Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Perubahan Almira
.
“Jangan-jangan mbak Almira sengaja ingin membuat aku kelaparan, mas. Kalau memang seperti itu, dia sangat jahat sekali. Apa dia ingin terjadi apa-apa sama anak kita?”
Gilang terdiam mendengar ucapan Lila. Ia mencoba mencerna kata-kata wanita itu, namun pikirannya terasa buntu. Rasa khawatir, marah, dan bingung bercampur aduk menjadi satu.
Kemana Almira pergi?
Kenapa dia tidak minta ijin padanya?
Apa benar Almira sengaja ingin agar sesuatu yang buruk terjadi pada anak dalam kandungan Lila?
Belum sempat ia mendapat jawaban dari segala pertanyaan, tiba-tiba, bel rumah berbunyi.
“Itu pasti pesanan makan datang, Mas,* ucap Lila dengan antusias.
Gilang bangkit dari sofa dengan langkah gontai menuju ke arah pintu. Kenapa hanya tinggal menerima pesanan saja Lila bahkan tak mau berdiri? Namun, begitu pintu terbuka lebar, alangkah terkejutnya Gilang, karena yang datang bukan kurir makanan, melainkan Almira yang berdiri di depan pintu dengan senyum cerah.
"Aku pulang," sapa Almira dengan nada riang.
Di tangan Almira ada banyak paper bag dengan merek terkenal. Gilang tertegun melihatnya. Kemana saja Almira pergi? Dan apa isi dari paper bag itu? Namun, bukan hanya itu. Perubahan dalam diri Almira yang membuatnya terkesima.
Wajah cerah, aroma harum, gamis modis, dan… entahlah. Yang jelas apa yang ada dalam diri Almira saat ini sangat jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Kecantikan alami yang hampir tiga tahun tak terlihat kini kembali hadir di depan matanya. Gilang seperti terlempar ke masa lalu saat ia baru mengenal dan masih dalam tahap mengejar wanita itu.
Almira melenggang masuk tanpa mempedulikan Gilang yang masih berdiri dengan wajah melongo di depan pintunya.
Di sofa, Lila yang mengetahui kedatangan kakak madunya, terbelalak matanya melihat pemandangan di depannya. Almira kembali dengan membawa banyak barang mewah? Dari mana kakak madunya seharian ini tadi?
"Permisi. Apakah benar ini dengan Mas Gilang? Saya mengantar pesanan makanan." Suara seorang kurir yang baru saja datang tiba-tiba menyela.
Gilang tersadar dan menerima pesanan makanan itu. Ia kemudian mengikuti langkah Almira dengan tatapan menyelidik.
"Darimana saja kamu?" tanya Gilang dengan nada dingin. "Kenapa kamu pergi tanpa minta ijin padaku?"
Almira tersenyum simpul dan menghempaskan tubuh di sofa seakan ingin melepas penat. "Aku pergi untuk memanjakan diri," jawab Almira dengan nada santai. "Aku sudah terlalu lama mengabaikan diriku sendiri. Sekarang saatnya aku merawat diriku."
Almira meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja ruang tamu. Matanya kemudian menatap ke arah Gilang yang wajahnya masih terlihat marah. “Dan… perkara minta ijin, biasanya aku juga selalu minta ijin. Emangnya kamu pernah peduli? Palingan juga jawab ‘terserah’," sindir Almira yang spontan membuat Gilang terbungkam.
Lila yang merasa penasaran dengan apa yang dibawa oleh kakak madunya, melupakan niatnya untuk membuat Almira dimarahi dengan sandiwara kelaparan. Ia mendekati meja dengan langkah ragu, matanya terpaku pada paper bag dengan logo butik mewah. Tangannya terulur ingin meraihnya.
Namun… “Jangan sentuh barang yang bukan milikmu!" Dengan gerakan cepat, Almira menepis tangan adik madunya.
Lila meringis, lalu menoleh ke arah Gilang dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Apa yang aku beli tak akan cocok untukmu," ucap Almira dengan nada datar.
Melihat Lila semakin penasaran. Almira dengan sengaja membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah gamis modis berwarna pastel yang sangat anggun terhampar di depan mata Lila. Gamis itu terbuat dari bahan berkualitas tinggi dengan detail bordir yang indah.
"Lihat kan? Tidak cocok untukmu," kata Almira dengan senyum mengejek.
Lila semakin kesal. Ia tahu Almira menyindirnya. Ia memang lebih suka mengenakan gaun seksi dan minim, bukan gamis tertutup seperti Almira. Yang membuat Lila kesal adalah karena ia tahu, gamis itu pasti harganya sangat mahal. Belum lagi paper bag lainnya yang pasti juga berisi barang-barang mewah. Ia merasa iri.
Merasa tidak terima, Lila melancarkan provokasinya. Ia mendekati Gilang dan merengek, "Mas, lihatlah! Istrimu ini benar-benar boros! Bisanya hanya menghabiskan gaji suami tanpa berpikir betapa susahnya suami mencari uang!"
Gilang yang kelelahan dan masih memendam kekesalan, terprovokasi oleh omongan Lila dan langsung terpancing emosinya. Ia menatap Almira dengan tatapan marah. "Almira, kamu benar-benar keterlaluan! Kenapa kamu menghambur-hamburkan uang seperti ini? Apa kamu tidak tahu betapa lelahnya aku? Apalagi setelah ini ada kemungkinan aku akan dipecat?!"
Almira tersenyum mengejek, "Serius kamu menuduhku seperti itu, Mas? Coba diingat-ingat, berapa banyak sih kamu ngasih uang bulanan buat aku? Menurutmu cukup gak buat beliin aku barang-barang mewah seperti ini?"
Rahang Gilang mengeras mendengar ucapan Almira. Memang selama ini ia tidak memberikan semua gajinya pada istrinya itu. Karena dia juga membutuhkan uang untuk dikirim pada ibunya. Lagi pula, Almira juga tidak pernah mengeluh bahwa uang belanja yang ia berikan kurang.
"Coba dihitung! Kamu memberiku uang bulanan dua juta, Mas. Itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Yang listrik, yang PDAM, yang biaya makan. Bahkan masih kurang dan aku yang menombok. Sekarang, bisa-bisanya kamu bicara begitu?” Almira menatap wajah suaminya dengan mata menyala merah. Bukan tidak rela, tapi karena pengorbanannya dibalas pengkhianatan.
Gilang memberanikan diri bertanya, "Memangnya berapa harga barang-barang itu?"
Almira mengangkat bahunya, "Kamu tidak buta kan, Mas? Kamu bisa lihat sendiri bandrol yang ada."
Gilang dengan ragu memeriksa bandrol harga yang tertera di setiap barang. Ia terdiam, membeku. Jantungnya berdegup kencang. Jangankan untuk membeli semua itu, bahkan untuk membeli barang di salah satu paper bag saja, uang yang ia berikan pada Almira tidak akan cukup.
Melihat ekspresi terkejut Gilang, Almira tersenyum sinis. “Masih mau terhasut istri muda yang menuduhku menghamburkan uangmu?"
"Lalu, dari mana kamu mendapat uang untuk membeli semua ini?" tanya Gilang curiga.
Almira tersenyum misterius. Ia tidak ingin Gilang tahu bahwa selama ini ia memiliki uang sendiri, hasil dari investasi dan bisnis kecil-kecilan yang ia jalankan secara diam-diam. Ia ingin Gilang terus merasa bersalah dan merasa tidak mampu mencukupinya.
"Barang-barang ini dibelikan oleh Sifa sebagai hadiah karena sudah lama tidak bertemu," jawab Almira santai.
Gilang mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya begitu saja dengan penjelasan Almira. "Benarkah? Kenapa Sifa tiba-tiba memberikan hadiah semahal ini?"
"Entahlah," jawab Almira acuh. "Mungkin dia merasa karena setelah menikah aku malah jadi seperti orang pedalaman yang tak tahu betapa indahnya dunia luar."
Gilang terdiam, mencerna kata-kata Almira. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah karena selama ini selalu mengabaikan istrinya dan lebih mengutamakan keinginan ibunya. Apalagi setelah ia menikah diam-diam dengan Lila. Sedikitpun ia tak pernah memikirkan Almira.
“Kamu tidak percaya?" tanya Almira yang melihat Gilang terdiam. "Ya sudah, telpon sana! Kamu juga punya kontak Sifa, kan?” tantang Almira karena tahu Gilang tak kan mungkin melakukan hal itu.
Gilang masih terdiam. Pasalnya, dia tahu kalau Sifa memang berasal dari keluarga kaya raya. Dan yang membuat ia tak berani bergerak adalah karena sifat adalah teman Almira yang dulu menentang keras hubungan dia dan Almira.
“Sudah ahh… aku lelah seharian senang-senang.” Almira mengangkat semua paper bag dan berjalan menuju kamarnya. "Aku mau istirahat," ucap Almira tanpa menoleh.
Gilang menatap kepergian Almira dengan tatapan penuh penyesalan. Sikap Almira berubah setelah ia membawa Lila pulang ke rumah.
Lila menatap Gilang dengan tatapan khawatir. Tak ingin Gilang bersikap peduli pada Almira. Ia harus melakukan sesuatu untuk merebut kembali perhatian Gilang.
"Mas, jangan terlalu dipikirkan," ucap Lila sambil memeluk lengan Gilang. "Mungkin Mbak Almira memang lelah. Aku janji akan bersikap baik dan menurut pada Mbak Mira."
Gilang terdiam, membiarkan Lila memeluknya. Ia merasa lelah dan bingung. Tidak tahu harus melakukan apa.
semangat thor