TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Mataku mengerjab pelan saat merasakan usapan-usapan lembut di pipi serta punggungku. Aku jelas melihat Sean tersenyum hangat padaku sambil terus mengusapiku.
"Morning. Tidurmu nyenyak?" tanyanya menatapku lembut. Bagaimana aku bisa tidur nyenyak? Badanku seluruhnya pegal dan kaku.
"Tidak." jawabku sambil menggeleng. "Kau ingin istirahat lagi?" tanyanya sangat-sangat lembut, seperti berbicara pada anak kecil yang menangis karena tersesat.
Aku menggeleng tak setuju. "Aku harus bekerja." ucapku. Aku tau tubuh atasku masih tak tertutupi sehelai benangpun, oleh karena itu aku masih meringkuk di bawah selimut membiarkan Sean memelukku.
Di kepalaku sudah sangat banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada pria ini. Terutama, bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamarku. Apa aku tanyakan sekarang?
"Sean." panggilku lembut.
"Hmmm.." dehemnya masih tetap menatapku dengan mata teduhnya. Pria di depanku saat ini, bukan Sean yang selama ini menatapku dengan tatapan mengerikan. Sean yang sekarang dihadapanku, seakan orang yang berbeda dari hari-hari yang sebelumnya.
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku?" tanyaku ragu-ragu, takut membuatnya langsung berubah menjadi Sean yang mengerikan.
Sean menatapku lekat. "Mudah saja jika kau pemilik kawasan ini."
What? Apa dia bilang? pemilik? Apa seluruh Kawasan Elit ini miliknya? Jadi maksudnya, dia menggunakan kekuasaannya untuk dapat masuk ke rumahku dengan sesuka hati. Pria ini memang baj*ngan.
"Kamu pemiliknya?" tanyaku dengan wajah tak percaya.
"Iya." jawabnya singkat. Hehhh, dia pasti meretas sistem rumahku dan mengetahui seluruh kode pintu masuk maupun kamar.
"Lalu bagaimana dengan Kakek dan Nenekku?" tanyaku lagi. Dia bisa masuk ke sini lewat darimana?
"Kakek-Nenek serta pembantumu selalu sudah tidur jika aku datang. Jadi, mereka tidak akan tau." jawab Sean. Ahh iya juga, dia selalu datang saat malam hari, di mana pastinya kami semua sudah terlelap dalam mimpi masing-masing.
"Lalu bagaimana sekarang? Kamu bagaimana ke luarnya? Kakek dan Nenek pasti sudah ada di meja makan." ucapku panik mengingat bahwa pagi hari pasti sean akan susah keluar dari sini.
"Tenanglah sayang! Sekarang kamu mandi! Aku akan menjemputmu nanti. Mengerti?" aku mengangguk nurut. Huh... Semua ini agar pria ini tidak kembali mencoba melecehkanku.
Aku akan bersikap patuh padanya, menjadi wanita murahan agar dia mencampakkanku. Aku akan menguras uangnya dan membuatnya menyesal sudah bermain denganku.
Setelah mandi aku tak menemukan Sean di manapun, dia seakan pergi tertelan bumi. Bagaimana dia keluar? Apa dia keluar melewati nenek dan kakek?
Aku bergegas memakai pakaianku dan ke luar menuju ruang makan. Di sana aku jelas melihat nenek-kakek dan bibi bersikap seperti biasanya. Tidak ada yang aneh.
"Nenek merasa ada yang lewat nggak tadi?" tanyaku dengan senyum buatan serta kekehan tak iklhas. Apa Sean melewati nenek dan kakekku?
"Kamu ngomong apaan sih Vale? Udah buruan sarapan!" ucap nenekku sambil menatapku heran. Sepertinya Sean tidak ke luar dari sini, jadi dia ke luar dari mana?
***
Aku sekarang sudah berada di dalam mobil bersama Sean yang duduk tenang di sebelahku. Saat aku selesai mandi, aku bingung saat tak menemukannya di manapun. Dan saat aku sarapan bersama kakek-nenek, mereka tetap bersikap seperti biasanya, begitupun juga bibi.
Dan Sean benar-benar datang menjemputku dengan mobilnya dan ia sudah rapi dengan setelan kantornya. Kami hanya duduk diam di dalam mobil dan aku mengedarkan pandanganku pada jendela mobil.
Sejujurnya, aku malas berbincang dengan Sean. Bahkan, aku tak suka berduaan di dalam mobil seperti ini. Aku sangat suka saat dia tak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Namun....
"Kenapa diam sejak tadi?" tanyanya.
Terserahku, ini mulutku. "Aku pikir kamu sedang tidak ingin bicara." jawabku sambil menoleh menatapnya yang ternyata juga menatapku. Pikiran tak selaras dengan ucapan yang kukeluarkan.
"Jangan menghiraukanku! Aku tak suka di hiraukan." ucapnya dengan mata tajamnya lagi.
Aku suka kau tak muncul di depanku. "Ya, aku tak akan menghiraukanmu lagi." jawabku lagi dengan nada pasrah. Aku tak bisa menolak dan mengeluarkan apa yang sebenarnya otakku katakan.
"Datanglah ke ruanganku saat makan siang nanti!" ucapnya sambil mengusap pipi dan kepalaku lembut.
Tidak mau dasar sean jelek. "Baiklah." jawabku lagi dengan nada patuh. Kulihat wajah Sean seakan puas melihatku sangat patuh dan tak memberontak.
Setelah kupikir-pikir apa dia melakukan ini karena aku sudah menendang barang berharganya sebanyak dua kali? Tapi dia tak pernah mengungkit hal itu. Apa karena aku mengacungkan jari tengahku padanya? Memangnya kenapa jika aku mengacungkannya?
Aku menggeleng mengenyahkan semua pikiranku tentang pria ini. Bagaimanapun juga aku harus menjalankan rencanaku agar dia ilfeel padaku dan segera bosan denganku, lalu meninggalkanku. Menjadi wanita murahan??? Hehh... Aku bisa akting kok di saat genting seperti ini.
Cup
Aku terkesiap saat merasakan kepalaku ditarik dan Sean mengecup lembut pelipisku.
"Apa yang sedang dipikirkan kepala cantikmu itu?" tanyanya menatapku hangat namun mengintimidasi.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan designku yang belum selesai." jawabku dengan senyum tipis tak ikhlas.
"Hanya itu?" tanyanya lagi menatapku menyelidik. Aku mengangguk dan mencoba tersenyum begitu tulus. Akhirnya Sean balas tersenyum padaku dan menggenggam tanganku selama perjalan menuju kantor.
"Sudah sampai." ucapnya.
Akhirnya mobil Sean berhenti tepat di depan lobi. Aku bergegas mengamit tasku, lalu membuka pintu mobil hingga sebuah tangan mencekalku dan menarikku padanya.
Aku menatap Sean yang menarikku, lalu menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Ada apa?" tanyaku heran.
"Kau tidak melupakan sesuatu sayang?" tanyanya menatapku dengan wajah tajam, seakan menyuruhku mengingat sesuatu.
Keningku berkerut, lalu tanganku merogoh tas yang kubawa untuk mengecek barang bawaanku. "Tidak. Semuanya sudah ada disini." jawabku sambil menepuk tas yang kugandeng.
"Kau yakin? Kau tidak melupakan apapun sayang?" tanyanya lagi dan matanya semakin menyipit menatapku.
Di saat seperti ini aku harus bisa memutar otakku untuk kreatif, memikirkan apa jawaban yang diinginkan sean.
"Jangan lupakan bibirku ini! Kamu harus mengingatnya selalu!" ahhh... Apa ini? Sean mengucapkan ini saat aku berada di ruangannya.
"Apa ini?" tanyaku menatap Sean dengan wajah ragu, lalu mendekatkan wajahku padanya dan mengecup bibirnya singkat.
Sean tersenyum puas padaku dan tangannya terulur mengelus kepalaku.
"Benar. "Ucapnya senang lalu menarik kepalaku lagi dan meraih bibirku, melumatnya, menghisap dan menggigit kecil. Bibirku yang sakit semakin sakit dengan lumatannya saat ini. Huhhhh.... Ini akan menjadi sangat panjang dan aku hanya bisa pasrah menerima tiap lumatannya.
***
"Melanie!"
"Vale." Melanie berlari ke arahku setelah aku memanggilnya. Dia memelukku singkat, lalu menatapku dengan senyuman.
"Bagaimana hubungan kamu sama Presdir?" tanyanya dengan raut ingin tau. Aku melongos malas sambil melangkah masuk.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya." jawabku malas.
"Serius?" tanya Melan antusias.
"Iya. Untuk apa juga aku berhubungan dengan pria itu." aku mendengus malas saat wajah Sean kembali terngiang di otakku. Bahkan sentuhannya di bibirku masih sangat terasa saat ini. Bagaimana bibirnya yang panas membelai bibirku, ******* seluruh mulutku, membelit lidahku dan menghisap sampai menggigit bibirku ganas.
"Bibir kamu tuh bengkak, berapa lama kamu dicium sama Pak Bos sampai segitunya?" tanya Melan yang membuatku terkesiap kaget. Apa begitu kentara? Sampai-sampai Melanie mengetahuinya.
"Apa bengkaknya sangat kelihatan?" tanyaku berbisik pada Melan. Bagaimanapun aku takut jika orang lain mendengar ini.
"Ya, sangat kelihatan. Pak Bos lagi kesurupan ya sampai bibir kamu habis gitu?" aku melongos kesal mendengar ucapan Melan. Iya dia kesurupan iblis napsuan. Pria itu memang benar-benar seperti orang kesurupan jika menciumku.
"Bibir kamu luka, bibir bawah kamu juga bengkak. Pak bos ngelumatnya kayak nggak ada hari esok aja." tambah Melan lagi. Aku menonjok pelan bahunya karna perkataan yang dia lontarkan begitu frontal. Bagaimana jika orang lain mendengar?
"Kamu ngomongnya pelan-pelan dong!" ucapku sambil menutup mulutku dengan telunjuk, mengisyaratkan agar Melanie bicara bisik-bisik saja.
"Ya habisnya aku heran, Pak Bos kayak tergila-gila gitu sama kamu. Kamu nggak pernah ngelakuin sesuatu yang buat Pak Bos ngelirik kamu?" tanya Melan. Benar juga, aku merasa tidak pernah melakukan apapun untuk menarik Bos besar seperti Sean agar melihat diriku.
"Tidak kok." jawabku.
"Yakin?" hatiku seakan ragu mendengar pertanyaan Melan. Aku seperti tidak yakin dengan diriku sendiri. Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengan Sean? Tapi di mana? Kapan?
(kamarnya vale)
Bersambung.....
Hay... hay.. hay..
tolong dong para pembaca ku komen yang bayak☺️, aku suka banget kalau kalian ninggalin jejak komen gitu, jadi aku tau kalau kalian menikmati cerita ini atau enggak. kalian ikut kesal, marah, seneng, penasaran.
Sumpah deh aku suka banget baca bacotan kalian dikomen😘, sampai temen2ku kadang bilang aku gila karna ketawa2 sendiri.
jadi, jangan lupa like, share dan komen yang buanyakkkkk ya.. dan klik lambang hatinya. ❤️❤️
bye.. 😘💕
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih