NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Tamu Tak Diundang dari Jakarta

Rumah Sinta yang biasanya tenang kini terasa seperti bangunan tua yang sedang diintai badai.

Sinta baru saja pulang dari rumah sakit, wajahnya masih sepucat kapas, dan langkahnya masih gontai.

Dokter menyarankannya untuk istirahat total selama dua minggu, tapi Sinta memaksa pulang karena ia tidak sanggup lagi membayar biaya inap rumah sakit yang membengkak sementara saldo rekeningnya sudah mencapai batas minimum.

​Ia baru saja hendak merebahkan diri di sofa—sofa yang nodanya masih berbekas karena ulah teman-teman Rangga—ketika pintu depan terbuka dengan kasar.

​Rangga masuk. Tapi, ia tidak sendiri.

​Di belakangnya, menyusul seorang wanita muda berambut pirang jagung dengan riasan tebal yang tampak luntur karena keringat. Wanita itu membawa koper besar dan menatap rumah Sinta dengan pandangan menghina.

​"Mas... Mas Rangga?" Sinta berdiri dengan susah payah, memegangi sandaran sofa agar tidak jatuh. "Siapa dia, Mas? Katanya Mas di Jakarta ada job besar?"

​Rangga tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia justru tampak sangat gusar. Ia meletakkan jaketnya di atas meja makan yang belum dibersihkan.

"Sin, ini urusan darurat. Kenalin, ini Manda. Dia manajer merangkap... yah, pokoknya dia yang bantu aku di Jakarta kemarin. Masalahnya, ada salah paham sama promotor di Jakarta. Kami harus keluar dari hotel sekarang juga karena uang muka yang dijanjikan ternyata bodong. Kami nggak punya tempat tinggal di sana, jadi aku bawa dia ke sini dulu sementara."

​Sinta merasa dunianya berputar lebih hebat daripada saat ia terkena tipus kemarin. "Membawa dia ke sini? Mas, aku ini baru pulang dari rumah sakit! Aku sakit, Mas! Dan Mas bawa wanita asing ke rumahku?"

​Manda, wanita itu, langsung menyahut dengan nada suara yang melengking tinggi. "Duh, Mbak. Jangan sensi gitu dong. Aku juga capek kali di jalan delapan jam. Mas Rangga bilang Mbak itu baik, nggak kayak mantan istrinya yang galak itu. Ternyata aslinya ribet juga ya?"

​"Mas!" Sinta menatap Rangga, memohon pembelaan.

​"Udah deh, Sin! Jangan bikin malu aku di depan Manda. Dia ini punya banyak link produser. Kalau kita telantarkan dia, karirku di Jakarta tamat! Kamu mau lihat aku hancur lagi? Kamu mau lihat Senja ketawa di atas penderitaan kita?" Rangga kembali menggunakan kartu asnya: nama Senja.

​Dan seperti biasa, racun itu bekerja. Sinta menelan seleret kata makian yang sudah sampai di ujung lidahnya. Ia kembali memilih untuk "mengerti". Ia memilih untuk menjadi wanita yang "lebih baik" daripada Senja di mata Rangga.

​"Ya sudah... dia tidur di kamar tamu bawah. Tapi cuma beberapa hari ya, Mas?" bisik Sinta lirih, suaranya hampir hilang.

...----------------...

​Malam itu menjadi malam paling mengerikan dalam hidup Sinta. Dari kamarnya, ia bisa mendengar suara tawa Rangga dan Manda di ruang tengah. Mereka memesan makanan mewah lewat aplikasi online—menggunakan ponsel Rangga yang tentu saja pulsanya diisi oleh Sinta sebelum Rangga ke Jakarta kemarin.

​Sinta hanya bisa memakan bubur instan di dalam kamar, air matanya jatuh membasahi bantalnya. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Inilah harga dari sebuah "kesempatan kedua" yang ia agung-agungkan di hadapan Senja.

​Keesokan paginya, tamparan realita yang lebih besar datang dalam bentuk ketukan pintu yang sangat keras. Bukan ketukan teman, melainkan ketukan otoritas.

​Sinta membuka pintu dan menemukan dua orang pria berseragam dari bank, didampingi oleh seorang petugas kepolisian.

​"Selamat pagi, Ibu Sinta. Kami dari bagian aset bank. Kami datang untuk menindaklanjuti tunggakan cicilan rumah ini yang sudah masuk bulan ketiga tanpa ada respon dari pihak Ibu," ucap petugas bank itu dengan sangat dingin.

​Sinta terpaku. "Tiga bulan? Tapi... saya selalu menyisihkan uangnya."

​"Catatan kami menunjukkan tidak ada dana yang masuk, Ibu. Bahkan kami mendapatkan laporan bahwa ada upaya menjaminkan sertifikat rumah ini melalui aplikasi pinjaman pihak ketiga yang tidak berizin. Karena status rumah ini masih dalam tanggungan bank, hal tersebut adalah pelanggaran berat."

Sinta menoleh ke arah Rangga yang baru saja turun dari lantai atas dengan wajah pucat.

​"Mas... Mas apain sertifikat rumahku?" tanya Sinta dengan suara yang bergetar hebat.

​Rangga mencoba lari ke arah dapur, tapi petugas polisi itu lebih sigap. "Saudara Rangga, benar? Kami juga mendapatkan laporan dari Saudari Senja Amara terkait dugaan pemalsuan tanda tangan dalam beberapa dokumen aset selama masa pernikahan yang baru diketahui setelah audit hukum."

​Sinta jatuh terduduk di teras. Pikirannya kosong. Ternyata selama Rangga tinggal di rumahnya, pria itu tidak hanya menghisap uang hariannya, tapi juga telah mencoba "menjual" masa depannya.

Rangga telah memalsukan tanda tangan Sinta untuk menutupi hutang-hutangnya di Jakarta.

​Di sisi lain kota, Senja sedang duduk tenang di kantor firma arsiteknya. Ia baru saja menandatangani surat kuasa tambahan untuk pengacaranya. Senja tidak sedang balas dendam pada Sinta, ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya dan membersihkan namanya dari segala dokumen palsu yang pernah dibuat Rangga saat mereka masih menikah dulu.

​"Gimana, Ja? Jadi dieksekusi hari ini?" tanya Mbak Sari yang baru masuk ke ruangan Senja.

​Senja mengangguk. "Rangga harus belajar kalau dunia ini punya hukum. Dan Sinta... Sinta harus belajar kalau dinding yang dibangun di atas kebohongan nggak akan pernah bisa melindunginya dari hujan."

​"Tadi aku dengar, rumah Sinta mau disegel bank hari ini juga karena Rangga pakai data rumah itu buat jaminan judi online di Jakarta. Si Sinta bener-bener habis, Ja. Dia sekarang lagi nangis-nangis di depan rumahnya ditonton tetangga," Sari menceritakan dengan nada antara kasihan dan gemas.

​Senja berdiri, menatap ke arah luar jendela.

"Sinta punya banyak kesempatan untuk pergi, Mbak Sari. Tapi dia lebih memilih gengsinya daripada logikanya. Dia lebih takut terlihat kalah di depanku daripada takut kehilangan masa depannya sendiri. Itu adalah pilihan arsitektur hidup yang paling buruk yang pernah aku lihat."

...----------------...

​Kembali ke rumah Sinta, kerumunan tetangga mulai berdatangan. Mereka berbisik-bisik melihat stiker kuning bertuliskan "DALAM PENGAWASAN BANK" ditempel di pintu jati yang dulu sangat dibanggakan Sinta.

Manda, wanita dari Jakarta itu, sudah menghilang sejak tadi lewat pintu belakang begitu melihat polisi, membawa kabur beberapa perhiasan sisa milik Sinta yang ada di meja rias.

​Rangga kini diborgol karena terbukti melakukan pemalsuan dokumen dan penipuan. Saat ia diseret menuju mobil polisi, ia masih sempat-sempatnya menoleh ke arah Sinta.

​"Sin! Tolong aku! Kamu kan punya tabungan rahasia! Jamin aku, Sin! Kamu jangan jahat kayak Senja!" teriak Rangga dengan wajah tanpa rasa malu.

​Sinta hanya bisa menatap Rangga dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering. Ia melihat pria itu—pria yang ia bela habis-habisan, pria yang ia sanjung sebagai "orang baik yang khilaf", pria yang ia jadikan alasan untuk memusuhi sahabat-sahabatnya—kini terseret ke dalam mobil polisi sebagai seorang kriminal.

​Sinta menoleh ke arah rumahnya. Rumah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun sebelum mengenal Rangga, kini hilang dalam sekejap karena ia membiarkan seorang parasit masuk dan merusak fondasinya.

​Ia mengambil ponselnya yang layarnya sudah retak. Ia melihat postingan Instagram-nya dua hari lalu yang memuji Rangga di rumah sakit. Komentar-komentar pedas mulai bermunculan di sana.

​"Gimana rasanya pahlawan kesiangan? Rumah hilang, cowok dipenjara. Nyaho sia, Sinta!"

"Ternyata Senja bener ya, barang rongsokan emang nggak layak direnovasi."

"Turut berduka atas kebodohanmu, Sin."

​Sinta melempar ponselnya ke aspal sampai hancur berkeping-keping. Ia kini berdiri di pinggir jalan, sendirian, tanpa rumah, tanpa uang, dan tanpa harga diri.

​Di saat itulah, sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas pelan di depan rumahnya. Kaca mobil itu turun sedikit. Senja ada di sana. Senja tidak tersenyum mengejek, tidak juga menghujat.

Ia hanya menatap Sinta dengan tatapan yang sangat datar, seolah melihat sebuah reruntuhan bangunan yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

​Mobil itu terus melaju, meninggalkan Sinta yang kini benar-benar menjadi pengamen di jalanan hidupnya sendiri.

1
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
semoga kamu bahagia iya senja🤗
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
harusnya suruh rangga usaha dlu baru nikah
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
kayanya udah direncana deh pertemuan mereka🤭
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
inget nasihat ibumu senja, harus hati"
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Senja ayo terima saja Axel dia pria yang selalu membantu masalah kamu
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Axel Senja bakal baik baik saja asal kamu jadi tameng dia
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Axel akan memastikan hidup Rangga seperti di neraka kalau Rangga masih ganggu Senja
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
udah ga ketolong si sinta mah😭
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
dari sini harusnya sinta sadar rangga tak sebaik diliatnya
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
demi mas dj kau korbanin emas peninggalan orang tuamu sin, parah
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
sinta padahal udah tau msh mau bertahan
awas jangan smpai nyesel iya
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
itu baru didompet udah berani ambil tanpa bilang loh
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
mau nolong liat" dlu orangnya sinta
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
doni p3ngen aku ulek mulutnya lemes banget dia
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
ga usah diurus senja
rangga udah keterlaluan
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wow semua yg nanggung senja🤔
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
rangga ga malu apa astaga memutar balikan fakta
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wkwkw rasain cuma dimanfaatin smaa cewe matre wkwkkw kurma nya langsung ini🤭
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wah banyak juga yang udah diberikan ke serangga 🤔
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
nah betul
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!