnya masih sisa banyak, kan? Sayang sekali kalau dibuang. Padahal kalau ada orang sombong yang mau mencicipi, pasti dia langsung insaf." Cahaya kembali bersuara, disusul tawa kecil Martha dari arah dapur.
"Monsternya tidak suka nasi goreng, Non," balas Martha.
"Baguslah, berikan saja pada anjing liar yang tadi kecebur got di depan mansion," ucap Cahaya.
Jeremy menggertakkan giginya. "Gadis itu... dia benar-benar menantang ku!"
Meskipun perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi, gengsi Jeremy tetap menang. Ia memutuskan untuk berbalik dan naik kembali ke kamarnya dengan tangan kosong.
Ia lebih baik menahan lapar sepanjang malam daripada harus memberikan kemenangan kedua bagi Cahaya.
Sambil berbaring menatap langit-langit kamar dengan perut keroncongan, Jeremy bergumam pelan.
"Hanya nasi goreng, Jeremy! Hanya nasi goreng biasa. Besok aku akan beli restoran bintang lima dan memakan semua menunya!"
Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Jeremy tahu bahwa aroma nasi goreng buatan Cahaya barusan adalah aroma paling hangat yang pernah masuk ke rumahnya.
Dan sialnya, Jeremy menginginkannya.
"Ya Tuhan! Godaan macam apalagi ini! Aku benci nasi goreng!" umpatnya kesal.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭