Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. I Love You
Bab 14
Marina berdecak sebal sambil mengeratkan selimut menutupi bagian depan tubuhnya saat beranjak duduk. Bahkan mengedikan bahu saat tangan seorang pria mengusap punggung yang polos dan mengecup pelan bahunya yang terekspos.
“Ini terakhir ya dan jaga rahasia kalau kita pernah … ck, yang jelas jangan sampai ada yang tahu.”
“Kok gitu sih. Kita sama-sama menikmati dan membutuhkan. Jangan bersikap seolah saya jahat sama kamu,” ujar sang pria. “Kalau kata orang mah, win win solution.”
Mengabaikan kalimat itu, marina turun dari ranjang dengan selimut yang tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya untuk memungut pakaian yang dibuang sembarang saat mereka memadu kasih.
“Terserah. Tugasku di desa ini hampir selesai, setelah ini aku akan praktek di rumah sakit besar dan klinik ternama.”
“Bilang terima kasih atuh geulis (Cantik), bagaimanapun ada campur tangan saya selama kamu di Singajaya.”
Marina memakai cepat pakaian dal4m lalu dress nya menoleh pada pria yang kembali berbaring dengan selimut hanya menutupi bagian bawah tubuh.
“Terima kasih kalau aku dibantu tanpa pamrih, tapi kamu manfaatkan aku.”
“Manfaatkan kamu kalau hanya saya yang menikmati, buktinya kamu keenakan. Setiap kita bercint4 dessahan dan er4ngan kamu selalu merdu di telinga, tidak terdengar ada paksaan."
Kenyataannya memang begitu, Marina begitu menikmati sesi bercint4 mereka. Awalnya demi kemudahan bertugas di desa itu. Namun, perkenalan dengan sang Kades dan pertemuan-pertemuan mereka memberikan solusi menguntungkan.
Tidak ingin terus berada dalam jerat pria yang dikenal pemain wanita dan buaya darat apalagi Marina menyukai Asoka sejak pertama bertemu. Ingin lepas dari permainan kotor bersama Cecep Baharudin, kepala Desa Singajaya.
Sudah berpakaian lengkap dan siap pergi dari kamar penginapan itu, tapi terbersit ide dalam pikirannya. Ide bagus untuk si Kades dan juga dirinya sendiri. Marina berbalik dan bersedekap menatap Cecep yang masih berbaring menatap langit-langit kamar.
“Ada tim baru di puskes, bahkan 2 orangnya perempuan. Dekati saja mereka, kayaknya masih polos. Kamu suka ‘kan tipe cewek polos dan blo0n kayak mereka.”
Cecep terkekeh lalu beranjak duduk.
“Tidak usah mengatur dan ikut campur dengan urusan saya. Tuntaskan saja waktu tugasmu dengan baik dan jangan buat masalah apalagi bawa-bawa saya. Sampai itu terjadi, kamu yang akan rugi. Saya punya banyak bukti kedekatan kita.”
“Kamu ….” Marina mengepalkan tangannya lalu menghela nafas kasar. Niat hati ingin memanfaatkan Cecep untuk kepentingannya malah mendapat ancaman. Dia seolah mendapat jebakan batman.
Marina meninggalkan Cecep bahkan sudah sampai pintu saat pria itu berteriak.
“Terima kasih, Marina anu sem0k. Rasa maneh ngeunah pisan.” (Terima kasih, Marina yang s3k-si, rasa kamu enak banget).
Brak.
Marina mendengar itu, bukan bangga malah seperti dilecehkan. Ia membanting pintu, sampai ajudan Cecep yang menunggu di luar terkejut.
“Bilang sama bos kamu, cepat insaf dari pada masuk neraka.”
“Atuh masuk nerakanya bareng dokter kali, kan jin4hnya sama situ. Saya paling nganter sampai pintu gerbang.”
“Gil4, kalian memang gil4,” pekik Marina lalu pergi.
"Orang gil4 nuduh orang lain gil4, memang sudah gil4."
***
Asoka menguap lalu meregangkan tubuhnya yang lumayan pegal. Setelah berbincang dengan Lisa dan menggoda gadis itu lalu makan bersama, ia lanjut ke kamar untuk fokus dengan tesis. Melihat jam, hampir pukul 11 malam. Butuh ke toilet dan teh atau coklat panas sebelum dia tidur.
Membuka pintu dengan pelan, tidak ingin mengganggu penghuni rumah lainnya. Apalagi semua pintu kamar selalu berderit saat dibuka. Ruang tamu sudah gelap hanya ruang tengah dan dapur yang lampunya hidup. Dengkuran seolah berlomba dari kamar sebelah, ia menggeleng pelan membayangkan berada di kamar itu. Sudah pasti tidak akan bisa nyenyak.
“Astaga,” pekiknya mendapati Lisa duduk di kursi dapur, meringis dan tangannya memegang perut. “Kamu kenapa?”
“Sakit perut,” jawab Lisa lirih.
“Salah makan atau ….” Asoka berjongkok di depan Lisa memegang lutut gadis itu.
“Kram, lagi datang bulan.”
“Biasa minum obat?” tanya Asoka lagi dan Lisa mengangguk
“Sudah minum, tadi sore.”
“Mau aku usap, tapi belum boleh.” Asoka tersenyum dan Lisa malah cemberut lalu memukul pelan bahunya kembali meringis. “Pain killer, mau?”
“Boleh deh.”
“Tunggu sini, aku ambil dulu.”
Tidak lama ia kembali menyerahkan satu tablet pereda nyeri dosis agak tinggi. Mengambil gelas dan mengisi dengan air dan disodorkan untuk segera diminum.
“Ke kamar ya, istirahat,” titah Asoka lalu mengusap kepala Lisa. Entah kenapa suka sekali melakukan hal itu.
“Dokter mau ngapain, kok belum tidur?”
“Maunya ajak kamu ke kamar aku.”
“ish, apaan sih. Kok mesum gitu.”
“Sana masuk kamar, nanti aku khilaf. Ada apa-apa teriak aja atau lambaikan tangan ke kamera.”
“Tau ah.”
Asoka terkekeh lagi, menggoda Lisa ternyata menyenangkan. Terlihat semakin menggemaskan. “Sabar ya, beres wisuda aku halalkan kamu,” ucap Asoka dalam hati.
Kembali ke kamar setelah selesai dengan urusan di toilet dan membuat coklat hangat. Mematikan laptop lalu merapikan ke dalam ransel, persiapan untuk dibawa besok. Duduk ditepi ranjang sambil menyesap minumannya. Membuka ponsel, ternyata ada pesan yang belum terbaca.
“Ck, dia lagi.”
...0812987xxx...
Dok, kok nggak balas pesan aku?
Weekend ini ikut healing yuk. Ada tempat wisata air terjun, nggak jauh dari sini. Paling satu jam ke sana
Mengabaikan terus akan membuat Marina penasaran, Asoka harus memberikan penolakan agar wanita itu berhenti mendekat. Apalagi caranya cukup agresif.
^^^Maaf, tidak bisa. Saya sudah ada acara^^^
“Kalaupun aku mau healing, ya dengan Lisa. Sayangnya dokter Asoka. Hah, Lisa, tidak sangka kita bisa sedekat ini.” Asoka tersenyum mengingat sebelumnya hanya bisa melihat dan memandang dari jauh.
“I love you, Lisa Kanaya.”
\=\=\=\=
Author : I love you, dok, eh 😀
Rama : Ganjen, emang elo Lisa. Terus kapan adegan romantis gue
Sapri : Saya juga Thor, mau dong dijodohin
Beni : Bubar kalean(sambil mengambil sandal)
jangan-jangan si marimas mah dulu lulus dokternya cuma modal ngang kang kali🤔
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆