Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Meja itu hancur berkeping-keping, namun anehnya, mangkuk mi dan cangkir teh Liang Shan tetap melayang di udara, tertahan oleh hawa sakti tak kasat mata.
Liang Shan masih dalam posisi duduk, seolah-olah kursi yang ia duduki tidak ikut hancur.
"Hawa sakti yang hebat!" si raksasa terkejut. "Serang dia!"
Sepuluh pria bersenjata golok dan rantai menerjang dari segala arah.
Liang Shan tidak menghunus Golok Sunyi. Ia hanya menggerakkan telapak tangan kirinya secara melingkar.
Tiba-tiba, suhu di dalam kedai turun secara drastis. Embun beku mulai muncul di dinding-dinding kayu.
"Lingkaran Es Pembeku Sukma!"
Hawa biru kehitaman meledak dari tubuh Liang Shan. Para penyerang itu mendadak kaku di tengah jalan. Golok-golok mereka membeku, tangannya menempel pada gagang senjata seolah direkat oleh lem es yang sangat kuat.
Hanya dalam hitungan detik, sepuluh pria itu roboh dengan tubuh menggigil hebat, kulit mereka membiru terkena sisa-sisa Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang yang telah dimurnikan.
Si raksasa kapak gemetar. Ia belum pernah melihat ilmu silat yang begitu dingin sekaligus mematikan.
"Kau ..., kau bukan manusia, kau iblis!"
"Aku hanya seorang putra yang sedang mencari keadilan," kata Liang Shan sambil berdiri.
Ia meletakkan beberapa keping perak di atas puing meja untuk membayar kerugian pemilik kedai, lalu melangkah keluar tanpa memedulikan tatapan ngeri para pengunjung lainnya.
Perjalanannya terus berlanjut menuju wilayah yang lebih terpencil. Di tengah jalan, mereka melewati sebuah desa yang tampak hancur.
Rumah-rumah dibakar, dan tangisan terdengar dari balik reruntuhan.
Liang Shan berhenti. Meskipun hatinya kini keras karena dendam, ia tetaplah putra Liang Qi yang diajarkan untuk membela yang lemah.
Di tengah desa, mereka melihat sekelompok tentara bayaran berpakaian abu-abu, pasukan Sekte Gagak Hitam, yang sedang menyeret beberapa gadis desa.
"Tolong! Siapa pun, tolong kami!" jerit seorang wanita tua yang dipukuli oleh salah satu penjaga.
Han Xiang tidak tahan melihatnya. Ia melompat dari kudanya, jarum-jarum peraknya melesat seperti hujan cahaya.
Saat itu juga, dua tentara jatuh dengan tangan lumpuh.
"Siapa yang berani mencampuri urusan Sekte Gagak Hitam?" bentak pemimpin mereka, seorang pria dengan mata satu yang memegang pedang melengkung.
Liang Shan berjalan mendekat dengan tenang. Setiap langkah membuat tanah di bawah kakinya retak dan mengeluarkan uap dingin.
"Aku," jawab Liang Shan singkat.
"Kau? Kau hanya pemuda ingusan! Serang!"
Kali ini, Liang Shan menghunus Golok Sunyi. Begitu bilah golok hitam itu keluar dari sarungnya, terdengar suara dengungan yang menyayat hati, seolah-olah golok itu sedang menangis.
Liang Shan melesat. Dalam satu kedipan mata, ia sudah berada di tengah-tengah kerumunan musuh.
"Tebasan Luka di Ujung Senja !"
Cahaya hitam meluncur secara horizontal. Tidak ada suara ledakan, hanya ada bunyi gesekan yang sangat halus.
Detik berikutnya, sepuluh tentara bayaran itu berdiri diam, sebelum akhirnya tubuh mereka terbelah dua tepat di bagian pinggang.
Darah yang keluar langsung membeku menjadi kristal merah sebelum menyentuh tanah.
Pemimpin mata satu itu jatuh terduduk. Ia kencing di celana melihat pemandangan mengerikan itu.
"Ampun ..., ampun, tuan pendekar! Kami hanya menjalankan perintah!"
"Perintah siapa?" tanya Liang Shan, ujung goloknya berada tepat di tenggorokan pria itu.
"Tuan ..., Tuan Gui Mo dari Lembah Kematian. Dia ..., dia memerintahkan kami untuk mengumpulkan 'bahan' bagi eksperimen racunnya," jawab si mata satu terbata-bata.
Liang Shan menyipitkan mata. Gui Mo. Salah satu dari lima pendekar bayaran yang terlibat dalam pembantaian keluarganya.
Rupanya, musuh telah menunggunya di depan.
"Pergilah, dan katakan pada tuanmu," ucap Liang Shan. "Maut sedang berjalan menuju lembahnya."
Setelah menyelamatkan desa itu, mereka beristirahat di tepi sungai. Yue Niang memetik kecapinya dan memainkan nada yang menenangkan jiwa Liang Shan yang mulai sering diselimuti amarah.
Tiba-tiba, dari arah hulu sungai, muncul seorang kakek tua yang sedang memancing di atas batu besar.
Kakek itu hanya mengenakan kain kasar, namun auranya sangat stabil.
"Memanfaatkan racun untuk kekuatan adalah jalan pintas menuju kegilaan, anak muda," ucap kakek itu tanpa menoleh.
Liang Shan terkejut. Ia tidak merasakan kehadiran kakek ini sebelumnya. Itu berarti tingkat tenaga dalam kakek ini setara atau bahkan di atasnya.
"Senior, aku tidak punya pilihan," jawab Liang Shan sambil menjura hormat.
"Pilihan selalu ada. Hanya saja manusia sering kali lebih memilih jalan yang paling berdarah," kakek itu berdiri, mengangkat pancingnya yang ternyata tidak memiliki kail.
"Kau membawa lima permata itu. Kau tahu, permata itu bukan hanya kunci sejarah, tapi juga kunci penutup segel gerbang iblis yang ingin dibuka oleh Dewa Tanpa Nama."
Liang Shan mengernyit. "Segel gerbang iblis? Apa maksud Senior?"
"Dunia persilatan yang kau lihat sekarang hanyalah permukaan. Di bawahnya, ada kekuatan kuno yang haus akan kehancuran. Ayahmu, Liang Qi, sebenarnya bukan dibunuh karena pengkhianatan politik biasa. Ia dibunuh karena menolak memberikan koordinat gerbang itu kepada Menteri Wei dan kelompoknya."
Informasi ini menyambar otak Liang Shan seperti petir. Jadi, ayahnya adalah penjaga rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar urusan takhta.
"Siapa Senior sebenarnya?" tanya Liang Shan penasaran.
"Hanya seorang tua yang gagal menjaga sahabatnya," kakek itu tersenyum sedih. "Nama lamaku adalah Pedang Pemecah Langit, Fan Su. Jika kau ingin menghadapi Pendekar Tapak Hitam dan Ratu Es, kau butuh lebih dari sekadar racun. Kau butuh 'Hati Pedang' yang murni."
Kakek itu melemparkan sebuah gulungan tua kepada Liang Shan.
"Pelajari ini. Ini adalah teknik pernapasan Sembilan Matahari yang bisa menyeimbangkan hawa dingin di tubuhmu. Jangan sampai kau menjadi iblis sebelum dendammu terbalas."
Setelah berkata demikian, kakek itu melompat ke atas arus sungai yang deras dan menghilang begitu saja, seolah-olah ia adalah bagian dari air itu sendiri.
Berbekal petunjuk dari kakek misterius itu, Liang Shan melanjutkan perjalanan. Hawa di sekitarnya mulai berubah menjadi lembap dan berbau busuk.
Tanpa disadari, mereka telah memasuki wilayah pengaruh Lembah Kematian.
Lembah ini adalah sebuah cekungan raksasa yang selalu tertutup kabut ungu beracun. Pepohonan di sini tumbuh dengan bentuk yang aneh, seolah-olah mereka sedang merintih kesakitan.
"Hati-hati, kabut ini mengandung racun saraf," Han Xiang memperingatkan sambil membagikan pil penawar yang ia buat khusus.
Namun, bagi Liang Shan, kabut ini justru terasa nikmat. Ia menarik napas dalam-dalam dan menyerap racun itu ke dalam pori-porinya. Energi biru di tubuhnya berpendar semakin terang.
Tiba-tiba, suara tawa yang melengking memenuhi lembah.
"Hahaha! Akhirnya kau tiba di rumahku!"
Dari balik kabut, muncul puluhan sosok yang menyerupai mayat hidup. Mereka bergerak dengan kaku namun memiliki kecepatan yang luar biasa.
Di belakang mereka, seorang pria kurus dengan jubah hijau zaitun berdiri dengan angkuh. Dialah Gui Mo, si Iblis Hantu.
"Liang Shan, berikan permata itu padaku, dan aku akan menjadikanmu jenderal mayat hidupku yang paling kuat!" teriak Gui Mo.
Liang Shan menatap Gui Mo dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
"Kau adalah salah satu orang yang menikam punggung Ayahku dari belakang di malam itu."
"Ayahmu terlalu jujur, itu sebabnya dia mati!" sahut Gui Mo sambil menggerakkan tangannya.