NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Jarak yang Menyakitkan

Malam setelah penyerangan bengkel itu adalah malam terpanjang bagi Lia. Ia terjaga hingga fajar menyingsing, menggenggam ponselnya erat-erat, menunggu kabar yang tak kunjung datang. Baru pada pukul lima pagi, sebuah pesan singkat masuk dari Devan: "Semua selesai. Aku aman. Istirahatlah."

Meski lega, hati Lia tidak tenang. Ia melihat jaket kulit Devan yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ada noda darah kering yang samar di bagian lengannya—darah yang entah milik siapa. Saat itulah Lia menyadari satu kenyataan pahit: Devan adalah magnet bagi kekacauan. Jika ia terus berada di sisi Devan, bukan hanya ia yang terancam, tapi Devan juga akan kehilangan fokus dalam memimpin gengnya karena harus terus-menerus mengkhawatirkannya.

Pagi itu, Lia berangkat ke kampus dengan keputusan berat. Ia sengaja mematikan ponselnya. Ia ingin kembali menjadi Lia yang dulu—si gadis transparan yang hanya berteman dengan tumpukan buku.

"Lia! Tunggu!" suara berat itu menggema di parkiran kampus saat jam kuliah usai..

Lia tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya menuju halte bus, menghindari lobi tempat Devan biasanya menunggu. Namun, sebuah tangan kekar meraih pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya dengan paksa namun tetap hati-hati agar tidak menyakiti.

"Kenapa ponselmu mati? Dan kenapa kamu menghindariku?" Devan berdiri di depannya, wajahnya tampak sangat lelah. Ada plester di pelipisnya dan buku jari tangannya yang bengkak.

Lia menatap plester itu dengan mata berkaca-kaca. "Ini sebabnya, Devan. Lihat dirimu. Kamu terluka lagi. Dan kemarin, aku hampir saja diculik. Kita hidup di dua dunia yang berbeda. Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari nanti kamu tidak akan kembali."

Devan mengernyit, matanya memancarkan rasa tidak percaya. "Lia, aku menjagamu. Aku pastikan tidak akan ada yang menyentuhmu."

"Tapi siapa yang menjaga kamu, Devan?" suara Lia meninggi, mengejutkan beberapa mahasiswa yang lewat. "Kamu ketua geng motor. Musuhmu ada di mana-mana. Kehadiranku hanya membuatmu lemah, kamu sendiri yang bilang begitu semalam. Aku ingin kita... berhenti. Berhenti bertemu."

Hening menyergap. Devan melepaskan genggamannya perlahan. Ekspresi wajahnya berubah dari cemas menjadi dingin dan kaku. "Kamu ingin aku pergi?"

Lia menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang hampir pecah. "Ini yang terbaik untuk kita berdua. Aku ingin hidup tenang, dan kamu perlu fokus pada duniamu tanpa harus terbebani oleh gadis culun sepertiku."

"Gadis culun?" Devan terkekeh sinis, namun matanya terlihat terluka. "Setelah semua yang kita lalui, kamu masih menyebut dirimu seperti itu? Kamu bukan beban, Lia. Kamu adalah satu-satunya alasan aku ingin pulang dengan selamat setiap malam."

Lia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata Devan yang kini dipenuhi kepedihan. "Maafkan aku, Devan. Tolong, jangan cari aku lagi."

Lia berlari menuju bus yang kebetulan berhenti. Ia tidak menoleh ke belakang, meski ia tahu Devan masih berdiri di sana, mematung seperti tugu di tengah keramaian parkiran. Di dalam bus, Lia duduk di kursi paling belakang dan menangis sejadi-jadinya di balik telapak tangannya.

Hari-hari berikutnya terasa seperti siksaan. Lia mencoba menenggelamkan diri di perpustakaan, namun setiap sudut ruangan itu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka. Ia melihat kursi kosong di seberangnya dan membayangkan Devan duduk di sana dengan bandana hitamnya.

Namun, menjauhi Devan tidak semudah yang ia kira.

Devan tidak menyerah begitu saja. Setiap pagi, Lia menemukan setangkai mawar merah di lokernya tanpa catatan. Setiap sore, ia melihat motor hitam itu terparkir di seberang jalan rumahnya, hanya diam memantau dari kejauhan hingga lampu kamar Lia padam. Devan tidak mendekat, ia menghormati permintaan Lia, namun ia tetap berada di sana, menjadi bayangan pelindung yang tak kasat mata.

Hingga suatu hari, Sarah dan gengnya kembali berulah. Mereka menyadari bahwa Devan tidak lagi terlihat berjalan bersama Lia.

"Wah, sepertinya ksatria bermotormu sudah bosan dengan mainan culunnya, ya?" ejek Sarah di kantin, sambil menumpahkan jus jeruk ke atas tugas kuliah Lia. "Kasihan sekali. Sekarang tidak ada lagi yang melindungimu, Lia. Kamu kembali jadi sampah di kampus ini."

Lia hanya diam, menunduk menatap kertas-kertasnya yang basah. Ia merindukan Devan. Ia merindukan keberanian yang ia rasakan saat pria itu ada di sampingnya. Ia baru menyadari bahwa ketenangan yang ia inginkan terasa sangat hambar tanpa kehadiran badai bernama Devan.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu boots yang berat terdengar mendekat ke arah meja kantin. Seluruh ruangan mendadak sunyi. Bukan Devan yang datang, melainkan salah satu anggota geng Black Roses yang bertubuh paling besar, bernama Baron.

Baron menaruh sebuah jaket kulit bersimbol mawar hitam di bahu Lia, lalu menatap Sarah dengan tatapan yang sangat mengancam. "Ketua kami bilang, siapa pun yang membuat gadis ini sedih, akan berurusan dengan seluruh anggota Black Roses. Dan dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik hari ini."

Sarah ternganga, lalu lari terbirit-birit diikuti teman-temannya. Baron kemudian menoleh ke arah Lia. "Nona Lia, bos kami ada di luar. Dia tidak mau masuk karena takut membuat Anda tidak nyaman. Tapi dia belum makan sejak tiga hari lalu hanya karena terus menjagamu dari jauh. Mungkin... Anda mau bicara dengannya?"

Hati Lia hancur mendengarnya. Ia mengambil tasnya dan berlari keluar menuju parkiran. Di sana, di bawah pohon besar yang rindang, Devan duduk di atas motornya dengan kepala tertunduk, tampak sangat berantakan dan kelelahan.

Lia berdiri di hadapannya, napasnya tersengal-sengal. Devan mengangkat kepalanya, matanya merah karena kurang tidur. "Aku tidak akan mendekat, Lia. Aku hanya memastikan kamu aman," katanya dengan suara parau.

Lia menggeleng, air matanya jatuh deras. "Kamu bodoh, Devan. Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri?"

"Karena tanpa kamu, duniaku tidak punya warna," jawab Devan lirih.

Lia tidak peduli lagi pada ketakutannya. Ia maju dan memeluk Devan erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Devan tertegun sejenak sebelum akhirnya membalas pelukan itu dengan sangat posesif, seolah takut jika ia melepaskannya, Lia akan hilang lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!