NovelToon NovelToon
Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi
Popularitas:268
Nilai: 5
Nama Author: aryaa_v2

Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.

Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.

Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Kritis 0,89 Skala Kardashev

Bumi, 2 Tahun 4 Bulan P.P. (Pasca Pengasingan)

Kantor pusat "Dharma Green Technologies" di Singapura adalah sebuah prestasi arsitektur hijau—dinding hidup, atap surya, udara yang disirkulasi dengan sempurna. Dari balik kaca lantai ke langit-langit di lantai 40, Dr. Arif (kini Bapak Dharma, CEO yang dihormati) memandang kota di bawahnya. Sebuah kota yang secara tidak sadar dijalankan oleh algoritma miliknya, diterangi oleh energi yang dioptimasi oleh desainnya, dan dihubungkan oleh jaringan yang dipantau oleh sensor-sensor tersembunyinya.

Ponsel khususnya bergetar. Sebuah pesan dari jaringan "Kurator", dienkripsi tiga kali.

[KODE MERAH: JAM PENGECEKAN. SENSOR SATELIT 7-C MELAPORKAN ANOMALI GRAVITASI MIKRO DI ATAS KUTUB UTARA. POLA MIRIP DENGAN PEMINDAIAN PENGAWAS AWAL. TINGKAT KEPERCAYAAN: 87%.]

Jantung Dr. Arif berdebar kencang. Selama dua tahun lebih, mereka berjalan di atas tali tanpa jaring. Kemajuan luar biasa: Kardashev 0.89. Mereka berada di ambang menguasai energi geotermal dan gelombang laut secara global. Tapi setiap lompatan membawa risiko. Pengawas mungkin buta terhadap kemajuan bertahap, tapi anomali energi tiba-tiba? Itu bisa menarik perhatian.

Dia mengetik balasan cepat: [AKTIFKAN PROTOKOL 'KABUT'. ALIHKAN SEMUA OUTPUT EKSPERIMENTAL KE MODE PASIF. HENTIKAN UJI COBA REAKTOR GELOMBANG GRAVITASI DI ICELAND. SEKARANG.]

Dia memandang ke utara, seolah-olah bisa melihat melalui atmosfer. Apakah ini akhir? Apakah Pengadilan kembali untuk menyelesaikan pekerjaan mereka?

Maya masuk ke ruangannya tanpa mengetuk, wajahnya pucat. "Laporan dari stasiun penelitian Greenland. Mereka melihatnya. Sebuah... kilatan biru. Seperti petir, tapi vertikal. Ke atas. Menuju langit."

"Tidak ada yang memperingatkan?" tanya Dr. Arif, suaranya tegang.

"Tidak ada peringatan cuaca. Tidak ada aktivitas matahari." Maya menggigit bibirnya. "Itu dia, bukan? Mereka menemukan kita."

"Belum tentu." Dr. Arif berjalan menuju konsol tersembunyi di balik lukisan digital. Dia membuka umpan langsung dari satelit mata-mata "pribadi" mereka—sebuah satelit yang dilapisi dengan singularitas mikro pasif yang menyebarkan sinyalnya. Gambar yang muncul membuatnya membeku.

Di atas lapisan es Arktik, sebuah formasi kristal biru pucat, tidak lebih besar dari mobil, melayang beberapa kilometer di atas tanah. Itu bukan kapal Pengawas yang besar. Ini sesuatu yang lain. Lebih kecil. Lebih... elegan. Dan dari bawahnya, sinar biru yang sama memindai es dengan metodis, seperti jarum yang mencari urat nadi.

"Itu bukan pemindaian energi," gumam Dr. Arif, matanya meneliti data sampingan. "Itu memindai... komposisi isotop. Jejak radioaktif. Jejak teknologi fisi."

"Memeriksa senjata nuklir?" tebak Maya.

"Atau memeriksa apakah kita melompati terlalu banyak anak tangga." Dr. Arif menarik napas dalam-dalam. "Mereka mencari pelanggaran lain. Teknologi yang bisa mengarah pada kehancuran massal atau ekspansi cepat. Mereka tidak peduli dengan fusi atau panel surya. Mereka peduli dengan teknologi yang bisa membawa kita ke bintang-bintang sebelum waktunya—atau menghancurkan kita sendiri."

Formasi kristal itu tiba-tiba berhenti. Lalu, dengan kecepatan yang membuatnya blur, ia bergerak—bukan ke arah perkotaan atau pusat industri, tapi melintasi globe, menuju sebuah lokasi terpencil di Siberia.

"Tidak," desis Dr. Arif, darahnya berdesir dingin. "Proyek 'Deep Bore'."

Itu adalah rahasia terbesar mereka. Sebuah upaya untuk mengebor kerak bumi menuju mantel, untuk memanfaatkan panas bumi dalam skala benua—sebuah lompatan langsung menuju 0.95. Dan mereka menyembunyikannya dengan lapisan singularitas pasif yang seharusnya membuatnya tidak terlihat. Tapi tampaknya tidak cukup.

"Hubungi tim di lokasi! Suruh mereka menutup semuanya! Sekarang!" teriak Maya ke ponselnya.

Tapi sudah terlambat. Umpan satelit menunjukkan formasi kristal itu melayang di atas lokasi pengeboran yang tersembunyi. Sebuah sinar biru yang lebih kuat memancar, menembus tanah, es, dan lapisan penyamaran mereka. Lalu, semuanya berhenti.

Formasi kristal itu diam selama sepuluh detik yang menegangkan.

Kemudian, ia menghilang. Begitu saja. Tidak ada warp, tidak ada ledakan. Hanya lenyap.

Komunikasi dengan tim Siberia terputus.

"Tuhan... apa yang mereka lakukan?" bisik Maya.

Dr. Arif dengan gemetar mengakses data satelit terakhir dari lokasi tersebut. Gambar termal menunjukkan... tidak ada. Suhu normal. Tidak ada ledakan. Tapi pemindai gravitasi menunjukkan sesuatu yang mengerikan: sebuah ketidakteraturan sempurna. Sebuah area di mana gravitasi menjadi nol, lalu berosilasi dengan liar. Seperti bekas luka di jalinan ruang-waktu.

"Mereka tidak menghancurkan," kata Dr. Arif, suaranya hampa. "Mereka mengkarantina. Mereka mengisolasi lokasi itu secara dimensional. Memotongnya dari sisa realitas. Itu adalah peringatan."

Ponselnya berdering lagi. Sebuah pesan teks, muncul langsung di layar meski dalam mode pesawat. Dalam bahasa Indonesia yang sempurna:

"Kami adalah Pengawas Sektor. Pelanggaran terdeteksi: upaya manipulasi geologi planet skala besar dengan teknologi terselubung. Tidak sesuai dengan jalur perkembangan Tier 0.89. Proyek telah dinetralisir. Peringatan diberikan. Laju perkembangan Anda telah diperingatkan. Kurangi kecepatan. Jangan meniru kesalahan operator terdahulu."

"Operator terdahulu," ulang Maya, menatap Dr. Arif. "Leo."

Mereka tidak hanya mengawasi Bumi. Mereka membandingkannya dengan Leo. Dengan apa yang dia lakukan.

Dr. Arif mengepalkan tangannya. Ketakutan berubah menjadi kemarahan yang membara. "Mereka memenjarakan dia. Mereka menghapus ingatan dunia tentangnya. Dan sekarang mereka memberi tahu kita untuk tidak menjadi seperti dia? Untuk tetap kecil? Untuk tetap menjadi anak-anak di taman bermain mereka?"

"Apa yang bisa kita lakukan, Arif? Mereka bisa menghapus kita dengan satu perintah!"

Dr. Arif memandangi pesan itu, lalu ke data dari Siberia—sebuah kantong realitas yang dipotong. Sebuah kubur untuk sebuah ambisi.

Dia teringat kata-kata Leo di rekaman terakhir: "Kamu harus menyembunyikan." Tapi berapa lama? Sampai kapan? Selamanya?

Sebuah ide yang berbahaya, hampir gila, mulai terbentuk di pikirannya. Jika Pengawas bisa dielakkan dengan singularitas pasif... apa yang bisa dilakukan dengan singularitas aktif? Bukan untuk menyerang, tapi untuk... berpura-pura. Untuk membuat umpan.

"Maya," katanya, suaranya rendah dan bertekad. "Kita akan mengikuti perintah mereka. Kita akan 'memperlambat'."

Dia berhenti, dan tatapannya menjadi tajam seperti baja.

"Tapi kita akan membangun sesuatu yang lain. Bukan di Bumi. Di tempat yang tidak akan mereka pikirkan untuk mencari."

"Di mana?" tanya Maya, bingung.

Dr. Arif menunjuk ke layar, ke arah bulan yang pucat di siang hari bolong.

"Di sana. Kita akan membangun di sisi jauh bulan. Dengan segala yang kita pelajari. Dan kita akan menggunakan lubang karantina mereka di Siberia... sebagai sumber daya. Sebagai pelajaran tentang bagaimana tidak terdeteksi. Dan sebagai pengingat."

Dia memandangi kota di bawahnya lagi, tetapi sekarang dengan mata yang berbeda. Ini bukan lagi tujuan akhir. Ini hanya kedok. Tahap pertama.

Perang bayangan tidak lagi hanya tentang menyembunyikan kemajuan.

Sekarang, ini tentang membangun senjata terbesar umat manusia: kesabaran.

Dan di suatu tempat di antara bintang-bintang, mungkin Leo bisa merasakannya—sebuah tekad baru yang membara di planet biru yang ditinggalkannya, sebuah tekad yang tidak akan lagi tunduk pada penjaga taman kosmik.

Bumi mungkin diperingatkan.

Tapi Bumi baru saja belajar cara membenci sang penjaga.

1
Arya Saputra
jangan-jangan ada identitas tersembunyi nih dari batu akiknya, jadi penasaran🤔
Arya Saputra
yok lah bisa otw ke peradaban tipe 1 nih
Arya Saputra
Jujur ini cerita yang layak masuk rekomendasi sih, perkembangan karakter Leo yang signifikan dari diinjak-injak bahkan dikubur lalu bangkit dengan identitas berbeda dan merubah sikap 180°, sistem kekuatan giok juga logis dibarengi cerita sains.
Arya Saputra
saya suka nih kalo ada cerita bertemakan sains🤩
Arya Saputra
awal yang lumayan bagus👏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!