NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Akar yang Beracun

Bab 6: Akar yang Beracun

​Pagi itu, rumah mewah yang biasanya tampak berkilau kini terasa seperti makam bagi Arini. Setelah Reihan tertidur dalam kondisi mabuk dan hancur, Arini tidak menunggu matahari terbit sepenuhnya. Dengan mata sembap dan tangan yang masih gemetar, ia mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam tas kecil. Namun, tujuannya bukan untuk melarikan diri ke hotel atau tempat persembunyian, melainkan ke satu-satunya tempat yang menjadi sumber segala racun ini: kediaman ayahnya, Bapak Surya Atmadja.

​Arini berharap menemukan pembelaan, atau setidaknya bantahan bahwa ayahnya tidak sekejam itu. Namun, harapannya hancur berkeping-keping saat ia tiba di rumah sang ayah.

​Surya Atmadja sedang duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh koleksi barang antik dan cerutu yang aromanya memenuhi ruangan. Ia bahkan tidak berdiri saat melihat putrinya masuk dengan wajah berantakan.

​"Kau mengganggu waktuku, Arini. Ada masalah apa lagi dengan suamimu? Apa jatah bulanannya kurang?" tanya Surya tanpa sedikit pun nada kekhawatiran.

​Arini meletakkan ponsel lama milik Reihan di atas meja kerja ayahnya dengan suara keras. "Kenapa Ayah melakukannya? Kenapa Ayah mengkhianati Hendra Wijaya demi saham Dirgantara?"

​Surya menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap ponsel itu, lalu menatap Arini dengan tatapan dingin dan datar. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan.

​"Oh, jadi Reihan akhirnya membiarkanmu melihat sampah masa lalu itu?" Surya menyandarkan tubuhnya di kursi kulit, menghisap cerutunya perlahan. "Dengar, Arini. Di dunia ini, hanya ada dua jenis orang: mereka yang memegang tali kekuasaan, dan mereka yang tercekik olehnya. Hendra itu terlalu lembek. Dia lebih peduli pada 'etika' daripada angka. Jika aku tidak mengambil langkah itu, kita tidak akan punya rumah ini. Kau tidak akan bisa sekolah di luar negeri atau menikah dengan pria berpotensi seperti Reihan."

​"Tapi dia sahabatmu, Ayah! Dia bunuh diri karena perbuatanmu!" jerit Arini, suaranya parau karena rasa tidak percaya.

​"Kematian adalah risiko bisnis," jawab Surya dingin, suaranya setajam silet. "Dan kau jangan sok suci. Kau menikmati setiap fasilitas yang kuberi dari uang itu, bukan? Kau memakai perhiasan mahal dan tinggal di rumah besar itu karena pengkhianatan yang kau sebutkan tadi."

​Arini merasa mual. Pria di depannya bukan lagi ayah yang ia kenal, melainkan monster yang menyembah digit di layar komputer. "Lalu kenapa Ayah membiarkanku menikah dengan Reihan? Ayah tahu dia membawa dendam! Ayah menjadikanku tumbal!"

​Surya tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak berperasaan. "Tumbal? Tidak, sayang. Itu adalah investasi. Aku tahu Reihan pria yang ambisius. Dengan membiarkanmu menikah dengannya, aku memastikan kekuatannya tetap berada dalam jangkauanku. Jika dia ingin membalas dendam pada Dirgantara, dia harus melalui aku dulu. Dan selama dia mencintaimu—atau setidaknya terobsesi padamu—dia tidak akan berani menghancurkan aku sepenuhnya."

​Ia berdiri, mendekati Arini dan mencengkeram dagu putrinya dengan kasar. Matanya memicing. "Jangan berani-berani kau pergi dari Reihan. Jika kau meninggalkannya, posisiku di perusahaan akan goyah. Nilai sahamku bisa anjlok kalau skandal ini pecah. Kau harus tetap di sana, jadilah istri yang baik, layani dia, buat dia tetap terikat padamu. Aku tidak peduli jika dia memukulmu atau mengabaikanmu, yang penting uang tetap mengalir."

​"Kau gila, Ayah... kau benar-benar iblis," bisik Arini, air mata kemarahan mengalir di pipinya.

​"Aku adalah realitas, Arini. Pergilah pulang. Perbaiki penampilanmu. Jangan tunjukkan wajah menyedihkan ini di depan klien-klien kita malam ini," Surya mendorong Arini menjauh, seolah putrinya hanyalah aset yang baru saja mengalami penurunan nilai.

​Arini kembali ke rumahnya dengan jiwa yang benar-benar kosong. Ia merasa terjepit di antara dua pria yang sama-sama egois: suaminya yang terobsesi dengan dendam, dan ayahnya yang hanya peduli pada kekayaan.

​Saat ia memasuki kamar, ia menemukan Reihan sudah bangun. Reihan berdiri di balkon, menatap kosong ke arah kota. Ia sudah kembali mengenakan setelan jas lengkap, seolah-olah kehancurannya semalam tidak pernah terjadi.

​"Dari mana kau?" tanya Reihan dingin.

​"Dari rumah ayahku," jawab Arini datar.

​Reihan berbalik, matanya berkilat tajam. Ia berjalan mendekat, menyudutkan Arini ke pintu kamar yang tertutup. Ia bisa mencium aroma cerutu Surya yang tertinggal di baju Arini. Dengan gerakan kasar, Reihan menarik kerah baju Arini, menghirup aroma itu dengan kemarahan yang meluap.

​"Kau mengadu padanya? Kau mencari perlindungan pada pria yang membunuh ayahku?!" Reihan membentak, suaranya bergema di ruangan itu.

​"Dia tidak peduli padaku, Reihan! Dia sama sepertimu! Kalian berdua hanya melihatku sebagai angka, sebagai alat!" Arini berteriak balik, keberaniannya muncul dari titik terendah keputusasaannya.

​Reihan mencengkeram pinggang Arini, menariknya begitu rapat hingga Arini bisa merasakan detak jantung suaminya yang liar. "Kalau begitu, kau milikku sekarang. Bukan miliknya."

​Reihan mencium Arini dengan penuh kekerasan, sebuah klaim kepemilikan yang menyakitkan. Tangannya merayap dengan posesif, seolah ingin menghapus jejak ayahnya dari keberadaan Arini. Gairah itu terasa seperti api yang membakar hutan—destruktif dan tanpa ampun.

​"Jangan pernah pergi dariku lagi, Arini," bisik Reihan di sela-sela napasnya yang memburu, suaranya terdengar seperti ancaman sekaligus permohonan yang gelap. "Meski aku harus mengurungmu di rumah ini, kau tidak akan kembali pada pria itu."

​Di tengah kemelut gairah dan kebencian itu, Arini menyadari satu hal yang paling menyedihkan: ia mencintai seorang monster, dan ia dilahirkan dari seorang iblis. Tidak ada jalan keluar yang bersih dari labirin berdarah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!