Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Pertengkaran Besar
Hujan turun sejak pagi.
Bukan hujan deras yang dramatis, melainkan gerimis panjang yang membuat udara terasa berat dan dingin. Seperti ada sesuatu yang menggantung, menunggu jatuh sepenuhnya.
Di sekolah, suasana tidak kalah muram.
Kabar tentang pertengkaran Tara dan Kia kemarin menyebar lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Bisikan di lorong, tatapan setengah simpati setengah penasaran, dan ponsel-ponsel yang bergetar dengan pesan berantai.
Katanya Kia anak selingkuhan.
Katanya Tara ngamuk karena ayahnya.
Katanya mereka saudara tiri.
Tidak ada yang tahu kebenaran.
Dan justru karena itu, semua orang merasa bebas menebak.
Kia datang ke sekolah dengan wajah datar. Rambutnya diikat seadanya, matanya sedikit bengkak karena kurang tidur. Ia melewati lorong tanpa menoleh ke kiri atau kanan, seperti ingin membuat dirinya tak terlihat.
Tapi itu mustahil.
Nama “Kia” sudah terlanjur jadi pusat.
Tara datang belakangan.
Langkahnya ragu saat memasuki gerbang. Ia bisa merasakan atmosfer berbeda—lebih dingin, lebih menghakimi. Beberapa orang berhenti bicara saat ia lewat. Ada yang menatap iba, ada yang menatap tajam.
Daffa menghampirinya. “Tar…”
Tara mengangkat wajah. Matanya merah, tapi kering. “Dia ada?”
Daffa tahu siapa yang ia maksud. “Ada. Di kelas.”
Tara mengangguk. “Bagus.”
Nada suaranya terlalu tenang.
Itu yang membuat Daffa khawatir.
Pertengkaran itu tidak direncanakan.
Ia terjadi karena mereka berdua terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.
Kia duduk di bangkunya, menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat. Guru berbicara di depan, tapi suaranya hanya jadi dengung jauh.
Tiba-tiba, kursi di sampingnya ditarik kasar.
Tara duduk.
Kia menegang.
Ia tidak menoleh.
“Ngomong sama aku,” kata Tara pelan, tapi tegas.
Kia menutup buku. “Aku nggak mau.”
“Aku nggak minta izin.”
Kia akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertabrakan—dua luka yang sama-sama belum kering.
“Kamu sudah puas?” tanya Kia.
“Apa maksud kamu?”
“Semalam,” lanjut Kia, suaranya dingin. “Gosip. Tatapan orang. Ibu aku dihina tanpa pernah datang ke sini.”
Tara menelan ludah. “Aku nggak nyuruh mereka ngomong.”
“Tapi kamu yang mulai,” balas Kia cepat. “Kamu yang bilang ibu aku perebut.”
Guru menegur dari depan. “Ada apa di sana?”
“Maaf, Bu,” jawab Kia cepat. “Kami diam.”
Tapi diam itu hanya di luar.
Di dalam, api mulai menyala.
Bel istirahat berbunyi.
Dan seolah sudah takdir, mereka berdiri bersamaan.
“Ke belakang,” kata Tara singkat.
Kia menatapnya lama. “Baik.”
Tangga belakang sekolah sepi.
Hanya suara hujan dan gemerisik daun basah.
Begitu pintu tertutup, Tara berbalik. Emosinya yang sejak pagi ditahan, akhirnya tumpah.
“Kamu tahu rasanya lihat ayah kamu duduk sama perempuan lain?” suaranya bergetar. “Tersenyum, seolah rumah nggak pernah ada?”
Kia membalas tanpa teriak. “Kamu tahu rasanya jadi anak dari perempuan yang selalu disalahkan, bahkan saat dia cuma berusaha bertahan hidup?”
“Jangan bawa-bawa penderitaan,” bentak Tara. “Kita semua punya!”
“Bedanya,” kata Kia tajam, “aku nggak pakai penderitaanku buat nyakitin orang lain.”
Tara tertawa pahit. “Kamu pikir aku nikmatin ini?”
“Kamu nikmatin merasa benar,” balas Kia. “Kamu nikmatin punya musuh yang bisa kamu benci.”
“Itu bohong!”
“Lalu kenapa kamu langsung nyalahin ibu aku?” Kia melangkah maju. “Kenapa bukan ayah kamu?”
Tara terdiam.
“Itu karena kamu takut,” lanjut Kia. “Takut kalau ayah kamu ternyata bukan korban.”
Air mata Tara jatuh. “Kamu nggak ngerti.”
“Aku ngerti lebih dari yang kamu kira,” sahut Kia. “Aku tahu ayah kamu datang ke hidup ibu aku saat semuanya sudah hancur.”
“Bohong!” teriak Tara. “Ayah aku setia!”
“Kalau setia,” balas Kia, suaranya pecah, “kenapa dia ada di hidup kami?”
Kalimat itu menghantam seperti palu.
Tara mundur satu langkah. “Kamu berani-beraninya—”
“Aku berani karena aku hidup di dalamnya!” Kia akhirnya berteriak. “Aku lihat ibu aku nangis karena dianggap perempuan murahan. Aku lihat dia tetap bangun pagi, kerja, dan pulang dengan senyum palsu.”
Tara menggeleng keras. “Kamu manipulatif.”
“Kamu pengecut,” balas Kia tanpa ragu. “Kamu lebih memilih membenci aku daripada bertanya kebenaran.”
“Karena kebenaran menyakitkan!” teriak Tara.
“Kebohongan lebih menghancurkan,” sahut Kia.
Mereka berdiri berhadap-hadapan, napas terengah, mata merah, tangan gemetar.
“Aku benci kamu,” kata Tara lirih.
Kia menatapnya. “Aku juga.”
Tapi nada Kia berbeda.
Lebih lelah daripada marah.
“Kamu benci aku karena aku mengingatkan kamu pada sesuatu yang nggak bisa kamu kontrol,” lanjut Kia. “Dan aku benci kamu karena kamu melampiaskannya ke orang yang salah.”
Tara mendekat. “Kamu pikir aku nggak menderita?”
“Aku pikir,” kata Kia pelan, “kamu menutup mata.”
Itulah titik didihnya.
Tara mendorong Kia.
Tidak keras.
Tapi cukup untuk melampaui batas.
Kia terhuyung, punggungnya membentur dinding. Suara benturan menggema.
Mata Kia membesar. “Serius?”
“Kamu yang mulai!” bentak Tara.
“Dengan kata-kata,” balas Kia, suaranya dingin. “Bukan tangan.”
Tara mengangkat tangan lagi—tapi berhenti di udara.
Tangannya gemetar.
“Aku nggak mau jadi kamu,” katanya terisak. “Aku nggak mau hidup aku hancur.”
Kia menatapnya lama.
Lalu tertawa kecil, pahit. “Terlambat.”
“Apa maksud kamu?”
“Semua ini,” kata Kia, menunjuk sekitar, “sudah menghancurkan kita berdua.”
Langkah kaki terdengar.
Guru olahraga muncul di ujung tangga. “Kalian ngapain di sini?!”
Tara mundur cepat. Kia berdiri tegak.
“Kami bertengkar,” kata Kia jujur.
Guru itu menghela napas. “Ke ruang BK. Sekarang.”
Di ruang BK, tidak ada teriakan.
Hanya kelelahan.
Tara duduk dengan bahu turun, wajah kosong. Kia duduk seberangnya, tangan dilipat, mata menatap lantai.
“Kalian tahu,” kata guru BK perlahan, “apa yang terjadi sekarang bukan sekadar konflik remaja.”
Tidak ada jawaban.
“Ini tentang keluarga. Tentang luka orang dewasa yang kalian warisi.”
Tara mengangkat kepala. “Lalu kami harus apa?”
Guru itu menatap mereka bergantian. “Berhenti saling melukai.”
Kia tersenyum tipis. “Lebih mudah diucapkan.”
“Benar,” kata guru BK. “Tapi kalian punya pilihan. Terus jadi musuh… atau mulai bertanya.”
Tara menggigit bibir.
Pertanyaan.
Itulah yang ia hindari sejak awal.
Sepulang sekolah, hujan masih turun.
Tara berjalan sendiri.
Kata-kata Kia terus terngiang.
Kenapa bukan ayah kamu?
Untuk pertama kalinya, kebencian Tara goyah.
Dan untuk pertama kalinya, ia takut—bukan pada Kia, tapi pada kemungkinan bahwa ia salah.
Di sisi lain kota, Kia duduk di kamar, memeluk lutut.
Ia tidak menang.
Ia juga tidak kalah.
Ia hanya lelah.
Pertengkaran besar itu tidak menyelesaikan apa pun.
Justru membuka luka baru.
Dan di antara dua gadis yang saling membenci, kebenaran semakin mendesak untuk keluar.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya