NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.21

Hari itu, Moren kembali mengutak-atik alat-alatnya dan tidak pernah tahu kalau dirinya akan membuat alat apa, yang pasti bukan alat untuk mendeteksi sesuatu yang diluar nalar mereka. Alat penemuan terbarunya itu menyala, namun beberapa saat kemudian alat itu mati dan hanya menyisakan sunyi, membuat orang yang sedang berada diruang tersebut tiba-tiba diam seperti membeku. Seperti seseorang menekan tombol mute dunia. Juned, yang biasanya refleks menggerakkan kamera ke mana pun ada potensi konten, kali ini ikut membeku. Layarnya masih menyala, menampilkan wajah-wajah pucat yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Kenapa?” bisik Surya.

Moren menatap alatnya lama, lalu menunduk.

“…low battery.”

“APA?”

Satu kata itu terdengar lebih keras dari teriakan. Lebih menyakitkan dari semua bunyi BIP yang mereka dengar sejak pagi.

“Power banknya kosong.”

Palui menjerit.

“SIAPA YANG PAKE POWER BANK ITU?!”

Nada suaranya bukan lagi marah. Lebih mirip orang yang baru sadar tabungannya dipakai beli gorengan oleh orang lain. Semua menoleh ke arah Juned. Gerakan mereka kompak seperti latihan paduan suara tanpa aba-aba. Juned mengangkat kamera perlahan.

“…buat ngecas kamera.”

“BERAPA PERSEN?!”

“Seratus.”

Keheningan itu menggantung lama. Sampai akhirnya Udin menghela napas panjang, seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk panik.

“Oke,” katanya. “Kesimpulan.”

Nada suaranya bukan nada pemimpin. Lebih seperti orang yang ingin menyelamatkan sisa kewarasan kelompok.

“Apa ada sesuatu?” tanya Ani.

Ia tidak terdengar takut, justru penasaran. Namun jenis penasaran yang biasanya bikin orang masuk masalah.

“Belum tentu,” jawab Udin. “Bisa jadi alatnya error.”

“BISA JADI?!” ulang Surya.

Nada Surya meninggi. Bukan karena ia marah, tapi karena otaknya sudah menolak kalimat yang mengandung ketidakpastian.

“BISA JADI BENER?!” tambah Bodat.

Bodat tidak berteriak. Tapi tekanannya terasa lebih berat. Moren mengangkat alat itu perlahan, seperti seseorang yang mengangkat bayi yang baru ia sadari bukan miliknya.

“Teknologi itu netral,” katanya lirih. “Yang nggak netral itu… perasaan kita.”

Tidak ada yang langsung menyela. Kalimat itu memang terdengar terlalu masuk akal untuk suasana yang selama ini sudah terlanjur tidak masuk akal.

“Jadi ini semua cuma sugesti?” tanya Aluh.

Aluh jarang bicara. Ketika ia bicara, biasanya pertanyaan paling sederhana dan justru paling sulit dijawab. Di luar, angin sepoi-sepoi bertiup perlahan. Angin biasa yang membuat daun bergeser dan membuat debu beterbangan.

TOK.

TOK.

Dua ketukan yang tidak keras tapi jelas, berhasilembuat semuanya menoleh bersamaan dengan herakan refleks. Tubuh mereka seperti sudah dilatih oleh serangkaian kejadian aneh sejak pertama mereka tiba di sana. Moren refleks mengangkat alatnya. Senternya menyala.

BIP.

Alat itu berbunyi satu kali, Lalu mati lagi.

“…”

Mereka seakan sudah kebal dengan hal semacam ini, sehingga tidak ada yang menjerit atau lari menyelamatkan diri sendiri. Hanya tatapan kosong yang saling bertabrakan antara mereka.nUdin tersenyum kaku.

“Tenang,” katanya. “Itu… angin.”

Ia mengangguk sendiri, seperti mencoba meyakinkan dirinya lebih dulu. Padahal anginnya sudah berhenti berhembus sejak beberapa menit yang lalu.

Alat itu diletakkan di sudut ruang tengah, kali ini tanpa kehormatan. Tidak seperti piala. Lebih seperti barang bukti yang semua orang sepakat untuk tidak disentuh lagi. Moren duduk di samping alat tersebut sambil memeluk lutut. Wajahnya terlihat kusut, bukan karena takut, tapi karena kecewa pada dirinya sendiri, pada logika, pada fakta bahwa YouTube tidak selalu bisa jadi solusi hidup.

Juned mematikan kamera. Untuk pertama kalinya sejak KKN dimulai, ia memilih menyimpan momen, bukan merekamnya. Palui mengeluarkan buku catatan keuangan. Ia menatap angka-angka di sana dengan lama.

“Power bank rusak,” gumamnya. “Piring pecah. Mie habis. Mental juga.”

“Aku nggak mau laporan ini ke kampus,” kata Susi cepat. “Nanti disuruh bertahan.”

Ani duduk bersila di lantai, menatap alat itu.

“Kalau dipikir-pikir,” katanya santai, “kalau memang ada sesuatu… dia sabar banget ya.”

Semua menoleh padanya.

“Coba bayangin,” lanjut Ani. “Kita ribut dari kemarin-kemarin, teriak-teriak, bawa alat, panik. Tapi dia cuma… nunggu.”

Tidak ada yang tertawa, karena tiba-tiba, pikiran itu terasa lebih menyeramkan daripada pintu menutup sendiri.

...🍃🍃🍃...

Malam datang tanpa aba-aba dan seperti biasa, matahari tenggelam tanpa ada adegan dramatis yang terjadi. Bahkan langit sore tadi tidak sepenuhnya berwarna merah. Hanya cahaya yang pelan-pelan memudar, seolah dunia lupa menyalakan lampu.

Mereka makan seadanya dengan masakan dari bahan yang tersisa seadanya tanpa banyak bicara. Sendok yang beradu dengan piring terdengar terlalu keras, setiap suara kecil terasa mencurigakan dan setiap bayangan terasa punya niat.

“Kita tidur,” Udin memecah kesunyian. “Besok kita bersikap normal.”

“Normal gimana?” tanya Surya.

“Kayak nggak ada apa-apa.”

“Kalau bunyi lagi?” tanya Juleha.

“Kita pura-pura nggak dengar.”

Bodat mengangguk.

“Kadang, mengabaikan itu bentuk perlawanan.”

Tidak ada yang membantah usul tersebut karena tidak ada yang punya rencana lebih baik.

Malam itu dan pagi yang belum sepenuhnya terang, memberi satu pelajaran pahit bagi semua mahasiswa KKN di posko itu. Teknologi mungkin bisa membaca sinyal, Bisa mengukur frekuensi serta bisa memberi bunyi peringatan. Tapi tidak pernah bisa menenangkan hati yang sudah terlanjur takut. Apalagi kalau yang dibaca bukan cuma gelombang. Melainkan sesuatu yang sejak awal sengaja ingin diketahui.

Pagi datang seperti kemarin, masih dengan ragu,dingin dan tidak ramah. Wati bangun pertama, seperti biasa, ia melirik sudut ruang tengah. Alat itu masih di sana, masih dengan posisi yang sama, tidak berbunyi. Karena tidak ada satupun diantara mereka yang menyentuh nya dari sana.

“Bagus,” Wati menghela napas. “Jangan manja.”

Ia kemudian bangkit dan pergi ke dapur. Rak piring itu masih di tempatnya, tidak ada yang bergeser, tidak ada yang jatuh. Dapur terlihat normal seperti biasanya. Satu per satu yang lain bangun, mereka hanya saling bertukar pandang, tidak ada yang langsung bicara. Seolah ada kesepakatan tak tertulis untuk tidak membuka topik semalam. Sampai Juned memecahkan hening yang ada.

“Kameraku penuh,” katanya. “Tapi aku nggak upload.”

“Kenapa?” tanya Palui.

Juned mengangkat bahu.

“Nggak semua hal perlu ditonton orang.”

Udin terlihat hanya tersenyum tipis. Hari itu berjalan normal. Tidak ada bunyi, Tidak ada bayangan, Tidak ada pintu bergerak. Tidak ada piring bergeser. Bahkan angin pun terasa biasa. Seolah malam yang baru saja mereka lewati tidak pernah terjadi. Seperti semua itu hanya hasil kurang tidur dan terlalu banyak mie instan. Dan hampir saja mereka percaya pada hal-hal aneh dan gaib.

Saat matahari tepat di atas kepala alat milik Moren itu kembali berbunyi dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar.

BIP.

Moren langsung menoleh kesana, Udin menutup mata, Bodat menghela napas. Mereka hanya saling pandang. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka tersenyum pahit. Karena sekarang mereka tahu satu hal dengan pasti, Bukan teknologi yang bermasalah. Bukan juga posko ataupun desa ini. Yang bermasalah adalah keinginan manusia untuk selalu tahu. Dan kadang, sesuatu di luar sana, senang sekali ketika rasa ingin tahu itu tidak pernah benar-benar mati.

...🍃🍃🍃🍃...

Bersambung....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!