Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Suasana di kantor petualang masih terasa agak menggantung sisa obrolan tadi, sampai—
BRAK.
Pintu terbuka keras.
Seorang prajurit kerajaan masuk dengan langkah tergesa. Tubuhnya tertutup zirah logam lengkap—pelindung dada, bahu, sarung tangan besi, hingga helm yang masih terpasang. Logamnya kusam dan penuh goresan, seolah baru saja keluar dari situasi berbahaya.
Bunyi derap besi terdengar jelas setiap kali ia melangkah.
“Maaf—!” suaranya terdengar teredam dari balik helm. “Ada… ada yang bisa bantu saya?!”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa petualang berdiri refleks. Yang lain saling pandang, makin bingung.
“Prajurit kerajaan?”
“Kenapa dia sampai ke sini?”
Sakura berdiri cepat.
“Ada masalah apa?”
Prajurit itu berhenti di tengah ruangan. Dadanya naik turun berat, bunyi logamnya ikut bergetar.
“Saya… butuh bantuan sekarang,” katanya tegang. “Siapa saja—asal bisa bertarung.”
Wakasa maju setengah langkah.
“Apa yang terjadi?”
Starla menegang, jarinya tanpa sadar menyentuh kalung di lehernya.
Diana menyipitkan mata, nadanya rendah.
“…Kalau prajurit lengkap sampai minta tolong ke sini, berarti situasinya gawat.”
Semua orang menahan napas.
Tak ada yang bicara lagi.
Dan kalimat berikutnya dari prajurit itu…
“Saya minta tolong pada semuanya,” katanya dengan suara tegas, meski jelas kelelahan.
“Apa yang saya sampaikan ini bukan urusan kecil.”
Semua mata tertuju padanya.
“Rekan kami, Fannisa, dan timnya saat ini sedang bertarung,” lanjutnya, “melawan Scorpion King.”
Ruangan langsung gempar.
“Scorpion King?!”
“Monster ranking S itu?!”
“Yang racunnya paling mematikan?!”
Prajurit itu mengangguk.
“Benar. Salah satu monster ranking S paling berbahaya.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Racunnya bisa membunuh dalam waktu singkat. Banyak prajurit kami tumbang bahkan sebelum sempat ditarik mundur.”
Wakasa langsung menegang.
“…Bagaimana kondisi Fannisa dan timnya?”
“Mereka terluka,” jawab prajurit itu jujur. “Beberapa sudah terkena racun.”
Starla menahan napas, jarinya tanpa sadar menyentuh kalung di lehernya.
“Tapi mereka tetap melawan,” lanjut prajurit itu, suaranya sedikit bergetar.
“Mereka tahu mundur berarti memberi Scorpion King jalan keluar.”
Beberapa petualang saling pandang, wajah mereka menegang.
“Saya sempat kembali ke kerajaan untuk melapor,” katanya lagi. “Tapi para pemimpin sedang menjalankan misi penting. Tidak ada yang bisa memberi keputusan langsung.”
Sakura menggenggam tepi meja.
“Lalu bala bantuan?”
“Hanya beberapa puluh prajurit yang tersedia,” jawab prajurit itu. “Mereka sudah dikirim ke lokasi Fannisa dan timnya.”
Ia menatap semua orang satu per satu.
“Jujur saja… itu tidak cukup.”
Diana menghela napas pelan.
“…Melawan Scorpion King dengan kondisi seperti itu?”
Prajurit itu mengangguk sekali.
“Mereka masih hidup. Masih bertahan.”
“Tapi mereka melawan monster ranking S… sambil terluka.”
Ruangan kembali sunyi.
Nama Scorpion King terasa menekan dada semua orang yang mendengarnya.
Dan di benak Wakasa, hanya satu nama yang terus terngiang.
Fannisa.
--Dari sudut Fannisa--
Udara terasa panas… dan berbau logam.
Napas Fannisa tersengal saat ia berlutut di balik batu besar yang retak, telapak tangannya gemetar karena kelelahan. Racun itu masih mengalir di pembuluh darahnya—ia bisa merasakannya, seperti api dingin yang merambat perlahan dari lengan ke dadanya.
“Fannisa… jangan tidur…” suara Silka terdengar lemah tapi memaksa.
Fannisa mengangkat kepala.
Silka berdiri tidak jauh darinya, tubuhnya diselimuti lingkaran sihir berwarna pucat. Jubahnya robek di beberapa bagian, darah mengalir dari bahunya, menetes ke pasir yang sudah menghitam.
“Aku… masih sadar,” Fannisa memaksa tersenyum, meski pandangannya mulai berkunang.
BRAKKK—!!
Tanah bergetar hebat.
Dari balik kabut debu dan pasir, sosok raksasa itu bergerak.
Scorpion King.
Tubuhnya hitam keunguan, lapisan kitin kerasnya memantulkan cahaya sihir yang redup. Racun kental menetes dari ujung capit dan sengat ekornya, jatuh ke tanah dan langsung membuat pasir mendesis.
“Dia… bergerak lagi…” gumam Silka.
Ekor raksasa itu terangkat tinggi, lalu—
“Silka, mundur!” teriak Fannisa.
Terlambat.
Ekor itu menghantam tanah di depan Silka, ledakan pasir dan racun menyebar ke segala arah. Lingkaran sihir Silka pecah seketika.
“Argh—!!”
Silka terlempar, tubuhnya membentur batu dengan keras.
“Silka!!”
Fannisa memaksa bangkit. Lututnya hampir menyerah, tapi ia tetap mengangkat tangannya, mantra sudah terbentuk di ujung lidah.
“—Flare Bind!”
Lingkaran sihir merah menyala muncul di udara, rantai api membelit salah satu kaki Scorpion King. Monster itu mengaum keras, suara gesekannya membuat telinga terasa nyeri.
Tapi itu belum cukup.
Kitinnya terlalu keras.
“Brengsek…” Fannisa terbatuk, darah ikut keluar dari sudut bibirnya.
Scorpion King berbalik ke arahnya.
Mata majemuknya memantulkan satu hal saja.
Mangsa.
Fannisa bisa merasakan tekanan sihirnya menurun drastis. Racun itu bukan hanya melemahkan tubuh—tapi juga aliran mananya.
“Fannisa…” suara Silka terdengar lagi, lebih pelan. “Kalau… kalau nanti aku gak bisa…”
“Jangan ngomong gitu,” potong Fannisa cepat, suaranya bergetar. “Kita keluar bareng. Denger, ya.”
Ekor Scorpion King kembali terangkat.
Fannisa menggertakkan giginya, memaksakan sisa mana yang ada.
Kalau ini harus jadi pertahanan terakhir…
Ia mengangkat kedua tangan.
“—Crimson Aegis!”
Perisai sihir merah tua muncul tepat saat sengat raksasa itu menghantam. Retakan langsung menjalar di permukaannya.
Satu serangan lagi…
Perisai itu akan hancur.
Fannisa menelan ludah, napasnya tersendat.
Kembali ke Kantor Petualang
Ruangan kantor petualang masih dipenuhi keheningan yang aneh.
Tidak ada yang bicara. Bahkan suara napas pun terasa terlalu keras.
Wakasa berdiri diam di tempatnya.
Kata-kata prajurit itu masih terngiang di kepalanya.
Scorpion King.
Ranking S.
Racun paling mematikan.
“…Sial…” gumam Wakasa pelan, hampir tidak terdengar.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
Fannisa…
Kenapa harus monster sekelas itu…
Ia menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut—tapi karena rasa tidak terima.
“Masih bertahan…” bisiknya.
“Dalam kondisi kayak gitu…”
Wakasa mengingat wajah Fannisa. Senyum santainya. Cara bicaranya yang selalu terdengar seolah semuanya baik-baik saja.
Jangan bilang… kau lagi maksain diri, ya…
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seakan menahan amarah yang mulai naik.
“Kalau bala bantuan cuma segitu…” gumamnya lagi.
“…itu sama aja nyuruh mereka mati.”
Suasana di sekitarnya terasa jauh. Suara orang-orang, langkah kaki, bahkan keberadaan Diana dan Starla di dekatnya seperti kabur.
Yang ada di kepalanya cuma satu gambaran.
Dua penyihir.
Luka.
Racun.
Dan satu monster yang seharusnya tidak mereka hadapi sendirian.
“…Aku gak bisa diem aja,” ucapnya pelan, tapi kali ini nadanya berbeda.
Lebih keras.
Lebih tegas.
Wakasa mengangkat kepala.
Matanya tidak lagi ragu.
Ruangan kantor petualang masih diliputi suasana tegang.
Wakasa berdiri diam, kepalanya sedikit menunduk.
Napasnya teratur, tapi pikirannya jelas tidak tenang.
“…Aku gak bisa nunggu,” gumamnya pelan.
Ia melangkah satu kali ke depan.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada lingkaran sihir mencolok.
Hanya—
fuul ush—
Hembusan angin kecil lewat begitu saja, menyentuh wajah orang-orang di sekitarnya.
Starla berkedip.
“…Wakasa-kun?” panggilnya refleks.
Tidak ada jawaban.
Tempat Wakasa berdiri barusan… kosong.
Diana menoleh cepat.
“Eh?”
Sakura menghentikan langkahnya, menatap kosong ke arah itu.
“Dia…” Sakura menghela napas pelan.
“…sudah pergi.”
Starla berdiri terpaku. Dadanya terasa kosong, ada perasaan aneh yang tertinggal bersama hembusan angin tadi.
Sesaat kemudian
Angin kecil yang sama kembali berembus.
Wakasa berdiri di atas dahan yang sebagian sudah terbakar dan bau racun menusuk hidungnya.
Di kejauhan, getaran berat terasa jelas dari dalam tanah.
“…Jadi itu Scorpion King,” gumamnya.