NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Hal-Hal yang Tidak Lagi Kebetulan

(POV: Alice)

Aku mulai mengenal kota kecil itu dari sudut pandang lain.

Tidak lagi sebagai orang asing yang menyewa vila tua, tetapi sebagai seseorang yang keberadaannya diperhatikan.

Penjual roti mulai menyapaku dengan nama.

Tetangga di lereng bawah menanyakan apakah aku butuh kayu bakar tambahan untuk musim dingin yang tersisa.

Dan di setiap percakapan, satu nama selalu muncul secara tidak langsung.

Noah.

“Anak bengkel itu sering membantu, ya?” kata seorang perempuan paruh baya saat aku membeli cat.

Aku tersenyum. “Ia dibayar.”

“Ya, ya,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Tetap saja.”

Aku tidak menyangkal.

Aku juga tidak membenarkan.

Aku mulai memahami: kota ini tidak butuh kepastian. Ia hanya butuh konsistensi.

(POV: Noah)

Hari Jumat, aku menerima email dari kantor pusat.

Bukan masalah. Hanya laporan. Tapi membaca kata-kata formal itu membuatku sadar betapa dua dunia ini mulai berjauhan.

Sore itu, aku naik ke vila dengan perasaan berat.

Alice sedang mengecat dinding dapur. Ada noda cat di rambutnya.

“Kau tampak seperti seseorang yang berpikir terlalu banyak,” katanya tanpa menoleh.

“Aku mendapat email,” jawabku.

Ia berhenti mengecat. “Buruk?”

“Tidak. Tapi mengingatkan.”

“Mengingatkan apa?”

“Bahwa aku hidup di dua tempat,” kataku jujur.

Ia meletakkan kuas. Mengelap tangannya dengan kain.

“Kau tidak harus memilih salah satu sekarang,”

katanya. “Tapi kau harus jujur soal bebannya.”

Aku mengangguk. “Aku lelah berpura-pura bahwa ini ringan.”

Ia mendekat, berdiri cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma cat dan sabun.

“Tidak apa-apa jika berat,” katanya. “Asal kau tidak memikulnya sendirian.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menjadi kuat di depannya.

(POV: Alice)

Aku melihat perubahan kecil dalam diri Noah.

Ia tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi selalu menunduk saat berjalan di kota. Ia mulai berhenti dan berbicara. Mendengarkan.

Malam itu, kami makan bersama di dapur yang setengah selesai.

“Kau tidak menanyakan tentang masa laluku,” katanya tiba-tiba.

Aku menoleh. “Apakah kau ingin aku bertanya?”

Ia berpikir. “Belum.”

Aku mengangguk. “Kalau begitu, aku juga belum ingin menjelaskan milikku.”

Ia tersenyum kecil. “Kesepakatan yang adil.”

Setelah makan, kami duduk di ruang tamu. Ia membaca. Aku menulis.

Tidak ada musik. Tidak ada percakapan panjang.

Namun keheningan kali ini terasa penuh—bukan kosong.

(POV: Noah)

Hari Sabtu, hujan turun deras.

Aku memutuskan tidak turun ke kota. Bengkel bisa menunggu.

Alice membuka pintu kamar tamu dan berkata, “Kau bisa tinggal. Jalan licin.”

Aku tidak menanyakan apakah itu izin atau tawaran.

Aku tinggal.

Kami menghabiskan hari dengan hal-hal sederhana: memperbaiki rak buku, menyortir barang-barangnya, membuang yang rusak.

Di salah satu kotak, aku menemukan sebuah map tua berisi surat-surat.

Ia melihatku memegangnya dan berkata cepat, “Itu milikku. Lama.”

Aku mengembalikannya tanpa membaca.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Itu kepercayaan.

Dan aku menyimpannya dengan hati-hati.

(POV: Alice)

Hujan membuat vila terasa lebih kecil.

Lebih hangat.

Lebih nyata.

Saat malam tiba, listrik sempat padam. Kami menyalakan lilin dan duduk di lantai ruang tamu.

“Aku tidak keberatan gelap,” kata Noah.

“Aku dulu membencinya,” jawabku. “Sekarang tidak terlalu.”

Ia menatapku. “Kenapa berubah?”

Aku berpikir sejenak. “Karena aku tahu jika aku terjatuh, ada seseorang di ruangan yang sama.”

Ia tidak menyentuhku. Tapi jarak di antara kami menyusut.

“Alice,” katanya pelan, “aku tidak ingin kita melangkah terlalu cepat.”

“Aku tahu,” jawabku.

“Tapi aku juga tidak ingin kita diam di tempat karena takut.”

Aku tersenyum kecil. “Maka kita berjalan pelan.”

Ia mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyentuh pipiku—

sekilas, ragu, seperti memastikan aku nyata.

Aku tidak menjauh.

(POV: Noah)

Sentuhan itu singkat.

Tapi cukup untuk membuat dadaku sesak dengan cara yang baik.

Aku menyadari: aku tidak lagi hanya tinggal karena alasan praktis.

Aku tinggal karena aku ingin melihat bagaimana hari-hari kami berkembang.

Aku ingin tahu bagaimana Alice tertawa ketika sesuatu berhasil. Bagaimana ia diam saat kecewa. Bagaimana kami bertengkar, suatu hari nanti.

Itu bukan rencana.

Itu komitmen yang belum diucapkan.

(POV: Alice)

Saat hujan berhenti dan listrik kembali menyala, kami tidak langsung berdiri.

Kami tetap duduk di lantai, bersandar satu sama lain.

“Aku tidak tahu ke mana ini akan berakhir,” kataku jujur.

Ia mengangguk. “Aku juga tidak.”

“Tapi aku tahu ini bukan kebetulan lagi.”

Ia tersenyum. “Tidak. Ini pilihan.”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang ke Norden, aku merasa bukan hanya tinggal di sebuah tempat—

Aku mulai menjadi bagian darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!