Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Kepatuhan Sang Pelayan Pribadi
Malam pertama dengan aturan baru itu terasa seperti lonceng kematian bagi ketenangan Amara. Setelah memastikan Kenzo tertidur pulas dan Mbak Lasmi beserta pelayan lainnya sudah kembali ke paviliun belakang, Amara berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan seragam pemberian Arlan—kain sutra hitam yang sangat pendek, ketat, dan memperlihatkan belahan ďáďáñýá yang berlimpah.
Dengan langkah gemetar dan perasaan malu yang menghimpit, ia berjalan menuju kamar utama di ujung lorong. Setiap gesekan kain sutra pada area ķéwáñíťááññýá yang póľóś dan bersih membuat jantungnya berdegup kencang.
Cklek.
Pintu kamar Arlan terbuka. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu tidur yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding. Arlan sedang duduk santai di sofa kulit besarnya, masih mengenakan celana kain tanpa atasan, memperlihatkan otot perutnya yang kokoh dan berurat. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak beludru kecil.
"T-Tuan... saya sudah datang," bisik Amara, ia mencoba menarik ujung roknya yang terlalu pendek ke bawah, namun itu sia-sia karena rok itu justru semakin menonjolkan bentuk bóķóñgñýá.
Arlan menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya begitu intens, seolah ingin menguliti Amara saat itu juga. "Sangat cantik, Amara. Seragam itu seolah memang diciptakan hanya untuk membungkus tubuh móľéķmú."
Arlan kemudian melempar sesuatu ke lantai karpet yang tebal, tepat di tengah ruangan, beberapa meter dari tempatnya duduk. "Kemari, Amara. Tapi jangan berjalan. Aku ingin kau mêråñgkåk ke arahku untuk mengambil hadiahmu."
Amara membelalak. "M-mêråñgkåk, Tuan? Seperti... seperti hewan?"
"Bukan seperti hewan, tapi seperti pelayan yang patuh," koreksi Arlan dengan suara dingin yang mendominasi. "Lakukan, atau aku akan memberimu hukuman karena membantah."
Amara tidak punya pilihan. Dengan wajah yang memerah padam karena penghinaan yang terasa nikmat secara aneh, ia mulai berlutut di atas karpet berbulu. Ia mulai mêråñgkåk perlahan. Gerakan merangkaknya membuat ďáďáñýá yang besar bergoyang-goyangkan berat di balik renda tipis, dan setiap kali pinggulnya bergerak, bagian bawahnya yang póľóś nampak mengintip dari balik rok pendeknya.
Arlan memperhatikan pemandangan itu dengan napas yang mulai memburu. "Bagus... terus mêråñgkåk, Amara. Tunjukkan padaku seberapa patuh kau pada tuanmu."
Saat Amara sampai di depan kaki Arlan, ia melihat hadiah yang dilempar tadi. Itu adalah sebuah kalung choker hitam dari kulit dengan lonceng kecil berwarna emas di tengahnya.
"Ambil dengan múľúťmú, lalu berikan padaku," perintah Arlan lagi.
Amara menelan ludah. Ia mêmßµñgkµk, mêñggïgï† kalung itu dengan bibirnya yang bergetar, lalu mendongak menatap Arlan yang duduk di atasnya. Lonceng kecil itu berbunyi ting setiap kali Amara bergerak.
Arlan mengambil kalung itu dari mulut Amara, lalu ia membungkuk untuk memasangkannya di leher jenjang Amara. "Sekarang kau benar-benar milikku. Kau adalah milik Arlan Aditama sepenuhnya."
Arlan menarik tali kalung itu sedikit, memaksa wajah Amara mendekat ke pangkal páħáñýá yang sudah menegang hebat di balik celana. "Sekarang, pelayan kecil... layani tuanmu. Bukakan kancing ¢êlåñåkµ menggunakan gigimu, dan tunjukkan padaku betapa kau merindukan 'kéjáñťáñáñķú' yang kau lihat di dapur semalam."
Arlan menarik napas panjang, menikmati aroma gáířáħ yang menguar dari tubuh Amara yang kini bersimpuh di antara kedua kakinya. Ia meraih sebuah botol kaca kecil dari meja di samping sofa. Cairan di dalamnya berwarna keemasan, sebuah minyak aroma terapi eksklusif dengan wangi melati dan cendana yang sangat śéñśúáľ.
"Buka seragammu sepenuhnya, Amara. Aku ingin kulitmu merasakan hadiah ini," perintah Arlan.
Amara, dengan tangan gemetar dan suara lonceng di lehernya yang berdenting halus, perlahan menanggalkan kain sutra hitam itu hingga jatuh ke lantai. Kini ia benar-benar póľóś, hanya mengenakan choker hitam di lehernya. Kulit putih susunya nampak kontras dengan karpet gelap, dan area ķéwáñíťááññýá yang baru dicukur semalam nampak merona di bawah cahaya lampu temaram.
"Naik ke råñjåñg. Posisi †êñgkµråþ," ucap Arlan serak.
Amara patuh. Ia merangkak naik ke ranjang king size yang sangat luas itu dan merebahkan dirinya. Arlan segera menyusul, ia ßêrlµ†µ† di antara kedua páħá Amara yang terbuka. Ia menuangkan minyak hangat itu ke telapak tangannya, menggosoknya hingga panas, lalu menumpahkannya ke þµñggµñg mµlµ§ Amara.
"Ahhh... T-Tuan, hangat..." Amara mêñÐê§åh saat tangan besar Arlan mulai memijat bahu dan turun ke pinggangnya.
Minyak itu membuat kulit Amara menjadi sangat ľíćíñ dan berkilat. Arlan tidak hanya memijat; ia menggunakan berat tubuhnya untuk menekan, membelai setiap lêkµk †µßµh Amara dengan intensitas yang membakar. Tangannya merayap turun ke bóķóñg Amara, mêrêmå§ñɏå dengan kuat hingga minyak itu meresap sempurna.
"Kau tahu apa fungsi minyak ini, Amara?" bisik Arlan sambil menjilati sisa minyak di bahu Amara. "Minyak ini akan membuat setiap §êñ†µhåñkµ terasa sepuluh kali lebih peka di sarafmu. Dan baunya... akan membuatmu kêhïlåñgåñ akal sehat."
Arlan membalikkan tubuh Amara menjadi telentang. Kini, ďáďá besar Amara yang penuh dengan áśí nampak berkilauan karena lapisan minyak. Arlan menuangkan sisa minyak itu tepat di tengah-tengah belahan ďáďá Amara.
"T-Tuan... m-minyaknya masuk ke sana," rintih Amara saat merasakan cairan hangat itu mengalir turun menuju perut dan merembes ke area příbáďíñýá.
"Biarkan saja. Aku ingin kau báśáħ dari luar dan dalam," geram Arlan. Ia mulai memijat páýúďářá Amara, menggunakan minyak itu untuk melicinkan gerakan tangannya saat ia meremas dan memutar púťíñg Amara yang sudah mengeras seperti batu.
Sentuhan minyak itu benar-benar bekerja. Amara merasa setiap inci kulitnya menjadi sangat śéñśíťíf. Bahkan hembusan napas Arlan saja membuatnya menggeliat kegirangan. Arlan menunduk, menjilat minyak yang menggenang di pusar Amara, lalu turun semakin rendah menuju area yang sudah sangat haus akan sentuhan.
"Minyak ini rasanya manis, tapi tidak semanis dirimu," Arlan menyusupkan jarinya yang sudah berlumur minyak ke dalam ľíáñg Amara.
"AAAKHHH! T-TUAN! TERLALU BANYAK!" Amara memekik, tubuhnya melengkung hebat saat merasakan jari Arlan yang ľíćíñ masuk dengan sangat mudah, mengobok-obok bagian dalamnya yang sudah sangat béćéķ.
Arlan tertawa rendah, sebuah tawa kemenangan. Ia menatap wajah Amara yang berantakan, matanya sayu dan mulutnya terbuka mencari udara. "Ini baru pemanasan, Amara. Aku ingin kau benar-benar ľíćíñ sebelum aku menanamkan benihku di dalammu."
Arlan menarik tangannya, lalu ia memposisikan dirinya di atas tubuh Amara. kéjáñťáñáññýá yang sudah sangat tegang kini bersentuhan dengan perut Amara yang berminyak, menciptakan sensasi gê§êkåñ yang luar biasa panas.