NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulah Noah

Udara di ruang kuliah pagi itu terasa lebih gerah dari biasanya bagi Viona. Sejak pengakuannya yang tidak sengaja kemarin, Laura seolah menjadi agen berita utama di kelas mereka.

"Lau... serius lo udah nikah?" tanya Laura dengan nada tinggi, cukup untuk membuat Yohan, mahasiswa populer di angkatan mereka, yang duduk di depan langsung menoleh cepat.

"Serius kamu udah nikah, Vio?" tanya Yohan, matanya menatap Viona dengan raut tidak percaya sekaligus kecewa.

Belum sempat Viona menyusun kalimat pembelaan, sebuah suara bariton yang sangat ia kenali memecah suasana dari arah pintu.

"Wah... siapa yang udah nikah?" tanya Noah. Ia masuk dengan gaya santainya yang elegan, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Aura "Dosen Killer"-nya terpancar kuat, namun ada binar jenaka di matanya.

"Loh, Pak Noah!" ucap Yohan refleks, sedikit merapikan posisi duduknya.

Noah berjalan mendekati meja mereka, meletakkan tas laptopnya dengan gerakan perlahan. "Yohan, kamu pasti awalnya mau deketin Viona ya? Saya lihat kamu semangat sekali nanyain status dia," ungkap Noah blak-blakan.

Yohan tertawa canggung, menggaruk tengkuknya. "Hahaha, Bapak tahu saja sih. Tapi katanya Viona sudah punya suami, Pak."

"Loh, iyakah?!" Noah menoleh ke arah Viona, menaikkan sebelah alisnya seolah ia baru mendengar berita itu untuk pertama kalinya. "Spill dong suaminya. Siapa tahu saya kenal."

Viona mendelik tajam, memberikan kode lewat matanya yang seolah berteriak: 'Berhenti main-main, Noah!' "Suami saya sibuk, Pak. Jadi Bapak pasti nggak kenal," jawab Viona sesingkat mungkin, berusaha tetap formal meski jantungnya berdegup kencang karena takut rahasia mereka bocor.

Noah justru semakin mendekat, menumpukan tangannya di meja Viona, menciptakan jarak yang sangat intim bagi ukuran dosen dan mahasiswa. "Sibuk ya? Mana lebih keren, suami kamu... atau saya?"

Pertanyaan itu membuat seisi kelas mendadak hening. Laura dan Yohan saling berpandangan, merasa tensi di antara dosen mereka dan Viona terasa sangat aneh dan "panas".

"Bapak kok kepo banget sama suami saya," jawab Viona dengan nada ketus yang berusaha ia tutupi.

Noah tidak mundur. Matanya justru turun, mengunci fokus pada leher Viona yang hari ini dihiasi kalung emas putih pemberiannya.

"Itu kalungnya inisial 'N'," kata Noah dengan suara rendah yang hanya bisa didengar jelas oleh Viona.

"Pasti itu dari suami kamu. Inisialnya sama dengan nama saya. Kebetulan yang menarik, bukan?"

Viona menelan ludah. Ia bisa merasakan tatapan

Noah yang intens, seolah pria itu sedang menantangnya untuk mengaku di depan semua orang. Noah benar-benar sedang bermain dengan nyali Viona, menikmati setiap detik kegugupan istrinya di depan publik.

"Mungkin suami saya memang sengaja cari inisial itu biar saya selalu ingat kalau ada orang yang jauh lebih menyebalkan dari dia di kampus ini," balas Viona telak.

Noah terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat seksi di telinga Viona. "Touché. Oke semuanya, buka buku kalian. Kita mulai kelasnya sebelum Viona semakin merasa terganggu dengan kehadiran saya."

———

Kantin kampus siang itu sangat ramai, tapi meja tempat Viona, Laura, dan Yohan duduk terasa seperti zona perang bagi Viona. Ia baru saja menyuap sesendok bibimbap saat Laura melontarkan pertanyaan maut.

"Vio, kalau kamu punya suami kayak Pak Noah gimana?" tanya Laura tiba-tiba dengan mata berbinar.

Uhuk!

Viona tersedak seketika. Ia terbatuk-batuk kecil sambil meraih air mineralnya dengan panik. "H-hahaha... nggak pernah kepikiran sih," jawab Viona setelah napasnya kembali normal. Nggak perlu dipikirin, Lau, tiap malam gue dengerin omelannya, batin Viona gemas.

"Suami kamu pasti beruntung sih dapetin istri sekeren kamu," tambah Yohan sambil menatap Viona dengan tatapan yang sedikit terlalu lama. "Maksud gue, lo pinter, cantik, dan punya prinsip. Kalau gue suaminya, gue nggak bakal biarin lo sendirian di kampus."

Viona hanya tersenyum kaku. Namun, senyum itu membeku saat ia melihat sosok tinggi tegap berjalan mendekat dengan nampan makanan di tangannya.

Noah Sebastian Willey.

Tanpa merasa berdosa, Noah langsung menarik kursi kosong tepat di sebelah Viona. Suasana di meja itu mendadak hening. Laura dan Yohan mendadak duduk tegak, bahkan Yohan sampai tersedak minumannya sendiri.

"Boleh saya gabung? Meja lain penuh," ucap Noah datar, padahal di sudut sana masih ada beberapa meja kosong yang sangat terlihat jelas.

"B-boleh, Pak," sahut Laura gugup.

Noah mulai memotong makanannya dengan elegan. Kehadirannya menciptakan aura intimidasi yang luar biasa. Ia melirik mangkuk Viona yang masih penuh.

"Makan yang bener, Viona. Istri yang baik itu harus jaga kesehatan supaya suaminya nggak khawatir di kantor," ucap Noah santai sambil menyuap makanannya, seolah ia hanya sedang memberikan nasihat dosen pada mahasiswanya.

Viona melotot, nyaris menjatuhkan sumpitnya. "Bapak kenapa bawa-bawa status saya terus sih?"

Noah menoleh, menatap Viona dengan jarak yang sangat dekat hingga aroma parfum maskulinnya menguasai indra penciuman Viona. "Saya cuma mengingatkan. Soalnya, saya lihat tadi ada yang bilang mau jagain kamu terus kalau jadi suami kamu."

Noah melirik Yohan dengan tatapan dingin yang tajam, tatapan yang seolah mengatakan: 'Dia milik gue, jangan berani-berani.'

Yohan langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sementara itu, di bawah meja, Viona merasakan sebuah tangan besar meraih lututnya dan menggenggamnya dengan posesif. Viona tersentak, mencoba melepaskan diri, tapi Noah justru mempererat genggamannya sambil terus makan dengan wajah tanpa dosa.

“Kenapa, Vio? Makanannya nggak enak?" tanya Noah, suaranya melembut namun penuh kemenangan.

"Enak kok, Pak. Permisi, saya mau ke toilet dulu," pamit Viona dengan wajah memerah, segera berdiri untuk melarikan diri dari situasi gila ini.

Begitu Viona pergi, Noah menatap Yohan dan Laura.

“Dia memang sedikit emosional kalau dibahas soal suaminya. Maklum, suaminya sangat memanjakan dia di rumah."

Noah sama sekali tidak merasa terancam dengan pesan penuh emosi itu. Sebaliknya, ia merasa sangat terhibur. Jemarinya yang panjang dengan lihai mengetik balasan sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya, tetap mempertahankan wajah "dosen killer" yang dingin di depan Laura dan Yohan.

📲 Viona: Noah lo gila ya?

📲 Viona: lo aneh banget belakangan ini! Jangan terlalu nunjukin deh

Noah meletakkan ponselnya sebentar, menatap Yohan yang masih terlihat canggung, lalu kembali membalas pesan istrinya.

📲 Noah: Nunjukin apa? Nunjukin kalau gue nggak suka ada cowok lain yang muji-muji istri gue di depan muka gue sendiri?

📲 Noah: Balik ke meja sekarang. Habisin makan lo, atau gue seret lo ke mobil sekarang juga.

Viona, yang masih berada di depan cermin toilet, hampir menjatuhkan ponselnya membaca balasan itu. "Bener-bener ya ini orang, makin hari makin nggak tahu diri!" gerutunya.

Dengan langkah terpaksa, Viona kembali ke meja kantin. Suasananya masih kaku. Noah tetap di sana, seolah-olah kursi itu sudah menjadi miliknya secara permanen.

"Lama banget di toiletnya, Viona? Takut sama pertanyaan saya?" tanya Noah tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada iPad yang kini ia keluarkan.

“Enggak, Pak. Cuma lagi cuci muka biar nggak... emosional," jawab Viona penuh penekanan.

Yohan yang merasa situasi makin aneh akhirnya angkat bicara. "Pak Noah, saya nggak bermaksud lancang tadi, cuma kagum aja sama Viona."

Noah akhirnya mendongak, menatap Yohan dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun. "Kekaguman itu bagus, Yohan. Tapi ingat, di dunia profesional maupun pribadi, ada garis yang nggak boleh dilewati. Viona sudah punya 'pemilik', dan suami dia, yang kamu bilang keren tadi, pastinya jauh lebih posesif dari yang kamu bayangkan."

Viona mencubit pahanya sendiri di bawah meja, berusaha keras agar tidak berteriak. Noah, stop!

Tiba-tiba, ponsel Viona bergetar lagi.

📲 Noah: Kalung inisial 'N' lo miring. Benerin, atau gue yang benerin di depan temen-temen lo ini.

Viona refleks memegang kalungnya dengan wajah pucat. Ia menatap Noah dengan pandangan memohon agar pria itu berhenti bermain-main. Noah hanya menutup iPad-nya, berdiri dari kursi, dan merapikan jasnya.

“Saya duluan. Viona, jangan lupa kumpulkan tugas kamu ke ruangan saya sore ini. Sendirian," ucap Noah dengan penekanan pada kata terakhir, lalu melenggang pergi meninggalkan aroma parfum maskulin yang masih tertinggal kuat di meja itu.

Laura menghela napas panjang setelah Noah menjauh. "Gila, Vio. Pak Noah kalau lagi serius auranya ngeri banget ya?"

Viona hanya bisa menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Pernikahan rahasia ini ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada rapat hotel mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!