Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merajut Mimpi di Tanah Rantau
Setelah kabar kelulusan dari UNS tersebar, rumah Sekar Arum dipenuhi dengan ucapan selamat dan kebahagiaan. Ia akhirnya berhasil meraih impiannya untuk kuliah di kampus ternama itu. Malam syukuran dengan keluarga menjadi momen yang tak terlupakan, penuh dengan canda tawa dan harapan cerah untuk masa depan.
Namun, di balik euforia itu, Sekar Arum mulai memikirkan tantangan baru yang menantinya. Jarak antara Eromoko dan Solo cukup jauh. Jika ia harus bolak-balik setiap hari, selain biaya transportasi yang besar, ia juga akan kelelahan dan tidak bisa fokus pada kuliah.
Setelah berdiskusi panjang dengan Bapak dan Ibu, akhirnya mereka sepakat bahwa Sekar Arum sebaiknya mengekos di Solo. Sebagai anak tunggal, kepergian Sekar Arum untuk merantau terasa berat bagi Bapak dan Ibu. Hati mereka sesak membayangkan rumah akan terasa sepi tanpa kehadirannya. Namun, mereka ikhlas melepas Sekar Arum untuk mengejar cita-citanya, karena mereka ingin anak tunggal kesayangan mereka meraih kebahagiaan dan kesuksesan.
"Nak, kalau kamu ngekos, kamu harus bisa menjaga diri baik-baik. Jangan lupa beribadah, jaga pergaulan, dan fokus pada kuliah," pesan Ibu dengan nada khawatir, matanya berkaca-kaca. "Ibu percaya kamu bisa menjadi anak yang mandiri dan sukses."
"Iya, Bu. Sekar janji akan menjaga diri baik-baik dan tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu," jawab Sekar Arum dengan penuh tekad, berusaha menahan air mata.
"Bapak juga berpesan, jangan lupa kirim kabar ke rumah. Kalau ada masalah, segera ceritakan pada Bapak dan Ibu," timpal Bapak, suaranya terdengar parau. "Yang terpenting, jaga kesehatan dan jangan sampai sakit."
Setelah makan malam dan berbincang-bincang tentang persiapan kuliah, Sekar Arum pamit untuk istirahat. Ia merasa semakin bersemangat untuk memulai kehidupan baru di Solo, sekaligus merasakan kesedihan karena harus berpisah sementara dengan orang tua.
Keesokan paginya, setelah sarapan, Sekar Arum bersiap-siap untuk berangkat ke Solo. Ia membawa tas besar yang berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan buku-buku pelajaran. Bapak dan Ibu mengantarkannya ke terminal bus Eromoko.
"Nak, hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa," pesan Ibu sambil memeluk Sekar Arum erat, air matanya mulai menetes.
"Iya, Bu. Sekar pamit dulu. Assalamualaikum," kata Sekar Arum sambil mencium tangan Bapak dan Ibu, suaranya bergetar.
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Nak," jawab Bapak dan Ibu dengan senyum haru, berusaha menyembunyikan kesedihan.
Sekar Arum naik ke bus dan mencari tempat duduk dekat jendela. Ia melambaikan tangan kepada Bapak dan Ibu yang berdiri di depan terminal, menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan harapan. Air mata haru mengalir di pipinya. Ia merasa berat meninggalkan orang tuanya, tetapi ia juga bersemangat untuk mengejar impiannya.
...Bus mulai berjalan, meninggalkan terminal Eromoko. Sekar Arum menatap ke luar jendela, menyaksikan pemandangan desa yang semakin menjauh. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan belajar dengan sungguh-sungguh, meraih prestasi yang membanggakan, dan membahagiakan Bapak dan Ibu, sebagai balas budi atas cinta dan pengorbanan mereka.
Perjalanan ke Solo terasa cukup lama. Sekar Arum menikmati pemandangan sepanjang jalan, dari persawahan yang hijau membentang hingga pegunungan yang menjulang tinggi. Ia juga berusaha mengalihkan perhatian dari kesedihan dengan berkenalan dengan beberapa penumpang lain, bertukar cerita dan pengalaman tentang rencana kuliah dan kehidupan di Solo.
Sesampainya di terminal Tirtonadi Solo, Sekar Arum merasa sedikit bingung dan kewalahan dengan keramaian kota. Ia belum pernah ke Solo sebelumnya dan tidak tahu arah menuju kawasan kampus UNS yang dipenuhi rumah kos. Ia mencoba bertanya pada petugas terminal, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Akhirnya*, ia memutuskan untuk mencari ojek online. Setelah mendapatkan ojek, ia segera naik dan memberitahukan tujuan ke kawasan kampus UNS yang banyak rumah kos kepada tukang ojek. Ia berharap tukang ojek tersebut jujur dan tidak membawanya berputar-putar.
Perjalanan menuju kawasan kampus cukup menyenangkan, meskipun jantungnya berdebar kencang. Sekar Arum melewati jalan-jalan yang ramai dan dipenuhi dengan toko-toko, warung-warung, kafe dan rumah-rumah kos. Ia melihat banyak mahasiswa yang berlalu-lalang, membawa buku-buku dan tas kuliah, tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Pemandangan itu membuatnya semakin bersemangat untuk segera menjadi bagian dari kehidupan kampus.
Setelah beberapa saat, tukang ojek menurunkan Sekar Arum di sebuah jalan yang penuh dengan rumah kos. Ia mengucapkan terima kasih dan membayar ongkos ojek. Ia menurunkan tas besarnya dan berdiri terpaku di tepi jalan, mengamati lingkungan sekitar.
Sekar Arum menarik napas dalam-dalam dan mulai menyusuri jalan tersebut. Ia merasa sedikit gugup dan tidak percaya diri. Ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk mencari kos. Ia mulai membayangkan bagaimana kehidupan anak kos, jauh dari keluarga dan harus mengurus semua keperluan sendiri.
Ia berjalan melewati beberapa rumah kos yang tampak ramai dan berisik, dengan musik yang terdengar keras dan gelak tawa yang riuh. Ia merasa tidak nyaman dan mencari rumah kos yang lebih tenang dan bersih.
Setelah berjalan cukup lama, Sekar Arum melihat sebuah rumah kos yang tampak lebih tenang dan terawat. Di depan rumah kos tersebut, terdapat sebuah papan nama yang bertuliskan "Kos Mawar". Hatinya tergerak untuk mencoba mencari informasi di kos tersebut.
Sekar Arum memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah kos tersebut. Ia melihat seorang Ibu paruh baya yang sedang menyapu teras. Ibu tersebut menoleh dan tersenyum ramah kepadanya.
"Assalamualaikum, Bu. Maaf mengganggu," sapa Sekar Arum dengan sopan. "Saya mau tanya, apakah di sini ada kamar kos yang kosong?"
Ibu tersebut menghentikan aktivitasnya dan menatap Sekar Arum dengan tatapan yang ramah. "Waalaikumsalam, Nak. Oh, kebetulan sekali. Di sini ada satu kamar kos yang kosong. Kamu mahasiswa baru ya?"
Sekar Arum mengangguk tersenyum. "Iya, Bu. Saya baru diterima di UNS," jawabnya.
"Wah, selamat ya, Nak. Mari masuk, saya antar lihat kamarnya," kata Ibu tersebut sambil membuka pintu dan mengajak Sekar Arum masuk ke dalam.
Sekar Arum mengikuti Ibu tersebut masuk ke dalam rumah kos. Ia merasa lega dan berharap bahwa kamar kos tersebut sesuai dengan harapannya, agar ia bisa segera menemukan tempat tinggal yang nyaman dan aman selama menjalani studi di Solo.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*