Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Jebakan Zoya
"Cukup, Mas! Aku muak!"
Suara teriakan Zoya memecah keheningan malam di penthouse itu. Sebuah vas bunga melayang dan pecah berkeping-keping menghantam dinding, tepat di samping kepala Kalandra.
"Zoya! Jangan gila kamu!" bentak Kalandra tak kalah keras. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol. "Aku ngelarang kamu keluar demi keselamatan kamu! Di luar sana ada pembunuh!"
"Keselamatan atau penjara?!" Zoya menyambar tas tangannya dengan kasar. Napasnya memburu, air mata buatan sudah membasahi pipinya. "Aku nggak bisa hidup kayak gini! Dikurung, diawasi CCTV, dilarang kerja! Kamu bukan suamiku, kamu sipir penjara!"
"Kalau kamu keluar dari pintu itu, jangan harap bisa masuk lagi!" ancam Kalandra, menunjuk pintu keluar dengan jari gemetar.
"Bodo amat! Aku lebih baik mati dibunuh Hanggara daripada mati bosan di sini sama kamu!"
BLAM!
Zoya membanting pintu utama sekuat tenaga hingga pigura foto di dinding bergetar. Dia berlari menuju lift, menekan tombol ground dengan kasar.
Begitu pintu lift tertutup dan membawanya turun, ekspresi histeris di wajah Zoya lenyap seketika. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menyentuh anting mutiara di telinga kanannya—sebuah alat komunikasi mikro.
"Umpan dilepas," bisik Zoya dingin. "Mas, gimana posisi?"
Suara Kalandra terdengar jernih di telinga Zoya, nadanya berubah tenang dan taktis. "Aku di mobil, keluar lewat basement belakang. Aku ikutin kamu dari jarak aman dua ratus meter. Raka dan tim penembak jitu sudah siaga di atap gedung seberang minimarket."
"Oke. Akting marahmu tadi lumayan juga," puji Zoya datar.
"Vas bunga yang kamu lempar itu harganya lima juta, Zoya. Awas kalau rencananya gagal," gerutu Kalandra.
Zoya keluar dari lobi apartemen. Udara malam Jakarta yang panas langsung menerpa kulitnya.
Jalanan cukup sepi. Zoya berjalan kaki menyusuri trotoar dengan langkah cepat, berpura-pura seperti istri yang kabur sambil menangis sesenggukan.
Dia menuju sebuah minimarket 24 jam di ujung jalan yang lampunya terang benderang. Itu adalah kill zone yang sudah mereka tentukan.
"Target terlihat," lapor Kalandra lewat earpiece. "Ada pria pakai hoodie abu-abu keluar dari gang sempit di belakangmu. Dia ngikutin kamu, Zoya. Jarak lima puluh meter."
Jantung Zoya berdegup kencang. Itu dia. Tikus itu akhirnya keluar dari persembunyiannya karena mengira Zoya sedang sendirian dan lengah.
"Aku masuk ke minimarket sekarang," lapor Zoya.
Dia mendorong pintu kaca minimarket. Bunyi ting-nong menyambutnya. Penjaga kasir yang sedang mengantuk mendongak kaget melihat wanita dengan mata sembab masuk.
Zoya berjalan ke deretan lemari pendingin di bagian belakang. Dia mengambil sebotol air mineral, tangannya meraba pisau bedah lipat yang dia sembunyikan di balik lengan bajunya.
"Mas, dia masuk?" bisik Zoya.
Hening.
"Mas Kalandra?" panggil Zoya lagi.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari earpiece.
DUAR!
Lalu diikuti suara ban mobil berdecit liar dan benturan logam. BRAK!
"Mas!" Zoya memekik pelan.
"Sialan!" Suara Kalandra terdengar panik dan putus-putus. "Ban mobilku ditembak! Pecah dua-duanya! Mobilku oleng nabrak tiang listrik! Ada sniper lain di gedung tua!"
"Apa? Mas kamu luka?"
"Jangan keluar, Zoya! Ini jebakan di dalam jebakan! Dia nggak sendirian! Raka, lindungi Zoya!" teriak Kalandra di saluran radio.
Tapi terlambat.
Lampu minimarket tiba-tiba mati total. Gelap gulita.
"Aaah!" Penjaga kasir berteriak ketakutan.
Zoya mundur, punggungnya menabrak rak roti. Dia mencabut pisau bedahnya, matanya mencoba beradaptasi dengan kegelapan.
Pintu kaca depan terbuka. Bunyi lonceng kecil terdengar lagi. Langkah kaki berat masuk dengan santai. Tap. Tap. Tap.
"Siapa di sana?" gertak Zoya, mengarahkan pisaunya ke depan.
"Galak sekali, Dokter Zoya. Padahal suami galakmu sedang sibuk ganti ban di sana."
Suara itu. Suara baritone yang halus tapi mematikan.
Zoya menahan napas. Hanggara.
Sosok tinggi itu muncul dari balik rak. Cahaya lampu jalan dari luar menciptakan siluet mengerikan. Hanggara tidak memakai masker. Dia membiarkan wajahnya terlihat—wajah tampan yang kini dihiasi bekas luka bakar samar di pipi kiri akibat ledakan mobil di jurang.
Dia tersenyum miring.
Zoya langsung menyerang. Dia mengayunkan pisau bedahnya ke arah leher Hanggara.
Tapi Hanggara menangkap pergelangan tangan Zoya dengan mudah. Cengkramannya kuat seperti besi. Dia memelintir tangan Zoya ke belakang, membuat pisau itu terjatuh, lalu mendorong tubuh Zoya hingga terhimpit ke tembok.
"Leppasin!" Zoya meronta, lututnya siap menendang selangkangan Hanggara.
"Sssttt..." Hanggara menahan lutut Zoya dengan pahanya sendiri, mengunci gerakan wanita itu total. Wajah mereka sangat dekat, Zoya bisa mencium aroma antiseptik dan... aroma hangus.
"Bunuh aku sekarang kalau berani!" tantang Zoya, matanya nyalang menatap mata psikopat di depannya. "Polisi akan mengepung tempat ini dalam dua menit!"
Hanggara tertawa kecil. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. Tangan kirinya terulur, bukan untuk mencekik, tapi untuk menyelipkan anak rambut Zoya ke belakang telinga dengan gerakan yang memuakkan lembutnya.
"Bunuh kamu? Oh, tidak, Sayang. Itu terlalu cepat. Terlalu mudah," bisik Hanggara tepat di telinga Zoya. Napas hangatnya menyapu kulit leher Zoya, membuat Zoya merinding jijik.
"Aku masih butuh kamu untuk pertunjukan utama nanti. Kamu itu bintang tamunya."
Hanggara melepaskan cengkramannya sedikit, tapi tatapannya tetap mengunci Zoya. Dia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto pada Zoya.
Mata Zoya membelalak horor.
Itu foto seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi salon sambil membaca majalah, dengan rambut penuh roll.
"Kenal wanita cerewet ini?" tanya Hanggara sambil menyeringai.
"Itu... Ibu..." suara Zoya tercekat. Itu ibu Kalandra. Mama mertuanya.
"Belum waktunya aku main sama kamu, Cantik," bisik Hanggara sambil mundur perlahan. "Aku mau main dulu sama ibu mertuamu yang sombong itu. Kita lihat, seberapa cepat Komandan Kalandra bisa lari dengan ban kempes."
"JANGAN SENTUH DIA!" teriak Zoya, hendak mengejar.
Tapi Hanggara melempar bom asap kecil ke tanah. Poof! Asap putih tebal langsung menghalangi pandangan. Saat asap menipis, gang itu sudah kosong melompong. Hanggara menghilang seperti hantu, meninggalkan Zoya yang gemetar ketakutan di tengah kegelapan.