“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Poor Burung Denzel
Denzel berdiri di depannya, rahangnya mengeras. “Elena, tenangkan dirimu dulu. Kita bicara di tempat lain, sebab ini bukan tempat—”
“Bukan tempat apa?” Elena menyela, alisnya terangkat tipis. Ia melirik sekeliling. Beberapa karyawan pura-pura sibuk di balik layar komputer, tapi telinga mereka jelas terarah ke satu titik.
“Dengan membuang semua egoku, aku menghubungimu meski aku enggan melakukannya. Tapi apa yang aku dapatkan? Pesanku tidak dibalas. Panggilanku tidak diangkat. Dan sekarang kau menjelaskan? Penjelasan apa yang harus aku dengar, hmm?”.
“Gila, apa yang sedang terjadi sekarang?”
“Eehh, mereka sedang bertengkar ‘yah?”
“Elena kelihatan keren banget, padahal itu Tuan Denzel, direktur executive yang baru, bukan?”
“Katanya mereka memiliki hubungan special, sepertinya itu memang benar?”
“Ada masalah apa sama mereka bertengkar sampai seperti itu ‘yah?”
“Sudah, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.”
Karyawan yang lain, semakin memasang telinganya. Meski sambil berpura-pura tidak mengetahui apapun dan sesekali mengerjakan pekerjaan masing-masing. Sementara itu, Denzel masih berdiri di tempatnya, wajahnya pucat, menyadari satu hal yang tak bisa ditarik kembali. Bahwa pertengkaran itu bukan lagi urusan pribadi. Ia tidak menyangka Elena akan memaksanya berdebat di depan karyawan yang lain.
Sepertinya semenjak hari ini, namanya dan nama Elena akan menjadi bahan pembicaraan paling panas, Baik dibicarakan dari pantry, grup chat kantor ataupun dari mulut ke mulut secara langsung. Dan tak satu pun cerita tersebut akan berpihak padanya.
Denzel menurunkan suaranya, jelas tertekan. “Aku ada urusan yang sangat penting saat itu. Aku pikir kau hanya salah nomor saja.”
Elena terkekeh kecil, tanpa humor. “Salah nomor?” Ia melangkah lebih dekat, membuat Denzel refleks mundur setengah langkah. “Aku cemas. Aku khawatir. Aku tidak tahu adikku berada di mana. Dan hanya namamu yang terlintas dalam pikiranku semalam. Tapi rupanya, menurutmu itu sepele.”
Beberapa kepala mulai saling berbisik. Ada yang pura-pura mengambil map, ada yang berdiri terlalu lama di dekat mesin kopi yang tidak jauh dari mereka. Ada juga yang pura-pura mengerjakan sesuatu dan lain sebagainya.
“Elena, cukup,” desis Denzel. “Kita bicarakan nanti saja.”
Denzel berniat menyudahi pertengkaran, berniat pergi dan kembali keruangannya. Akan tetapi, siapa sangka Elena langsung menghadangnya. Ia justru bersedekap, wajahnya datar, seolah semua mata yang tertuju padanya tak berarti apa-apa.
“Kenapa nanti? Bukankah kau duluan yang ingin membahasnya?”
“Aku hanya ingin menjelaskan, tapi kau….” Denzel mulai kehilangan kesabarannya.
“Tapi aku tidak membutuhkannya?” Elena menatapnya lurus, tajam. “Dan seharusnya kau tidak datang menemuiku hanya untuk membahas ini. Karena kita sudah terlanjur membahasnya, jadi mari kita lanjutkan saja.”
Ruangan itu seketika hening. Bahkan suara ketikan keyboard pun menghilang. Denzel akan membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tidak ada pembelaan yang terdengar cukup masuk akal. Menjelaskan pun ia menjadi bingung sendiri, sebab tidak mungkin ia akan mengatakan bahwa semalam dirinya sibuk membangun kembali restaurant mewah yang hancur dengan kekuatan sihirnya.
Elena menghela napas, lalu berjalan semakin menyudutkan Denzel. “Kenapa kau diam? Bukankah tadi kau ingin menjelaskan sesuatu padaku,” katanya dingin. “Aku sudah memberimu kesempatan sekarang? Jadi, katakanlah!”
Bukannya bicara, Denzel malah semakin menutup erat mulutnya. Jelas ia tidak memiliki penjelasan apapun, karena sejak awal ia hanya ingin mencoba mendekati Elena seperti yang sudah ditugaskan oleh Ragnar. Tapi siapa sangka ia malah terjebak dengan siasat Elena yang rupanya lebih licik darinya.
“Sialan, dia benar-benar seorang penyihir yang licik. Beraninya dia menempatkan aku dalam situasi seperti ini? Aargh… ditambah mereka semua malah ikutan bergosip yang tidak-tidak. Aku harus apa sekarang?” umpat Denzel dalam hati.
“Kamu lihat tatapan Elena barusan?”
“Tuan Denzel benar-benar kena kemarahannya.”
“Lihat ‘lah! Dia bahkan tidak berani berkutik sama sekali.?”
“Kira-kira apa yang terjadi dengan mereka berdua sampai membuat Elena marah sampai seperti itu?”
Karyawan kembali berbisik kecil satu sama lain. Apalagi pertengkaran keduanya semakin memanas, dimana Elena yang terus mendesaknya sedangkan Denzel yang hanya terdiam tanpa bisa melakukan pembelaan apapun.
Keributan itu terdengar seperti radio rusak begitu pintu lift terbuka. Dimana Ragnar, Dorian dan Ivory melangkah keluar bersamaan, lalu berhenti serempak menatap Denzel dan Elena secara bergantian. Sampai akhirnya mereka menyadari suasana di sana terasa berada untuk dua orang yang saling berhadapan.
Dimana Elena kini tengah berdiri dengan tangan di pinggang, sementara Denzel, tangan kanan Ragnar, berdiri diam mematung dengan raut wajah yang penuh kegelisahan. Di sekeliling mereka, karyawan lain membentuk setengah lingkaran yang sangat tidak profesional tapi sangat antusias. Ada yang bahkan sudah memegang kopi seperti sedang nonton drama sore.
Ivory berkedip. “Kak…?”
Elena menoleh. “Ivory?” Elena langsung menunjuk Denzel. “Dia ini sungguh orang yang—”
“—dia salah menyebalkan,” sambung Ivory spontan, bahkan sebelum tahu ceritanya.
Ragnar langsung refleks batuk kecil. “Ivory, kamu bahkan belum dengar—”
“Tidak perlu mendengar apapun lagi,” kata Ivory mantap sambil maju satu langkah. “Wajah kakakku sudah cukup menjelaskan segalanya. Pasti dia yang memulai lebih dulu dan penyebab masalahnya.”
Beberapa karyawan saling pandang. “Wah, backup datang.”
Denzel mendengus. “Kakak beradik memang sama saja.”
“Apa katamu? Ulangi sekali lagi,” Ivory menyeringai manis, “Bisa-bisanya pria sepertimu bertengkar dengan wanita yang lemah. Apakah kau tidak malu dengan burungmu itu, hah?”
Tawa tertahan terdengar dari arah pantry. Bagaimana tidak, Ivory menyindir telak dengan melibatkan pusaka kebanggan para pria. Ditambah refleks Denzel yang memegangi burungnya dengan raut wajah kesal tak terima.
Denzel berdehem, jelas kesal. “Kau… beraninya kau mengusik burungku!”
“Ck, kau ingin aku benar-benar mengusiknya, Hah? Kemari ‘lah, biar aku tendang sampai tidak bisa bangun lagi.”
Ragnar mengusap pelipis. “Oke, semuanya tenang dulu—”
“Tidak,” Ivory dan Elena menjawab bersamaan.
Membuat Ragnar langsung terdiam. Beberapa karyawan hampir bertepuk tangan dengan kekompakan dan keberanian dua saudari itu. Karena belum ada sejarah, bawahan yang berani melawan atasannya sampai seperti ini.
Denzel menunjuk ke arah Ivory dan Elena dengan tatapan tidak terima. “Tuan, lihatlah mereka bahkan berani melawan ucapanmu. Padahal anda adalah pemilik dan pemimpin perusahaan ini.”
Ivory semakin melotot tidak terima, lalu menggulung lengan pakaiannya. “Kenapa memangnya, Hah? Kalian mau memecat kami? Silakan, tapi sebelum itu biarkan aku benar-benar menendang burung kecilmu itu.”
Elena tersedak. Denzel mematung. Seseorang di belakang benar-benar tertawa, siapa lagi kalau bukan Dorian. Elena spontan langsung menahan adiknya, saat Ivory bersiap untuk benar-benar menendangnya. Bahkan salah satu kaki Ivory sudah melayang di udara, tapi berhasil digagalkan oleh Elena.
“Tenang, Ivory,” Ragnar mencoba tegas, tapi gagal menyembunyikan senyum kecil.
Bersambung ….
Jangan sampe ada pertumpahan darah. Ya, meskipun kaum Vampir memang identik dengan hal itu... 😩
Tubuhnya masih belum menerima kekuatan sihirnya... Sehingga Denzel harus turun tangan untuk mengendalikan sihir hitam milik Elena...
Ivory yang sabar yah, aku yakin kakakmu akan baik-baik saja.. Benar kata Ragnar, sebaiknya kamu tinggal di Istana dulu.. Karena kaum Werewolf masih berkeliaran... 😩
Dan sekarang, Ivory udah pulang ke rumahnya, ke Istana nya bersama Ragnar...
Kabar Elena gimana yah? Apa dia udah baik-baik saja?
Karena kalo ngga, nyawa Dorian sendiri yang jadi taruhannya 🤣