Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Angka merah pada monitor itu berkedip dengan ritme yang memacu adrenalin siapa pun di dalam ruangan. Handoko menatap layar tersebut dengan senyum yang menyiratkan kemenangan mutlak di depan matanya.
"Waktumu sudah habis, Arlan Dirgantara," kata Handoko sambil memberikan tekanan lebih kuat pada tombol kendali di tangannya.
Siska menempelkan ibu jarinya pada sensor biometrik kartu emas dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Cahaya biru dari kartu tersebut terpancar dan menyelimuti seluruh panel kendali utama pangkalan maritim.
Sebuah suara denging frekuensi tinggi mulai merambat melalui lantai logam yang dingin. Arlan melangkah maju dengan posisi tubuh yang sangat stabil dan terjaga.
Layar monitor yang tadi menampilkan hitungan mundur mendadak dipenuhi oleh barisan kode berwarna biru. Arlan mengarahkan pandangannya ke arah sirkuit utama yang tersembunyi di balik dinding beton.
"Apa yang sedang terjadi dengan sinyal pemicu ini?" tanya Handoko dengan nada suara yang mulai terdengar panik.
"Sinyal itu sudah berpindah tangan sejak protokol Deep Sea aktif, Pak Handoko," kata Arlan dengan nada suara yang sangat tenang.
Angka dua belas pada monitor mendadak membeku dan tidak bergerak lagi. Cahaya merah yang menandakan status bom pada kapal kargo berubah menjadi warna hijau yang stabil.
Handoko menekan tombol kendalinya berkali-kali dengan gerakan jari yang sangat kasar. Pria itu tidak menyadari bahwa akses jaringannya sudah terputus sepenuhnya dari pusat data pangkalan.
"Alat ini seharusnya bisa meledakkan kapal itu dalam sekejap!" teriak Handoko sambil membanting kendali kecil itu ke lantai.
Arlan bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata manusia biasa. Ia mengunci pergelangan tangan Handoko dan menjatuhkannya ke lantai marmer yang keras.
"Anda meremehkan teknologi yang dibangun oleh ayah Mbak Siska selama sepuluh tahun," kata Arlan sambil mempererat kuncian pada tangan lawannya.
Siska segera mengambil kendali cadangan dari saku jasnya dan memasukkannya ke dalam slot utama. Layar besar di depan mereka menampilkan wajah Kapten Bramanto yang tampak sangat geram.
"Kami sudah menerima seluruh rekaman percakapan Anda di pangkalan ini, Handoko," kata Kapten Bramanto melalui pengeras suara ruangan.
Suara langkah kaki dari puluhan petugas berseragam mulai terdengar mendekati lorong komunikasi. Handoko hanya bisa terdiam dengan wajah yang tampak sangat pucat di bawah tekanan tangan Arlan.
"Amankan dia sekarang juga," kata Arlan kepada petugas yang baru saja mendobrak pintu baja ruangan.
Tegar yang tadi ditahan di luar akhirnya masuk dengan kawalan tim medis yang segera memeriksa kondisinya. Siska memeluk kotak logam emasnya dengan perasaan lega yang sangat luar biasa.
Arlan melepaskan kunciannya dan berdiri tegak sambil merapikan kembali kerah kemejanya. Matanya tertuju pada data manifest kapal yang baru saja terbuka secara otomatis di layar utama.
"Mbak Siska, lihatlah berat muatan pada palka nomor empat itu," kata Arlan sambil menunjuk ke arah baris angka yang berkedip.
Siska mendekati layar dan menyipitkan matanya untuk membaca detail teknis yang ditampilkan. Wajah wanita itu mendadak berubah menjadi sangat tegang saat menyadari sesuatu yang aneh.
"Ini bukan berat gandum, Arlan. Massa jenis benda ini jauh lebih padat dari logam biasa," kata Siska dengan suara yang sangat rendah.
Arlan menyadari bahwa kapal tersebut tidak hanya membawa bahan peledak sebagai jebakan. Di bawah tumpukan gandum itu, terdapat aset yang dicari oleh divisi global Megantara selama ini.
Sebuah bayangan hitam terlihat melintas di dermaga melalui kamera pengawas yang berada di ujung pelabuhan. Arlan merasakan firasat buruk saat melihat sebuah helikopter tanpa lampu navigasi mulai mendekat dari arah laut lepas.
"Kita harus segera meninggalkan pangkalan ini sekarang juga," kata Arlan sambil menarik tangan Siska untuk menjauh dari jendela kaca.
Sebuah rudal kecil melesat dari arah laut dan menghantam menara pengawas pangkalan dengan suara ledakan yang sangat dahsyat. Arlan mendekap Siska tepat saat serpihan kaca mulai berhamburan ke seluruh penjuru ruangan.
Ledakan itu mengguncang fondasi beton pangkalan hingga Arlan merasa lantai di bawah kakinya akan runtuh seketika. Debu semen yang pekat mulai memenuhi ruangan rapat yang kini sudah hancur berantakan. Arlan segera menarik tubuh Siska untuk berlindung di bawah meja kayu jati yang masih berdiri kokoh.
[Sistem: Integritas Bangunan Menurun 40%. Jalur Evakuasi Teraman Terdeteksi di Sektor Timur.]
"Kita harus segera keluar dari sini sebelum serangan kedua datang," perintah Arlan kepada Siska dengan nada suara yang sangat tenang.
Arlan menyapu pandangannya ke arah monitor yang masih menyala redup di antara puing-puing peralatan elektronik. Data pada layar tersebut menunjukkan pergerakan kapal kargo yang kini berbelok tajam menuju perairan teritorial negara tetangga.
"Apa yang sebenarnya tersimpan di dalam palka nomor empat itu, Arlan?" tanya Siska sambil mencoba membersihkan serpihan kaca dari rambutnya.
[Analisis Muatan: Terdeteksi Unsur Isotop Langka 'Isogen-9'. Komoditas Utama Untuk Teknologi Reaktor Miniatur Megantara.]
"Itu bukan sekadar bahan peledak, Mbak Siska. Itu adalah jantung dari seluruh kekayaan Megantara Global yang dicuri dari laboratorium pusat," jawab Arlan sambil berdiri dan memeriksa keadaan koridor di luar ruangan.
Suara raungan mesin helikopter terdengar semakin dekat di atas atap bangunan yang sudah retak. Arlan melihat sebuah tali peluncur dijatuhkan dari helikopter tersebut tepat di depan jendela yang sudah pecah. Dua orang pria dengan seragam taktis hitam meluncur turun dengan senjata yang sudah siap di tangan mereka.
"Mereka mengirim tim penghapus jejak untuk memastikan tidak ada data yang tersisa," kata Arlan sambil menarik sebuah pipa besi dari reruntuhan dinding.
"Kita tidak punya senjata api, Arlan! Bagaimana kita bisa melawan mereka?" tanya Siska dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kecemasan.
"Gunakan alat pemadam api di samping Mbak Siska sekarang juga," perintah Arlan sambil menyiapkan posisi untuk menyergap.
Tepat saat salah satu pria berseragam hitam melangkah masuk melalui jendela, Arlan memberikan isyarat kepada Siska untuk menarik pin pengaman tabung pemadam. Siska segera menekan tuas tersebut hingga asap putih tebal menyembur keluar dan membutakan pandangan lawan di depannya.
Arlan melompat maju dan menghantamkan pipa besinya ke arah pergelangan tangan pria bersenjata itu hingga senjatanya terjatuh. Ia kemudian memberikan tendangan keras ke arah dada pria tersebut sampai ia terlempar kembali ke arah balkon.
"Ambil senjata itu, Mbak Siska!" perintah Arlan sambil menunjuk ke arah pistol semi-otomatis yang tergeletak di lantai.
Siska meraih senjata tersebut dengan tangan yang masih gemetar hebat namun matanya menunjukkan tekad yang kuat. Mereka berdua segera berlari menuju pintu belakang yang mengarah langsung ke dermaga logistik pangkalan.
[Peringatan: Helikopter Musuh Sedang Mempersiapkan Peluncuran Roket Termal.]
"Tegar! Di mana posisi kapal cepat sekarang?" tanya Arlan melalui alat komunikasi nirkabel yang masih menempel di telinganya.
"Dermaga tiga, Mas! Saya sudah memutar mesinnya, tapi ada dua perahu patroli musuh yang menutup jalur keluar!" jawab Tegar dengan nada suara yang sangat mendesak.
Arlan menarik napas panjang sambil terus berlari melewati lorong-lorong beton yang mulai dipenuhi oleh asap hitam. Ia menoleh ke arah Siska yang terus mengikuti langkahnya tanpa mengeluh sedikit pun meskipun kakinya terluka.
"Kita akan menggunakan sisa energi dari kartu emas untuk mengacaukan radar perahu patroli mereka," ucap Arlan sambil mengeluarkan kartu perak itu dari sakunya.
Saat mereka mencapai pintu dermaga, Arlan melihat sebuah kapal kargo besar milik Arlan Corp sedang dikepung oleh tiga kapal kecil tanpa identitas di kejauhan. Sebuah cahaya laser merah mendadak muncul dari arah laut dan mengunci posisi dada Arlan secara tepat.
"Arlan, awas! Ada penembak jitu di atas kapal patroli itu!" teriak Siska sambil mencoba menarik bahu Arlan untuk berlindung.
Arlan merasakan sebuah desingan peluru melewati telinganya dan menghantam daun pintu besi di belakangnya hingga berlubang. Ia segera menekan sebuah tombol pada kartu emasnya untuk mengaktifkan protokol pengalihan sinyal terakhir yang ia miliki.
[Sistem: Mengaktifkan Flare Digital. Seluruh Sensor Optik di Area Dermaga Akan Terganggu Selama 30 Detik.]
"Lari ke kapal sekarang!" perintah Arlan sambil menarik tangan Siska menerjang hujan peluru yang mulai turun secara tidak teratur.
Mereka melompat ke atas kapal cepat tepat saat Tegar menarik tuas gas dengan kecepatan maksimal. Kapal melesat membelah ombak, namun sebuah torpedo kecil diluncurkan dari arah belakang dan mulai mengejar jejak panas mesin kapal mereka.
"Mas Arlan, torpedo itu tidak bisa kita hindari dengan kecepatan ini!" teriak Tegar sambil terus memutar kemudi dengan sangat kasar.
Arlan berdiri di bagian belakang kapal sambil menatap ke arah torpedo yang semakin mendekat di permukaan air. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang selama ini ia simpan sebagai senjata rahasia terakhirnya.
JIKA SUKA NOVEL INI: BANTU PROMOSI GAN😭
KALO G SUKA BUANG AJA KELAUT... EH JANGAN DENG