NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: SATRIA PERINGKAT 1 SE-JAKARTA

#

Berita tentang nilai sempurna aku menyebar cepat.

Gak cuma di sekolah. Tapi ke seluruh Jakarta. Bahkan nasional.

**SISWA MISKIN YANG BONGKAR KORUPSI JADI LULUSAN TERBAIK SE-JAKARTA DENGAN NILAI SEMPURNA**

Judul itu ada di mana-mana. Di koran. Di website berita. Di TV. Di media sosial.

Wartawan-wartawan datang lagi ke sekolah. Lebih banyak dari sebelumnya.

Kamera besar. Mikrofon. Fotografer. Semua ngeliatin aku.

"Satria, bagaimana perasaanmu mendapat nilai sempurna?"

"Satria, apa rahasiamu bisa dapet nilai seratus?"

"Satria, kamu bangga jadi lulusan terbaik se-Jakarta?"

Pertanyaan bertubi-tubi. Dari berbagai arah.

Aku berdiri di depan mereka semua. Gugup. Tapi aku coba tenang.

"Saya... saya syukur alhamdulillah. Tapi ini bukan pencapaian saya sendiri. Ini hasil dari doa ayah ibu saya. Dukungan sahabat-sahabat saya. Guru-guru yang percaya sama saya. Dan semua orang baik yang bantuin saya sampai sejauh ini."

Wartawan catat. Kamera terus ngerekam.

"Saya dulu anak yang diejek. Direndahkan. Dijauhin. Tapi saya gak menyerah. Karena saya percaya... kalau kita berusaha dengan tulus, Allah pasti kasih jalan. Dan ini... ini buktinya."

Fotografer jepret foto aku dari berbagai sudut. Flash kamera nyala-nyala.

"Terima kasih," kata aku pelan.

***

Siang itu, ibu sama ayah dateng ke sekolah.

Ayah didorong kursi roda sama Pak Hadi. Meskipun masih lemah, ayah senyum lebar. Mata berkaca-kaca.

Ibu jalan di sebelahnya. Baju yang itu-itu aja. Tapi mukanya bersinar. Bahagia.

Aku lari ke mereka. Peluk ibu. Peluk ayah.

"Yah... Bu... aku lulus. Aku dapet nilai sempurna."

Ibu nangis. Peluk aku erat. "Satria... ibu bangga. Ibu sangat bangga sama kamu."

Ayah pegang tangan aku. Tangannya masih gemetar. Tapi genggamannya kuat.

"Sat... ayah... ayah gak nyangka. Anak ayah... anak ayah jadi orang hebat. Jadi... jadi kebanggaan Jakarta. Ayah... ayah gak bisa bilang apa-apa lagi. Ayah cuma bisa nangis bahagia."

Ayah nangis. Keras. Kami bertiga pelukan. Nangis bareng.

Siswa-siswa di sekeliling kami pada diem. Ngeliat dengan mata berkaca-kaca. Beberapa juga nangis.

Bu Ratna juga dateng. Dia peluk kami. "Kalian keluarga yang luar biasa. Kalian... kalian contoh nyata bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk sukses."

***

Kepala Sekolah baru, Pak Hasan, manggil aku ke ruangannya.

Aku masuk. Di dalam udah ada beberapa guru. Termasuk Bu Ratna.

"Satria, duduk."

Aku duduk di depan meja Pak Hasan.

Pak Hasan senyum. "Satria, kamu luar biasa. Nilai seratus. Lulusan terbaik se-Jakarta. Kamu buat nama sekolah kita terangkat. Kamu buat semua orang bangga."

Aku nunduk. "Terima kasih, Pak."

Pak Hasan berdiri. Dia buka laci mejanya. Dia keluarin piagam. Piagam besar dengan bingkai emas.

"Ini. Penghargaan khusus dari sekolah. Untuk siswa terbaik. Untuk siswa yang gak cuma pintar, tapi juga berani. Berani melawan ketidakadilan."

Dia serahin piagam itu ke aku.

Aku terima dengan tangan gemetar. Aku baca tulisannya.

**PENGHARGAAN SISWA TELADAN**

**SATRIA BUMI AKSARA**

**LULUSAN TERBAIK SE-JAKARTA**

**NILAI UJIAN NASIONAL: 100.00**

Aku nangis. Gak bisa nahan.

"Terima kasih, Pak... terima kasih..."

Guru-guru pada tepuk tangan. Bahkan yang dulu meragukan aku. Bahkan yang dulu gak percaya sama aku.

Sekarang mereka semua kasih hormat.

***

Sore itu, aku, Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari berkumpul di warung Pak Hadi.

Tempat di mana aku dulu kerja cuci piring tiap malam. Tempat yang jadi saksi bisu perjuangan aku.

Pak Hadi masak spesial buat kami. Nasi goreng. Ayam goreng. Sate. Es teh manis.

"Ini semua gratis! Buat kalian yang udah lulus dengan nilai bagus! Terutama buat Satria yang nilai sempurna!"

Kami makan bareng. Ketawa-ketawa. Cerita-cerita.

"Sat, lu tau gak? Waktu gue liat nama lu di urutan pertama, gue sampe teriak di tengah lapangan. Gak peduli orang-orang liat," kata Adrian sambil ketawa.

Vanya senyum. "Aku juga nangis. Nangis bahagia. Karena aku tau... lu pantas dapet ini."

Arjuna ngangguk. "Gue bangga jadi temen lu, Sat. Lu... lu inspirasi buat gue. Buat kita semua."

Nareswari pegang tangan aku. "Sat... terima kasih udah jadi pemimpin kita. Terima kasih udah ajak kita berjuang bareng. Tanpa lu... kami gak akan sampai sejauh ini."

Aku geleng. "Bukan aku yang memimpin. Kita semua sama. Kita keluarga. Kita berjuang bareng. Dan kita... kita menang bareng."

Kami angkat gelas es teh.

"Buat masa depan kita!"

"Buat masa depan kita!"

Kaca gelas beradu. Bunyi kecil tapi bermakna.

***

Malam itu, aku duduk di luar warung Pak Hadi sambil liat langit.

Bintang-bintang bersinar. Indah.

Aku inget dulu. Waktu aku masih kecil. Ayah gendong aku. Kita liat bintang bareng.

"Sat, kamu itu bintang ayah. Kamu harus bersinar."

Kata-kata ayah dulu.

Sekarang... sekarang aku beneran bersinar.

Gak cuma buat ayah. Tapi buat semua orang yang percaya sama aku.

Hape aku bunyi. Pesan masuk.

Dari Bu Ratna.

"Satria, besok datang ke sekolah jam 9 pagi. Ada pejabat dari Kemendikbud mau ketemu kamu. Katanya ada kabar penting tentang beasiswa kuliah."

Jantungku berdetak cepat.

Beasiswa kuliah.

Ini dia. Ini yang aku tunggu.

Aku balas. "Baik, Bu. Terima kasih."

Aku liat langit lagi. Senyum.

"Yah... Satria hampir sampai. Hampir bisa jadi dokter. Hampir bisa ngobatin orang-orang kayak ayah. Doain Satria ya, Yah."

Bisikku ke bintang-bintang.

Angin bertiup pelan. Kayak jawaban.

***

*Andri: "Saat kau berdiri di puncak kesuksesan, jangan lupa menoleh ke belakang. Lihatlah jejak darah dan air matamu di jalan yang kau lalui. Itulah yang membuat kesuksesanmu bermakna, bukan sekadar angka di atas kertas."*

1
Was pray
satria terlalu ambisius
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
memang kadang harapan gak sesuai dengan kenyataan
aa ge _ Andri Author Geje: good💪 benar ituh
total 1 replies
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
keren untuk Bagas ,tetap semangat dengan segala keterbatasannya
yuningsih titin: lanjut kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!