Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Perang di Balik Layar
BAB 15: Perang di Balik Layar
Januari 2026 seharusnya menjadi bulan perayaan bagi Matahari Food, namun fajar hari ini terasa sangat dingin dan mencekam. Kabar bohong tentang penggunaan pengawet berbahaya telah menyebar seperti api di padang rumput kering. Di depan ruko, biasanya orang mengantre untuk mengambil stok sebagai agen, namun pagi ini, hanya ada beberapa kurir yang datang untuk menanyakan pembatalan pesanan.
"Nay, ada lima agen besar dari Jakarta yang minta uang kembali. Mereka bilang pelanggan mereka takut keracunan," lapor Ranti dengan wajah pucat. Tangannya gemetar memegang tablet yang menampilkan grafik pembatalan yang melonjak tajam.
Nayla berdiri di depan jendela kaca rukonya, menatap jalanan yang mulai sibuk. Ia melihat sebuah mobil yang melambat di depan rukonya, penumpangnya menunjuk-nunjuk ke arah logo "Basreng Matahari" dengan tatapan curiga sebelum kemudian memacu kendaraannya pergi. Rasanya seperti ditikam dari belakang. Setelah semua audit ketat yang ia lalui, satu unggahan fitnah anonim bisa merusak segalanya dalam hitungan jam.
"Ini pasti kerjaan Basreng Surya atau kaki tangan korporasi raksasa itu," geram Kak Sari sambil membanting serbetnya ke atas meja. "Kita harus lapor polisi, Nay! Kita tidak bisa diam saja."
Nayla membalikkan badan. Matanya merah karena kurang tidur, tapi pikirannya tetap jernih. "Melapor ke polisi itu perlu, Kak. Tapi prosesnya lama. Di tahun 2026, vonis masyarakat lebih cepat daripada vonis hakim. Kalau kita hanya diam menunggu proses hukum, bisnis kita sudah mati duluan sebelum pelakunya tertangkap."
"Terus kita harus apa?" tanya ibunya yang ikut cemas di sudut ruangan.
Nayla mengambil ponselnya, lalu menyalakannya di atas tripod. "Kita akan buka pintu. Semua pintu."
"Maksudnya?"
"Kita akan melakukan Live Streaming selama dua puluh empat jam penuh dari dapur ini. Mulai dari saat bahan baku bakso ikan Pak Mamat datang, proses pencucian cabai oleh Ibu, penggorengan, sampai pengemasan. Kita tidak akan bicara banyak, biarkan kamera yang bicara. Biarkan orang-orang melihat sendiri bahwa tidak ada satu pun botol pengawet di ruko ini," jelas Nayla tegas.
Aksi nekad itu pun dimulai. Nayla memasang kamera di empat sudut strategis ruko. Ia juga mengundang Pak Mamat untuk memberikan testimoni langsung tentang kesegaran bakso ikannya. Bahkan, Nayla menantang siapa pun yang menyebarkan hoaks tersebut untuk datang langsung ke ruko dan membuktikan tuduhannya. Jika terbukti ada pengawet, Nayla berjanji akan menutup usahanya hari itu juga.
Siaran langsung dimulai pukul sepuluh pagi. Awalnya, kolom komentar dipenuhi dengan hujatan dan cacian.
"Penipu!"
"Pembunuh perlahan!"
"Jangan beli produk ini!"
Namun, Nayla tidak mematikan komentar. Ia membiarkan transparansi bekerja. Ribuan orang menonton saat ibunya mencuci cabai hijau satu per satu dengan tangan kosong tanpa sarung tangan plastik tebal agar bisa merasakan jika ada bagian yang busuk. Mereka melihat Bagas yang dengan teliti mengecek suhu minyak menggunakan termometer digital. Mereka melihat Ranti yang mencatat setiap gram bumbu rempah asli yang ditumbuk.
Menjelang sore, suasana di kolom komentar mulai berubah. Beberapa pelanggan setia mulai membela.
"Aku sudah makan ini setahun dan lambungku baik-baik saja."
"Lihat itu, dapurnya lebih bersih dari dapur rumahku sendiri!"
Di tengah siaran langsung, seorang pria paruh baya yang merupakan tokoh masyarakat setempat dan juga seorang dokter ahli gizi datang ke ruko. Ia datang tanpa pemberitahuan, tergerak oleh berita viral tersebut. Nayla menyambutnya dan mempersilakannya memeriksa seluruh gudang dan bahan bakunya secara langsung di depan kamera.
Setelah berkeliling selama satu jam, dokter itu berdiri di depan kamera live Nayla. "Saya sudah memeriksa semuanya. Tidak ada jejak formalin atau pengawet mayat seperti yang dituduhkan. Produk ini menggunakan teknik pengeringan minyak yang sangat baik, itulah kenapa ia bisa tahan lama secara alami. Masyarakat jangan mudah termakan hoaks."
Pernyataan itu adalah ledakan yang sebenarnya. Grafik penonton naik mencapai lima puluh ribu orang secara bersamaan. Fitnah itu justru menjadi promosi gratis paling besar sepanjang sejarah Matahari Food. Orang-orang yang tadinya tidak tahu tentang Basreng Matahari, kini menjadi penasaran dan ingin mencoba produk yang begitu berani menunjukkan dapur produksinya secara transparan.
Malam harinya, pesanan yang tadinya dibatalkan mulai masuk kembali, bahkan jumlahnya berlipat ganda. Agen-agen meminta maaf, dan masyarakat memberikan apresiasi luar biasa atas keberanian Nayla.
Nayla terduduk lemas di meja kerjanya saat siaran langsung akhirnya dimatikan pada pukul sepuluh malam. Tubuhnya sangat lelah, tapi jiwanya merasa menang. Ia telah melewati ujian api yang paling panas.
"Kamu hebat, Nay," bisik ibunya sambil memijat bahu Nayla. "Ibu tidak menyangka transparansi bisa sekuat itu."
"Tahun 2026 adalah tahun di mana kejujuran menjadi mata uang yang paling berharga, Bu," jawab Nayla pelan.
"Ketika orang mencoba menyiramkan lumpur ke arah cahaya matahari, lumpur itu tidak akan pernah sampai ke langit. Lumpur itu justru akan jatuh kembali ke wajah pengirimnya, sementara matahari tetap bersinar terang, bahkan jauh lebih terang setelah semua kotoran itu dibersihkan. Fitnah adalah ujian bagi mereka yang ragu, tapi bagi mereka yang jujur, fitnah adalah tangga menuju puncak yang lebih tinggi. Hari ini kami tidak hanya menyelamatkan bisnis, kami menyelamatkan kepercayaan."
Di luar ruko, cahaya bulan menyinari papan nama "Basreng Matahari" Dan ia tahu, perang digital hari ini hanyalah latihan untuk pertempuran-pertempuran besar di masa depan.