Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istirahat
"Saya ingin cuti satu bulan, Dewa."
Dewa mengangguk paham. Elina memang membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan dan drama panjang yang baru saja berakhir.
Malam ini, Dewa, Dirga, Bayu, Lusi, dan Luna berkumpul di rumah Elina.
"Saya ingin kalian mengurus perusahaan saya untuk sementara," lanjut Elina sambil menatap mereka satu per satu.
"Siap, Nona. Nona istirahat saja dulu. Kami akan menangani perusahaan," ucap Lusi.
Yang lain mengangguk setuju.
"Kami paham apa yang sedang Nona rasakan."
Elina tersenyum tipis. "Terima kasih. Kalian selalu ada untuk saya," ucapnya tulus. Lalu pandangannya beralih pada Dirga dan Bayu.
"Dirga, Bayu... mulai besok kalian tidak perlu bekerja di balik layar lagi. Mereka semua sudah tahu tentang kalian."
Bayu tersenyum tipis. "Baik, Nona Elina," ucapnya tenang. "Sejujurnya, bekerja di balik layar selama ini justru memudahkan kami mengamankan semua hal yang menimbulkan kecurigaan."
Dirga mengangguk setuju.
“Semua dokumen penting sudah kami rapikan, Nona. Aset, saham, hingga alur keuangan, tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan lagi.”
Elina menatap mereka bergantian.
“Mulai besok,” lanjut Bayu, nadanya profesional, “kami akan bertindak secara terbuka. Tidak ada lagi penyamaran. Semua keputusan legal akan kami ambil di hadapan direksi dan publik.”
Dirga menambahkan, suaranya datar tapi meyakinkan,
“Dan bila pihak Ares mencoba bergerak, kami sudah menyiapkan langkah hukum lanjutan.”
Elina mengangguk pelan.
“Kalian bekerja sangat rapi,” ucapnya singkat.
Bayu dan Dirga saling pandang sejenak, lalu membungkuk hormat bersamaan.
“Ini bagian dari tanggung jawab kami, Nona,” jawab Bayu.
“Dan bentuk kesetiaan kami,” sambung Dirga singkat.
“Aku percaya kalian,” ucap Elina sambil menatap mereka berdua. Lalu pandangannya beralih pada Lusi. “Lusi, maafkan saya. Pekerjaan kamu bertambah.”
Lusi langsung menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Nona. Saya masuk ke perusahaan dan menjadi asisten memang sudah siap sejak awal.”
Ia menatap Elina penuh hormat. "Saya akan menangani jadwal, koordinasi direksi, dan semua laporan yang biasanya langsung ke Nona. Selama Nona cuti, tidak akan ada satu pun keputusan penting yang terlewat."
Elina terdiam sejenak.
"Saya tahu ini berat," lanjut Lusi pelan. "Tapi Nona tidak perlu khawatir. Perusahaan ini akan tetap berjalan seperti biasa."
Ia tersenyum lagi, lebih hangat. "Dan saat Nona kembali nanti... semuanya sudah rapi."
Elina mengangguk, sorot matanya sedikit melunak. "Terima kasih, Lusi."
Lusi membungkuk sopan. "Sudah tugas saya, Nona."
Elina kini menatap Luna. "Luna, tinggal dua minggu lagi, kan? Maya harus membayar uang sewa?"
Luna mengangguk. "Iya, Nona."
"Kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Elina dengan senyum miring.
Luna kembali mengangguk. "Tentu saja, Nona. Saya sudah menyiapkan rencana," jawabnya dengan senyum yang sama.
“Good job, Luna. Saya percayakan semuanya ke kamu. Kalau kamu butuh apa pun, hubungi saya langsung,” ucap Elina.
“Siap, Nona,” balas Luna singkat.
“Oh ya, Luna, tolong carikan pembeli yang ingin membeli rumah saya ini,” lanjut Elina.
“Nona mau menjual rumah ini?” sahut Dewa, terkejut.
Elina mengangguk. “Iya, Dewa. Rumah ini sudah dinodai oleh pengkhianatan Ares, saya tidak sudi lagi menempatinya,” jelas Elina. “Untuk sementara, saya akan tinggal di apartemen.”
“Baik, Nona. Saya akan segera mencarikan pembelinya, secepatnya saya hubungi Anda,” ucap Luna.
“Dan jangan lupa carikan saya rumah baru, kalau bisa yang dekat dengan kantor,” tambah Elina.
“Baik, Nona,” jawab Luna.
Elina lalu mengalihkan pandangannya ke arah Dewa. “Dan untuk kamu, Dewa… di antara mereka semua, pekerjaan kamu akan lebih berat."
Dewa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, tangannya menyilang santai di depan dada.
“Tenang saja, Nona. Saya tidak mempermasalahkan hal ini,” ucapnya dengan nada datar. Ekspresinya tetap terkendali, nyaris tak menunjukkan emosi. “Meskipun saya tetap bekerja di belakang layar, saya pastikan semuanya aman.”
Ia menatap Elina sesaat, seolah ingin memastikan keputusannya dipahami, lalu sedikit menundukkan kepala dengan sikap hormat.
“Semua keputusan strategis akan tetap berjalan seperti biasa. Bedanya, saya yang akan memastikan siapa pun yang mencoba bergerak…” Ia berhenti sejenak, suaranya tetap tenang namun mengandung tekanan. "akan berhenti sebelum sempat menimbulkan dampak.”
Keheningan sesaat tercipta, membuat kata-katanya terasa semakin tegas.
“Semua laporan akan saya kirim ke email Anda setiap saat,” tutupnya mantap.
Dewa melanjutkan pelan,
“Dan soal Ares, dia boleh merasa bebas sekarang. Tapi setiap langkahnya akan saya pantau.”
Ia mengangguk sekali lagi.
“Nona istirahat saja. Yang kotor, biar kami yang urus.”
Elina mengangguk pelan, menatap mereka satu per satu. “Saya percaya kalian.”
Mereka semua menunduk hormat.
“Kepercayaan itu tidak akan saya sia-siakan, Nona,” ucap Dewa mewakili yang lain.
♡♡
Sementara di kediaman Ares…
Tok! Tok!
“Ares! Maya! Buka pintunya!” teriak Amelia dari luar kamar.
Di dalam, Ares dan Maya masih terlelap di balik selimut. Maya membuka mata perlahan, suara Amelia mengganggu tidurnya.
“Mas, bangun. Mama teriak-teriak terus,” ucap Maya dengan nada kesal.
“Kamu saja yang buka, sayang. Mas masih ngantuk,” jawab Ares dengan suara serak.
Maya menghela napas kasar, lalu turun dari ranjang dan membuka pintu.
“Ada apa, Mah?” tanya Maya.
“Ini sudah pagi, May. Mama dan Papa mau sarapan,” ucap Amelia.
“Ya terus kenapa? Kalau Mama dan Papa mau makan, ya makan saja,” jawab Maya dengan wajah masih mengantuk.
“Heh! Kamu pikir Mama pembantu? Kamu masak, cepat!” perintah Amelia.
“Aku malas, Mah. Maya ngantuk, capek. Kalau Mama lapar, pesan saja,” sahut Maya, lalu langsung menutup pintu kembali, membuat Amelia geram.
“Maya! Heh! Kurang ajar…”