NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: KEMBALI KE SEKOLAH

#

Pagi itu aku bangun dengan perasaan aneh.

Campuran antara lega dan cemas.

Lega karena H. Bambang sama Pak Julian udah ditangkep. Kasus korupsi udah terbongkar. Kami menang.

Tapi cemas karena... karena hari ini aku harus balik ke sekolah.

Sekolah yang dulu jadi neraka buat aku. Tempat aku dihina. Diludahi. Dijauhin.

Meskipun kemarin siswa-siswa pada kasih applaus, tapi aku gak tau... aku gak tau gimana mereka bakal sikap aku sekarang.

Apa mereka beneran ngehargai aku? Atau cuma pura-pura?

"Satria, kamu gugup?"

Suara ibu dari belakang. Ibu lagi nyiapin sarapan. Nasi sama telur dadar. Hasil uang sisa dari donasi orang-orang baik yang kasih kami bantuan setelah rumah kami dibakar.

Aku senyum. "Iya, Bu. Sedikit."

Ibu jalan ke arah aku. Dia pegang pundak aku. "Satria... ibu bangga sama kamu. Kamu anak yang berani. Kamu sudah lakukan hal yang benar. Jangan takut. Tuhan akan selalu bersama orang yang berjuang untuk kebenaran."

Aku peluk ibu. "Terima kasih, Bu."

***

Jam setengah tujuh aku jalan ke sekolah.

Kali ini gak sendirian. Adrian jalan di sebelah aku. Rumahnya searah.

"Sat... lu ngerasa gak? Rasanya kayak mimpi. H. Bambang ditangkep. Pak Julian ditangkep. Kita menang."

Aku senyum. "Iya. Gue juga masih gak percaya."

Adrian diem sebentar. Terus dia liat aku. "Tapi lu tau gak, Sat? Gue masih takut. Takut ini belum beres. Takut mereka bakal balikin lagi."

Aku ngangguk. "Gue juga takut, Dri. Tapi kita gak boleh mundur sekarang. Kita udah terlalu jauh."

Adrian senyum. "Lu bener."

***

Sampai di gerbang sekolah, Vanya sama Arjuna udah nunggu.

"Pagi!" sapa Vanya sambil senyum.

"Pagi juga," jawab aku.

Arjuna liat sekeliling. "Nares belum dateng?"

Aku geleng. "Dia masih istirahat di rumah. Dokter bilang dia baru boleh masuk sekolah minggu depan."

Kami berempat jalan masuk ke gerbang.

Dan...

Berbeda.

Suasananya beda banget.

Siswa-siswa yang lewat pada senyum ke kami. Ada yang jabat tangan. Ada yang bilang "selamat pagi" dengan ramah.

Bukan lagi tatapan jijik. Bukan lagi bisikan ngejek.

Tapi senyuman. Penghargaan.

"Wah... beda banget ya..." bisik Vanya.

Adrian senyum lebar. "Akhirnya kita diperlakukan kayak manusia."

***

Kami jalan ke kelas. Kelas dua belas IPA satu.

Pintu kelas terbuka. Kami masuk.

Dan begitu kami masuk...

PLOK! PLOK! PLOK!

Tepuk tangan.

Semua anak di kelas pada tepuk tangan. Berdiri dari bangku mereka. Kasih applaus buat kami.

Aku berhenti di ambang pintu. Gak percaya.

Ini... ini kelas yang sama. Kelas yang dulu penuh ejekan. Penuh hinaan.

Sekarang... sekarang mereka tepuk tangan buat kami?

Vanya nangis. Dia tutup mulut pake tangan.

Adrian juga nangis. Tapi dia senyum.

Arjuna cuma senyum tipis. Tapi matanya berkaca-kaca.

Kami jalan ke bangku kami. Bangku paling belakang. Bangku yang biasanya kosong di sebelah kami.

Tapi sekarang... ada beberapa anak yang duduk di sekitar kami. Senyum ramah.

"Selamat pagi, Satria!"

"Pagi, Vanya!"

"Pagi, Adrian! Pagi, Arjuna!"

Kami jawab satu per satu. Masih gak percaya.

Tapi...

Di pojok kelas.

Bagas duduk dengan muka cemberut. Di sebelahnya Keyla. Dan tiga temen gengnya.

Mereka gak tepuk tangan. Mereka cuma liat kami dengan tatapan sinis. Penuh kebencian.

Aku liat mereka. Mereka liat aku balik.

Tegang.

Tapi aku gak takut lagi.

***

Pelajaran pertama, Bahasa Indonesia. Bu Ratna masuk.

Mukanya cerah. Senyum lebar.

"Selamat pagi, anak-anak!"

"SELAMAT PAGI, IBU!"

Bu Ratna liat kami berempat. Dia senyum makin lebar. "Ibu senang melihat kalian kembali. Hari ini... hari ini ibu ingin Satria maju ke depan. Berbagi pengalaman tentang perjuangan kalian."

Aku kaget. "Bu... tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian. Maju."

Aku berdiri pelan. Kaki gemetar. Jantung berdetak cepat.

Aku jalan ke depan kelas. Berdiri di depan papan tulis.

Semua mata ngeliatin aku.

Aku tarik napas dalam.

"Nama saya Satria Bumi Aksara. Kalian semua pasti udah tau cerita saya. Tentang gimana saya... saya dan teman-teman membongkar korupsi beasiswa di sekolah kita."

Suaraku gemetar. Tapi aku lanjutin.

"Tapi... tapi saya gak melakukan ini buat balas dendam. Saya gak melakukan ini buat terkenal. Saya melakukan ini karena... karena saya tau ada ratusan anak miskin lain di luar sana yang mimpinya dicuri oleh orang-orang serakah."

Aku liat semua anak di kelas.

"Kalau kita diam... siapa yang akan bicara buat mereka? Kalau kita takut... siapa yang akan berjuang buat keadilan? Kita... kita anak muda. Kita punya suara. Kita punya kekuatan. Dan kita... kita harus pakai itu buat hal yang bener."

Beberapa anak mulai nangis. Mereka lap mata pake tangan.

"Saya... saya gak akan bohong. Perjuangan ini berat. Saya dipukulin. Rumah saya dibakar. Ibu saya kolaps. Temen-temen saya diancam. Keluarga kami dalam bahaya. Tapi... tapi kami gak nyerah. Karena kami tau... kami berjuang buat sesuatu yang lebih besar dari diri kami sendiri."

Aku liat Bagas. Dia nunduk. Gak berani liat aku.

"Dan sekarang... sekarang H. Bambang sama Pak Julian ditangkep. Keadilan menang. Tapi... tapi ini bukan akhir. Ini baru awal. Masih banyak korupsi lain di luar sana. Masih banyak ketidakadilan. Dan kita... kita semua punya tanggung jawab buat melawan itu."

Aku liat Bu Ratna. Dia nangis. Tapi dia senyum.

"Jadi... jadi kumohon. Jangan diam saat kalian liat ketidakadilan. Jangan takut saat kalian tau ada yang salah. Berbicaralah. Berjuanglah. Karena kalau bukan kita... siapa lagi?"

Aku selesai.

Hening sebentar.

Terus...

PLOK! PLOK! PLOK!

Tepuk tangan. Keras. Rame.

Semua anak berdiri. Kasih standing ovation.

Bahkan Bagas... Bagas tepuk tangan. Pelan. Tapi dia tepuk tangan.

Aku liat dia. Dia liat aku. Terus dia nunduk lagi.

Mungkin... mungkin dia mulai ngerti.

***

Pulang sekolah, aku jalan bareng Vanya, Adrian, Arjuna.

Kami ngobrol santai. Ketawa-ketawa. Kayak anak SMA normal.

Untuk pertama kalinya... aku ngerasa jadi anak SMA beneran. Bukan anak yang dibully. Bukan anak yang dihina.

Tapi anak yang punya teman. Anak yang dihargai.

"Sat, lu tau gak? Tadi waktu lu ngomong di depan kelas, gue nangis," kata Vanya sambil senyum.

Aku senyum. "Serius?"

"Iya. Lu ngomong dari hati. Itu... itu menyentuh banget."

Adrian ngangguk. "Gue juga nangis. Meskipun gue cowok, tapi gue tetep nangis."

Kami ketawa.

Tiba-tiba hape aku bunyi.

Telpon dari Pak Hadi.

Aku angkat. "Halo, Pak?"

Suara Pak Hadi panik. Gemetar.

"SATRIA! CEPAT KE RUMAH SAKIT! AYAHMU... AYAHMU DILARIKAN KE RUMAH SAKIT! KONDISINYA KRITIS!"

Jantungku berhenti.

Hape nyaris jatuh dari tangan.

"APA?! AYAH KENAPA?!"

"JANTUNGNYA! JANTUNGNYA LEMAH! DIA KEJANG-KEJANG TADI! SEKARANG DI UGD! CEPAT KESINI!"

Telpon ditutup.

Aku berdiri kaku. Gak bisa gerak.

Vanya pegang pundak aku. "Sat... sat ada apa?"

Aku liat mereka. Mata aku kosong.

"Ayah... ayah di rumah sakit... kondisinya kritis..."

Adrian langsung pegang tangan aku. "Ayo! Kita ke sana sekarang!"

***

*Andri: "Allah tidak pernah memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya. Tapi kadang ujian datang bertubi-tubi untuk menguji seberapa kuat imanmu saat dunia seakan runtuh di kakimu."*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!