Menjadi penanggung jawab atas kesalahan yang tidak dia lakukan, itulah yang harus dilakukan oleh Arumi. Menanggung luka atas goresan yang tak pernah dia ciptakan. Terlebih lagi orang yang menyebabkan lukanya adalah lelaki yang dia cintai. Setiap pembelaan yang dia ucapkan hanya dianggap omong kosong. Kekuasaan membungkam semuanya.
Bintang, polisi tampan yang menangani kasus kematian adik kandungnya sendiri. hingga sebuah fakta dia dapatkan sehingga memaksanya untuk memilih antara cinta dan keluarga.
Pengorbanan, cinta, air mata, dan siksa akan menjadi satu dalam cerita ini. selamat membaca
ig : @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
HAPPY READING
"Saya berharap pak polisi semua dijauhkan dari orang-orang seperti saya," Ucap arumi.
"Tentu. Mengurus tersangka hanya akan membuat kami susah," Jawab angkasa.
Arumi tersenyum miring. "Bukan karena itu," Jawab arumi.
Arumi menoleh pada bintang. "Karena orang seperti saya tidak pantas untuk orang zalim seperti kalian!" ucap arumi tanpa ragu. Untuk beberapa saat bintang dan arumi saling panda. Hingga akhirnya arumi memilih untuk memutuskan kontak mata mereka. Tiga polisi lainnya hanya bisa terdiam mendengar apa yang arumi katakan. Sedangkan angkasa yang melihat itu mencerna apa yang dikatakan arumi. Melihat bagaimana interaksi bintang dan arumi menimbulkan banyak prasangka dalam benak angkasa.
Setelah apa yang dikatakan arumi, ketiga polisi itu hanya berbincang mengenai pekerjaan dan kasus lain yang sedang mereka tangani juga. Sedangkan bintang hanya sesekali menyahut. Matanya juga Nampak mencuri pandang melihat apa yang dilakukan oleh arumi. Tapi Wanita itu hanya diam dengan tangan di borgol dan pandangan kosong ke depan.
…..
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mobil polisi itu sampai di kantor polisi tempat bintang bertugas. Arumi turun dari mobil polisi dengan di pegangi lengan kiri dan kanannya oleh bintang dan angkasa.
“langsung ke ruang introgasi aja, sa,” ucap bintang yang dianggukki Angkasa.
“ayo,” ajak angkasa sedikit menarik lengan arumi agar Wanita itu tidak lambat.
Berjalan melewati beberapa ruangan dan Lorong akhirnya aludra dibawa ke dalam sebuah ruangan kecil yang hanya berisi satu meja dan dua kursi. Sedangkan penerang ruangan itu hanya satu cahaya lampu kecil.
“duduklah,” ucap angkasa yang dilakukan arumi dengan patuh.
Arumi ditinggal sendiri dalam ruangan itu. Sedangkan bintang Bersama angkasa sudah keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat.
Tangan arumi terulur mengusap perutnya. Air matanya tiba-tiba saja jatuh tanpa bisa dia cegah. Memikirkan apa takdir yang akan dia terima selanjutnya membuat Wanita itu gamang. Mungkinkah dia sanggup atau tidak? Arumi mungkin bisa menyanggupkan diri. Tapi calon anak dalam perutnya? Semoga kamu selalu sehat dan bertahan di dalam Rahim bunda ya, nak. Batin arumi dengan harapan besar atas kesehatan calon anaknya.
Setengah jam menunggu, pintu ruangan itu terbuka. Seorang polisi perempuan masuk dengan wajah santai namun Nampak sangat sombong bagi arumi.
“canti-cantik tapi kau pembunuh, ya,” ucap polisi Wanita itu sambil duduk di kursi depan arumi yang dibatasi meja.
Arumi hanya diam. Dia tidak tahu harus bersikap apa saat menghadapi situasi seperti ini. Ini adalah kali pertama bagi arumi berhadapan dengan polisi.
“siapa namamu?” tanya polwan dengan nama YUNI di seragam coklatnya.
“Saya arumi,” jawab arumi sekenanya.
“lengkap?” tanya Yuni lagi dengan nada suara sedikit kesal.
Arumi terdiam. Apa memang polisi seperti ini? Apa memang seorang polisi angkuh begini? Mereka memperlakukan seseorang seolah mereka adalah orang yang paling benar.
“apa kau tuli atau bisu?” tanya yuni lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari arumi.
Arumi menggeleng. “saya arumi tirani,” jawab arumi jujur.
“kau yang membunuh adiknya Bintang?” tanya yuni langsung.
“bintang?” beo arumi.
Yuni mengangguk. “apa dia salah satu polisi disini?” tanya arumi lagi memperjelas kenyataan mengenai bintang.
“ya,” jawab yuni singkat.
“jadi kau yang membunuh adiknya bintang?” tanya yuni lagi dengan tegas.
Arumi dengan cepat menggeleng.
“cepat sekali gelengan kepalamu itu, ya,” ucap yuni dengan duduk menyamping namun badannya tetap menghadap arumi.
“aku tidak membunuh siapa-siapa,” ucap arumi menatap yuni berani.
“benarkah? Lalu kenapa kau Nampak ketakutan begitu?” tanya yuni mendekatkan wajahnya agar dapat menatap arumi lebih dalam mengamati bola mata Wanita itu.
“siapa yang tidak akan takut jika berhadapan dengan polisi? Aku hanya orang kecil yang takpernah terhitung keberadaanya, aku tak punya kekuasaan sehingga sangat berani berhadapan dengan polisi,” jawab arumi sebisanya. Wanita itu hanya ingin menunjukan keberaniannya agar tidak semakin ditekan dengan pertanyaan yang bahkan sama sekali tidak dia ketahui.
“kau merendahkan kami?” tanya yuni lagi.
Arumi menggeleng. “aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan dan aku ketahui,” ucap arumi menjawab.
“apa kau yang membunuh adiknya bintang?” tanya yuni lagi.
“tidak,” jawab arumi yakin.
“kau mengenal Kintani?”
Arumi menggeleng. “aku tidak pernah punya teman yang bernama Kintani,” jawab arumi jujur.
“kau tidak mengaku?” tanya yuni lagi.
“tidak ada yang perlu aku akui,” jawab arumi tegas.
Yuni terkekeh pelan. “baiklah. Untuk saat ini kau mungkin akan diperlakukan lembut. Tapi jika nanti kau masih tetap tidak mengaku, maka aka nada sedikit paksaan hingga kau mengakui perbuatanmu,” ucap yuni berdiri dan berjalan keluar dari ruang introgasi itu.
Arumi menghela nafas pelan. Kini dia kembali sendiri dalam ruangan itu. Hingga beberpa menit datang dua orang polisi Wanita dan membawa arumi keluar dari ruang introgasi itu.
…..
Bintang duduk diruangannya dengan perasaan gusar. Tapi lelaki itu harus tetap terlihat tenang. Dia meyakinkan diri agar tak terpengaruh dengan wajah sendu arumi dan juga cintanya untuk Wanita itu. “takdir jahat sekali. Kenapa harus Wanita yang aku cintai menjadi pelaku kesedihan keluargaku? Kenapa harus arumi?” gumam bintang dengan badan yang menyandar pada sandaran kursinya.
Saat asik dengan lamunannya, ponsel dalam saki jaket kulit bintang berdering. Bintang langsung mengambilnya dan tanpa pikir panjang langsung menggeser ke tombol hijau.
“Iya Mi,” jawab Bintang. Ya, yang menelpon bintang adalah ibunya.
“kamu bisa pulang hari ini? Ada hal penting yang mami dan daddy bicarakan dengan kamu, nak,” ucap mami bintang lembut.
Bintang menghela nafas pelan. Dia sangat tahu apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya. Pasti nenek dan kakeknya sudah memberitahu mengenai penangkapan ini. “iya, mi. bintang akan pulang dalam dua jam,” jawab bintang.
“baiklah. Mami dan daddy menunggumu,” jawab mami bintang dan memutus sambungan telepon mereka.
Bintang menghela nafas Lelah. Dia yakin dengan apa yang kini dia lakukan. “siapapun itu, yang Namanya keadilan harus tetap diberikan. Apalagi adikku yang kehidupannya dipaksa berakhir oleh kamu, arumi,” gumam bintang meyakinkan dirinya.
Ketukan di pintu ruangan bintang mengalihkan pandangannya. “Bagaimana?” tanya bintang menatap yuni yang kini duduk di kursi yang berseberangan.
Yuni menggeleng. “aku tidak yakin jika Wanita polos seperti itu melakukan pembunuhan,” jawab yuni mengutarakan pemikiraanya.
Bintang terkekeh pelan. Polos? Bahkan dia dan arumi sudah melakukan tahap pacaran melebihi batasnya. Apakah itu bisa dianggap polos? Dan mereka melakukanya bukan karena terpaksa. Apakah itu bisa dinamakan polos? Sungguh, bagi bintang arumi hanya gadis jahat yang mengancurkan kehidupan adiknya dan merusak kebahagiaan keluarganya.
“jangan menilai orang dari luarnya saja. Yang polos itu terkadang lebih mematikan.”
...****************...