Karena suatu perjodohan, Ayline menikahi Oswald. Seorang pengusaha muda, sukses di banyak negara yang diidam-idamkan oleh banyak wanita.
Musibah menimpa saat usia pernikahannya masih seumur jagung.
Dalam keputusasaan, Ayline bertemu dengan seorang pria pengertian yang mampu membuat Ayline berdebar di tiap pertemuan keduanya.
Bagaimana kelanjutan kisah Ayline dalam mencari kebahagiaan dan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KP 10 - Rencana Ayline
“Mom, siapa yang sakit?” tanya Ayline pada Mommy Raya, Ibu mertuanya.
Pasalnya, setelah menghabiskan waktu selama tiga puluh menit di jalan Ibu Mertuanya itu masih belum memberitahu ke mana tujuan mereka. Ayline pun hanya diam, dia tak berani bertanya sebab sepanjang jalan Mommy Raya sibuk dengan gawainya.
“Enggak ada yang sakit kok,” jawab Mommy Raya singkat. Mobil sudah berhenti tepat di depan pintu lobi rumah sakit.
“Lalu untuk apa kita ke rumah sakit?” tanya Ayline saat ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang Ibu Mertua.
Mommy Raya menghentikan langkahnya. Ia letakkan kedua tangannya pada lengan Ayline. Mommy Raya tersenyum namun terlihat seperti sedang menahan tawanya. “Kan enggak harus nunggu sakit dulu baru kita ke rumah sakit,” ungkapnya.
Kening Ayline mengenyit. “Maksudnya, Mom? Mom ingin menjenguk teman?”
Mommy Raya menggeleng. “Sudah, kamu ikut saja. Nanti kamu akan tahu sendiri, kok.”
Mommy Raya melanjutkan langkahnya. Tak lama seorang wanita sebaya Mommy Raya datang menyapa. Dari penampilannya, Ayline bisa tahu jika dia adalah seorang dokter.
“Jeng Raya,” sapanya ramah dengan senyum merekah.”
“Jeng Asti,” balas Mommy Raya sembari merentangkan tangannya. Dua wanita itu berpelukan, cium pipi kanan pipi kiri, sesaat sebelum mereka saling menanyakan kabar.
Ayline menghela napas pelan. Tingkah Ibu Mertuanya sama persis dengan tingkah Ibunya saat bertemu dengan teman sosialitanya.
“Jeng Asti, kenalin ini Ayline. Dia menantu aku,” ucap Mommy Raya memperkenalkan Ayline.
“Ayline kenalin, Jeng Asti ini adalah teman Mom. Dia adalah Direktur di rumah sakit ini,” jelas Mommy Raya.
Ayline segera mengulurkan tangannya, menjabat dengan sopan wanita yang baru saja diperkenalkan oleh Ibu Mertuanya.
“Kamu pasti istrinya Oswald. Ah, kamu cantik sekali,” puji Dokter Asti.
“Terima kasih, Bibi. Bibi sangat berlebihan. Aku tidak secantik itu,” balas Ayline merendah.
Tanpa Ayline duga, Dokter Asti malah memeluknya. “Bibi turut prihatin atas musibah kecelakaan yang menimpa Oswald. Kalian yang kuat, ya.” Ayline tak berkomentar apa-apa, dia hanya mengangguk. Beruntung tak ada suaminya di sana. Seandainya Oswald yang mendengar itu, sudah pasti suasana hati pria itu akan berubah buruk.
Sebenarnya tak salah jika orang lain menyampaikan empatinya atas musibah yang telah menimpa suaminya. Namun, menurut Ayline terlalu banyak empati dari orang lain adalah salah satu hal yang membuat suaminya mengalami krisis kepercayaan diri. Suaminya tak menanggapi secara positif empati dari orang-orang. Oswald malah menganggap orang-orang mengasihaninya, dan dia tak menyukai itu. Menjadikan hal itu sebagai beban pikirannya.
Setelah perkenalan singkat juga acara saling sapa menyapa, Dokter Asti menunjukkan Ayline dan Mommy Raya jalan menuju ke sebuah ruang pemeriksaan. Ayline membaca papan nama dokter di pintu, “Dokter Catherine, SpOg,” gumam Ayline.
“Mari, silakan masuk,” ucap Dokter Asti ramah.
Saat tiga orang itu masuk ke dalam ruang pemeriksaan, seorang dokter wanita dan seorang perawat sontak berdiri menyambut. “Selamat datang. Sudah siap untuk pemeriksaannya?” sapanya bersamaan.
Ayline mendekat pada Mommy Raya, “Siapa yang akan diperiksa, Mom?” tanya Ayline berbisik.
“Kamu,” jawabnya singkat. “Kamu yang akan diperiksa, Sayang,” imbuhnya memperjelas jawabannya.
“Mom ingin kamu melakukan pemeriksaan kesuburan,” jelas Mommy Raya.
“Apa? Pemeriksaan kesuburan?” Ayline mengulangi ucapan Ibu Mertuanya. “Apa Mommy meragukan aku?”
“Bukan begitu Ayline. Kan tidak ada salahnya juga kita periksa. Syukur jika memang tidak ada masalah. Kalaupun ada, kita bisa lebih cepat mencari jalan keluarnya,” jawab Mommy Raya memberi pengertian.
Ayline diam beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk setuju. Ingin sekali rasanya Ayline mengungkapkan jika masalah di sini bukan ada pada dirinya. Tapi pada Oswald, putra kebanggaan Mommy Raya. Tapi apa daya, tak mungkin juga dia mengungkap permasalahan rumah tangganya yang sebenarnya.
...… ...
Setelah dilakukan pemeriksaan, Ayline dan Mommy Raya diminta menunggu hingga esok hari untuk mengetahui hasilnya. Ayline tak banyak bicara, ia kooperatif melakukan setiap rangkaian tes yang dilakukan oleh Dokter Catherine. Untuk hasilnya pun, Ayline tak begitu mencemaskannya. Keyakinannya besar jika hasilnya tentu akan baik-baik saja.
Sesuai permintaan suaminya, Ayline meminta Mommy Raya untuk mampir membeli makan siang lalu setelahnya ia meminta diturunkan di perusahaan saja. Saat berjalan menuju ruang kerja Oswald, Ayline tak henti-hentinya disapa dengan ramah oleh para karyawan suaminya.
“Nyonya, Anda di sini?”
Kening Ayline mengernyit saat melihat raut wajah panik Denis saat melihat dirinya hendak masuk ke ruangan Oswald.
Pertanyaan dari Denis cukup sulit untuk diartikan oleh Ayline. Apakah itu sebuah sapaan atau keterkejutan? Sebab menurut Ayline tak mungkin seorang Denis tak tahu jika dia akan datang.
“Iya. Aku ingin membawakan makan siang untuk suamiku,” jawab Ayline seraya mengangkat tangannya menunjukkan paper bag berisi makanan yang ia bawa.
“Oh, makan siang ya.” Denis tampak gugup. “Oh, rupanya memang sudah waktunya makan siang,” lanjutnya seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
Ayline mengangguk. “Ya, kau benar. Jadi, apa kau bisa bergeser dan biarkan aku masuk?” Ayline menunjuk ke arah pintu ruangan Oswald yang dihalangi Denis.
“Hem … bagaimana jika Nyonya menunggu sebentar. Aku akan memberitahu Tuan Oswald jika Nyonya sudah tiba,” ucap Denis.
“Tidak!” tolak Ayline dengan tegas. “Aku tak ingin menunggu!”
“Sebaiknya kau pindah dan biarkan aku masuk ke ruangan suamiku!”
Tahu jika Ayline marah, terpaksa Denis bergeser ke samping hingga tak lagi menghalangi jalan. Ayline tak ingin membuang waktu, ia begitu penasaran ada apa di dalam ruangan suaminya hingga Denis terkesan menutup-nutupi.
“Astaga, Mas?!” pekik Ayline ketika ia masuk ke dalam ruangan Oswald.
Ayline begitu terkejut melihat ruangan Oswald yang sangat berantakan. Apa di ruangan suaminya baru saja terjadi gempa lokal? pikir Ayline. Tapi yang dipikirkannya itu sama sekali tak mungkin terjadi.
Di atas meja kerja Oswald banyak berserakan kertas-kertas. Di lantai pun sama. Bahkan papan nama juga bingkai foto pernikahan mereka yang dulu terpajang rapi di meja kerja kini sudah jatuh ke lantai.
“Mas … Mas Oswald!” seru Ayline.
Mendengar namanya dipanggil, Oswlad yang sejak tadi duduk membelakangi mejanya segera memutar kursi rodanya. Dilihatnya sosok Ayline yang sedang menatapnya dengan sorot mata penuh tanya.
“Jangan bertanya, karena aku sedang tak ingin bicarakan apa pun,” pinta Oswald sembari memalingkan wajahnya.
Ayline mengangguk paham dengan keinginan suaminya. Dari intonasi suara Oswald, entah mengapa Ayline merasa jika suaminya itu sedang sedih.
Ia mendekat dan memeluk suaminya. “Baiklah, aku tak akan bertanya apa pun. Tapi, saat kamu ingin bercerita, maka aku siap mendengarkanmu.”
Siang itu, Ayline dan Oswald tak jadi menikmati makan siang mereka di kantor. Ayline mengajak Oswald pulang ke rumah dengan alasan dia tak bisa makan di sana sebab ruangan Oswald sangat berantakan. Juga, lebih baik jika Oswald beristirahat di rumah.
Sesampainya di rumah, tanpa Ayline minta Oswald mulai bercerita mengenai apa yang telah terjadi. Dia telah membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan satu cabang perusahaan Pallas Company mengalami kerugian yang cukup besar. Hal itu mungkin tak akan terlalu berpengaruh untuknya, tapi beberapa karyawan di perusahaan cabang tersebut terancam di PHK. Itu semua karena kelalaian Oswald.
Dari cara suaminya bercerita, Ayline bisa mengambil kesimpulan jika Oswald kini sedang membebankan semua permasalahan ini pada dirinya. Ia berpikir jika cacatnyalah yang menyebabkan dirinya tidak sekompeten dulu lagi.
Ayline merasa kasihan pada Oswald. Jika terus dibebani dengan banyaknya pekerjaan, bukan tak mungkin kesehatan mental Oswald akan bermasalah.
Tak ingin kekhawatirannya benar-benar terjadi, Ayline jadi memiliki ide. Walaupun ia tak yakin Oswald akan menyetujuinya.
Suatu malam, saat keduanya sedang berbaring di ranjang Ayline yang pertama kali membuka pembicaraan.
“Mas, aku ingin jujur padamu,” ucapnya.
“Jujur?”
“Iya. Beberapa hari lalu, Mommy Raya membawaku ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesuburan,” ucap Ayline.
Kedua bola mata Oswald membulat mendengar itu. “Lalu bagaimana hasilnya?”
“Tentu saja hasilnya baik,” jawab Ayline singkat.
Terdengar helaan napas lega Oswald. Namun berbeda dengan Ayline yang malah tampak gelisah. “Jika hasilnya baik, kenapa kamu terlihat gelisah?”
“Hem …” Ayline berdeham cukup lama.
“I-itu karena Mommy Raya yang mengatakan tak sabar menunggu kabar baik dari kita. Dia meminta kita untuk segera memberinya cucu,” ucap Ayline.
“Be-benarkah?”
“Iya, Mas.” Jawab Ayline sebelum ia mendekatkan dirinya pada Oswald lalu memeluk suaminya itu. “Apa kamu tak ingin mencobanya lagi malam ini? Mungkin saja malam ini kita akan berhasil,” bujuknya.
Oswald memalingkan wajahnya. “Tak mungkin. Kamu kan sudah tahu, aku tak akan bisa menahannya lama,” tolak Oswald.
Ayline menghela napasnya lalu melepas pelukannya. Ia berpura-pura merebahkan tubuhnya kemudian berbaring memunggungi Oswald. “Kalau begitu, siap-siap saja kita akan diteror oleh Mommy Raya,” ucapnya dengan nada kesal.
Oswald bungkam memikirkan jika itu benar terjadi, pasti akan sangat menjengkelkan. Dia tahu sifat Ibunya, jika menginginkan sesuatu pasti dia akan pantang menyerah hingga ia berhasil mendapatkannya.
“Lalu kita harus bagaimana?”
“Mau bagaimana lagi, terima saja. Kecuali jika kita tinggal jauh, mungkin Mommy tak akan terus-terusan bertanya,” usul Ayline.
“Tinggal jauh?” gumam Oswlad. Ia mulai mempertimbangkan ide istrinya. Apa mungkin jika tinggal jauh dari kedua orang tuanya maka mereka akan berhenti ikut campur dengan kehidupan rumah tangganya.
“Haruskan kita pindah? Haruskah kita menjauh?” gumam Oswald lirih.
...—————————...
kita bongkar
saat membuat novel konflik pemeran utama pria (suami) salah maka istri dibuat tegas pergi dan tidak memaafkan dan menerima kembali, suami dibuat nangis menyesal ngemis maaf, berjuang keras dapat kesempatan, dan akan dihadirkan lelaki lain yang baik pada istri dan dipuja2
tapi banding
novel yang pemeran utama wanita salah bahkan selingkuh sekalipun bahkan kayak pelacur tebar pesona dengan banyak pria, apa yang terjadi itu bukan dianggap kesalahan, mala dibela dibilang romantis (menjijikan), bahkan author berjiwa munafik ini malah membenarkan semua kelakuan menjjijikan pemeran utama wanita (yang artinya sama saja dia membenarkan kelakuan menjijikan dirinya sendiri), sang suami dibuat kayak orang bodoh harus Terima saja diperlakukan kayak gitu
dan karya2 mu kita bisa sifat aslimu yaitu munafik dan murahan
saat suami salah kau laknat tapi kau membenarkan semua kelakuan mu bahkan selingkuh dan kayak wanita murahan tebar pesona pada banyak lelaki kau benarkan,
jika berkenan mampir dikaryaku judulnya Karena Amin Yang Sama🙏