Candy Selsha Bailey, seorang gadis cantik yang hidupnya tidak seindah namanya. Dari bayi sampai sekarang ia harus terus memakan obat-obatan agar bisa sembuh, punya tubuh yang sangat lemah, orang tua yang strict parents menjadikan hidupnya tidak bebas, nilai adalah hal yang harus ia pertahankan karena kalau tidak ia akan di marahi oleh ayahnya, masalah selalu datang menghampirinya membuat ia tidak tenang, rasa menyesal yang terus melingkupi relung hatinya membuat ia hidup dengan rasa bersalah, dan semenjak kejadian itu ia tidak pernah mempunyai teman yang benar-benar teman.
"Tuhan, kenapa hidup aku kayak gini? kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? aku lelah Tuhan," ucapnya di ruangan yang sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echaalov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hari senin seperti biasa para murid harus melaksanakan kegiatan upacara bendera. Upacara sudah di mulai para murid berbaris rapi sesuai dengan kelasnya.
Upacara di mulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, lalu pengibaran bendera merah putih dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta, pembacaan UUD tahun 1945, pembacaan Pancasila yang di ikuti seluruh murid, lalu ini adalah bagian paling tidak di sukai oleh para murid yaitu amanat.
Guru yang menyampaikan amanat terlihat memberikan nasihat pada para muridnya.
"Sebagai siswa kalian tidak boleh melanggar aturan, dengan mematuhi aturan kalian bisa membiasakan diri untuk hidup disiplin..." Guru itu terus memberi nasihat.
Dia antara para murid ada yang mendengarkan, ada yang mengobrol, ada yang mengantuk, dan ada juga yang pusing karena matahari mulai terik. Candy terlihat memegang kepalanya beberapa kali, dan itu di sadari oleh Naysa yang baris di belakangnya.
"Sesel kamu gakpapa? Pusing ya? " tanya Naysa berbisik takut terdengar oleh guru yang mengawasi mereka di belakang. Guru itu bertugas untuk menegur murid yang mengobrol.
"Aku gakpapa cuman sedikit pusing aja," balas Candy dengan nada yang lesu.
"Kalau udah gak kuat kasih tahu ya aku akan kasih tahu ke guru kalau kamu sakit," tutur Naysa.
"Iya," ucap Candy pelan.
Saat ini kepalanya terasa berputar-putar saking pusingnya. Rasanya kepalanya akan meledak, tidak begitu sih ini pikiran Candy yang terlalu berlebihan.
Lama kelamaan ia semakin pusing, namun Candy tetap masih bisa berdiri tegak.
Aduh pusing banget, masih lama ya amanatnya? Kenapa gak pingsan aja sih? Kan aku pengen nyoba pingsan, tapi selama ini meski aku pusing, aku gak pernah pingsan. Padahal aku ingin pingsan
Pikiran absurd terus memenuhi otak Candy. Tak lama kemudian amanat yang panjang kali lebar itu akhirnya selesai. Setelah itu di lanjutkan oleh menyanyikan lagu-lagu nasional lalu pembacaan doa. Akhirnya upacara selesai, Candy menghembuskan nafasnya ia bersyukur akhirnya upacara selesai.
Setelah itu para murid masuk ke kelas masing-masing. Dan di lanjutkan oleh kegiatan belajar mengajar.
"Pelajaran di cukupkan sekian, anak-anak jangan lupa kerjakan tugas yang ibu kasih, silahkan beristirahat," ucap Bu Khansa - Guru PAI.
Para murid berhamburan ke kantin untuk mengisi perutnya. Candy dkk tidak ke kantin karena membawa bekal mereka duduk berhadapan dan mulai menyantap makanannya.
Saat sedang makan ketenangan mereka di ganggu oleh Silvi yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
"Kalian punya ini gak? " Silvi memamerkan sebuah ponsel.
Candy melihat sekilas lalu kembali fokus memakan bekalnya. Merasa tidak di dengar Silvi kembali berbicara cukup keras agar semua orang bisa mendengarnya.
"Aku baru di kasih HP baru sama Mami dan Papi. Keluaran terbaru lagi rakyat jelata kayak kalian gak mungkin punya sih," ucapnya tertawa pelan. Para murid yang mendengar itu menatap Silvi kesal meski ada tatapan iri juga. Tapi lebih dominan tatapan kesal, benci, dan marah. Mendengar Silvi yang menghina mereka rakyat jelata.
"Kalian iri ya bilang aja nanti aku kasih pinjam deh," ucap Silvi dengan nada sombongnya. Tania yang sudah geram akhirnya akan bicara.
"Gak usah pamer deh, kamu kira kita akan iri gitu? enggak ya, buat apa iri cuman karena itu," ujar Tania.
"Kamu marah pasti kamu iri kan gak usah malu deh Tania," Silvi bersedekap dada angkuh.
"Silvi kamu gak ada kerjaan ya? " ucap Candy yang sedari tadi diam.
"Aku cuman kasih liat aja, itu mah kalian aja yang cemburu dan iri liat HP aku," ucap Silvi.
"Silvi kamu gak sadar apa? Perbuatan kamu itu ngelanggar aturan sekolah, ke sekolah di larang bawa HP kamu malah sengaja bawa HP, Oh atau kamu mau aku aduin ke Bu Rosa biar HP kamu di sita? " Candy mengucapkan itu sambil tersenyum.
"I-itu a-aku gak sengaja bawa HP," ucap Silvi gugup ia baru menyadari kesalahannya. Bagaimana ini ia takut HP nya akan di sita, nanti ia akan di marahi oleh Mami dan Papi nya.
Melihat Silvi yang gugup, Candy semakin ingin membuatnya ketakutan HP nya di sita.
"Teman-teman Silvi bawa HP tuh kita laporin gak ya ke Bu Rosa? " tanya Candy menatap semua orang seakan-akan meminta pendapat mereka.
"Bilangin aja."
"Iya dia kan melanggar aturan sekolah, ya harus di beri hukuman."
"Laporin aja ke Bu Rosa."
"Mau laporkan apa ke Ibu? "
Saat semua murid sedang mengejek Silvi tiba-tiba Bu Rosa datang. Bu Rosa berdiri di depan pintu.
"Bu, Silvi bawa HP ke sekolah," adu Naysa. Ia melihat Silvi yang berkeringat dingin.
"E-enggak Bu a-aku gak bawa HP," gugup Silvi. Bu Rosa menatap Silvi curiga.
"Silvi HP nya kasih ke Ibu kalau kamu gak mau kasih, Ibu akan kasih kamu hukuman berat," ujar Bu Rosa.
"Ini Bu," karena takut di berikan hukuman berat akhirnya Silvi menyerahkan HP nya.
"Nanti pulang sekolah ke ruang guru dulu," ucap Bu Rosa.
"Iya Bu," jawab Silvi.
Setelah pembicaraan tentang Silvi selesai. Bu Rosa menatap Gerald, sebenarnya sedari tadi Bu Rosa ingin berbicara kepada Gerald tapi ia tidak tega.
"Gerald pakai tas kamu, hari ini kamu pulang lebih awal," tutur Bu Rosa. Bu Rosa terlihat gelisah.
"Emang ada apa Bu? " tanya Gerald bingung.
"Turuti saja perkataan Ibu Gerald." Bu Rosa terlihat terburu-buru.
"Baik Bu," Gerald membereskan alat tulisnya, memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
"Kenapa Rald? " tanya Harrel penasaran. Gerald hanya mengedikkan bahunya tidak tahu.
Ia pun pergi mengikuti Bu Rosa. Setelah kepergian Gerald banyak orang yang bertanya kepada Harrel.
"Kenapa Gerald pulang lebih awal? "
"Ada sesuatu kah? "
"Tumben banget, apakah terjadi sesuatu? "
"Aku gak tahu, Gerald juga kelihatan gak tahu. Kalian jangan banyak nanya deh. Sana pergi duduk di bangku kalian masing-masing," usir Harrel ia menatap tidak suka teman-temannya yang kepo.
Di satu tempat di meja lain, lebih tepatnya di meja Candy dan teman-temannya.
"Puas banget hari ini," ujar Tania.
"Puas kenapa? " tanya Tyra.
"Puas lihat Silvi malu dan bakal di hukum sama Bu Rosa karena telah melanggar peraturan," jawab Tania tersenyum puas.
"Iya aku juga puas banget ngeliat wajah Silvi yang ketakutan," ujar Naysa.
"Kalian ngeliat gak tadi wajah Bu Rosa kayak gelisah gitu? " tanya Candy.
"Apa terjadi sesuatu ya? Bu Rosa juga keliatan buru-buru pas nyuruh Gerald pulang," ujar Tyra.
"Kayaknya Bu Rosa mau ngajak Gerald ke suatu tempat," ucap Naysa.
"Semoga aja bukan hal yang buruk," ucap Tania dan di angguki oleh mereka semua.
Izin yaa