Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ririn Yang Mati Rasa
Suasana kantor mendadak hening ketika Lola melangkah masuk dengan wajah merah padam. Hak tingginya berdetak keras di lantai marmer, menarik perhatian semua orang. Tanpa basa-basi, dia langsung menghampiri Ririn yang sedang duduk di mejanya.
“Kamu puas sekarang?” suara Lola tinggi, bergetar oleh amarah.
Ririn mendongak perlahan wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diserang.
“Kamu pikir dengan pura-pura polos semua orang nggak tahu?” lanjut Lola, suaranya semakin keras. “Murahan, matre.”
Beberapa karyawan menahan napas. Ada yang pura-pura sibuk, ada yang terang-terangan menonton. Ririn tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia lebih seperti senyum orang yang sudah terlalu lama disakiti hingga mati rasa.
“Terus?” tanya Ririn pelan.
Satu kata itu membuat Lola semakin tersulut.
“Kamu benar-benar nggak tahu malu!” bentaknya. “Ngerebut tunangan orang, numpang hidup, jual diri demi apartemen dan uang!”
Kalau ini terjadi beberapa minggu lalu, mungkin Ririn akan menangis. Tapi hari ini? Hatinya sudah terlalu hancur untuk peduli.
Ririn berdiri, menatap Lola sejajar.
“Kamu sudah selesai?” tanyanya datar.
“Belum,” jawab Lola tajam. “Aku mau semua orang tahu siapa kamu sebenarnya.”
Ririn terdiam sejenak. Dalam dadanya, amarah dan kelelahan bercampur. Dan tanpa dia sadari, kebohongan itu keluar begitu saja dingin, rapi, dan meyakinkan.
“Ya,” kata Ririn akhirnya, suaranya jelas terdengar ke seluruh ruangan.
“Kami memang tinggal bersama.”
Desis kaget terdengar di mana-mana.
“Kami sudah sejauh itu,” lanjut Ririn, matanya menatap langsung ke Lola tanpa berkedip.
“Dan kami akan menikah.”
Wajah Lola memucat.
“Jadi simpan saja kemarahanmu,” kata Ririn tenang, hampir kejam.
“Itu nggak akan mengubah apa pun.”
Lola menggeleng, suaranya bergetar.
“Kamu bohong.”
Ririn tersenyum kecil, senyum yang menusuk.
“Tubuh dan hati Baskara hanya untukku.”
Kata-kata itu seperti bensin disiram ke api.
“KAMU!” Lola hampir menamparnya kalau saja beberapa orang tidak menahan.
Ririn mencondongkan tubuh sedikit, berbisik cukup pelan tapi tetap terdengar,
“Kamu cantik, kaya, sempurna, tapi tetap kalah.”
Lola berdiri gemetar, napasnya memburu, matanya basah oleh amarah dan malu. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan pergi, meninggalkan ruangan yang dipenuhi bisik-bisik.
Ririn duduk kembali perlahan. Tangannya gemetar, dadanya sesak dalam hati dia bergumam pahit.
Maaf, Lola aku juga sedang tenggelam. Dan orang yang tenggelam akan menarik siapa saja agar ikut bersamanya.
Melihat reaksi Ririn, Lola benar-benar kehilangan akal. Amarah dan rasa malu bercampur menjadi obsesi. Tanpa pikir panjang, dia merencanakan sesuatu.
Dia mengundang Baskara ke sebuah hotel, memasang kamera dari berbagai sudut rahasia, tersembunyi, agar setiap gerakan terekam. Pakaian malam yang dipilihnya sangat seksi, menonjolkan semua daya tariknya.
Baskara datang dengan santai, langkahnya tenang seperti biasa, dia menerima ciuman Lola tanpa ekspresi berlebihan. Bibirnya menyentuh Lola sekilas, lalu dia mundur, tersenyum tipis.
“Apa yang kamu rencanakan, Lola?” tanyanya dingin, matanya menatap lurus.
Lola terkejut, tubuhnya gemetar. “Aku,.aku hanya ingin menghabiskan malam ini sama kamu.mas,” suaranya hampir berbisik, gugup.
Baskara menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
“Maaf, Ririn sudah menunggu ku,” katanya tenang. “Kalau tidak ada yang penting lagi, aku pamit pergi.”
Wajah Lola memerah, amarah dan frustasi menyelimuti. Baskara membelakanginya dan melangkah keluar dengan tenang, meninggalkannya dalam dingin yang menusuk.
Lola tak bisa menerima perlakuan itu. Dengan emosi, dia mengirimkan potongan video itu kepada Ririn melalui pesan.
Ririn yang hendak tidur membuka pesan itu. Sekali pandang, dia tersenyum tipis, santai kamu pikir aku peduli? gumamnya dalam hati.
Tanpa membuang waktu, dia membalas,
“Ya, nikmati sebelum dia menikah denganku.”
Setelah itu, dia menutup ponselnya dan kembali tidur. Bibirnya tersenyum kecil.
“Aku pernah lihat yang lebih parah dari itu,” gumamnya, setengah geli.
“Bukan cuma satu, tapi tiga perempuan.”
Tubuh Ririn bersandar di bantal, matanya terpejam. Tapi senyum itu tetap menempel, pahit tapi puas. Dalam diam, dia tahu satu hal tak ada siapa pun yang bisa membuatnya takut atau panik lagi.