fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Republik
Beberapa hari kemudian diruangan yang sama. Muncul lagi tokoh pemikir kedua yang datang berdiskusi untuk hal yang kurang lebih sama : sistim pemerintahan dengan Angurey.
“Kerajaan adalah kesia-siaan ser. Pemikiran Falvel sudah tak relefan lagi untuk saat ini. Ada banyak negara yang bubar karena dipimpin oleh Raja yang lalim. Alur keturunan tak selalu seiring sejalan dengan harapan..” kata orang tua dengan pakaian mewah dihadapan Angurey.
Ia bernama Master Adrac. Seorang filosof. Bersuku Adara yang mengungi ke Kaitaia ketika mengetahui ada negara baru yang sedang dirintis oleh para pejuang. Ia sangat tertarik dan mengunjungi Angurey untuk menawarkan konsep pemerintahan yang diyakininya menjadi yang terbaik untuk kerajaan baru ini.
“Anda punya ide pemerintahan baru? Seperti apa itu?” tanya Angurey memancing.
“Republik Ser. Republik, dipimpin oleh seorang Lord yang hanya bisa memerintah 10 tahun bahkan kurang dari itu. Dan dipilih lagi oleh dewan yang ada. Yang menjadi wakil bagi rakyat yang diperintah. Sistem ini akan meminimalisir kehadiran pemimpin yang lalim dan penggunaan kekuasaan yang absolut.” kata Adrac. Matanya menyala mengatakan itu. tanda keyakinan diri.
“Negara akan repot menyelenggarakan pemilihan setiap waktu. tak akan fokus pada Pembangunan dan perluasan wilayah… “ Angurey seperti abai. Ia mengambil pena, menulis sesuatu.
“Itu menjadi konsekwensi pada sistem republik. Pembangunan tetap akan jalan. Perluasan kekuasaan tetap di serahkan pada militer. Dan pemimpin yang hadir adalah kehendak rakyat.” jelas Adrac.
“Baginda Owen memang tidak berniat menjadi Raja yang akan menurunkan kekuasaan untuk anaknya. Namun ia juga tak membatasi kekuasaannya hanya 10 tahun. Kami bersepakat ia akan memimpin kami sepanjang usianya.” kata Angurey. Kini ia yang memperlihatkan keyakinan diri.
“Selanjutnya juga seperti itu? Apakah kalian para kesatria Utama menyerahkan kekuasaan lagi pada penerus Owen diantara kalian dan menunggunya sampai menutup mata? Kalian semua tak akan kebagian kue kekuasaan sahabatku.” kata Adrac, ia tersenyum.
“Kami berniat mengabdi bagi Lord Owen dan negara. Tak ada niat kami semua untuk menjadi penerus beliau, kami adalah pelindungnya.”
“Benar. Itu prinsip kalian untuk saat ini. Semasa kalian semua kesatria utama. Namun itu tak akan berlaku pada penerus kalian selanjutnya..” kata Adrac. ia terdengar tegas kini.
“Republik mungkin bukan jalan bagi pemerintahan ini Ser. Karena Lord Owen ingin kekuasaan seseorang pemimpin adalah juga selamanya…”
“Baiklah tuan. Aku akan pergi dari wilayah kalian ini. Untuk menawarkan pemikiranku ini untuk para penguasa lain diluar sana. Aku yakin The Horn Land akan hancur berkeping-keping dimasa yang akan datang. Tapi bukan oleh kalian ; oleh Kerajaan Lord Owen yang menggunakan sistem pemerintah yang absolut namun juga bukan monarki. Akan ada banyak paham dan kepentingan yang akan memecah belah tanah kita ini.” kata Adrac. Ia kemudian pergi.
Negara baru berdiri, tawaran soal sistem pemerintahan datang silih berganti. fikir Angurey.
***
Baginda sembuh diakhir tahun 112. Ia bahkan masih sempat bertemu dengan para kesatria utama untuk membahas situasi Union saat ini. juga menyaksikan pembagian kalung perak bagi para kesatria keluarga yang ada. hadiahnya.
Ancaman serangan balasan dari kekaisaran yang menggunakan pasukan wilayah Whangarei di timur dan Dargaville di selatan kini tersiar cukup kencang. Pasukan Union Kaitaia dilatih dengan ketat oleh Regen Manollion dan Lauren Lamalurra. Namun peristiwa pertikaian keluarga Loaun dan Kaemon juga butuh kepastian untuk diselesaikan. Maka keluarlah keputusan baginda untuk masalah itu ;
“Untuk keadilan bagi semua. Dan mencegah terjadi lagi peristiwa yang sama dimasa yang akan datang. Aku putuskan hukuman mati untuk pembunuhan sesama prajurit.” demikian keputusan Ser Owen.
Riak-riak ketidak puasan tentu terjadi.
Bukan diantara kesatria keluarga yang berjanji setia pada Baginda. Namun pada pengikut mereka di luar kastel. Namun semua bisa diatasi. Keluarga Kaemon akhirnya menerima keputusan yang pahit itu. Mereka akan melihat langsung eksekusi salah satu anggota keluarga mereka yang menurut mereka justru membela diri saat peristiwa dermaga terjadi.
Sementara kepuasaan pada keputusan baginda terlihat pada keluarga Loaun dan para pendukung mereka yang sebagian besar adalah para keluarga suku Adara. Sementara itu simpati untuk keluarga Kaemon terlihat pada keluarga-keluarga Suku Yulara.
“Baginda sudah mengeluarkan keputusannya. Harus kita terima meskipun itu pahit. Kita sudah berjanji untuk setia pada beliau sampai beliau menutup mata. Namun disisi lain Union yang kita yakini akan mendatangkan keadilan bagi semua warga sepetinya belum mencapai apa yang kita harapkan. Sentimen kesukuan masih terasa, juga perbedaan agama diantara kita. Namun abaikan itu,.. tetaplah berjuang untuk Lord Owen . Sampai titik darah penghabisan.” Demikian pidato Charles Kaemon, Lord Keluarga Kaemon dihadapan para kesatrianya dan 4 keluarga lain ; Talindurum, Winter, Moon dan Queen yang mendukung mereka.
Stev Kaemon akhirnya dieksekusi tak lama kemudian. Satu peristiwa yang akan dikenang oleh keluarganya.
Dalam suasana itu ; Angurey berkata pada Oliver sahabatnya ; “pemimpin tidak menghindari badai, Pemimpin menghampiri badai.”
***
Suatu sore di penghujung bulan, seorang wanita paru baya menemui Angurey. Ia adalah Rugina Loaun, janda seorang Lord semasa di Kekaisaran. Suaminya meninggal karena sakit di usia 57 tahun. Rugina kini berusia 52 tahun, ia adalah adik dari Rugila. Ia datang bersama seorang pemuda kesatria keluarga. Bernama Randyt Loaun.
“Ser Angurey, kami keluarga Loaun sangat berterima kasih atas keputusan Baginda yang menghukum pembunuh anggota keluarga kami dari keluarga Kaemon. Ini bukan soal janji nyawa harus dibayar nyawa. Namun soal keadilan. Baginda pastinya belum lupa pengorbanan kakakku, pemimpin kami Rugila yang mengorbankan nyawanya untuk perjuangan baginda. Tanah tempat pemakamannya belum lagi kering dari darahnya. Kini Baginda memberikan keputusan yang adil itu. kami puas atas hal itu. namun satu hal lagi, dermaga Kai adalah milik kami sejak awal. Maka kami akan tetap mendudukinya. Dan setelah itu keluarga ini, kemanapun kepemimpinan berlanjut dalam negara baru kita ini, kami akan tetap mendukung. Kakak Rugila meninggal tanpa pewaris, aku akan melanjutkan kepemimpinan keluarga, namun dalam perang-perang selanjutnya pasukan keluarga akan dipimpin keponakan kami ini ; Randyt…”
Pemuda berusia 27 tahun itu maju, memberi hormat. Dengan sikap gagah. ia tampan dan berkarakter.
“Ada 500 prajurit keluarga Loaun akan mendukung perjuangan kedepannya. Aku pastikan kesetiaan mereka pada baginda.” kata Rugina lagi.
Ia adalah wanita dengan pesona keanggunan alami. Dan cocok menjadi pemimpin.
“Terima kasih atas kesetiaan kalian pada baginda. Semuanya akan aku sampaikan. Termasuk, kepemimpinan di Dermaga Kai.” kata Angurey.
Beberapa saat kemudian,
Mereka kemudian pulang.
catatan ; Keluarga Loaun pemegang kalung no.1 pemberian Owen.