Kisah hidup seorang wanita dengan dua nama panggilan yang berbeda, yaitu Mona dan Lisa jika Mona adalah seorang wanita dengan beraneka karakter tergantung tugas yang diberikan kepadanya, maka Lisa hanyalah bagian lain dari dirinya yang menampilkan sisi asli dari kepribadiannya.
Armand Ferdinand Rahardja seorang CEO perusahaan besar, tiba tiba saja mengaku jatuh pada pandangan pertama tarhodon terhadap Lisa, yang sebenarnya memiliki maksud tersembunyi terhadap Lisa.
akan seperti apa hubungan mereka terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Antara Janji dan Rahasia
"Yuk!" Ucap Armand sambil mengulurkan tangannya.
"Hayuk" Lisa bangkit dari duduknya kemudian menyambut tangan Armand.
Armand menggenggam tangan Lisa,mereka berjalan bergandengan menuju pintu.
"Kita langsung ke KUA" Ucapan Armand berhasil mengehentikan langkah Lisa dan membuat langkah Armand pun ikut terhenti.
"HAH, ngapain ke KUA sekarang?" ucap Lisa bingung.
"Biar cepet sah kita, imanku sudah tak setangguh dulu"
Lisa mendaratkan pukulannya di bahu Armand, karena kesal dengan kelakuan Armand yang selalu membuat keputusan serba mendadak.
"Aw sakit sayang, mending pake bibir disini pukulnya" Ucap Armand sambil memonyongkan bibirnya, dan itu hanya membuat Lisa tambah kesal, dia mencubit bibir Armand membuat si empunya bibir mengaduh lebih kencang.
"Jangan bikin rules dadakan lagi, kamu kan udah nentuin tanggal pernikahan kita, lagian cuma tinggal tiga hari lagi juga" Ucap Lisa kesal.
"Oke oke, aku akan sabar menantimu, kita jadi ke toko perhiasan kan?" Tanya Armand ragu, pasalnya mood calon istrinya itu sudah berubah, barangkali mood dia untuk pergi juga berubah.
"Jadi lah, udah ga ada waktu lagi juga, apa mau pesen onlen aja cincinnya? biar bisa custom" Ucap Lisa sambil melanjutkan jalannya yang sempat tertunda.
"Hemm, ide bagus tuh aku pengen di cincinnya ada foto kita berdua" Ucap Armand sambil menyusul Lisa dari belakang.
"Iya nanti tempelin aja foto wajah kamu yang ukuran A4 di atas cincinnya" Ucap Lisa menimpali ide cemerlang Armand.
.
.
.
.
.
Ditoko perhiasan dua sejoli itu kembali dipusingkan dengan banyaknya pilihan cincin yang dibawa si manager, mereka sengaja mengeluarkan semua produk terbaik mereka, karena mereka tahu siapa yang akan membelinya, sang CEO Athena Corp, Armand Ferdinand Rahardja.
"Bagaimana tuan dan nona? apa ada yang sesuai selera anda berdua?" Tanya si manager toko.
"Kamu suka yang mana?" Tanya Lisa pada Armand.
"Aku belum pernah beli perhiasan apalagi cincin, kau pilih saja mana yang kau suka" Jawab Armand, selama ini dia memang tidak pernah harus repot repot belanja kebutuhannya sendiri, apalagi belanja untuk orang lain, semuanya sudah disiapkan sang sekretaris teladan tentu saja.
"Kalo yang ini gimana?" Tunjuk Lisa pada sepasang cincin dengan permata biru diatas keduanya namun berbeda ukuran, bentuknya terlihat sederhana namun terlihat elegan.
"Hemm, aku suka yang itu, sangat mencerminkan dirimu" Jawab Armand
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Lisa bingung, memang apa yang mencerminkan dirinya dari itu cincin.
"Terlihat sederhana dan biasa" Lisa sudah hampir memberi komentar dengan penilaian yang diberikan Armand, tapi untungnya Armand keburu melanjutkan ucapannya.
"Tapi juga terlihat Elegan secara bersamaan, terkesan 'misterius', kau itu seperti mudah diraih, tapi sebenarnya berada diluar jangkauan, sekarang aku memang bisa memilikimu, tapi tetap saja, kau masih terasa begitu jauh, seperti ada batas tak terlihat yang tidak boleh aku lewati"
Lisa terdiam, dia mengerti maksud dari perkataan Armand, dia memang sengaja membentengi dirinya, menghalangi Armand untuk tidak masuk terlalu jauh, apalagi sampai memasuki area terlarang dalam dirinya.
Tapi sampai kapan benteng nya akan bertahan? bagaimana jika dia sendiri yang mengahancurkan pertahanannya? sebenarnya Lisa hanya merasa takut, dia takut Armand akan kecewa dan sakit hati, betapa banyak rahasia yang dia pendam, kalau bisa dia ingin membawa semua rahasianya sampai mati.
Bahkan untuk misi balas dendamnya, dia akan melakukan semuanya secara diam diam tanpa sepengetahuan Armand dan tanpa melibatkan Armand.
Semuanya pasti akan berakhir indah bukan?
Lisa tersenyum menutupi kegelisahan hatinya, dan senyum getir nya itu tentu saja dapat ditangkap oleh indra ke enam Armand.
"Berhenti tersenyum seperti itu, senyumanmu itu lebih terlihat seperti senyum orang yang lagi nahan pup"
"Hahahaha, jelek banget pasti itu senyumnya" Kali ini Lisa tertawa, menghilangkan sejenak kegelisahannya.
"Nah kalau tertawa begitu kan lebih enak diliatnya" Ucap Armand sambil sebelah tanganya mengelus ngelus pipi mulus Lisa.
Sepertinya mereka lupa mereka sedang berada dimana sekarang, mereka tidak sadar bahwa sekarang mereka sedang menjadi tontonan warga disana, beberapa karyawan toko dan sang manager hanya memandang kedua calon suami istri itu dengan tatapan kagum, benar benar pasangan yang sangat serasi.
"Ekhem, jadi tuan dan nona sudah memutuskan untuk mengambil yang ini?" Suara manager toko mengembalikan mereka ke alam nyata.
"Ah iya,kami ambil yang itu saja" Ucap Lisa dengan semburat merah di pipi nya.
"Baik, silahkan tunggu sebentar saya akan mengemas dan menyiapkan surat suratnya terlebih dulu"
Si manager toko pamit keluar ruangan dengan membawa cincin pilihan Lisa, sedangkan karyawan yang lain membawa sisanya,Lisa dan Armand ditinggalkan berdua dsebuah ruang khusus VIP, sambil menunggu mereka menikmati beberapa makanan ringan yang tersaji dimeja.
"Ar, aku belum tahu tempat kita nanti melangsungkan pernikahan dimana?" Ucap Lisa setelah menelan biskuit yang dimakannya.
"Di hotel Z, aku hanya mengundang beberapa kolega penting dan saudara terdekat, jadi pestanya tidak akan begitu meriah, kau tidak keberatan kan?"
"Tidak apa apa, aku malah senang kalau tidak usah ada pesta,cukub ijab kobul saja"
"Tadinya aku juga mau seperti itu, tapi setidaknya aku harus memperkenalkanmu pada orang orang terdekatku kan"
"Apa...dari perusahaan Mandala juga akan datang?" Tanya Lisa, hampir saja dia keceplosan menyebut nama Bram.
"Tidak, aku sudah tidak mau punya urusan dengan perusahaan itu lagi, termasuk dengan presdir nya" Ucap Armand penuh keyakinan.
Apa yang terjadi di antara mereka? kenapa sekarang mereka putus hubungan? dan kenapa Armand juga tidak bertanya kenapa aku hanya menanyakan perusahaan mandala? batin Lisa
"Ah begitu ya, oh satu lagi, tidak akan ada wartawan kan?"
"No, acaranya private ga dibuka untuk umum, tamu juga ga boleh bawa handphone, ga boleh ada yang ambil foto"
"Waw, ko aku ngerasa kita kaya nikah sembunyi sembunyi takut ketahuan istri pertama ya?" Ucap Lisa sambil tertawa geli membayangkan dirinya jadi istri kedua.
"Anggap saja begitu, ga semua wartawan fair, kebanyakan mereka mencari berita hanya untuk keuntungan mereka sendiri tanpa memperdulikan fakta, dan tidak semua orang memliki niat baik, bisa saja diantara orang orang terdekatku pun ada yang memiliki niat buruk terhadapku, jadi sebaiknya kita jaga jaga"
Lisa mengerti sekarang tentang betapa rumitnya hidup seorang konglomerat, tidak seindah yang terlihat, semakin tinggi kau berada semakin kencang juga angin yang berhembus, memang perlu mental yang kuat untuk bisa menghadapi semua rintangan, bagaikan hukum rimba, siapa yag kuat dia yang akan bertahan.